
"Aku turut berduka cita,"Ujar wanita berpakaian serba hitam itu lalu menundukkan tubuhnya sekilas bersama pria disampingnya.
Sepasang pria dan wanita yang di tuju membalas tundukan itu.Mengulaskan senyum simpul,lalu mempersilahkan tamu tersebut pergi setelah pamit.
Itu berlangsung beberapa kali hingga waktu merangkak petang.Hari yang menggelap, dimana para tamu yang datang pun juga semakin sepi.Menyisakan ruangan yang berangsur sunyi dengan sendu yang masih mengudara hampa.
Wanita berusia empat puluhan yang sejak tadi menerima tamu terlihat keluar ruangan.Berjalan menuju sofa di ruang depan, menghampiri pria rupawan yang masih setia meratapi langit yang menggelap.
"Will,apa Hans belum juga kembali?"
Yang di tanya spontan menoleh.Lantas berdiri seraya membungkukkan badannya singkat kemudian menjawab setenang mungkin.
"Belum,nyonya!"
Wanita itu tersenyum teduh sambil menepuk pundak Will,"Tidak perlu seperti itu, Wil!apa begitu caramu berbicara dengan ibumu ini?"
Will tersenyum seraya menunduk.Lagi-lagi perasaannya menghangat setiap bertemu wanita dihadapannya.Ibu sang sahabat, yang mengadopsinya dari panti asuhan.Wanita yang menggantikan kasih sayang orang tuanya yang hilang.
Will sejak kecil memang di rawat oleh keluarga Hans.Karena itu,ia kini mengabdikan dirinya untuk menjaga dan selalu ada untuk sahabatnya itu.Meski Ia lebih terlihat seperti adik Hans,tapi justru ia yang menjaganya dari kecil sampai sekarang.
Itulah mengapa,kini Will begitu merasa bersalah tidak bisa menemani Hans di saat-saat terpahitnya.Merasa gagal, menjadi sandaran sosok yang selalu ada untuk kakaknya.
Wanita bersurai hitam pekat itu kemudian menempatkan bantal duduknya di sofa.Menepuk tempat kosong disampingnya, menyuruh Will untuk duduk disana.Will mengangguk,kemudian menuruti perintah ibu angkatnya.
"Tak perlu merasa bersalah,kau sudah menjadi adik yang sangaaaaaat baik untuknya,"wanita itu mengelus punggung Will lembut.
"Iya,Ibu,"balas Will mengangguk.
Lantas menunduk,menatap lantai pualam dimana sepatu hitamnya berpijak ringan.Merasakan getir yang merangsek lancang di relung hati.Kemudian menatap sendu sang ibunda.
"Aku tahu kau begitu khawatir,nak Will.Hans, pasti baik-baik saja!dia hanya memerlukan waktu untuk menenangkan dirinya.Dari dulu dia memang seperti itu kan?"tutur ibunda berharap ucapannya bisa menyurutkan kecemasan Will.
Will merespon dengan anggukan pelan.Lalu Memutuskan untuk kembali menerawang ke cakrawala yang perlahan terhiasi rintikkan hujan.Padahal ia berharap malam akan cerah,kemudian membawa Hans kembali.Ah,ini seperti de javu untuknya.
—
—
—
"Jangan cari aku!"
Itu kalimat yang terakhir didengar Will setelah sang pengucap hilang entah kemana.Pasalnya, Ia sedang marah karena tiba-tiba pindah ke kota.Dia Hans,bukan anak lainnya yang akan merajuk jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.Dia malah menghilang tanpa jejak,lalu tau-tau pulang setelah beberapa hari.
Entahlah, sampai kini,bahkan kedua orang tuanya tidak berhasil menemukan tempat persembunyian lelaki kecil itu.Sangat merepotkan, apalagi kekhawatiran terus bercokol dalam hati.Dia satu-satunya penerus perusahaan terbesar di dunia,kalau diculik bagaimana?
Oke,anggaplah itu pemikiran kedua orang tuanya yang terlalu berlebihan.Nyatanya, Will sebenarnya tahu keberadaan Hans sekarang.
Dimana lagi kalau bukan di rumah Sunnie,sahabat kesayangannya itu.Will saja sampai iri.Bisa-bisanya dia lebih memilih kabur ke rumah Sunnie dari pada kamar Will.Padahal kalau memang niat bersembunyi, pasti tidak ditemukan di kamar Will.
"Mom,apa kak Hans belum kembali?"Will membuka pembicaraan setelah saling diam dengan ibunya sedari tadi.
Elena,Ibu angkatnya, kemudian menoleh.Lantas menaruh gelas di wastafel dan ikut duduk di kursi meja makan.Menghadap Will, seraya memberikan sorot mata penuh keteduhan.
Ia tahu bagaimana kekhawatiran sang anak pada kakaknya.Ya,meskipun Hans hanya Kakak angkatnya,namun Elena jelas mengerti bagaimana tulusnya Will menjaga Hans bahkan tanpa ia suruh sekalipun.
"Belum,mungkin masih mencari ketenangan untuk dirinya.Lagipula ia sudah besar,will.Tak perlu mengkhawatirkannya seperti anak TK!"jelas Elena kemudian tertawa ringan.
Sejujurnya khawatir jelas masih menyelimuti batinnya.Tapi bukan berarti ia lupa dengan perannya sebagai sandaran dan penenang kegelisahan bagi anaknya,termasuk Will.
"Baik,mom.Maaf ya Will gak bisa jagain kak Hans.Padahal kan mommy terus merawat Will dengan baik,"tutur Will dengan intonasi kecewa.
Elena mengulas senyum hangat kemudian mengusap surai Will lembut,"Kan sudah mommy bilang,mau Will atau Hans sama-sama anak mommy! Jadi jangan berpikir seperti itu ya!"
Will mengangguk senang.Merasakan buncahan kehangatan yang memeluk dadanya.Merasa senang, bagaimana ia disayangi seperti bagian asli dari mereka.Sedikit mengurangi kegelisahannya tentang sang kakak yang tak kunjung pulang.
Menatapi samudra langit yang berhiaskan tetesan air.Hujan,padahal ia berharap langit kan cerah.Menaruh harap,langit cerah akan membawa Hans pulang.Terdengar konyol,tapi wajar diusianya yang baru masuk ke umur dua digit.
—
—
—
Will mengulas senyum.Mengingat masa kecil adalah kebahagiaan dan penderitaan tersendiri untuknya.Bahagia mengingat kehangatan yang ia terima dari keluarga Hans.Namun menusuk perlahan,saat menyadari bahwa ia bukanlah bagian asli dari mereka.Meninggalkan jejak hutang Budi,yang hingga kini mendorong dirinya untuk membalas dengan baik.
Pribadi gagah itu menoleh ke arah dalam ruangan, memastikan ibu angkatnya benar-benar sudah masuk ke sana.Sedikit khawatir, takut sang ibunda mendengar percakapan yang akan dibicarakannya nanti.
Ponselnya masih bersuara 'tuut,turut,tuuutt' sebab yang di hubungi tidak kunjung mengangkat panggilan Will.Setelah berulang kali gagal, Will nyaris membanting persegi pendar itu jika saja sang tujuan tidak mengangkatnya tiba-tiba.
Beberapa saat yang lalu.
Isi empat botol alkohol habis dalam beberapa jam saja.Di tegak frustasi oleh sosok kekar itu seraya meratapi hiruk-pikuk kedai yang semakin sepi.Begitu iri pada tawa yang sesekali mengudara dan dentingan gelas dari cheers euforia.
Lelaki itu tertawa remeh,kembali menegak botol kelimanya hingga setengah kosong.Berniat menghabiskan,namun gagal ketika layar persegi panjang dari saku jasnya kembali bergetar untuk kesekian kali.
Itu jelas mengganggu,lantas membuat pria berkemeja putih itu merogoh saku jasnya kasar.Menilik pendar layarnya,namun malah menautkan kedua alis kendati mendapati nomor asing yang bertengger di sana.
Menatap ragu sejenak, sebelum memutuskan untuk menggeser pendar hijau.Siapa tahu ini telepon penting.Jika telepon iseng, tinggal tutup saja.
"Kau pasti penasaran siapa orang yang ada dibelakang istrimu kan,Hans Zavier?"suara bariton terdengar dari seberang sana setelah Hans mengangkat telepon.
Lantas membuat Lelaki itu terjingkat.Terlihat menegakkan tubuhnya,berusaha mempertahankan kesadarannya yang hampir tandas.Sedikit berdehem, mencoba menjawab dengan nada normalnya.
"Apa tujuanmu?"jawab Hans langsung ke inti.
Sedikit menerka-nerka apa respon yang akan diberikan dan nyatanya terkejut ketika dijawab dengan begitu tidak terduga,"Wahh, ternyata benar kau orang yang begitu dingin dan tidak suka berbasa-basi.Tak ada bedanya dengan Joanna,"tutur lelaki di seberang sana yang malah membuat Hans semakin muak.
"Apa kau menelponku hanya karena ingin membandingkanku dengan Joanna?"tukas Hans kesal.
Pria dalam telepon itu tertawa.Berhasil membuat Hans semakin kesal,bahkan muak saat orang itu terus berbelit-belit dan mengulur waktu.Ia benar-benar benci situasi ini.Dimana ia begitu muak dan tidak ingin meladeni,namun tak bisa menutup sebab ada yang ingin ia tahu dari pembicaraan ini.
"Brengsek! benar-benar sampah yang banyak bicara!"umpat Hans terang-terangan.
Tidak, sepertinya ia hampir kehilangan kendali atas dirinya.Kesadarannya pun mulai merosot saat merasakan penglihatannya yang mulai kacau.Berputar seenaknya,membuat kepalanya pusing bukan main.
"Aku tahu kau sedang mabuk sekarang.Hampir gila,mungkin?"suaranya terputus saat tegukan air terdengar dari seberang sana.
"Kau tidak perlu tahu siapa dia,"tawaan remeh mengudara setelahnya.
Membuat Hans kembali memperjuangkan kesadarannya demi mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi.Menyebalkan ketika lelaki itu seperti ingin mengungkapkan sesuatu,tapi tidak jelas.Apakah ia juga sedang mabuk?
"Aku hanya kasihan padamu yang mungkin sekarang sedang menyalahkan diri sendiri,"lagi-lagi ucapannya tersela oleh tegakkan air,"Intinya Joanna mati bukan karenamu.Jadi,tidak perlu seperti orang bodoh dan menyalahkan diri sendiri."
Tuuut,tuuut,tuuuuuut...
Telepon terputus.Padahal Hans belum mengerti dengan baik maksud dari ucapan pria tadi.Hans jelas percaya ucapan penelpon tadi.Aneh jika itu telepon iseng tapi berkaitan dengan jelas dan logis tentang Joanna dimana hanya ia dan Will yang tahu.
Tidak sanggup untuk sekedar membanting ponsel,Hans lebih dulu pingsan di meja.Kesadarannya terus merosot,bahkan teleponnya yang berdering kembali kini tidak mengganggunya sama sekali.
Bergetar beberapa kali,sampai akhirnya kembali mengusik kesadarannya yang nyaris hilang.Dengan tenaga yang tersisa,ia meraih pendar persegi itu dan menggeser bulatan hijau ke samping kanan.
"Hm,ada apa, Will adikku sayang?apa kau mengkhawatirkanku?aku baik-baik saja kok!cuma minum beberapa gelas teh hahahaha!"racau Hans kacau.
Decakan kesal bercampur heran terdengar dari seberang sana.Menjengkelkan, bisa-bisanya orang ini berbicara begitu santai padahal sudah merepotkan seisi rumah.
"Habis berapa botol lagi,kak?"kini nada bicara Will benar-benar terdengar seperti adik yang memarahi kakaknya.
Bukannya kesal, Hans malah tertawa.Sedikit melirik ke layar ponselnya,padahal hanya telepon biasa bukan video call.Namun ekspresinya saat ini seperti seorang kakak yang menilik adiknya begitu senang dan bangga.
"Sudah lama kau tidak memanggilku seperti itu, Will adikku sayang!"tawa lagi-lagi mengudara.
Percayalah, sekarang wajah Will mungkin sudah memerah.Mendengar pujian seperti ini begitu memalukan untuknya.Kehangatan Hans yang begini seakan memberi kesan kekanakan dan begitu memalukan untuknya.Tenang,ia masih pria normal kok.Hanya saja untuk laki-laki,ini begitu memalukan.
"Kak,jangan pergi lama-lama!kasihan ibu,"tutur Will sepengertian mungkin.
"Hmm,"jawab Hans mengiyakan seraya menganggukkan kepala.
Kemudian memutus telepon singkat itu.Sedikit takut membuat sahabat sekaligus adik angkatnya itu semakin cemas.Tentu saja sebenarnya ia cukup terhibur oleh pembicaraan tadi.Merasakan kehangatan yang diharapkan muncul dan kini sudah memeluknya erat.
"Lagi-lagi kau tetap tidak berubah.Aku pun.Lari lagi dari kenyataan.Hanya keadaan yang berubah,"Hans kembali meracau.
Lantas menegak sisa isi botol kelimanya hingga habis.Itu berakhir dengan ambrukan tubuhnya yang ditumpu meja.Menyisakan botol-botol kosong yang tergeletak lalu tak lama kemudian di bersihkan oleh pegawai kedai.
Tidak heran,pasalnya lelaki yang sedang pingsan sekarang kelewat sering untuk sekedar berkunjung kesini.Memesan banyak botol minuman alkohol, menegaknya habis dan ambruk hingga pagi.Besoknya ia akan bangun, sedikit linglung lalu membayar.Kemudian melenggang pergi setelah berterima kasih dan meminta maaf telah merepotkan mereka.
Setidaknya itu yang terpikir pegawai kedai saat membersihkan meja Hans.Pun pemilik kedai yang kemudian menyuruh pegawai tadi untuk menyelimuti Hans dengan selimut kecil miliknya.
"Lagi-lagi beliau kesini, padahal orang terkenal,"ujar pegawai itu seraya menyelimuti Hans.
"Justru itu dia mendatangi tempat kecil seperti kedai kita,"jawab pemilik kedai singkat.
Kemudian melewati Hans pelan setelah menutup kedai.Sedikit menoleh, memberikan sorot mata teduh.Pria ini adalah pelanggan setianya, yang selalu datang dengan sapaan hangat.Padahal terkenal dengan julukan pangeran dingin di luar sana.
Tersenyum simpul,antara merasa miris setiap melihatnya seperti ini dan khawatir akan hujan turun begitu deras.Tentu saja menurunkan suhu yang kemudian berhasil membuat tubuh siapa saja menggigil.
"Besok dia pasti baru bangun setelah kita sampai di sini,"timpal pegawai itu.
Dibalas anggukan oleh pemilik kedai yang merupakan wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih.
...TBC......