
"Apakah yang anda inginkan" tanya Clara pada laki-laki yang membawanya
"Sebelum saya memberi tahukan apa maksud dan tujuan saya, saya ingin memperkenalkan diri saya terlebih dahulu"
"Ah maafkan ketidak sopanan saya" kata Clara sambil menundukkan kepalanya, menunjukkan rasa bersalahnya tapi tetap dengan wajah datarnya.
"Nama saya Juana Cortez teman sekaligus pengacara ibu kamu"
"Pengacara? Tunggu,, untuk apa ibu punya pengacara?"
"Sebaiknya kita lanjutkan nanti saja sepulang kamu sekolah Clara, karna ini sudah waktunya masuk kelas"
Clara melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, dan diapun menundukkan kepala dan meninggalkan lapangan belakang menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Clara langsung masuk dan duduk di tempat duduknya, karena belum ada guru di kelasnya.
Beberapa saat kemudian, guru mapel pun masuk dan pelajaranpun dimulai.
Saat akan pulang kerumah, Clara pergi ke loker yang berada di bagian paling belakang di kelasnya. Dia mulai memutar angka yang berada di atas gembok, dan setelah angka-angka tersebut urut, terdengar bunyi ceklek yang menandakan terbuka.
Saat Clara membuka pintu lokernya, sebuah surat meluncur keluar dari dalam lokernya. Clara memungut amplop yang tergeletak dilantai, membukanya, dan membacanya.
^^^NEW TARGET ^^^
^^^XXX ^^^
"Gak jelas banget sumpah" gumam Clara tanpa memedulikan ancaman dari surat yang ia temukan.
Setelah pertemuannya dengan teman ibunya, Clara memutuskan pulang ke rumah ayahnya untuk mengambil barang-barang sang ibu dan barang-barangnya.
Saat telah berada di rumah sang ayah Darmono (nama ayah Clara), tidak ada di sana. Yang ada hanya dua wanita yang tidak lain adalah Zarina dan Cattleya.
"Wah wah wah.. Berani sekali kamu menampakkan wajahmu di rumah ini" kata Zarina sinis.
"Mah dia itu bukannya berani, tapi udah nggak punya malu itumah namanya" sambung Cattleya.
"Iya kamu bener banget sayang"
"Hah... Kedatangan saya kesini hanya untuk mengambil barang-barang saya dan juga ibu saya" kata Clara setelah menghela nafas dengan wajah datarnya.
"Sumpah itu muka pengen gue cakar, datar amat kayak papan triplek" geram Cattleya
"Silahkan jika anda bisa menyentuh wajah saya" kata Clara memancing amarah saudara tirinya.
Mendengar itu, Cattleya semakin geram namun ia hanya bisa menahan diri untuk mencakar wajah cantik Clara. Karna sampai kapanpun ia tidak akan bisa menyentuh Clara walaupun seujung kuku, karna Clara memiliki gerakan tubuh yang cepat dan lentur juga bisa bela diri.
Clara melangkahkan kakinya semakin ke dalam menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Rumah Clara memang tidak mewah, namun cukup besar dan luas, dengan 2 lantai dan 4 kamar tidur, cukup menampung Clara dan keluarganya. Clara memang hidup serba berkecukupan karna sang ayah adalah seorang pemilik cafe lumayan besar. Namun, Clara dan sang ibu tidak pernah mendapatkan haknya dari sang ayah karna Darmono hanya memberikan hasil kerjanya kepada Zarina dan Cattleya yang menyebabkan sang ibu harus bekerja untuk mencukupi kehidupannya dan Clara.
Sesampainya di kamarnya, Clara melihat ruangan tersebut sangat berantakan, banyak paper bag berserakan di lantai, seprai dan selimut yang sudah entah kemana, meja belajar yang biasanya rapih menjadi sangat kacau.
Clara hanya geleng-geleng kepala melihat kamarnya yang seperti medan pertempuran.
Sambil memunguti sampah yang berserakan, Clara berjalan menuju lemari pakain di pojok ruangan. "Semoga saja semua pakaianku masih lengkap" batin Clara sambil memutar kunci pada pintu lemari.
"Syukurlah semuanya masih lengkap dan belum tersentuh" batin Clara setelah membuka pintu lemarinya.
Dengan gerakan cepat Clara memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam koper yang sudah ada di dalam lemarinya. Belum selesai Clara mengemas seluruh pakaiannya, Zarina dan Cattleya masuk ke dalam kamar dan melihat pakaian Clara yang masih baru dan terlihat bermerk.
"Mah liat deh baju-bajunya Clara bagus banget tapi dari mana ya kira-kira dia dapet semua barang mewah itu?" kata Cattleya dengan nada mengejek dan menyipitkan matanya.
"Iya sayang kamu bener banget mereka kan nggak pernah dikasi uang sama Papah, dari mana ya dapetnya?"
"Atau mungkin dia godain om-om lagi Mah supaya dapetin itu semua" tutur Cattleya dengan tatapan jijik ke arah Clara yang masih sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Iya kali sayang mungkin dia nggak pernah dididik sama Ibunya yang penyakitan itu, makanya Papah nggak mau ngakuin dia sebagai anak" mendengar itu, Clara mengepalkan kedua tangannya di ke dua sisi tubuhnya sambil menahan amarah karna Ibunya yang dihina.
Clara menggigit bibir bagian dalamnya menahan amarah yang semakin memuncak dengan tangan yang terkepal semakin kuat dan wajah yang memerah sambil menutup matanya rapat-rapat.
"Iya bener banget Mah, liat muka aja polos tapi kelakuannya iuuuh banget" imbuh Cattleya.
"Sudah puas anda menghina saya?" ucap Clara yang masih berusaha menahan emosinya kuat-kuat.
"Ups kayaknya ada yang marah nih. Tapi kayaknya gue sama nyokap gue belum puas, apalagi Ibu lo yang asal-usulnya nggak jelas itu, punya anak yang enggak jauh beda dari dia-"
Darmono yang baru saja pulang terkejut mendengar suara yang sudah lama tak pernah ia dengar lagi langsung berlari kearah sumber suara.
"Ada apa ini?" tanyanya setelah sampai di ambang pintu kamar Clara.
Melihat suaminya yang sudah pulang, Zarina memanfaatkan situasi yang tengah panas antara Clara dan Cattleya.
"Papah udah pulang? Kebetulan banget ada Clara di sini" ucapnya dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Papah" teriak Cattleya sambil berlari ke arah sang ayah dan memeluknya dengan erat.
Clara yang menyaksikan kedekatan anak-ayah tersebut hanya tersenyum miris.
"Pah tau nggak Clara barusan aja ngebentak aku Pa, padahal aku sama Mamah udah baik sama dia nawarin buat ngajak makan malem di sini sama kita" imbuh Cattleya dengan nada sedih yang dibuat-buat dan mata yang mulai berkaca-kaca setelah diberi code oleh Zarina.
"Drama... kapan hidupku akan tenang tanpa drama murahan seperti ini terus" batin Clara.
"Clara, sejak kapan kau ada di sini?" tanya Darmono setelah mengelus wajah Cattleya yang bergelayut manja pada lengan kirinya.
"Clara udah dari tadi Ayah"
"Oohh apa yang membawamu kemari?"
"Clara cuman mau ngambil pakaian ibu sama barang-barang Clara ayah" kata Clara sambil tersenyum tipis bahkan saking tipisnya seperti tidak tersenyum.
"Oohh begitu" kata Darmono.
"Papah tadi Cattleya ngajakin Clara makan malem sama kita tapi dia malah ngebentak aku Pah" kata Cattleya dengan air mata yang telah berlinang pada kelopak matanya.
"Apa benar begitu Clara?" kata Darmono dengan nada suara tinggi.
"Makan malam? Bukannya tante Zarina sama Cattleya cuman hina aku dan Ibukan?" tantang Clara.
"Jaga bicara kamu Clara" bentak Darmono.
"Ayah nggak pernah percaya sama Clara" kata Clara setengah berbisik namun masih bisa di dengar oleh sang ayah, Zarina dan Cattleya.
"Untuk apa Ayah nanyak sama Clara klk ujung-ujungnya ayah nggak percaya sama apa yang Clara bilang" kata Clara kecewa.
"Ayah nggak perlu nanyain pendapat oranglain klk Ayah nggak percaya, karna itu cuma buang-buang waktu dan tenaga aja Yah" kata Clara sarkasme.
Plaakk
Darmono menampar pipi Clara dengan keras.
"Heh... Puas Yah? Oohh... Tapi Clara rasa Ayah belum puas karna cuman segitu aja" kata Clara dengan senyum sinis "kenapa Ayah diem aja, nihh pipi Clara yang satunya lagi belum Ayah tampar" sambil memajukan pipi kirinya ke arah Darmono.
"Ayo Yah tampar Yah tampar, Ayah masih belum puaskan nampar Clara... Kenapa sekarang Ayah diem aja?"
Sementara Clara mulai berlinang air mata, Cattleya dan Zarina tersenyum dibelakang punggung Darmono.
"DIAM" bentak Darmono.
"Ayah mau Clara diem? Iya? Clara nggak akan pernah diem aja sampai dua orang di belakang Ayah itu minta maaf sama Clara karna udah menghina Ibu" kata Clara sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Zarina dan Cattleya.
Plaakk...
Sekali lagi, Darmono menampar pipi kiri Clara.
"Jaga sikap dan ucapan kamu Clara. Bagaimanapun, mereka adalah saudara dan Ibu tirimu. Apa hakmu menunjuk mereka?" kata Darmono geram.
Tamparan kedua Darmono lebih keras daripada sebelumnya sehingga menyebabkan sudut bibir Clara sedikit robek dan meneteskan darah.
Clara menyentuh sudut bibirnya yang berdarah dengan tangan kirinya, saat melihat darah segar yang menodai jarinya yang ramping, tangan Clara langsung bergetar dan ia segera menutup matanya erat.
Ya,, Clara sangat tidak suka melihat darah. Saat dia melihat darah, maka tubuhnya akan bergetar hebat, dan mendapati serangan panik yang menyebabkan kepalanya pusing dan lemas.
Namun, dia tidak boleh melihatkan kelemahannya di hadapan dua rubah betina di belakang Darmono.
...Tbc...
Hy reader, kuy ramaikan dengan like dan comment. Author juga nerima saran juga, jadi kuy, yang mo menyampaikan😊