YOU ARE MYSERENDIPITY

YOU ARE MYSERENDIPITY
EPISODE 2



"Apa kau sudah menemukannya?"sosok lelaki bersuara kelewat serius itu memutar kursi kerjanya—menghadap ke orang yang diajak bicara.


Helaan nafas jelas terdengar dari orang dihadapannya.Itu aneh,membuat semburat khawatir terpampang jelas di wajah Hans.Terlihat menjadi petunjuk,mungkin jawaban yang didapatkan tidak sebaik yang ia kira.


"Hans,istrimu kecelakaan dari seminggu yang lalu."


Drraakk!


Sosok dingin itu tampak terperanjat bersamaan membanting kursinya kebelakang—berdiri.Pupil matanya bergetar kala getir menelusup lancang ke relung hati.Padahal diri nya mati-matian untuk tidak percaya, tidak pernah ingin percaya.


Sungguh,ia tidak menyangka Joanna akan berbuat sejauh ini.Padahal ia hanya mengira istrinya kabur karena kejadian beberapa hari yang lalu,bukan kecelakaan atau sesuatu yang buruk.


Dan sekarang?


Ah,ini benar-benar mengacaukan segalanya.Tidak masuk akal bagaimana ini terjadi begitu cepat.Bukankah ia baru menemukannya beberapa hari yang lalu?ia bahkan baru saja memikirkan strategi untuk menahlukan hatinya semenit lalu!


Brakk!!


Hans menggebrak mejanya keras.Lantas berhasil membuat managernya mundur beberapa langkah lantaran terkejut.Terlihat begitu ngeri,namun sang manager jelas masih bisa menangkap rajutan sendu yang terpancar jelas pada benang tatapnya.


"Lalu,bagaimana keadaannya sekarang?"suara Hans mulai terdengar lirih,namun masih terasa tegas seperti biasa.


Will,manager kepercayaannya itu hanya terdiam.Menunduk,tak sanggup menatap sang atasan sekaligus teman akrabnya itu.Jujur,baru kali ini ia melihat sahabatnya Sebegitu kalut.Tak dapat dihindari,sejatinya perasaan bersalah sudah sejak tadi bersarang di batinnya.Merasa salah memilih,begitu sadar tindakannya justru menjerumuskan sang sahabat pada penyesalan seumur hidup.


Seharusnya,Hans Zavier yang seperti biasa tidak akan menganggap penting hal ini.Tentu saja mungkin ia akan tersenyum puas mengingat ada kemungkinan berpisah dengan istrinya dan fokus mencari cinta pertamanya tanpa menyakiti siapapun.


Namun,beda dengan Hans yang sekarang.Lihatlah,betapa hancurnya Hans kini yang tengah terisak di meja dengan bertumpu sebelah tangan.Air mata jelas sudah sejak tadi membasahi jas biru tua itu.Menyalurkan kesedihannya pada isakan tak berarti.Karena kini, semuanya telah terlambat.


Melihat ini saja,hati Will benar-benar ikut hancur.Ia merasa terombang-ambing dalam timbangan akalnya.Merasa bersalah memberi tahu Hans dan malah menjerumuskannya pada keterpurukan.Padahal pada awalnya ia berpikir ini akan menjadi peluang untuk Hans memperbaiki keadaan.


Tapi nyatanya,itu malah menjadi jalan berduri yang teramat pedih baginya.Dimana semuanya telah terlanjur, tidak bisa berjalan mundur atau maju.Entahlah,ia masih tak percaya semua ini menjadi semakin berantakan.


Will lalu membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Hans.Ia mengerti dengan baik bagaimana Hans dengan harga diri sekukuh gunung Everest itu tidak suka terlihat lemah didepan siapapun.Setidaknya Ia berusaha memberikan kenyamanan tersendiri untuk sahabatnya itu.


Andaikan laporannya beberapa waktu lalu tidak ia sampaikan, apakah Hans akan sesedih ini?


-


-


-


Brak!!


Debuman pintu mengudara keras bersamaan seorang pria gagah yang memasuki ruangan dengan terengah-engah.Bajunya tampak sedikit berantakan,namun tidak menyanggah bagaimana rupa itu masih terlihat tampan dengan bulir-bulir keringat di ujung rambut.


sungguh,siapapun akan kaget mendengar debuman lancang barusan.Itu juga berlaku untuk pribadi kekar yang kini tengah fokus di meja kerjanya.Percayalah,Hans sebenarnya sudah membunuh orang itu secara brutal di pikirannya.


"Apakah kepalamu habis terbentur sesuatu hingga melupakan etika kerja,William garden?"tohok Hans dengan dinginnya.


Tentu membuat lelaki yang barusan masuk menghela nafas terang-terangan.Sedikit kesal,melihat bagaimana ia mati-matian menemukan berkas yang digenggamnya ini,tapi malah ditohok begitu kejam.


Menyebalkan!Untung Hans teman baiknya.Jika tidak,mungkin ia akan mengajukan surat pengunduran diri saat ini juga.


"Hans,bukan saatnya membicarakan hal lain,sekarang ada hal yang lebih penting untukmu!"lelaki dengan jas cokelat itu mendekat ke meja kerja Hans.


Meskipun begitu, Hans tetap tidak berminat sama sekali.Sejujurnya ia tidak mau memikirkan apapun saat ini.Omelan sang ibu tadi pagi jelas masih terngiang di kepala, bagaimana kesalnya sang ibu saat tak menemukan menantu Kesayangannya di mansion.


Kesal,sangat kesal.Apalagi kabar yang dibawa managernya ini belum tentu kabar baik.Cukup terlihat jelas dari ekspresi apa yang tersemat pada wajahnya saat ini.


Sejurus kemudian,Hans menoleh kearah Will.Menatapnya kelewat tajam seolah berkata ,"Jika ini bukan hal penting,aku akan membunuhmu saat ini juga."


Jelas berhasil membuat Will menelan salivanya kasar.Dengan sedikit gemetar,tangannya kemudian menyodorkan sebuah berkas berwarna hitam.Hans lantas menautkan kedua alisnya sebelum menyahut cepat berkas itu.Sedikit melirik curiga,sadar ekspresi managernya itu begitu tak terartikan.


Tangan kekarnya kemudian membuka ordner hitam itu.Membaca tiap halaman dengan seksama sebelum hampir menjatuhkannya pada saat membaca lembaran terakhir.


"Kau tidak bercanda kan,Will?"Hans menatap kelewat serius.


"Aku juga tidak percaya pada awalnya.namun,nyatanya foto dan catatan harian ini ada di kamar Joanna!"jelas Will singkat.


"Aku juga tidak tahu kenapa baru berpikir untuk mengunjungi rumah lama Joanna.Kukira itu sudah terbakar habis, tapi ternyata tidak.Ini juga tidak sengaja kutemukan saat itu."


"Tapi bukankah ini kabar bagus?belum terlambat untukmu mendapatkan hatinya,Hans.Apalagi kalian sudah terikat hubungan pernikahan, bukankah takdir benar-benar membantumu menemukannya?"


Yang ditanya terdiam.Masih memandang kosong keramik lantai.Semua ini terasa tidak masuk akal untuknya.Takdir membantu?hah, jangan bercanda!ia bahkan sedang mempermainkannya sekarang.


Bagaimana tidak?! bertahun-tahun ia mencari keberadaan gadis kecil yang dulu sering menemaninya.Gadis kecil antah berantah yang selalu ada untuk menghapus air matanya.Gadis bersurai hitam legam yang selalu merekahkan senyumnya.Gadis tanpa nama yang sudah mengisi hati dengan seluruh kehangatan yang ia miliki.


Tapi kenapa baru sekarang?kenapa takdir baru memperlihatkannya sekarang? memperlihatkan Joanna sebagai Sunnie,gadis manisnya yang penuh kehangatan, bukan istri dinginnya.


Hans memijit pelipisnya pelan, merasakan pening yang menjalar di kepala.Jika ia mengetahui ini dari beberapa hari yang lalu,mungkin ia tidak perlu se frustasi ini.Tapi dengan situasi saat ini?


Entahlah,kini pikirannya benar-benar berantakan.Perasaannya bercampur aduk bersamaan hatinya yang rapuh.Seakan kuasnya pada canvas takdir telah kehilangan warna.


"Tunggu,kenapa kau jadi terlihat suram?mukamu benar-benar kusut, Hans!Apa perlu ku setrika?"candaan Will memecah kaca lamunan Hans.


Will tertawa kecil saat melihat ekspresi kesal yang tersemat di wajah sahabatnya.Sungguh laknat,tidak tahukah bahwa tragedi besar sedang bersiap menghatam?


"Oke oke,aku tahu ini cukup mengejutkan untukmu Hans.Tapi mengetahuinya sekarang sebenarnya tidak begitu buruk, setidaknya kau tidak akan melakukan kesalahan besar kedepannya,"Will tampak mengambil beberapa berkas yang sudah ditandatangani Hans di file holder.


"Tapi itu sudah terjadi,"sahut hans tanpa terduga.


Bruk!


Map-map yang beberapa detik lalu berada di pelukan Will kini terjelembab tak berdaya di lantai.Mata Will jelas membulat mengarah pada sahabatnya itu,antara tak percaya dan meminta penjelasan atas ucapannya barusan.


"Aku telah membuat kesalahan besar,"Hans bangun dari duduknya.


Pribadi tegas itu berjalan lunglai ke sofa.Kemudian menempatkan bantal duduknya nyaman disana, berusaha menjernihkan pikirannya yang sudah keruh sejak tadi.


"Jadi apa yang terjadi, Hans?"Will terlihat menghampiri Hans setelah membereskan map-map yang terjatuh.


Namun yang ditanya tak kunjung menjawab.Ia hanya membisu seraya menyandarkan punggungnya nyaman di sandaran sofa.Sepersekian detik kemudian malah mendongakkan wajah bersamaan menutup kelopak mata tanpa berniat mengeluarkan sepatah katapun.


"Hans?"tanya will memastikan untuk kedua kalinya.


Pribadi hangat itu jelas khawatir.Pasalnya beberapa waktu terakhir sahabatnya ini terlihat begitu muram.Ia pikir, setelah memberitahukan kabar ini,Hans akan membaik.Namun, sekarang justru sebaliknya.


Will hanya berharap, semoga apa yang dipikirkannya saat ini,bukanlah jawaban yang akan dilontarkan bibir atasannya itu.


"Eveline, beberapa hari yang lalu datang ke kantorku.Sebenarnya ini salahku karena mengabaikan selebriti yang menjadi brand ambassador produk baru kita."


"Aku tidak tahu bahwa j*Lang itu begitu licik.Sepertinya ia menambahkan sesuatu di farfumnya sebelum memasuki ruanganku.Dan itu terjadi begitu saja, Will!"


Will seketika membeku.Wicaranya seakan membisu mendengar itu.Apa yang ditakutkannya terjadi.Hal ini di luar dugaan,baru kali ini Hans berlaku ceroboh.Bagaimana pun,tipikal orang seperti Hans yang perduli dengan hal-hal kecil dan super teliti biasanya tak akan kecolongan seperti ini.


Ingin marah,tapi Will sadar,itu juga tidak sepenuhnya salah Hans.Ia sadar bahwa tidak ada hak untuknya menyalahkan,atau marah.Jelas itu malah memperburuk keadaan.


"Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba Joanna masuk dan melihat semuanya.Dan dengan bodohnya aku malah lebih mengkhawatirkan pernikahan ini demi ayahku dibandingkan perasaannya.Saat itu aku sangat kesal dengannya,karena beberapa hari lalu ia selalu pulang larut malam dengan diantar lelaki asing.Aku tidak tahu akan berdampak seburuk ini."


"Sial!aku begitu bodoh kan?"


Tawa remeh mengudara begitu sendu.Seakan memberitahu seisi ruangan bahwa hatinya kini benar-benar kacau.Sedangkan Will masih berusaha mati-matian untuk sekedar percaya pada penuturan Hans barusan.Ini sungguh diluar dugaannya.


"Jadi, sekarang joan-"


"Dia pergi entah kemana.Aku sudah mencari ke seluruh tempat,tapi tetap tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Joanna.Seolah seseorang sedang menyembunyikannya dengan baik,"sela Hans frustasi.


-


-


-


"Jadi bagaimana keadaannya sekarang,William garden?"suara Hans semakin lirih.


Seolah menggambarkan betapa sesak dadanya saat ini.Pipi kering itu kini terlihat sembab bersamaan sorot sendunya yang masih setia meratapi kenyataan.


Dengan begitu lunglai,kaki itu membawa tubuhnya menuju Will yang masih terpaku beberapa langkah di depannya.Membawa perasaan kalutnya dengan secercah harapan yang memaksakan diri untuk bisa di percaya.


"Bisakah sekarang kita kesana?"


Will terenyuh.Suara Hans yang biasa terdengar dingin,kini menjadi begitu lembut.Tidak,bukan lembut hangat atau lemah lembut,melainkan lembut pasrah.


Pribadi penuh ambisi di hadapannya kini seakan hanyalah sesosok manusia yang berharap keajaiban hujan di musim kemarau.Menatap pasrah dengan berusaha meyakinkan diri bahwa masih ada harapan.Terdengar begitu tidak tahu diri,mengingat itu adalah hal mustahil.


Will terdiam sejenak,masih terpaku di tatap begitu dalam oleh sahabatnya itu.Bukan tatapan dingin seperti biasa,tapi sorot mata penuh harap dari hati yang mulai merapuh.


"Baiklah.tapi sebelumnya,kuatkan hatimu dulu!"Will menepuk pundak Hans pelan.


TBC...