YOU ARE MYSERENDIPITY

YOU ARE MYSERENDIPITY
EPISODE 3



Langit terlihat muram semenjak tadi.Begitu redup dengan gumpalan kelabu yang memenuhi tiap jengkalnya.Entah pergi kemana sang mentari.Yang biasanya mengintip hangat dari balik awan,kini bersembunyi dengan baik hingga tak nampak sedikitpun sela cahayanya.


Begitu suram seperti sorot mata seorang wanita cantik dari balik tirai putih.Mengintip sendu,berharap cahaya hangat yang disukainya akan hadir saat ini.Perlahan sedikit berangan-angan,bahwa pelukan hangat itu bisa menghangatkan hati dinginnya saat ini.


Tapi nyatanya,siraman cahaya hangat itu hilang entah kemana.Berganti dengan gumpalan kelabu yang menghitam,disusul rintikan cairan yang menyapa lembut.Hujan dengan dinginnya, terlihat semakin deras menyiram bumi.


Sejujurnya,ia bukan termasuk orang yang menyukai hujan.Melihat, bagaimana ia tak suka bajunya yang basah karena cipratan air.Membenci betapa merepotkannya untuk meneduhkan kepala dibawah payung.Terlebih,anginnya yang menghantarkan hawa dingin.Mau tak mau ia harus memakai baju yang lumayan tebal agar tidak flu.


Mungkin sekarang ia seharusnya sedang mengomel di teras perusahaan.Berdecak kesal seraya membuka payung.Atau mungkin,sedang minum cokelat panas sambil menonton televisi bersama ibu mertuanya?


Ntah lah, yang jelas ia tidak bisa melakukannya lagi sekarang.Kejadian pahit beberapa hari yang lalu,membuatnya terbaring pasrah disini.Berteman sunyi seraya menghisap bau antiseptik dan bersembunyi dibalik selimut biru tanpa berani membukanya sedikitpun.


Manik indah itu menerawang jauh ke cakrawala.Berharap ada sebuah keajaiban yang datang menyapa.Jujur,ia terlalu takut untuk keluar.Dimana ombak kenyataan terus menunggu untuk segera menghantam kapal mentalnya.


Menyedihkan memang,menilik miris seberapa puas takdir menyiksanya.Belum lagi dibalik selimut biru ini, tersembunyi kelemahan dirinya yang baru.Sesuatu yang sangat ingin ia sembunyikan dari siapapun,bahkan dari dirinya sendiri.


Joanna Agatha,CEO perusahaan FLOWERIST kehilangan separuh kaki kanannya akibat kecelakaan beberapa hari yang lalu di jalan xxx.Mungkin itu yang akan keluar di majalah minggu ini jika ia benar-benar memberanikan diri keluar sekarang.


Bukan hanya itu, ia juga akan membuat nama baik suaminya yang begitu sempurna ternoda oleh kecacatannya.Belum lagi,mungkin perlakuan para keluarga tirinya akan semakin memburuk padanya.


Brengsek! semuanya benar-benar brengsek!


Joanna mengacak rambutnya frustasi.Berdesis pelan,saat pening dan sesak dadanya mengobrak habis pikirannya.Sesak,ia tidak berbohong.Bahkan kini, paru-parunya begitu kepayahan untuk sekedar mengais udara segar.


"Aku bahkan begitu gagal untuk melindungi diriku sendiri...,"suaranya mulai parau kala tetesan air merembes lembut ke pipi pualamnya.


Sejenak,ia menundukkan sedikit tubuhnya sebelum terisak hebat.Merasa begitu malu pada seisi dunia, betapa menyedihkan dirinya.Bertumpu dengan kedua tangan kurusnya, pundak Joanna bergetar hebat.Menandakan betapa dalam isakannya kali ini.


Semakin sesak, seperti ada bongkahan batu yang mengganjal di dadanya.Perih menyeruak hebat,menikam semakin dalam ke dasar hati yang semakin rapuh.


Sungguh,jika bisa berjalan,ia akan melompat dari rooftop sekarang juga.Ia tidak sanggup jika harus menanggung rasa bersalah seumur hidup seperti ini.Lagipula, semuanya akan baik-baik saja meskipun ia meninggal.Tidak perlu alasan yang rumit.Karena kini,sudah tidak ada lagi alasan ia bertahan lebih jauh.


Joanna menyeka air matanya,lalu menoleh ke arah jendela.Kembali menerawang jauh,sebelum tersenyum indah pada pantulan sinar matahari yang menerobos lembut dari kaca jendela.


Cahaya matahari,menembus gerimis ringan sore ini.





"Apakah dia masih hidup?"Hans masih menatap kosong jalanan.


Sepatah kata itu, menjadi yang pertama setelah ia membisu berjam-jam.Masih larut dalam kalut yang menyelimuti hati.Sorot matanya pun tak lepas dari jalanan yang basah.Tatapannya semakin meredup,berbeda jauh dengan cahaya mentari di luar kaca yang berangsur cerah.


"Dia masih hidup meskipun kehilangan separuh kaki kanannya,"jawab Will seadanya.


Tentu, sebenarnya Will tidak tahu banyak.Menemukan informasi alamat dan keadaannya pun butuh waktu berhari-hari juga bergadang semalaman.Meskipun yang didapat tidak begitu detail,tapi cukup untuk seorang jenius seperti Will menemukan Joanna.


Terbukti, cukup dalam waktu genap empat hari, ia menemukan dengan jelas keberadaan istri sang sahabat.


"Sebenarnya siapa yang menyembunyikan Joanna?ia terlalu cerdik, bahkan bisa merepotkan seorang William garden," celetuknya kesal.


Itu membuat atensi Hans tertarik.Lantas membuatnya menoleh ke arah manager sekaligus sahabatnya itu.


"Itu benar?"Hans mengeryitkan dahi.


Will mengangguk singkat, sementara Hans sudah menatap kelewat tajam.Jelas meminta tanggung jawab pada ucapan Will tadi atas penasaran yang bercokol di benaknya saat ini.Will yang mengerti arti tatapan itu terlihat menghembuskan nafasnya kasar.Kemudian,sedikit melajukan kecepatan mobilnya.


"Sesuai dugaanmu.Ini terlalu kebetulan, Hans! dari informasi kecelakaan yang bisa begitu cepat surut, informasi keberadaannya yang jauh dari perkiraan awalku,bahkan tentang seluk-beluknya yang ntah masih berapa banyak.Yang pasti,ada seseorang yang berada dibelakang Joanna,"jelas Will yakin.


Hans mengangguk pelan—mengerti.Lalu kembali menaruh atensinya pada deretan toko di luar kaca mobil.


"Tapi maksudnya untuk membantu.Itu lebih baik dariku yang tidak melakukan apa-apa,"timpal Hans pasrah.


Will mendengus kesal,namun tak berniat untuk menimpali lebih jauh.Sudah terbiasa oleh sikap Hans jika sedang dalam keadaan seperti ini.Hans akan berpikir begitu pendek dan negatif,seakan apa yang terjadi adalah kesalahannya.Sungguh,Will tidak ingin ada perdebatan lahir di tengah-tengah kekalutan mereka saat ini.





Mentari pagi bersinar hangat mengusir dingin malam.Menyiram lantai bumi dengan begitu cerah ceria.Menularkan sensasi positif pada tiap pribadi yang terpapar olehnya pagi ini.


Hari yang cerah,namun tidak berlaku untuk seorang anak lelaki yang tengah berjalan lesu di trotoar.Menundukkan kepala dengan murung dan Hanya menatap paving halaman sekolah.


Entahlah sebenarnya apa yang sedang dipikirkan anak laki-laki itu,hingga beberapa senggolan pundak tidak mengacaukan tatapan kosongnya.Sosok mungil itu masih saja berjalan lunglai hingga sampai di gerbang sekolah.


Cukup aneh, melihat anak lain disekitarnya terlihat begitu ceria dan semangat.Berbeda jauh dengan dirinya yang terus-terusan menghela nafas kesal dan menunduk murung.


"Pagi! Selamat pagi teman-teman!"suara ceria mengudara dari pintu kelas.


Menampilkan sumbernya,seorang gadis manis dengan Surai sepunggung yang tengah menyapa para temannya yang baru datang di depan pintu kelas.Terlihat begitu ceria, dengan senyum merekah diwajahnya.


"Selamat pagi,Hans!"Gadis itu tersenyum begitu ceria ke bocah lelaki itu.


Sedangkan yang disapa,hanya membalas tatapan dan mengangguk pelan—mengiyakan.Namun bibirnya tidak melontarkan sepatah katapun sebagai balasan.


Gadis itu mengangguk dan kembali tersenyum.Sadar bahwa orang yang disapa sebisa mungkin memberikan respon.Ia cukup terbiasa dengan sikap dingin Hans.


Hans langsung berlalu ke bangkunya,namun gagal ketika lengannya ditahan oleh gadis itu.


"Hm?"Hans menoleh tak minat.


Gadis kecil itu tersenyum,lalu merogoh saku nya dan mengambil beberapa buntalan warna warni.


"Kenapa kau selalu murung sih?"ujarnya seraya menaruh empat bungkusan permen di tangan anak lelaki itu.


"Pagi ini aku memberikan bonus satu permen!lihat ini permen berwarna ungu!itu langka loh di setiap bungkusnya!"jelas gadis itu begitu semangat.


Hans mengangguk.Mengiyakan agar adegan ini tidak berlanjut lebih lama.Lagi pula, tidak baik juga mengabaikan sapaan gadis itu yang begitu ceria setiap pagi.


Selalu berangkat kelewat awal,dan berdiri di ambang pintu untuk menyapa anak-anak yang datang.Membagikan sebungkus permen dengan senyum cerianya tiap pagi.


Hans sampai bingung, kenapa ada manusia seperti itu di dunia.Terlihat begitu merepotkan,ia saja sampai bergidik jika membayangkan itu adalah dirinya.





"Haaaahhh...."Helaan nafas berhembus lembut, kemudian menyatu dengan sepoian angin.


Seorang anak lelaki sedang duduk di pinggiran tembok pembatas rooftop.Menaruh sorot tenang,ke lautan cakrawala diatasnya.Terlihat begitu murung, seperti biasanya.


"Cari mati ya?"Anak lelaki itu menoleh saat menyadari kehadiran seorang gadis yang juga duduk di sebelahnya.


Gadis itu tersenyum,lalu mengeluarkan sebungkus roti dan sekotak susu cokelat.Menyodorkannya pada lelaki disampingnya.


"Kau belum makan siang kan, Hans?"Ujarnya sebelum mengulas senyum begitu lembut.


Tidak,kali ini berbeda.Bukan senyum ceria seperti biasanya, tetapi senyum teduh,lembut, sesuatu yang tidak tahu kenapa tiba-tiba menenangkan hati hans.Hans membalas senyum tipis,dan meraih sebungkus roti dari gadis itu. percayalah, senyuman itu begitu tipis hingga tidak disadari siapapun yang melihatnya.


"Kenapa kau selalu baik padaku?apa kau punya maksud tertentu?"Hans berujar dingin.


"Tidak,aku hanya lebih suka berteman denganmu.Aku tahu kau itu sebenarnya tidak sedingin yang dikatakan teman-teman."


"Dasar sok tahu!"sela Hans sinis.


"Hmmm,tidak,Hans.Kau itu orang yang hangat.Aku tahu kau selalu memakan permenku meskipun kau tidak suka itu,"jawab gadis itu yakin.


Hans terdiam.Fakta bahwa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar adanya.Sebenarnya,ia hanya berniat mencicip saja,tapi entah kenapa dirinya tiba-tiba selalu menyukai permen dari gadis itu,hanya darinya.


"Hans,coba kau tersenyum!sekali saja!"


Lelaki itu menoleh tak Minat ke arah gadis yang duduk disampingnya.Menggeleng singkat,lalu memalingkan muka.Namun,gadis bersurai hitam itu malah merengek padanya.


"Ayolah! setidaknya kau harus tersenyum sekali untukku!kau pasti sangat tampan jika tersenyum!"


"Tidak."


"Hans..."


"Tidak!"


"Nanti kamu berjodoh dengan nenek sihir loh!"


"Hahahaha!"


Tawa Hans mengudara begitu saja.Namun gadis itu sudah terlanjur memucungkan bibirnya.Entahlah,ini begitu lucu untuk Hans.Bagaimana anak SD seperti mereka masih percaya mitos nenek sihir?


Sementara itu, gadis kecil disampingnya malah semakin cemberut dengan lipatan tangan di depan dadanya.


"Begitu seru ya menerwaiku?"


"Suruh siapa kau begitu lucu? seperti anak TK!"Hans menyeka air matanya yang sedikit keluar karena tertawa.


"*A*pakah kau masih percaya nenek sihir?"


Yang ditanya semakin cemberut.Lalu menghadap ke arah Hans dengan raut muka semakin kesal.


"Tentu, bahkan sekarang suaminya sedang tertawa di depanku!"cebik gadis itu kesal.





"Apa kau sudah sakit jiwa,Hans?"kesal melihat Hans tiba-tiba tertawa.


Itu aneh,Jarang sekali seorang Hans Zavier tersenyum pada siapapun.Dan sekarang?ia mendadak senyum-senyum sendiri seperti pasien RSJ.


Hans yang mendengar itu lalu menyurutkan.Namun masih tersenyum,ingatan tadi masih terngiang di pikirannya.Sungguh,itu begitu menggemaskan untuknya.


"Sepertinya begitu.Membayangkannya saja sudah membuatku gila, Will!"Hans kembali tertawa,tapi sorot matanya masih setia kearah luar kaca mobil.


Bukan,kini tawa remeh yang mengudara.Entahlah,ia masih tidak mempercayai bagaimana gadis kecil yang begitu ceria itu bisa berubah menjadi kelewat dingin seperti sekarang.


Benaknya tiba-tiba bercokol beberapa pertanyaan yang menggangu pikiran.Tentang apa saja yang terjadi dengannya,sebab apa yang bisa membuatnya berubah jauh seperti ini,dan berbagai pertanyaan khawatir tentangnya.


Andaikan ia tahu lebih awal,semua ini pasti tidak akan terjadi.Andaikan ia tidak tiba-tiba pindah sekolah ke pusat kota saat itu,pasti tidak akan ada kejadian seperti ini.Andaikan ia bisa merubah waktu,akankah semua ini tidak terjadi?


Huh,semuanya jadi begitu rumit.Pikirannya mulai memikirkan hal-hal yang tidak mungkin.Seakan menuntut takdir yang tidak pernah berpihak pada mereka.


Mungkin benar kata Will tadi.


Apakah ia sudah benar-benar gila?


Tak lama,mobil yang ditumpanginya tampak berhenti.Kini sepertinya sudah terparkir di depan sebuah gedung putih.Berdiri kokoh, dengan segelintir manusia yang terlihat keluar masuk dari dalam sana.


"Hans,siapkan hatimu,"Will mematikan mesin mobil.


"Kita sudah sampai!"


...TBC......