
Drrrrttttttttt,drrrrttttt...
Sesuatu berdering dari Balik bantal.Lantas menarik benang kesadaran dengan lancang.Menganggu rungu yang tengah beristirahat,memaksa syaraf untuk mengirimkan gelombang isyarat ke otak agar segera bekerja.
Tak lama,kedua bingkai manik itu mengerjap.Terbuka perlahan-lahan dengan sesekali berkedip untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk.
Pribadi gagah dengan kaus putih itu masih membeku di tempat.Jelas terlihat tengah terperanjat dari ekspresi yang tersemat di wajahnya.Ia mengerjapkan maniknya beberapa kali,menatap tak percaya pada langit-langit kamar yang redup.
Bukan,ia tidak terkejut karena langit-langit kamarnya atau ia yang bangun terlalu pagi.Tapi,
Ia selamat dari kecelakaan?!
"Tidak!ini tidak masuk akal!"Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi.
Ia yakin seharusnya sudah meninggal sejak kecelakaan itu!
Lelaki bersurai hitam pekat itu kemudian bangkit dengan bantuan kedua tangannya.Sedikit bergetar,nyaris tak mampu menopang.Matanya masih menatap heran ke seluruh tubuhnya,tidak ada yang hilang.Bukan,maksudnya jika ia kecelakaan, apalagi kecelakaan parah,minimal ada bekas Luka kan?
Apa ia sudah koma bertahun-tahun dan terbangun kala lukanya sudah sembuh?tapi kenapa ia berada di apartemennya?bukan di rumah sakit atau mansion keluarganya?
Clek!
Pria itu menoleh ke arah sumber suara.Mendapati seorang pria tak asing dengan kaos oblong berwarna hitam berjalan santai menghampirinya.Menggaruk tengkuknya malas,menatap Hans dengan datar.I-itu Will?dan kenapa—
"Ahh,kau sudah bangun kak?"Will berbicara santai lalu duduk di pinggiran kasur,"Aku tidak tahu kakak se-semangat ini,"lanjutnya dengan sedikit penekanan di kata semangat.
T-tunggu? semangat?semangat untuk bertahan hidup maksudnya?Sedang kesurupan apa anak ini? Harusnya kan ia terharu melihat Hans baru sadar dari koma panjangnya!
Tidak mendapat respon, Will berbalik dan berjalan malas ke lemari.Ia mengambil setelan baju dari lemari Hans.Sementara sang kakak masih menatap lekat,tak terima atas perkataan kejam Will barusan.
"Apa kau berharap aku mati?"ketus Hans tidak terima.
Will menoleh malas.Menatap intens sang kakak dengan tatapan tak terartikan.Entahlah,ia tak tahu kakaknya ini sedang kerasukan roh apa.Bertingkah aneh,bahkan terlihat linglung.Seperti bukan Hans berhati dingin yang biasanya.
"Bukankah kau yang bilang sendiri kemarin?kau tidak ingin menikah kan?Terus saja bersikeras mencari teman masa kecilmu yang entah masih hidup atau tidak."
"Secinta itukah?aku lelah mencari,Kak!Kenapa kau tidak berusaha melupakannya dan menerima Joanna?"Kini Will kembali duduk di pinggiran kasur seraya terus mengomel.
Wah!lihatlah air muka Hans yang begitu tak terartikan.Alisnya terangkat bersamaan dengan matanya yang kembali membulat.Hans tidak terlalu bodoh untuk mengerti situasi saat ini.
Ia sekarang mengerti,kenapa ia terbangun di apartemennya yang sudah dijual beberapa tahun lalu?kenapa ia masih tinggal bersama will?dan kenapa tidak ada bekas luka atau rasa sakit di tubuhnya?
Benar,ia hidup kembali ke beberapa tahun yang lalu.
"Sekarang tanggal berapa?"timpal Hans cepat.
"21 Januari 2019,hari sakral dimana akan berlangsung acara pernikahan pewaris tunggal dari keluarga Zavier dan anak bungsu dari keluarga Agatha,"jawab Will dengan intonasi yang di buat-buat—meniru pembawa berita pagi ini.
Sedangkan Hans masih membeku di tempat.Dadanya berdebar hebat, merasakan buncahan perasaan tak terartikan disana.Entah terlalu bersemangat atau terlalu terkejut.Intinya beberapa scenario sudah terputar cepat di pikirannya.
Tanpa terduga, Hans melompat dari kasur dan melompat-lompat girang.Hatinya jelas berbunga,merasakan setruman semangat di perut yang naik ke dadanya.Ini benar-benar keberuntungan yang tidak masuk akal,tapi jelas patut disyukuri.
"Ini benar-benar keajaiban!aku bisa menikah dengan Joanna!"Hans menoleh cepat ke arah Will.
"Aku harus mulai dari mana ya?"Hans sekarang berjalan bolak-balik,menaruh mimik wajah berpikir keras.
Sedetik kemudian,ia langsung kembali menoleh ke Will yang shock berat.Tersenyum begitu lebar lalu mendekat kearahnya.Menatap sungguh-sungguh,lalu memegang kedua pundak Will dengan dramatis.
"Benar,tidak perduli harus mulai dari mana.Intinya sekarang aku harus bersiap sebaik mungkin,aku harus bertemu calon istriku secepatnya!"Ucap Hans dengan sangat dramatis.
Oke,sekarang ayo kita perhatikan Will kita yang malang.Tepatnya masih terpaku dalam diam.Menatap bingung karena cukup terkejut.Tidak,lebih tepatnya sangat terkejut.Hatinya berdebar,sedikit ngeri membayangkan film-film horor dimana para hantu sering jahil merasuki tubuh manusia.
Will menarik nafas dalam,mengumpulkan kesabarannya yang terus menciut.Ia memaksakan diri untuk menatap sang kakak yang masih mengomel kegirangan di depannya.Benar-benar malas untuk menanggapi ke gilaan kakaknya ini.
"Kak?"Ujar will seraya menatap Hans lekat.
"Iya adikku sayang?"
Maka dengan terlontarnya kata itu, benar-benar membuat Will semakin yakin, bahwa kakaknya menegak minuman alkohol lumayan banyak tadi malam.
"Hei!kau roh jahil yang gentayangan kan?cepat Pergi! jangan merasuki tubuh kakakku!"Ujar Will dengan intonasi sangat dramatis.
Wahh!ini benar-benar gila.Apa sekarang bocah ini sedang meledeknya?Hans benar-benar kesal soal ini.
Ya, barangkali Hans benar-benar kerasukan arwah jahat.Will memang suka menjahili Hans yang sedang mode es mencair seperti ini.Sedikit merontokkan lelahnya setelah berhari-hari membujuk Hans.Belum lagi mengurusi kepindahannya sebab apartemen ini akan menjadi tempat tinggal Hans dan istrinya.
"Kau cari mati ya?"Hans memukul pundak Will.
Tanpa terduga, Will malah mundur beberapa langkah,berlagak takut pada Hans.Ia jelas sedang mengejek sang kakak atas perilaku anehnya pagi ini.
"J-jangan lukai aku!"Will meringsut mundur dengan cepat."S-sabar,hantu!kata i-ibuku hantu s-sabar—"
"Pantatnya besar!!"
Mereka terkekeh.Sudah lama Will tidak menjahili Hans sesantai ini.Dan Hans juga sudah lama tidak melihat Will berbicara santai kepadanya.Di kehidupan sebelumnya,Will selalu berbicara formal,entah padanya atau kedua orang tua Hans.
"Kau benar-benar aneh pag—"
Belum sempat Will melanjutkan kata-katanya,Seseorang membuka pintu kamar dengan keras.Itu menyita atensi keduanya.Seorang wanita berambut pirang sepunggung berjalan masuk dengan tergesa-gesa.
"Presdir Hans!kau sudah telat!"Kesal wanita itu saat mendapati orang yang dicarinya masih belum bersiap juga.
"Liant,jangan mendekaaatt!Kak Hans kerasukan hantu pantat besaaarr!!!"
—
—
—
Cukup sekitar 20 menit lalu Hans menjelaskan apa yang terjadi padanya.Tentu saja ia tak akan menceritakan dengan jelas,semua orang akan menganggapnya gila nanti.
"Aku sudah mencari tahu beberapa waktu lalu.Apa yang kucari mungkin sebenarnya ada di depan mataku.Dan,aku cukup yakin soal itu."
"Itu bukan hal mustahil bukkan?kalau di pikir-pikir, Joanna dan sunny juga memiliki banyak kemiripan.Itu tidak menutup kemungkinan bahwa mereka orang yang sama!"
Kalimat itu nyatanya berhasil membuat keduanya terbungkam.Untuk otak Liant dan Will yang kelewat cerdas,sangat mudah untuk mengerti maksud yang tersemat dari ucapan itu.
Ya,Hans cukup bersyukur memiliki sekretaris dan Manager yang cekatan dan peka.Setidaknya sekarang ia tidak perlu repot-repot menjelaskan atau memberi alasan lain untuk kelakuannya yang memalukan pagi tadi.
Tapi jujur,jika diingat-ingat memang sangat memalukan sih.Hans sekarang percaya,bahwa cinta bisa membutakan segalanya.Bisa menundukkan apapun,bahkan gengsi yang sekukuh gunung Everest.Terdengar Konyol,tapi realitas itu benar-benar tak bisa dibantah.
Dirusan cahaya matahari yang semakin terik menjadi saksi bagaimana kini ketiganya sudah berada di dalam mobil yang melaju cepat.Membelah jalur lalu lalang secara paksa, melihat waktu yang sudah merangkak jauh.
"Apakah tidak bisa lebih cepat Will?"Liant menengok kearah kursi di sebelahnya—pengemudi.
Yang ditanya terlihat menghempas nafasnya kasar sebelum menjawab dengan begitu pengertian,"Aku masih ingin hidup.Jika kau ingin mati,jangan mengajak orang lain."
Sakarsme itu cukup untuk menghentikan omelan Liant yang terus berujar khawatir.Liant tentu kesal,lihatlah tatapannya yang tengah menikam Will saat ini.Namun untuk seorang Will yang sebelas duabelas masa bodohnya dengan Hans,jelas mengabaikan hal itu terang-terangan.
Lima belas menit waktu bergulir hingga mobil hitam itu kini sudah terparkir rapi bersama deretan mobil lain di teras gereja besar.Bukan besar lagi,bisa di sebut agung karena memang gedung pusat yang berada tepat di tengah kota.
Sepatu hitam mengkilat itu dengan cepat membawa Hans ke dalam gedung gereja.Sedikit bersyukur bahwa mereka tidak terhalang wartawan atau paparazi,jelas karena gedung ini sudah di jaga ketat.Tak perlu diragukan kekuasaan dua keluarga konglomerat ini untuk menciptakan keamanan terbaik.
Beruntung,masih sisa sepuluh menit sebelum acara inti dimulai.Namun ia tidak bisa menghindar dari tatapan kesal pihak keluarganya yang terus mencemaskan kehadiran Hans sedari tadi.Mereka tahu dengan jelas bagaimana kukuhnya Hans menolak perjodohan ini.
"Maaf,tadi toxedo yang sudah di persiapkan mendadak rusak.Membutuhkan cukup banyak waktu untuk mencari gantinya,"terang Hans yang sebenarnya hanya beralasan.
Tapi,itu tidak asal-asalan sih.Memang benar ia memakai baju yang berbeda,tapi yang lama tidak rusak juga.Faktanya ia bersikeras untuk membeli yang lebih bagus dan mahal sampai membuat dua orang dibelakangnya stress akut.
Bagaimana pun juga,ia harus mengenakan pakaian terbaik untuk bersatu dengan orang yang sangat dicintainya.Kesempatan sekali seumur hidup mungkin tak akan ada pengulangan untuk ke-tiga kalinya.Tidak,jelas ia sendiri tidak akan membiarkan itu terjadi.
Mendengar itu, pihak keluarga menghela nafas lega.Tentu,itu patut di syukuri.Setidaknya acara besar-besaran ini tidak akan kacau seperti yang mereka bayangkan.
Ayah Hans berjalan mendekat,menepuk pelan pundak anaknya lalu berkata dengan penuh kelegaan,"Tidak apa.Ayo bersiap, Joanna sudah menunggumu lama."
—
—
—
Hans kadang berpikir,dunia ini tercipta dari rajutan milyaran mahluk hidup.Satu melengkapi yang lainnya,bagaikan rajutan yang bertumpuk dan saling menyulam.Namun benang yang kusut,apalagi keluar dari jalur bisa merusak pola.Tentu salah satu benang harus ditarik,dan di sulam kembali dari awal.
Setidaknya itu perandaian yang cukup untuk menjelaskan situasi saat ini.Dimana kenyataan dan semesta kadang tidak bisa di capai nalar,tidak tertebak hingga membuatnya kini bisa berdiri di depan pendeta untuk kedua kalinya.
Memulai takdir baru,memburai yang kusut,berharap sulamannya berhasil membuahkan akhir yang baik.
Setelah mengucapkan beberapa janji,keduanya lantas menyatukan bibir sebagai bentuk saling memiliki.Disusul tepukan meriah dan Isak haru dari para tamu pun pihak keluarga.
Hans melepas tautan bibir,masih memegang pipi sang istri lalu mengusap lembut.Hampir saja tetesan haru hadir di pelupuk matanya,tapi Ia cukup ahli untuk menyembunyikan perasaan itu.Ia tak mau mengambil langkah terlalu cepat dan malah mengacaukan segalanya.Cukup pelan,tapi pasti.
Entah bagaimana takdir akan membawa alur kehidupan mereka ke mana.Ke akhir bahagia seperti di buku novel,atau getir seperti film layar lebar.Tergantung bagaimana manusia memutuskan pilihan jalur yang tepat sebagai jarum yang menarik benang untuk merajut kehidupan.
Tapi sungguh, sepertinya dewa cinta akan memulai misi penuh kesialan saat ini.Sedikit berfirasat bahwa ia akan kepayahan dari tugas sebelumnya.Lihatlah tatapan kesal yang menjadi respon pengantin wanita.Menikam tajam,seakan mencebik orang didepannya dengan brutal.Tentu itu terjadi di dalam pikirannya.
Jangan lupakan harga diri Hans yang tidak bisa banting harga secara tiba-tiba.Meskipun bertekad mendapatkan hati sang istri,bukan berarti menjual gengsinya dengan harga murah.Tidak,ia pastikan itu tidak akan terjadi.
Ah,sungguh.Padahal sudah melewati satu kehidupan,tapi tak berhasil merubah seluruh sifatnya.Padahal dewa cinta berharap itu bisa menjadi alat yang mempermudahnya untuk menyatukan kedua manusia salju ini.Tapi, sepertinya dewa cinta terlalu berharap.
Lihatlah bagaimana tangan kekar Hans masih mengelus lembut pipi pualam itu.Lantas tersenyum lebar dengan dibumbui debu-debu licik,"Aku seorang aktor yang baik bukan?"
...TBC......