
Matahari menyiramkan kehangatan pada bumi pagi ini.Menemani langit cerah bersama awan-awan yang mengapung ria.Cuitan burung dari ranting pohon terdengar nyaring melewati kaca jendela yang tirainya baru saja di singkap oleh jemari lentik seorang gadis kecil.
"Emmmhhh,"seorang lelaki menggeliat malas.
Ia mengerjapkan maniknya saat merasakan tepukan lembut mendarat di pipinya.Membuka bingkai netranya perlahan, lantas merangkum sosok rupawan yang masih menatap kearahnya.
"Hans,ayo bangun!ini waktunya sarapan!"ujaran riang mengudara dari bibir seorang gadis manis yang tersenyum begitu lebar.
Lelaki itu mengangguk sambil mengulaskan senyum.Tampaknya hari ini akan berjalan dengan baik,bahkan permulaannya saja sudah begitu indah seperti ini.
"Ayo sarapan!"Gadis kecil itu turun dari ranjang.
Lantas melenggang pergi ke luar kamar.Sementara lelaki itu masih terduduk malas di pinggiran kasur.Menatap punggung gadisnya hingga tenggelam sepenuhnya di balik dinding.
Cukup lama untuknya mengumpulkan kesadaran.Setelahnya ia melangkah lunglai ke meja kecil dengan sepasang kursi yang tak jauh dari ranjang.Terduduk lemas,cukup lama sampai gadis itu kembali dengan nampan berisi dua piring roti bakar dan dua gelas susu.
"Lama sekali bangunnya!"tohok sang gadis sambil menaruh nampan tersebut di meja.
Hans mengangguk datar.Lagi-lagi berekspresi dingin seperti biasa.Gadis di depannya hanya mengulas senyum,terbiasa akan hal itu.Menurutnya ini tidak begitu buruk,karena Hans terlihat begitu tampan kalau sedang diam seperti sekarang.
"Coba ini!"Gadis itu menyodorkan sebuah roti dengan selai cokelat.
Lelaki kecil itu nampak sedikit terkejut,lalu memalingkan wajahnya.Bukankah dia adalah sahabat dekatnya? bisa-bisanya ia lupa bahwa makanan manis adalah hal yang paling ia benci?
"Sepertinya kau benar-benar bukan sahabatku,Sunnie!"Hans menghela nafas—kesal.
Gadis di hadapannya lantas merespon dengan tawaan.Ia terlihat memajukan torsonya hingga condong ke arah Hans.Menatapnya sungguh-sungguh,lalu menaruh roti itu di piring.
"Itu karena kau belum mencoba buatanku!ini berbeda dari yang lain tahu!"ujar Sunnie yakin.
"Tidak.bagaimanapun itu sama-sama roti selai cokelat,"timpal Hans tak mau kalah.
Sedangkan gadisnya kini menatap seraya membesarkan pupil,penuh harap.Menyatukan telapak tangan seakan berkata,Ayolah!Sekali saja!
Ah, benar-benar.Hans sungguh tidak bisa menolak jika Sunnie-nya sudah memohon dengan bertingkah imut seperti ini.
"Baiklah,"jawab Hans dengan berat hati yang tampak terang-terangan.
Sunnie mengangguk senang.Ia kembali menyodorkan roti itu,dan dengan perlahan,Hans sedikit mengigitnya.
"Kok hanya sedikit? tidak enak ya?"Sunnie langsung memasang ekspresi sedih.
Mendadak Hans mendekatkan bibirnya lagi pada roti itu.Melahapnya hampir sepertiga bagian,lalu mengunyah santai.Sedikit tertekan,kala rasa manis itu menyeruak di lidah.Tapi, sebenarnya tidak buruk juga.
"Enak kan?"
"Hmmm,"Hans mengiyakan sambil mengangguk,"Segala darimu memang selalu berbeda untukku."
Gadis itu tersenyum manis.Sungguh,sangat manis hingga selai roti yang dikunyahnya kini terasa hambar setelah menatap wajah sang sahabat.Hans meraih sisa roti di tangan Sunnie,menghabiskan sisanya seraya menatap paras rupawan gadis di sampingnya itu.
"Kau itu orang yang sangat baik ya,"ungkap Sunnie dengan tatapan yang masih terfokus menerawang ke luar jendela ruangan.
"Hmm,tiba-tiba?"Hans menatap lekat.
Tidak,kali ini tatapan heran sekaligus penasaran.Meskipun tak lama Sunnie membalas tatapannya,namun ia masih belum bisa menangkap maksud dari apa yang dipikirkannya saat ini.
"Kadang aku merasa kau mirip bongkahan es.Tapi sekarang kenapa kau lebih mirip dengan selimut ya?"
"Hahahaha!"Hans tertawa lepas.
"Kenapa malah tertawa?"sela gadis itu sebal bersamaan bangkit dari kursinya.
Namun Hans tidak merespon,ia justru semakin terkekeh melihat tingkah ngambek Sunnie yang terlihat imut.
"Perumpamaanmu tak masuk akal tahu!"
"Kau menyebalkan,"Kali ini Sunnie membuang muka.
Hans mengangguk sambil terkekeh seolah berkata,terserah kau.Tipikal orang seperti Hans tidak bisa asal mengiyakan dengan dalih asalkan kau bahagia.Baginya,jujur lebih baik dari pada memberikan perasaan palsu.
Meskipun begitu,ia tetap tidak tega melihat Sunnie yang kini monyong bebek.Di tatapnya gadis kecil itu lalu berujar begitu pengertian,"Jadi maksudmu?"
"Humph!Tidak jadi!"Sunnie kembali duduk.
Yah, lagi-lagi ngambek.Siapa sangka anak yang terkenal ceria di sekolah ini sebenarnya gemar ngambek.Hans hanya bisa bersyukur,marahnya sang sahabat hanya merengut menggemaskan,bukan mengomel atau mendiamkannya.
Tok!Tokk!
"Hm?biar aku yang buka,"ujar Sunnie singkat seraya bangkit dari duduknya.
"Tidak,biar aku saja,"Jawab Hans berniat berdiri.
Namun sepertinya sang gadis tidak setuju dengan keinginannya.Terpaksa,Hans mengalah dan kembali duduk di kursinya.Membalas tatap,saat sadar Sunnie tengah menaruh atensi padanya.
"Hans,akan buruk jika itu adalah ibu tiri dan yang membuka pintunya adalah kau.Dia akan marah padaku karena mengajak seorang lelaki asing ke kamarku.Lagipula ayah yang mengijinkanmu,bukan ibu.Itupun diam-diam dari ibu,
Kau disini saja.Ibu tidak akan memeriksa sampai ke sini kok!kalau itu terjadi,bersembunyi saja di kolong tempat tidur atau dalam lemari,"Jelas Sunnie dengan intonasi kelewat pelan kemudian melangkah menuju pintu depan.
Sunnie membuka pintu kamarnya sedikit dan dengan cepat menyelinap keluar.Langsung menutup rapat,tak ingin sang tamu melihat isi kamarnya saat ini.
"Benar,dia bibi yang aneh.Padahal kemarin-kemarin saja boleh menginap,"ujar Hans kesal.
"Tiba-tiba berubah pikiran dan mengusirku.Untung paman mengijinkanku karena Ayah teman baik paman,"lanjut Hans mengomel kesal.
Ia beralih menatap apron merah yang tersampir di sandaran kursi.Apron yang selalu dipakai Sunnie ketika membuat sarapan pagi.Ia terlihat cantik mengenakan itu.Terlebih,ditambah senyuman riangnya yang secerah matahari.Membayangkannya saja sudah membuat Hans bisa senyum-senyum sendiri.
Kalau dipikir-pikir,meskipun umur Sunnie baru beranjak sembilan tahun,tapi sarapan buatannya sangat lezat.Mungkin nyaris mengalahkan masakan koki dirumahnya?
Hans tampaknya terlalu keasikan memikirkan sahabatnya itu.Namun perlahan sadar,cukup lama Sunnie tak kembali dari sana.Lantas berhasil membuatnya mengeryitkan dahi dan menatap heran ke arah pintu kamar.
"Kenapa ia belum juga kembali?''Hans berdiri dari duduknya dan melangkah pelan ke arah pintu.
Ia menempelkan telinganya ke papan kayu itu.Menajamkan rungu,mencoba mendengar suara dari balik pintu.Namun sunyi,tidak ada sebuah percakapan ataupun langkah kaki terdengar dari sana.
Itu berhasil membuat Hans cukup berdebar.Apa yang sebenarnya terjadi?kemana Sunnie? tidak mungkin kan ini jebakan bibi sihir itu agar aku keluar?
"Tidak,ia pasti akan bilang padaku kalau ada urusan atau dipanggil ayahnya,"Ujar Hans menerka-nerka.
Masih sedikit penasaran,hingga akhirnya mencoba memberanikan diri untuk mengintip keluar.Tangannya menekan gagang pintu pelan,menariknya cukup hati-hati,dan menilik was-was keluar.
"Sunnie?"Hans tercengang lalu menghempaskan pintu itu cukup keras.
Hans berlari keluar.Namun hanya mendapati lorong putih tak beratap ataupun berlantai.Pikirannya kalut,bahkan tak mampu berpikir jernih.Sedangkan tubuhnya masih berlari jauh ke depan.
Mencari sosok yang beberapa saat lalu tersenyum padanya.Kemana perginya?
"Sunnie?Pergi kemana?Sunniieee!!kenapa tidak menjawab huh?"Hans semakin kalut.
"Sunnie!"
"Sunnie!kau tidak pergi lagi kan?"
"Sunniiiiiiiiiiiiie!!!"
Brakk!
Hans tersungkur dari kursinya.Mendapati tubuhnya kini sedang terduduk menyedihkan di lantai kedai kecil itu.Sedangkan air matanya masih mengalir membasahi pelupuk mata yang cukup bengkak.
"S-sunnie,"lirih Hans kelewat pelan.
Perlahan sadar,tadi hanyalah mimpi.Ini juga bukan pertama kalinya.Semenjak kepergiannya beberapa hari lalu, bayang-bayang Joanna kecil tak pernah hilang dari pikirannya.Terus mengusik, menolak untuk dilupakan.
"Maaf,aku tidak menjagamu sampai akhir,"Lirih Hans kelewat pelan.
Bahkan pundaknya bergetar begitu pilu.Merasakan getir yang menelusup setiap kenangan itu terungkit di pikirannya.Menggetarkan hatinya yang baru saja ia rapikan semalam.Telapak tangannya terlihat mengibaskan rambutnya kebelakang, merasakan pening yang masih bersarang di kepalanya.
Namun percuma,menangisinya sekarang tidak akan membuatnya kembali hidup ataupun membuat waktu berputar ulang.Kenyataannya sekarang semuanya sudah berakhir.Sunnienya,kisahnya,dan hidupnya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?kemana ia harus pergi? ke rumah?Tidak,ia tidak mungkin pulang.Rumahnya pasti masih penuh dengan tamu-tamu yang berduka.
Lelaki berkemeja cukup kusut itu berdiri dari simpuhnya.Menaruh beberapa uang di meja,lalu mengambil jas dan ponselnya di sana.Lantas melenggang ke pintu keluar kedai saat suara engsel pintu terdengar mengudara.
"Eh,kau sudah bangun?"pintu itu tersibak, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan jaket cokelat.
"Ah, sepertinya aku kebanyakan minum tadi malam.Maaf merepotkan Anda!"ujar Hans sopan,"Saya sudah menaruh uangnya di meja."
"Aku turut berduka cita.Aku melihat kabarnya di berita berita tadi malam,"jelas wanita itu pelan.
Hans mengangguk,sedikit mengulas senyum tipis.Kemudian berlalu ke luar dan menghampiri mobilnya cepat setelah berpamitan.
Langit belum terlalu terang sebenarnya.Semburat gelap malam masih menyelimuti.Jam di tangannya memang masih menunjukkan pukul lima pagi.
Mobil Hans melesat cepat di jalanan basah.Membelah kesunyian kota yang belum cukup ramai dengan kesibukan.Matanya menatap hampa,menikmati temaram lampu di tengah gerimis yang masih turun.
Tidak mengelak bahwa pikirannya kosong saat ini.Ia mengerti,kesiapan hati seseorang tak bisa ditebak.Sama seperti semua yang terjadi,alur yang terus memberikan kejutan tak terduga seiring berjalannya waktu.
Pahit,sungguh pahit.Begitu menyesakkan saat merasa kehilangan tujuan hidup.Merasa sudah berusaha keras,namun nyatanya masih di tempat yang sama.Masih terdiam dan menatap iri pada tawa yang menguar begitu ria.
Salahkah jika ia menyalahkan takdir?Andai waktu bisa di putar ulang,akankah ia mampu memperbaiki semuanya?bisakah ia mengubah alur cerita menjadi happy ending seperti di buku yang biasa ia baca?
"Hahaha, sepertinya aku mulai gila bahkan memikirkan hal yang tak masuk akal seperti ini,"Hans semakin menekan pedal gas.
Drrrrrrttttt,drrrrttttttt!
"Hm?"ujarnya datar seraya menempelkan ponselnya di telinga.
"Kau dimana?biar aku jemput,kak!"
Hans tersenyum tipis.Orang ini sepertinya mengkhawatirkannya semalaman.Itu mungkin saja,pasalnya dua malam ini ia menghilang begitu saja.
"Aku tak apa, Will.Tapi mungkin masih membutuhkan beberapa waktu untuk beristirahat jadi—"
TIIIIIIINNNN!!!
Hans terbelalak kala cahaya kelewat terang menerobos kaca mobilnya lancang.Membuat ia refleks mengubah arah mobilnya mendadak karena penglihatannya yang kabur dan,
Brakk!!
Menabrak pembatas jalan.Mobilnya terpental ke sisi kanan dan terbalik.Sedangkan dari arah depan,sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
"Hans!!Hans!!apa kau mendengarku?apa yang terjadi huhh?"kali ini Will berteriak dari seberang sana.
"Maaf,Will sepertinya ak—"
Brakk!
Putih.Itu yang dilihat oleh Hans saat ini.Saat benturan kedua mementalkan mobilnya jauh,ia tidak merasakan apa-apa.Hampa dan kosong.Tidak,bukan seperti kanvas yang belum tertoreh tinta barang setetes.Tapi halaman akhir dari lembaran bab,dan beranjak ke alur berikutnya.
Lembar lama telah habis,dan saatnya membuka lembaran baru.
...TBC......