
Semilir angin menjadi saksi bagaimana sosok semampai berbalut Coat cokelat tampak merajut langkah ragu.Meski sebenarnya ia masih bisa mengendalikan air muka untuk tetap terlihat dingin dan disegani.
Percayalah,wanita dengan aura tegas itu jarang menapakkan kaki di gedung perusahaan besar ini.Namun,orang-orang tidak begitu pelupa untuk sekedar mengenali sosoknya yang sering muncul di artikel.
Joanna Agatha,CEO wanita dari perusahaan FLOWERIST yang sukses mengembangkan karir florist nya dan berhasil mendirikan perusahaan buket bunga terbesar di penjuru negeri.Setidaknya itu yang sering di tulis pada artikel tiap minggunya.
Terlebih ia adalah istri dari CEO ternama,Hans Zavier,keturunan konglomerat kaya yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan IT yang bahkan terdaftar di 10 besar perusahaan tersukses di dunia.
Terbukti,tundukan segan banyak tertuju padanya, saat sepatu tinggi itu mulai mengetuk lantai perusahaan.Terlihat begitu tenang dan tegas ketika sosok semampai itu berjalan lurus ke meja administrasi.
"Permisi,saya ingin bertemu tuan Hans!"tutur wanita itu dingin dan tegas seperti biasanya.
Sang resepsionis sedikit terkejut,namun masih bisa mengendalikan raut wajahnya.Jelas tahu bahwa pribadi kelewat tegas di depannya adalah istri sang atasan.Resepsionis itu tersenyum ramah sebelum menjelaskan dengan singkat dan jelas letak kantor yang dituju.
Joanna mengangguk paham,lalu melenggang ke lift yang tak jauh dari sana.Ia sempat terdiam sejenak,merasakan kekhawatiran yang mulai menjalar di kepala.Ntah lah,sejujurnya ia sedikit khawatir tentang reaksi apa yang akan didapatkannya nanti.
Berbagai spekulasi nyatanya masih terus berputar di pikiran.Apakah akan diterima dengan baik bahkan dibalas dengan ucapan terima kasih?atau malah di tolak mentah-mentah dengan sindiran dinginnya?
Oke,anggap saja itu pemikirannya yang berlebihan pun amat dramatis bak opera sabun.
Jujur,tidak biasanya ia akan merepotkan diri sendiri untuk membuat kotak makan siang ini.Mengingat bagaimana renggangnya hubungan suami istri diantara keduanya.
Ia tidak berbohong.Sadar pernikahannya tidak didasari oleh semburat cinta.Perjodohan yang menimpa keduanya jelas tak bisa dihindari,melihat bagaimana sang wanita ingin lepas dari rumah bak neraka dan pria yang tak bisa melawan keinginan ayah tercinta.
Tentu saja tidak semua kisah perjodohan berakhir manis seperti di film atau novel-novel online.Ingat,itu hanyalah fiksi.Kenyataan menampar dengan logis bagaimana jalan takdir tidak pernah sesuai dengan keinginan diri sendiri.
Buktinya,setelah dua tahun pernikahan,keduanya tetap sama saja.Saling tidak perduli,bahkan saling menjauhi.Tak dapat dipungkiri sang wanita memang sejak lama menaruh hati,sayangnya tembok gengsi masih bersikeras untuk kukuh memberi jarak.
Dan pihak hati sang suami?
Tentu muak.Semua orang menginginkan seorang istri yang manis dan manja,Bahkan bisa mengandalkannya sebagai suami.Namun,itu tidak berlaku untuk tipikal orang seperti istrinya.Wanita berhati dingin pun tidak terbiasa mengandalkan orang lain.
Namun tetap saja,perjodohan konyol yang didasari perjanjian masa kecil ayah keduanya,kini menjebak mereka dalam labirin rumah tangga yang rumit.
Ting!
Dentingan pintu lift yang cukup nyaring membuyarkan renungan Joanna.Terlihat tiga orang dari dalam keluar setelah menunduk hormat padanya.Joanna diam sedetik untuk mengumpulkan kesadarannya,lalu buru-buru masuk ke ruangan persegi minimalis itu.
Pintu lift tertutup sempurna setelah jarinya menekan tombol sembilan.Ruangan lift lantas bergerak naik,tapi diam-diam menjadi saksi bisu bagaimana presensi tegas di dalamnya begitu frustasi.
Oke,sedikit berlebihan kelihatannya.Apa susahnya memberikan kotak makan siang?lantas mengapa pula harus begitu gugup?
Itu masuk akal,Namun berbeda lagi untuk seorang Joanna dengan image sekukuh tembok besar China.Hal kekanakan seperti ini begitu konyol untuknya.Kalau saja bukan perintah dari ibu mertuanya beberapa saat lalu,pastinya ia tidak akan repot-repot begini bahkan mungkin sedang duduk santai di ruang kerjanya.
Tidak butuh waktu lama bagi Joanna untuk sampai di pintu kayu berwarna cokelat tua dengan papan nama bertuliskan,CHIEF EXECUTIVE OFFICER ROOM.
"Apa perlu ketuk pintu dulu ya?"tanyanya bingung pada diri sendiri.
Sementara tangannya sudah mengepal sempurna di depan lempengan kayu itu—siap mengetuk.Namun sejurus kemudian langsung mengurungkan niat.Tangannya lantas turun ke gagang pintu dan menekan ringan sebelum mendorong kedalam.
Aku istrinya, bukan bawahannya.Begitu keterlaluan jika harus mengetuk pintu dulu untuk masuk.
Setidaknya itu yang ia pikirkan bersamaan mendorong papan kayu itu.Lagipula,setiap ia kesini,toh sang suami tidak pernah menyuruhnya untuk mengetuk pintu dahulu.
Sial! Seharusnya aku tidak kesini!
Joanna terbelalak.Hampir saja tas kain yang digenggamnya jatuh ke lantai.Ia tersenyum kecut lalu membuang pandangannya kesal.
Bingkai manik Joanna dengan jelas merangkum bagaimana sang suami tengah mendaratkan bibir di leher wanita lain.Bersaksi bagaimana baju yang disetrikanya pagi tadi,kini sudah begitu kusut dengan untaian dasi yang melonggar.
Tubuh wanita cantik pun seksi itu terlihat mengukung tubuh sang suami di kursi kerjanya.Duduk sempurna di pangkuan hangat yang semestinya ditempati Joanna.
Namun sepertinya mereka terlalu larut dalam cumbuan mabuk cinta.Bahkan bunyi engsel pintu yang menutup dan ketukan sepatu Joanna yang memasuki ruangan,sama sekali tidak mengusik rungu mereka.
Joanna tertawa kesal, menertawakan dirinya beberapa saat lalu yang masih berharap ucapan terima kasih dari sang suami.
Marah?tentu saja.
Bahkan kini tangan Joanna tengah mengepal erat pada tas kain yang digenggamnya.Rahangnya jelas mengerat,sedikit bergetar saat dirinya berusaha mengubur ledakan emosi dalam-dalam.Ingin sekali ia menghampiri mereka dan menampar muka j****g yang tidak tahu diri menggoda suaminya itu.
Namun, Joanna bukanlah pribadi sembrono dan tidak tahu diri.Ia tidak akan melabrak mereka seperti pemikirannya barusan.Itu akan berkesan seolah dirinya mengharapkan cinta dari sang suami.
Memang brengsek,tapi ia masih cukup sadar diri bagaimana dirinya begitu tidak becus menjadi istri.Wajar suaminya muak dan berpaling ke tubuh yang lebih hangat.
Ia akui,Firasat wanita memang tak pernah salah.Andaikan ia menolak untuk mengantarkan kotak makan ini tadi,bukankah ia tidak akan melihat kejadian memuakkan ini?
"Aku akan meletakkan makan siangmu disini."ujar Joanna datar tanpa menoleh.
Pribadi kekar itu terjingkat.Sadar bahwa ada sosok lain yang tak diinginkan hadir di ruangannya.Dengan cepat ia menyingkirkan tubuh wanita yang masih duduk di pangkuannya.
Joanna terlihat gesit menata kotak makan dan sendok di meja tamu,berusaha untuk cepat-cepat pergi.Dadanya sudah sesak setengah mati.Sekilas ia mengerjapkan mata, mencegah dinding bening di manik sendunya runtuh membasahi pipi.
"Ibumu yang menyuruhku mengantarkan ini sebelum pulang tadi,"lanjutnya menghindari pertanyaan retoris dari sang suami.
"Dengarkan aku,"ujar lelaki itu cukup datar seraya beranjak dari meja kerjanya menuju sofa tamu—menghampiri Joanna.
"Maaf, sepertinya kehadiranku mengganggu adegan nikmatmu!"Joanna hendak melenggang pergi,namun gagal ketika lengannya tertahan.
"Joanna,tolong jangan bertindak sembarangan!"dengan tidak tahu malu, perkataan itu terlontar dari birai ranum sang suami.
"wahhh,"respon Joanna Tanpa terduga.Sementara Hans terdiam,mencoba menebak apa yang dipikirkan sang istri."Kenapa?apa kau cemburu?aku tidak yakin kau memikirkan hal Konyol semacam itu,"sela Hans sinis.
Joanna menarik bibirnya sebelah.Jelas tersenyum remeh saat mendengar penuturan lelaki yang masih menahan lengannya itu.Ia tidak menyangka,ada orang yang begitu tidak tahu malu seperti ini.
"Apa kau begitu ingin ku cemburui?"sergah Joanna tak kalah sinis.
Hans tertawa.Melirik ke langit-langit ruangan sebelum kembali menatap penuh muak ke istrinya.
"Tidak,aku hanya berpikir kau akan menggugat perceraian menggunakan alasan ini ke keluargaku.Itu akan melukai ayahku,"timpal Hans tanpa rasa bersalah.
Barangkali ada sesuatu yang paling brengsek di muka bumi,tentu itulah bingkai bibir Hans.Kenyataan bagaimana ia sama sekali tidak ada di hati sang suami,benar-benar menampar perasaannya,bahkan mengoyak hati.
Senyuman tumpul terulas begitu saja dari birai Joanna.Mengambang lancang lantas menarik atensi lelaki yang sudah mengeratkan rahangnya.Tentu,hal ini begitu lucu.
Lihatlah,bahkan sang suami tidak sama sekali memikirkan perasaannya.Bisa-bisanya birai penuh kemunafikan itu masih berujar khawatir akan pernikahan.
"Tenang,aku tidak seegois itu,"ucap Joanna singkat sementara tangannya melepas genggaman sang suami.
"Aku tidak sepertimu!lagi pula kau kira aku berharap apa dari pernikahan bodoh ini?"sudut bibirnya kembali menarik garis remeh.
Dengan cepat Joanna membawa tubuhnya ke ambang pintu,meninggalkan Hans yang masih terpaku di tempatnya.Jujur,saat ini pikirannya tiba-tiba mengingat bagaimana dulu bibir brengsek itu berujar manis.
"Tenang saja, meskipun aku tidak mencintaimu,aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti selingkuh.Aku harap kau juga berpikiran sama."
"Baiklah,aku menghargai bagaimana kau mempertahankan pernikahan ini.Ya,meski hanya demi memenuhi keinginan ayahmu."
Joanna hanya bisa mengumpat saat pintu lift tertutup sempurna.Apanya yang tidak melakukan hal bodoh?nyatanya kini ia mungkin sedang kembali bercumbu dengan j****g sialan itu.
Semuanya terjadi begitu saja.Tidak ada adegan lelaki mengejar untuk beralasan salah paham,tidak ada dekapan yang menyapa untuk sekedar meminta maaf.Bahkan, sebenarnya Joanna juga tidak mengharapkan itu.
Sesak,hanya itu yang dirasakannya sekarang,tapi tidak menginginkan adanya tangisan.Itu membuatnya seakan berharap pernikahan paksa ini membuahkan cinta.
Cih!
Padahal sudah jauh-jauh ia mempersiapkan hati.Mencoba tidak jatuh cinta pada cinta yang tak jatuh padanya.Namum sial,hatinya begitu murahan bahkan nyaris terbuka untuk manusia brengsek itu.
Ia mengerti, perasaan tak bisa berbohong.Meskipun ia tidak benar-benar berharap dicintai suaminya, salahkah berharap sedikit kehangatan?jujur,ia tidak tahan menjalani pernikahan di bawah atap dingin seperti ini.
Sepatu tingginya kembali mengetuk lantai satu ketika lift berdenting terbuka.Lalu dengan tegas seperti biasa,ia berjalan lurus keluar gedung.
Sungguh,demi dewa Neptunus dengan trisulanya, Joanna benar-benar bisa mendapatkan penghargaan anggrek jika menjadi seorang aktris.Lihatlah wajahnya,bahkan tampak baik-baik saja seakan kejadian barusan hanyalah angin lewat.Setidaknya kejadian tadi adalah aibnya juga,akan buruk jika ada yang menyadarinya.
Berjalan tenang dengan menegakkan punggungnya.Sesekali ia membalas tundukan hormat beberapa karyawan dengan anggukan kepala.Terlihat melenggok anggun menuju parkiran mobilnya yang tak jauh dari teras depan perusahaan.
Tepat ketika tangannya nyaris membuka pintu mobil, sesuatu bergetar dari dalam saku coatnya.
Sialan! apalagi ini?
Joanna merogoh saku coatnya dengan malas.Membolakan mata saat sebuah nama kontak yang tak asing tertera pada layar berpendar.Setelah menatap cukup lama,ibu jarinya menggeser pendar hijau keatas.Lalu menempatkan ponsel itu di antara telinga dan telapak tangannya.
"Kenapa lama sekali mengangkatnya?!"
"Tidak usah basa-basi, langsung katakan saja ke inti,"respon Joanna malas.
Apalagi coba?sudah cukup perasaannya berantakan tentang apa yang terjadi barusan.Telepon dari orang ini juga sepertinya akan membawa kabar buruk—mungkin.
"Maaf, Anna,"suara dari seberang telepon terdengar semakin lirih"Maaf, tapi ini sudah terjadi."
Tak!
"Sial,"umpat Joanna,sementara smartphonenya sudah tergeletak tak berdaya di lantai parkiran.
Tanpa dilanjutkan sekali pun, Joanna tahu menjurus kemana ucapan itu selanjutnya.Sial, benar-benar brengsek!tidak cukupkah penderitaannya barusan?
Hancur,kini benar-benar hancur.Apa yang ia dengar barusan lebih brengsek dari kejadian tadi.Hatinya lagi-lagi mencelos.Desir di dadanya semakin kencang, bahkan paru-parunya seakan terhimpit untuk sekedar bernafas normal.
Joanna merasa buram,tidak tahu apa yang dirasakannya—terang atau gelap.Rasa perihnya benar-benar menjalar hingga melemaskan kaki.Perasaannya kini campur aduk,tidak bisa dijelaskan.Seolah sedang melukis di canvas berwarna hitam,kosong dan tidak jelas warnanya.
Joanna meraih ponselnya,lalu menenggelamkan diri ke dalam mobil.Telepon belum terputus,dengan ekspresi tetap tenang,wanita itu berujar kelewat datar seraya mendekatkan ponselnya ke bibir.
"Bereskan semuanya dengan baik!Pastikan juga tidak ada yang tahu soal ini!aku akan segera kesana,"ibu jarinya memutuskan sambungan telepon.
Wanita bersurai hitam pekat itu membanting pintu mobilnya cukup keras—menutup.Lalu menyalakan mesin mobil sebelum memundurkannya perlahan.Mobil itu menghalau pergi dengan begitu kencang,hampir saja menabrak mobil-mobil yang baru masuk ke parkiran.
"Sialan!kenapa harus secepat ini sih?tidakkah kamu memberiku cukup waktu?sedikit saja,"Joanna semakin menginjak pedal gasnya.
Tak perduli klakson mobil yang menyautinya sejak tadi,mobil berwarna hitam itu terus saja melaju dengan kecepatan tinggi.Menerobos mobil lain di depannya,bahkan tak perduli berapa banyak mobil yang tersenggol oleh pintu besi itu.
Pikirannya kosong,barangkali teriakkan sirine dari mobil polisi mulai mengejar,ia tidak akan mendengarnya.Ia benar-benar masih kalut dalam perasaanya.
Joanna mengerjap kala penglihatannya terasa buram,seolah terselimuti awan-awan gelap.Sesekali mengucek matanya yang perlahan mulai perih.
Sayangnya manik sendu itu gagal menangkap semburat merah dari lampu perempatan.Dimana kakinya terus menekan pedal gas, padahal dua truk di kanan kirinya tampak melaju dengan kecepatan tinggi.
...TBC......