
"Shh..." Clara kembali meringis saat merasakan perih di sudut bibirnya yang sedang dibersihkan oleh Juan.
"Pasti sakit banget ya Ra?" ucap Juan mendengar ringisan Clara dengan nada khawatir yang kentara.
"Haah? Nggak kok Om luka kecil ini mah..." ucapan Clara terpotong.
"Walaupun ini hanya luka kecil tapi Ayah kamu udah keterlaluan banget ini namanya. Klk aja om ada di sana, om pasti bakalan ngalangin dia buat nampar kamu!" Juan diam sebentar dengan wajah merah padam karna emosi "klk kamu mau om bisa ngelaporin ayah kamu itu ke komisi perlindungan anak supaya dia kapok."
Tanpa sadar Clara tersenyum tipis dan wajahnya melembut mendengar ucapan Juan.
Juan yang baru saja selesai mengomel tertegun saat tatapannya tanpa sengaja jatuh di wajah Clara.
Juan sangat tertegun melihat senyum tipis yang tersungging di bibir Clara dan terpesona karna wajah Clara menghangat dan menunjukkan sedikit emosi.
"Kamu lebih cantik saat tersenyum Clara"
Clara mengembalikan ekspresi datarnya dan berdekham canggung.
"Ekhm... Makasi om udah mau bantuin Clara dan ngobatin Clara" Clara berhenti sejenak untuk menarik nafas "nggak usah Om, karna Clara nggak mau Ibu jadi sedih karna ngelaporin Ayah."
Juan terdiam karna penuturan Clara.
"Clara memang anak yang sangat baik. Seharusnya anak seperti Clara tidak pantas menerima perlakuan kasar dari Darmono. Aku yakin suatu saat nanti Darmono akan menyesal karna telah menyia-nyiakan anak seperti Clara." batin Juan sedih sambil mengelus kepala Clara dan senyum kecil tergantung di sudut bibirnya.
Clara tercengang dengan perlakuan lembut Juan terhadapnya.
"Ra lain kali klk kamu ada masalah langsung aja bilang sama om dan jangan sungkan ya. O ya Clara sekolah di A. K Internasional high school kan?"
"Hmm" Clara hanya menjawab dengan dehaman.
Setelah percakapn mereka, Juan pergi setelah makan malam di rumah Clara.
Saat Juan sudah pulang, Clara menaiki tangga menuju kamarnya, saat ia berbelok di tangga, dia melihat foto yang tergantung di dinding lorong dekat tangga.
"Haaah" Clara menghela nafas dalam hati setelah lama memperhatikan foto tersebut.
"Emosi hanya menjadukan seseorang lemah. Dan aku tidak boleh menjadi orang yang lemah untuk menghadapi hidup yang berat. Aku harus menjadi sosok yang tangguh agar tidak diinjak-injak." batin Clara menambahkan.
Clara melangkahkan kakinya menuju pintu coklat yang tak lain adalah kamarnya.
Kediaman Darmono
"Pah Cattleya pengen sekolah di tempatnya Clara sekolah Pah" rengek Cattleya manja pada sang Papah.
"Emangnya kamu tau di mana Clara sekolah sayang?" tanya Darmono sambil mengelus sayang kepala Cattleya.
"Hmm... tadi nggak sengaja Cattleya ngeliat lambang A. K Internasional high school gitu dari seragamnya Clara walaupun sedikit tertutup cardigan yang dia pakek" timpal Cattleya yang menyebabkan Zarina dan Darmono terkejut.
Bagaimana mereka tidak terkejut, karena A. K. Internasional high school adalah salah satu sekolah bertaraf Internasional yang merupakan sekolah terpopuler se-Jakarta.
"Sayang kamu nggak bercanda kan?" tanya Zarina setelah dapat menguasai keterkejutannya.
"Nggaklah Mah ngapain juga Cattleya mau bohong apa untungnya coba"
"Tapiii nggak mungkin dong Clara bisa masuk sekolah itu, dapet biaya dari mana dia?" tanya Zarina dengan nada jijik yang samar diujung kalimatnya.
"Yaaa mana Cattleya tau Mah" ia menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan "pokoknya Cattleya nggak mau tau Cattleya mau sekolah di sana Pah boleh ya" kata Cattleya sambil menoleh ke arah Darmono yang masih terpaku karna keterkejutannya.
"Haah... Aku sampai tidak tau di mana dia bersekolah, bahkan saat ini aku tidak tau di mana dia tinggal setelah dia pergi dari sini beberapa bulan yang lalu setelah kepergian Claudia." batin Darmono sedikit menyesal.
"Pah" sentak Cattleya karena tak dihiraukan oleh sang Papah.
"I-iya?" ucap Darmono terbata "eemm tapi sayang sekolah itu biayanya sangat besar, dan Papah mungkin nggak akan sanggup ngebiayainnya." kata Darmono menjelaskan kepada Cattleya dengan hati-hati.
"Iihh Papah, pokoknya Cattleya maunya sekolah di sana. Masa sih Clara bisa sedangkan Cattleya nggak bisa?"
"Heem yaudah Papah akan usahakan ya"
"Hmm" Darmono hanya bergumam.
*
*
*
A. K Internasional high school
Clara turun dari mobil Juan saat telah tiba di depan gerbang sekolahnya.
Saat ia berpamitan dan berjalan menuju kelasnya, tanpa sengaja ia melihat Cattleya dengan seragam yang serupa dengannya.
"Cattleya...?" batinnya heran.
Pasalnya, sejak hari pertama dia masuk sekolah, ia tidak pernah melihat Cattleya di sekolah tersebut.
Saat dia sedang bergulat dengan fikirannya, seseorang tanpa sengaja menabrak bahunya.
"Maaf" ucapa Clara sambil memegang bahunya yang sedikit berdenyut nyeri.
"Hm... Lain kali kalau lagi jalan jangan ngelamun." suara dingin laki-laki terdengar di samping Clara.
Clara mengangkat wajahnya dan melihat seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi, dan tampan di hadapannya.
"Maaf dkali lagi karna saya sudah menabrak Anda" kata Clara tak kalah dingin dengan wajah sedatar triplek.
Setelah mengatakan maaf, Clara berjalan pergi meninggalkan siswa tersebut.
"Menarik..." kata siswa yang ditabrak Clara setelah Clara sudah jauh.
Di sisi lain...
Zarina dan Cattleya memasuki ruang Tata Usaha untuk mengurus kepindahan Cattleya ke A.K Internasional High School.
"Jadi, Cattleya ini seragam dan kebutuhan lain kamu selama kamu sekolah di sini dan ada juga kunci loker kamu, dan kamu akan masuk kelas A" kata guru sambil mendoring barang-barang ke depan Cattleya dengan senyum kecil di wajahnya.
"Terima kasih..." kata Cattleya sambil mengambil barang-barang di depannya dengan senyum manis.
"Saya harap kamu bisa menyumbangkan banyak prestasi ke sekolah ini"
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh guru tadi, Cattleya dan Zarina meninggalkan ruang Tata Usaha.
"Yeeaa Mah akhirnya aku bisa sekolah di A.K Internasional High School, ini itu udah jadi impian Cattleya dari dulu" kata Cattleya dengan wajah puas dan senyum mengembang di wajahnya.
Di kelas...
Clara berjalan ke arah mejanya. Di sana, susu dan roti coklat bertengger rapi di atas mejanya.
Alis Clara mengernyit samar saat ke dua tangannya memegang susu dan roti.
Clara menoleh ke tempat duduk di samping, di sana dia melihat teman sebangku nya yang entah siapa namanya, sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Makasih..." ucapnya pelan dan mulai membuka bungkusan roti dan memakannya.
"Hmmm... Gua naruh di sana karena gua lagi nggak laper. Jadi, jangan kegeeran." kata Kang Il Joon tanpa mengangkat wajahnya.
Clara hanya meliriknya melalui ekor matanya tanpa menghentikan kegiatannya.
Tanpa sadar, Kang Il Joon tersenyum singkat.
TBC
Jangan lupa vote dan comment.