
Langit sore yang berangsur cerah menjadi saksi langkah cepat kedua lelaki itu masuk ke dalam gedung putih.Memasang wajah kelewat khawatir, seraya menyibak pintu kaca yang hampir menutup.
Tak jauh dari pintu masuk,mereka menghampiri meja administrasi.Menanyakan letak lantai kamar yang dituju kemudian langsung pergi ke arah lift.Beruntung,lift itu kosong.Jika tidak, mungkin akan menghambat rajutan langkah mereka.
Pintu besi itu berdenting nyaring lalu tertutup, sebelum melesat ke atas dengan cepat.Membawa dua sosok tergesa-gesa tadi menuju lantai lima.Sedangkan di dalam,mereka hanya terpaku tanpa adanya percakapan berarti selama lift itu bergerak naik.Masih setiap menaruh tatapan kosong pada pintu lift yang masih tertutup.Larut dalam pikiran masing-masing.
Jujur,saat ini Hans tidak bisa berpikir jernih.Rasa frustasi menggelayut membebani kepalanya.Begitu khawatir tentang keadaan istrinya saat ini.Sementara pikirannya terang-terangan mencemaskan reaksi apa yang akan di berikan sang istri untuknya nanti.
Ia mengerti,manusia memiliki batas kesabarannya tersendiri.Pun berlaku pada Joanna yang selalu menghadapi sikap dinginnya dengan begitu baik.Kesalahannya kali ini memang fatal,tapi tidak salah kan mengharapkan maafnya yang brengsek dan sederhana ini diterima barang sedikitpun?
Di sisi lain Will larut dalam pikirannya sendiri.Entahlah,tapi ia jelas tak berniat sedikitpun untuk membuka pembicaraan.Berusaha memberikan waktu untuk sang sahabat agar menata hatinya kembali.
Hans terlihat menelan salivanya kasar.Lalu melanjutkan langkahnya dengan berat setelah pintu lift terbuka.Tampak jelas betapa kalut pikirannya dari ekspresi yang tersemat di wajah pribadi tegas itu.
Perlahan Hans merasakan desir menyapu dada.Kemudian begitu sesak seolah terganjal batu-batu besar.Ia tak tahu perasaan apa ini.Apakah hanya efek dari gelisah? Khawatir?atau...
Firasat?!
Tidak,itu tidak mungkin dan tidak boleh terjadi.Sunnie-nya pasti baik-baik saja sekarang.Dia mungkin sedang menikmati cahaya matahari sore sekarang?iya kan?
Ketukan sepatu mereka berhenti tepat setelah melewati lorong kedua.Berdiri cukup tegang di depan pintu kayu dengan plat nomor 1011.Will tampak melirik ponselnya sekilas, sedikit memastikan Apakah mereka berada di pintu kamar yang benar atau tidak.
"Apa ini kamarnya?"tanya Hans memastikan.
Will mengangguk setelah yakin bahwa pentunjuknya benar-benar logis.Sementara Hans kemudian tampak menarik nafas begitu dalam sebelum menghelanya kelewat panjang.Mempersiapkan hatinya dengan baik, berharap kehangatannya mampu menyentuh hati dingin Joanna.
Ia tak perduli dengan apapun lagi.Entah harga dirinya yang akan tercoreng,atau gengsinya yang mati kutu.Hatinya kini hanya menginginkan satu hal, Mendapatkan Sunnie-nya kembali.
"Ayo masuk!"lirih Hans.
Will kembali mengangguk pelan.Tangannya lalu meraih gagang pintu.Menggenggamnya ragu sebelum menekan lembut.
Ceklek! krieeetttt...
Papan kayu itu tersibak ke dalam.Menampilkan keadaan ruangan lenggang dengan ranjang putih kebiruan.Terlihat seperti kamar inap pribadi VIP,meskipun seukuran ruang pasien biasa.Kehadiran sebuah sofa dan televisi pun membuat ruangan itu terkesan mewah.Sedikit aneh kala bau parasetamol dan antiseptik masih tercium ke dalam, padahal sebenarnya kamar ini sudah bisa disebut kamar kelas atas.
Tidak,bukan itu yang membuat kedua sosok itu tampak terperanjat saat ini.Bukan kamar pasien ataupun bau obat-obatan yang menelusup ke hidung.
Namun, karena ranjang putih itu kosong.
Terlihat begitu rapi seperti baru saja di bereskan.Bahkan beberapa barang atau baju yang seharusnya ada dilemari pun sudah terlipat dalam tas.Benar-benar bersih, persis seperti kamar yang tidak ditempati.
"Will,kau yakin ini kamarnya?"
Will mengangguk tegas juga menatap sama herannya dengan Hans.Ia kemudian menunjukkan beberapa catatan dari layar ponselnya.
"Lihat!aku yakin seharusnya Joanna ada di kamar ini!"jawab Will sungguh-sungguh.
"Baju ini mungkin milik Joanna,Hans.tapi kenapa sudah di rapikan seperti ini?"selidik Will curiga seraya menenteng salah satu dress biru dari dalam tas itu.
Hans terdiam.Tidak masuk akal jika Joanna sudah pulang atau pindah ruangan,tapi meninggalkan baju dan tasnya.Tidak mungkin di culik kan?
Krieeetttt...
Kedua sosok gagah itu menoleh bersamaan.Mendapati seorang lelaki dengan jas putih selutut masuk ke ruangan.Tanpa di beritahupun,mereka jelas akan tahu jika lelaki itu salah satu dokter rumah sakit ini dari name tag dan stetoskop yang terkalung di lehernya.
"Apa kalian wali dari pasien kamar ini?"tanya pria itu setelah sampai di depan mereka.
"Iya,benar dokter!saya suaminya!"Hans menyahut cepat seraya melangkah maju ke hadapan pria itu.
Pria paruh baya itu hanya menghela nafas sebelum mengangguk tenang.Kemudian kembali menatap Hans dengan tatapan tak terartikan.
"Pasien Joanna Agatha sudah pindah ruangan beberapa jam yang lalu.Sepertinya anda salah memasuki ruangan,"jelas dokter itu lalu menghalau keluar ruangan.
Hans dan Will saling menatap.Kemudian memilih untuk membungkam wicara lalu mengikuti langkah dokter.
Mereka keluar dari ruangan itu, kemudian masuk ke dalam lift yang tau-tau sudah kosong.Keduanya mengikuti langkah sang dokter tanpa menimpalinya dengan lebih banyak pertanyaan.
Lega,itu yang dirasakan Will saat yakin bahwa Joanna mungkin baik-baik saja.Ruangannya bahkan turun ke lantai satu.Apakah mungkin ia sudah di perbolehkan pulang?
Ya,meski pemikiran itu tidak berlaku untuk Hans yang masih memasang muka khawatirnya.Merasa curiga mengapa mereka turun ke lantai satu.Apa akhirnya dokter itu akan mengusir mereka keluar setelah sampai di sana?apakah ia adalah sekongkolan orang yang selama ini berada di belakang Joanna?
"Kalian seharusnya datang lebih awal..."Ujar dokter itu tiba-tiba seraya melangkahkan kaki keluar lift.
Keduanya masih diam,tak berniat merespon ucapan itu.Meskipun tak dapat dipungkiri perkataan tadi membuat mereka tersentak.Sedikit curiga tentang maksud pria itu.
Namun,wicara ragu untuk bertanya meskipun nyatanya pikiran masih memikul ribuan spekulasi.Langkah mereka semakin membawa ketiganya ke ruangan bagian depan.Apakah mereka akan benar-benar di usir?
Namun sepertinya tidak,saat langkah dokter itu malah berbelok kearah kiri bukannya ke pintu keluar padahal tinggal beberapa langkah lagi.Menuju lorong berikutnya yang berlawanan dengan pintu kaca itu.Sedikit termangu saat tapakan kaki mereka terhenti di depan pintu bertuliskan IGD.
"Apa ini? bukankah Joanna kecelakaannya sudah dari beberapa hari yang lalu? kenapa masih dirawat di IGD?"Hans langsung menyela sebelum pria itu sempat berujar.
Menatap tajam,seolah siap menebas jika ia benar-benar mengatakan hal yang tidak masuk akal.Sementara pria berstatus dokter itu sedikit gemetar, merasakan aura dominasi yang menghantam tubuhnya.Sedikit menarik nafas lebih dalam, kemudian mencoba menjawab setenang mungkin.
"Maaf,tapi pasien bernama Joanna Agatha sudah meninggal dari 3 jam yang lalu setelah terjatuh dari jendela kamar,"jelas pria itu sedikit menunduk.
Deg!
"Brengsek! kenapa kalian begitu tidak becus menjaga satu pasien saja huh?!"Hans langsung meraih kerah baju dokter itu.
Menatap begitu kesal dengan emosi yang hampir saja meledak.Will reflek menarik Hans, tidak ingin sesuatu yang lebih parah terjadi.Sungguh,Hans sepertinya akan hilang kendali.
Srakk!
Hans menepis tangan Will.Hampir saja kembali meraih kerah jas dokter itu jika tidak di tarik kembali oleh Will.Dengan sigap,Will menatap dokter itu sedetik lalu mengalihkannya ke arah lain dengan cepat—menyuruhnya pergi.Dokter itu kemudian membungkuk sopan,lalu melenggang cepat ke arah berlawanan.
Hans tampak terengah-engah, hampir kehabisan oksigen dalam dekapan Will yang begitu erat.Amarahnya tampak surut,saat eratan rahang Hans mulai merenggang.Otot-ototnya yang sempat menegang tadi bahkan kembali longgar dengan perlahan.
Setelah Will yakin sahabatnya telah kembali tenang,ia melepaskan pelukannya.Membiarkan tubuh kekar Hans kembali bebas untuk mengais udara segar.Will tahu jelas bahwa sahabatnya itu tidak mungkin berlaku konyol dengan mengejar dokter tadi.
Sementara Hans meraih pucuk sudut sandaran kursi saat tubuhnya sempoyongan.Hampir jatuh berlutut kala sendinya tiba-tiba melemas.Kemudian memilih kembali menerawang jauh ke langit di luar kaca jendela.
Hatinya seketika mencelos saat merasakan desir yang semakin deras mengalir di dada dan menekan tanpa ampun.Mengiris perih,bahkan membuat paru-parunya sedikit kepayahan mengais udara.
"Hans..."Will menautkan telapak tangannya pada pundak Hans.
"Dia sudah hilang.Sunnie benar-benar hilang seutuhnya..."jawab Hans datar—kosong tanpa intonasi.
Perasaan Will turut bercampur aduk.Bahkan dadanya ikut sesak saat menilik mata hampa Hans yang kering seperti gurun.Sedikit menepuk-nepuk pundaknya pelan,mencoba sebaik mungkin menyalurkan seluruh afeksi pada sahabatnya itu.
Ia kesal,kenapa dirinya begitu lamban untuk segera menemukan Joanna.Menyesal,kenapa ia terlalu lama untuk membawa Hans kesini.Ia mengerti bagaimana hancurnya perasaan Hans,bagaimana sorot mata tajam itu berangsur dingin seketika.Jelas faham,betapa tulus dan rindunya Hans pada sahabat masa kecilnya.
"Ingin melihatnya?"
"Tidak perlu!Itu hanya akan membuang waktu,"jawab Hans kelewat datar.
Hans masih menatap keluar jendela yang berada di depannya.Merasa berantakan,bagai warna yang sembarang di coretkan pada kanvas.Kusut,buram,hampa dan tidak berarti.Sedikit menarik nafas dengan keras, merasakan bagaimana sesak seakan mengganjal udara untuk masuk di tenggorokan.
"Kau sudah mencarinya bertahun-tahun,"Will menghela nafas ringan,"Tidakkah kau mau menemuinya untuk terakhir kali?"
"Tetapi tetap sia-sia kan,"sorot mata Hans masih setia menerawang langit,"Tidak ada yang bisa aku lakukan.Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkannya kembali?bahkan jika ia sudah memutuskan membenciku sampai akhir hidupnya?"Hans membuang muka seraya mengeluarkan tangannya ke saku celana.
"Dia sudah pergi lebih jauh lagi, Will,"kalimatnya kini terasa lebih menyayat hati.
Wicara Will mendadak kelu.Seolah dibungkam oleh batu besar hingga tak mampu menimpali lebih jauh.Tidak bisa memaksa,atau melakukan sesuatu yang malah membuat Hans semakin menegak getir.Sungguh,ia benci situasi seperti ini.
"Tolong bereskan dengan baik dan jangan cari aku,"timpal Hans tiba-tiba tanpa menoleh.
Will menoleh spontan dan berkata dengan pengertian sebaik mungkin,"Tapi,Hans! Setidaknya kau bisa menemaninya hing—"
"Apa kau tidak mendengarkan ucapanku dengan baik,Manager Will?"Hans memberikan sorot mata tajam dengan eratan rahang sebelum berujar penuh penekanan,"Bereskan dengan baik dan jangan mencariku setelah ini!"
Will merasakan tangannya yang mulai bergetar.Baru kali ini Hans meninggikan suaranya bahkan membentak dengan begitu serius.Kilatan matanya jelas masih menyorotkan emosi meskipun terlihat jelas hatinya begitu rapuh sekarang.
Maka, sebelum semuanya semakin memburuk,Will menjawab dengan intonasi sopan,"Baik,Presdir Hans!"
Pribadi gagah itu lalu melenggang pergi ke arah pintu keluar.Berjalan tegas seperti biasa seraya membenarkan jasnya.Will menatap sendu punggung sang sahabat.Lalu berbalik mengabaikan tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
...TBC......