
Seorang gadis cantik masuk kesebuah rumah dengan sisa air mata di pipi sambil sesekali sesenggukan. Nampak sangat jelas terlihat dibalik tatapannya yang sanyu ada rasa sakit yang mendalam serta rasa kehilangan dan kesepian.
Ya... Dia adalah Clara Alisyana Alixe dengan dress hitam sebatas lutut serta sepatu kets dengan warna senada, surai hitam legam yang lembut dibiarkan tergerai sebatas pinggang terlihat sedikit berantakan karna tertiup angin dari pemakaman orang yang sangat disayanginya, sang Ibu tercinta yang telah pergi dan tidak akan pernah kembali karna kedatangan sang suami yang membawa pulang seorang wanita dan mengakui bahwa wanita yang tak lain adalah sahabatnya sendiri sebagai istrinya, sehingga mendapat serangan jantung.
Kejadian yang berlalu dengan sangat cepat, sehingga mengoreskan luka menganga yang sangat besar di hati Clara yang kehilangan sang ibu di depan mata kepalanya sendiri.
Sedangkan sang Ayah hanya menatap dengan tatapan yang tak dapat diartikan oleh sang anak yang menangis di depan sang Ibu yang telah pergi jauh meninggalkannya.
Saat melangkahkan kaki ke dalam rumah, hal pertama yang dilihatnya adalah sang Ayah yang tengah duduk bersama dengan dua orang wanita yang diyakini oleh Clara adalah ibu tiri dan kakak tirinya sedang bersenda gurau bahkan tertawa dengan sangat keras, tidak mengidahkan kedatangan Clara yang masih sesenggukan karna sisa tangisnya.
"Ayah..." kata Clara serak menghentikan kegiatan yang dilakukan oleh keluarganya.
Seketika itu juga tawa yang tadi menggelegar menjadi hening karna interupsi Clara.
"Oh kamu sudah pulang?" tanya Ayahnya datar tanpa melihat ke arah sang anak.
Hati Clara serasa ditusuk dengan besi panas yang dapat melelehkan apapun disekitarnya hanya dengan uap panasnya mendapat perlakuan sang Ayah. Tanpa disadari oleh siapapun ibu dan kakak tiri Clara tersenyum karna dia diperlakukan seperti itu oleh sang Ayah.
"Ayah kenapa Ayah tidak datang kepemakaman Ibu? Ayah juga terlihat senang, dan tidak merasakan kesedihan seperti yang aku alami, apa Ibu tidak berarti apapun bagi Ayah?" kata Clara dengan air mata yang kembali mengalir di pipi mulusnya.
"Heeehh kalau iya memang kenapa? Untuk apa aku menangisi seorang wanita yang tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan aku? Dan apa kau sudah lupa kalau aku tidak pernah mencintai Ibumu yang penyakitan itu? Kau ini sangat lucu" kata sang Ayah dengan nada sinis dan amarah tertahan.
Dan kepalanya memutar kebersamaannya bersama sang ayah, namun yang diputar dikepalanya hanya bagaimana usaha Clara selama ini berusaha untuk menarik perhatian sang ayah dengan menunjukkan prestasinya di sekolah.
Ya Clara adalah gadis dengan paras cantik bahkan baby facenya selalu dipuji oleh orang yang melihatnya, dengan segudang prestasi dan kepribadiannya yang baik, serta IQ yang diatas rata-rata membuat semua orang kagum dibuatnya.
Tuhan memang adil, dibalik semua kelebihannya, dia juga memiliki kekurangan yang tidak ada satupun orang yang tau. Dia adalah salah satu korban broken home, walaupun dia memiliki orangtua yang lengkap namun selama ini hanya sang ibulah yang selalu ada untuknya, sedangkan sang ayah selalu berada di luar dan tidak pernah memperhatikannya, sehingga ia tumbuh tanpa kasih sayang sang ayah, namun ia sama sekali tak pernah membenci sang ayah karna sang ibu yang selalu menasihatinya. "Bagi seorang anak perempuan ayah adalah pahlawan dan cinta pertama sang anak, jadi seburuk apapun sikap ayah pada Clara dia tetap adalah orang yang berjasa bagi hidupmu." itulah kata-kata sang ibu setiap kali ia memiliki perasaan kesal kepada sang ayah, dan bagai mantra, rasa itupun lenyap seketika.
Namun kini, setelah kepergian sang ibu, Clara sudah tidak bisa lagi membendung seluruh isi hatinya untuk dikeluarkan. Walaupun ia selalu membangun benteng yang kuat agar tidak terlihat rapuh dihadapan semua orang dengan sikap cuek dan dinginnya. Tapi sekarang benteng yang susah payah ia bangun kini telah hancur berkeping-keping karna kepergian sang ibu. Sehingga menyisakan Clara yang rapuh.
"Ya kau memang anakku, tapi kau juga anak dari wanita yang tidak aku cintai, dan bila kau berpikir bahwa aku menghianati ibumu maka kau salah besar karna waktu aku menikahi ibumu aku telah menikah dengan Zarina, dan kau ingin tau mengapa kau bisa terlahir? Kau adalah sebuah kesalahan, karna aku saat itu sangat mabuk dan aku menyentuh ibumu, sehingga kau bisa ada dan melihat dunia ini sedangkan pada saat itu aku dan Zarina telah memiliki buah hati yaitu Cattleya." kata sang ayah dengan nada tinggi karna emosi dan tak ada penyesalan setelah mengatakan itu semua.
Air mata Clara semakin deras membasahi pipi mulusnya setelah mendengar kata sang ayah yang sangat menyayat hati. Sampai ia merasa matanya sangat panas karna tak henti menangis dan ia merasa pusing dikepalanya, namun ia berusaha menahan rasa sakit di kepalanya. Clara memilih berlari keluar rumah karna sudah tidak tahan setelah mendengar perkataan sang ayah.
Senja kala itu terasa sangat lama bagi Clara, sangat jelas bahwa ia tidak akan pernah lagi kembali ke kediaman sang ayah. Apalagi di rumah tersebut sekarang ada Zarina dan Cattleya ibu dan kakak tirinya yang memiliki kesan sombong dan tidak bersahabat. Sangat jelas menampakkan ketidak sukaannya kepada Clara.
Beruntung sang ibu memiliki kediaman warisan dari orangtuanya yang tidak diketahui oleh ayahnya. Untuk sementara waktu Clara akan tinggal di sana dan bekerja.
^^^TBC^^^
Sorry for typo