You'Re My Mine, Andrea

You'Re My Mine, Andrea
Part 14



"Dari mana aja baru dateng?"


Begitu sapaan Andrea saat melihat bagas memasuki kamar mereka. Sudah 1 jam dari jam pulang sekolah, tapi Bagas baru sampai rumah. Tadi saja dia menyuruh Andrea langsung pulang.


"Hmm, habis ngambil uang di atm sama liat apartemen kita."


"Lama amat masak sampai sejam. Lagian liat apartemen kenapa ga ngajakin gue sih."


"Apartemen-nya juga masih di renovasi, ngapain juga lo ikutan liat sih. Ntar aja kalau udah mau selesai, kita liat kesana."


"Tapi kan gue penasaran Gas, lagian gue juga pengen desain apartemen sendiri lah."


"Ntar kapan-kapam gue ajak kesana. Sekarang siapin baju ganti, gue mau mandi dulu."


"Ck..kan bisa ngambil baju sendiri, ngapain mesti gue." Gerutu Andrea tapi tetap saja menyiapkan baju untuk Bagas.


"Apa gunanya istri kalau ga ngelayani suami," sahut Bagas sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Selang beberapa menit kemudian, Bagas selesai dengan ritual mandinya, dan berganti baju dengan baju yang telah disiapkan Andrea. Sedangkan Andrea sendiri masih asyik dengan ponselnya.


"tok tok tok..Kak Andrea, dibawah ada tamu nyariin Bang Bagas." ucap Tia di balik pintu kamar Andrea.


"Iya bentar Ti, bentar lagi abang turun." itu Bagas yang menyahut.


"Tamu siapa Gas?"


"Dari showroom, ada mobil dateng."


"Hah??mobil dateng?mobil siapa?"


"Mobil gue," jawab Bagas di ambang pintu.


"Gue ikut turun."


Mereka pun turun bersama ke lantai bawah menuju ruang tamu, disana sudah ada 2 orang dari showroom mobil yang sedang menyiapkan berkas-berkas serah terima mobil. Sesampainya di ruang tamu, Bagas dan Andrea duduk di sofa seberang tempat duduk kedua tamu tersebut.


"Selamat siang Pak, benar dengan Mas Bagas ya?Saya Irwan dari Showroom X, mengantarkan mobil pesanan atas nama Bagas. Ini dokumen untuk serah terima mobilnya, dan ini kunci mobilnya."


"Siang Pak, iya saya sendiri. Baik saya baca dulu dokumennya."


Bagas pun menerima dokumennya dan membaca kelengkapan dokumen serah terima mobil. Andrea yang berada di sampingnya, ikut membaca dokumen tersebut. Mata Andrea melotot membaca dokumen mobil tersebut, mobil yang di beli oleh Bagas merupakan mobil sport keluaran terbaru yang pastinya harganya tak main-main mahalnya.


Bagas sudah selesai membaca dan menandatangani dokumen serah terima, orang dari Showroom pun sudah pamit pulang. Kini Andrea dan Bagas sudah berada di halaman rumah untuk melihat mobil baru. Andrea memekik tertahan melihat mobil sport dihadapannya.


"Ckckck..lo boros amat beli mobil baru sih Gas, mobil yang kemarin kan ada, ngapain beli mobil baru, mahal pasti ini mah."


"Bawel banget sih, ini mobil hadiah dari Papa. Kalau mobil yang kemarin gue pake kan, itu mobil kantor Papa, masak iya gue harus pake mobil kantor."


"Iya nih kakak, bawel banget. Ga ikut ngeluarin duitnya juga, bener ga bang?"


"Tuh Tia pinter daripada lo." Mereka pun bertos ria mengejek Andrea yang cemberut. Kemudian Bagas berlalu menuju mobilnya untuk mencobanya keliling kompleks, meninggalkan Andrea dan Tia di depan teras rumah.


"Kenapa sih Drea kamu cemberut aja?" tanya Bundanya saat mereka berjalan kedalam rumah.


"Bagas tuh mah, ngapain beli-beli mobil baru segala."


"iri bilang bos," cibir Tia. Andrea hanya melotot mendengar cibiran adeknya.


"Biarin aja kali Dre, kan mobilnya juga di beliin sama papanya, bukan pake uang kamu juga kan."


"Iya dibeliin papa, tapi pasti dia yang milih mobilnya sendiri."


Bunda hanya geleng-geleng kepala mendengar komentar dari putrinya. Lanjut Bunda menyiapkan makan malam yang dibantu oleh asisten rumah tangga. Sedangkan Andrea dan Tia sedang duduk di depan televisi sambil memakan camilan yang ada di toples.


Tak lama, Bagas masuk ke dalam ruang televisi, duduk di sebelah Andrea.


"Drea, tolong ambilin gue minum dunk, haus nih habis abis keliling-keliling."


"Ck, keliling juga pake mobil baru, bukan dorong mobil, masak segitu hausnya." Meskipun mendumel, Andrea tetap saja bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur untuk mengambilkan minum.


"Nih, minum bawa gelasnya sendiri ke dapur."


"Thank's."


"Besok langsung mau dibawa ke sekolah Gas mobilnya?"Tanya Bunda dari arah dapur.


"Ga dulu deh Bun kayaknya, platnya masih belum jadi. Kemungkinan minggu depan baru bisa dipake."


"Ya udah, pake motor aja dulu ke sekolahnya, atau kamu pake aja mobil yang di garasi."


"Iya Bun," sahut Bagas pada Bunda.


Sore itu mereka berkumpul di ruang televisi sambil menunggu waktu makan malam dan menunggu kedatangan Ayah Andrea. Bagas yang mulai merasa nyaman berada ditengah-tengah keluarga Andrea. Namun sekarang dia sudah tidak lagi merasa canggung, dan mudah membaur bersama keluarga Andrea. Meskipun Bagas tidak terlalu banyak bicara, yang notabene yang mendominasi pembicaraan adalah Andrea dan Tia, Bagas hanya akan menjawab saat diperlukan saja, atau terkadang terkekeh saat melihat pertengkaran Andrea dan Tia.