YOU ARE MYSERENDIPITY

YOU ARE MYSERENDIPITY
EPISODE 8 : Life Goes On



Joanna masih setia menaruh sorot matanya pada deretan toko di luar kaca saat mobil Hans masih melaju cepat di bentangan aspal.Ia menghela nafas kelewat panjang, Merasakan kecanggungan yang mengambil alih atmosfir diantara mereka.


Selama perjalanan,mobil itu sunyi.Tidak ada perbincangan untuk sekedar menyapa atau bahkan menghangatkan satu sama lain.Entah seperti, ingin membeli minuman hangat? atau haruskah kita membeli penghangat ruangan tambahan?


Jangan harap.Mustahil percakapan romantis dan saling perhatian itu mengudara diantara mereka.Sepertinya benar,dua manusia salju memang tidak bisa saling menghangatkan seperti di film-film.Karena pada dasarnya,keberadaan mereka hanya bisa terjadi di tengah musim dingin yang keduanya justru saling membekukan satu sama lain.


Oke,mari kembali pada dua insan yang masih antusias untuk tidak saling perduli itu.Dimana Hans hanya memikirkan berkas-berkasnya yang belum diselesaikan dan Joanna yang merasa sedikit lega setelah berhasil keluar dari rumahnya.


Kedua bingkai manik Joanna masih menatap deretan toko sedangkan tubuhnya perlahan nyaman karena suhu mobil yang menghangat,"Aku tidak yakin ini hanya pemikiranku,tapi kurasa apartemenmu cukup besar untuk menampung satu orang lagi,"ujarnya santai tanpa terduga.


Hans tampak masih berkutat dengan sunyinya,Meski fokusnya kini terbagi untuk memetakan setiap ruang apartemennya di dalam pikiran,"Tidak terlalu besar, setidaknya ada dua kamar yang bersebrangan."


Joanna mengangguk paham, sedikit puas atas jawaban yang didapatkan.Setidaknya ia tidak perlu pening memikirkan cara untuk menolaknya nanti malam.Hans sebenarnya mengerti dengan mudah apa inti dari pembicaraan Joanna,tidak mau tidur satu ranjang.Memang klise,tapi realitas itu tidak bisa dibantah karena sebenarnya itu tidak beda jauh dengan apa yang dipikirkannya.


Maka,dengan berakhirnya percakapan itu,kini sunyi kembali mengambil alih.Terus berlanjut hingga mobil hitam pekat itu akhirnya terparkir sempurna di teras apartemen.


Tanpa disuruh, Joanna langsung turun dan membuka bagasi mobil.Berniat mengambil kopernya,namun sepertinya sedikit susah sih.Bagaimana pun,ia terbiasa melakukan semuanya sendiri.Ya, meskipun ia hidup bergelimang harta sejak kecil,tapi tidak lantas membuatnya hidup manja seperti tuan putri.


"Apakah begitu susah minta tolong?,"ucap Hans tanpa menoleh.


Joanna sedikit terjingkat,baru sadar jika Hans sudah berdiri di sampingnya.Penghakiman tadi sepertinya terlalu sayang untuk Joanna telan bulat-bulat.Meskipun ia berniat tidak menanggapi,tapi harga dirinya sedang dipertaruhkan sekarang.


Maka Ia menjawab santai setelah berhasil menurunkan kopernya yang cukup berat,"sepertinya menawarkan bantuan juga sangat susah ya?"


Hans terlihat menutup bagasi mobil lalu menimpali dengan malas yang terlihat terang-terangan.


"Ah,ternyata kau menantikan perhatianku ya,"ujar Hans sambil mengangguk-angguk pelan.


Joanna jelas menatap tajam.Merasa kesal, tapi terlalu malas untuk menimpali lebih jauh.Sepersekon kemudian,Joanna lantas membolakan matanya kala Hans berjalan melewatinya seraya merebut koper dari genggaman tangannya.


"Ikuti aku kalau kau tak mau mati kedinginan di sini,"Hans berhenti dan diam sejenak tanpa menoleh,"Akan merepotkan kalau aku harus turun lagi mencari orang gengsi yang hilang di gedung apartemen,"lanjut Hans bersamaan melangkahkan kakinya kembali.


Wahh!Joanna tertawa tipis dan mengerjap tidak percaya.Untuk kesekian kalinya,ia mencabik Hans dengan agresif di dalam pikirannya,sedangkan Hans terlihat mengulas senyum tipis di wajahnya bersamaan dirinya yang menyibak pintu kaca apartemen.


Maka tanpa drama tambahan, keduanya kini sudah tenggelam sempurna di balik pintu cokelat apartemen.Hans sedikit lega kembali ke rumahnya setelah beberapa hari menginap di mansion.Ia sangat lelah terus direcoki sepanjang hari oleh kedua orang tuanya.Setidaknya hidupnya lebih tenang disini,dan sepertinya Joanna juga setuju akan hal itu.


Tak banyak yang Hans lakukan setelah sampai dan menaruh koper di kamar.Will sudah membereskan semuanya dengan baik.Toh,hanya baju yang memenuhi kopernya,begitu juga dengan Joanna.Anggap saja mereka seperti baru pulang perjalanan bisnis atau berlibur,bukan pindahan besar-besaran.


Sedangkan Joanna tampaknya puas setelah mengamati tiap ruang dengan seksama.Tidak terlalu mewah,simple,dan sesuai dengan gayanya yang anti ribet.Perabot yang tidak terlalu banyak dan hanya yang penting-penting saja.Joanna suka itu.


Menginjak waktu yang semakin larut,cahaya tegas matahari berangsur lembut kala semburat jingga memenuhi cakrawala.Suhu yang sedari tadi mendingin terus berhembus dan semakin membekukan suasana.


Belum ada tanda-tanda percakapan diantara keduanya.Mereka sepertinya sibuk dengan diri masing-masing atau memang saling masa bodoh.Entahlah, sepertinya mereka benar-benar cocok untuk dijadikan dinding ruangan dibandingkan manusia,Sama-sama datar dan sunyi.


"Habiskan sisanya,"ujar Hans datar seraya meletakkan teko di meja dapur.


Joanna mengangguk singkat,dan mengambil teko itu.Menuangkan sisa air panas yang pas memenuhi gelasnya.Lalu beranjak ke meja makan,menarik sebuah kursi,dan duduk untuk menikmati teh hangatnya.


Tidak beda jauh dengan Hans yang memang sudah duduk di sana lebih dulu.Masih sunyi,hanya suara penghangat ruangan yang terdengar diantara mereka.Sedangkan sang manusia masih tenggelam dalam dirinya masing-masing dan memilih untuk tidak saling perduli.


Joanna kadang berpikir,semuanya memang tak pernah berjalan segampang pikirannya.Ia cukup lega sudah berhasil keluar dari rumah yang menyiksanya bertahun-tahun.Tapi sedikit mencemaskan bagaimana kehidupannya disini kelak.


"Aku tidak tahu harus bagaimana kedepannya,"Joanna menaruh gelasnya.


Tampak melipat tangan dan menaruh kepalanya disana.Sedikit mengharap bahwa pening akan reda ketika ia sedikit bersantai.Cukup lama, hingga respon terdengar dari lawan bicara.


"Tinggal jalani saja,"ujar Hans singkat lalu menyeruput kopinya,"Memangnya kau ingin hidup yang seperti apa?"


Benar, realitas itu yang kini harus ditelan Joanna bulat-bulat.Bagaimanapun juga, semuanya sudah terjadi.Toh,ini juga satu-satunya jalan yang membawanya keluar dari rumah.Setidaknya ia merasa tidak salah mengambil jalan.


"Tapi sepertinya aku lebih nyaman tinggal sendiri."


Ya, tentu saja.Sebenarnya Joanna mampu saja untuk sekedar membeli apartemen atau rumah besar sekalipun.Tapi ia juga tidak bisa melupakan perannya yang masih harus bersandiwara di depan keluarganya.


"Dan itu tidak mungkin kan,"Lanjut Joanna seraya mengangkat kepalanya.


Ia kembali menyeruput tehnya hingga habis.Sedangkan Hans,masih menatap ke arah jendela.Tidak terlalu perduli akan apa yang diucapkan Joanna, karena semua itu bukanlah yang ingin ia dengar sekarang.


Joanna menaruh gelas di wastafel kemudian berlalu ke kamar.Ia perlu mengistirahatkan tubuhnya sebelum kembali bekerja besok.Sudah seminggu ia cuti, pastinya banyak yang harus ia selesaikan besok.


Berbeda dengan Hans yang kini sedang terduduk kesal di kamar seberang.Bukan,ia tidak marah karena ucapan Joanna tadi.Lebih tepatnya ke ruangan ini.Entah apa yang dipikirkan Will, sehingga merubahnya menjadi ruang kerja.Tidak ada kasur ataupun bantal dan selimut yang empuk.Mau tak mau, Hans harus tidur di sofa.


Bukan Hans kalau terima di perlakukan seperti ini.Maka,dengan terputusnya suara nyaring tuutt,turut,tuut, seseorang kini menjawab dari seberang ponselnya.


"Ada apa kak?"suara itu kini terdengar menjengkelkan sebab uapan kantuk yang dibuat-buat.


Hans hening sejenak, mengumpulkan kesabarannya untuk tidak mengomel malam-malam begini.Itu tidak baik, hanya akan menguras tenaganya.


"Berdoalah,semoga kau masih bisa bernafas besok,"Ujarnya singkat lalu memutuskan saluran telepon.


Ancaman itu kini berhasil membuat lelaki diseberang telepon menghela nafas panjang setelah telepon terputus.Will sebenarnya terpaksa melakukan itu karena menuruti perintah ayah angkatnya.Mau bagaimana lagi, Will tidak bisa menolak dan terpaksa menerima konsekuensinya.Berharap,ia tidak benar-benar menyiksa kakaknya saat ini dan masih bisa bertahan hidup besok.


Ia tidak mungkin memilih tidur di sofa kan?


...TBC.......