You Are

You Are
Chapter 05



...Terlalu sakit tubuh ini dan terlalu dalam hatiku telah terluka sehingga aku tidak bisa menunjukkan emosi di hadapan orang lain....


...Sudah terlalu lama kumenangis hingga membasahi seluruh wajah dan mataku. Rasa sakit yang menyebabkan tercekik hingga menenggelamkan hatiku dan menghancurkannya berkeping-keping....


...Seolah-olah itu semua tak cukup, kau memberikan lagi rasa sakit yang lebih intens dengan kepergianmu dan tidak akan pernah kembali....


...Sudah terlalu lama kumenangis hingga tak dapat lagi kuekspresikan emosiku dengan air mata....


...Terlalu sakit hati ku sehingga aku lupa bagaimana caranya hanya untuk tersenyum....


^^^~ Clara Alisyana Alixi ~ ^^^


Saat membuka matanya, Clara berusaha untuk menghentikan getaran tangannya dan berusaha mempertahankan ketenangan dan mencoba untuk menguatkan kakinya agar ia tidak jatuh kelantai.


Setelah menampar Clara sekali lagi, Darmono mendapati tangannya mati rasa yang berarti seberapa keras tamparannya di wajah Clara.


Saat melihat sudut bibir Clara yang meneteskan darah, ada tatapan menyesal di wajahnya.


Tanpa di sadari Clara, air mata mulai menetes dari tepi matanya, bukan karna rasa sakit yang membakar di wajahnya, tapi karna rasa sakit yang lebih sakit di dalam hatinya.


Setelah jeda yang yang lama, "hehe" terdengar suara tawa sinis dari Clara.


"Ohh sekarang, aku rasa Ayah baru puaskan. Heh, Ayah bilang aku harus jaga sikap, jaga ucapan. Aku baru aja cuma nunjuk jari telunjuk aku sama mereka, dan Ayah udah nampar aku. Tapi Ayah nggak pernah mukulin dia atau marahin dia karna dia udah menghina Ibu." tutur Clara dengan senyum ironi di wajahnya.


Dengan sisa air mata yang mulai kering di pipinya dan sisa darah yang mulai kering di sudut bibirnya, Clara terlihat sangat menyedihkan.


"Apa Ayah tahu, apa yang dirasain Ibu dan Clara selama ini? Apa Ayah pernah seenggaknya nunjukin perhatian Ayah sama Clara? Clara juga anak Ayah, Clara selalu berusaha nunjukin prestasi Clara supaya Ayah liat Clara, tapi Ayah bahkan nggak pernah ngelirik Clara. Tapi pada saat itu Clara dihina sama mereka, Ayah nggak pernah bilang "Clara juga anak dan saudara kamu". Apa Ayah pernah Yah, pernah?" tanpa di sadari Clara, semakin lama suaranya semakin bergetar karna menahan isakan tangis.


"Cukup" sentak Darmono mulai geram dan memiliki rasa bersalah dalam hatinya.


"Apa Ayah tahu, yang nguatin Clara agar Clara selalu dan selalu kuat dan nggak ngeluh atau benci sama Ayah? Apa Ayah tahu, ada ungkapan 'seorang Ayah adalah pahlawan serta cinta pertama anak perempuannya', tapi Clara rasa, Ayah nggak pantes untuk ungkapan itu dan nggak pantes ngedapitan cinta tulus Ibu buat Ayah, karna Ibu terlalu baik buat Ayah." teriak Clara pada kalimat terakhirnya.


Tanpa melirik lagi, Clara langsung memasukkan seluruh barangnya ke dalam koper.


Setelah selesai dengan barangnya, Clara beralih ke kamar sebelahnya, yaitu kamar sang ibu.


Tak butuh waktu lama, karna barang sang ibu hanya sedikit, Clara langsung meninggalkan kediaman sang Ayah.


Saat keluar dari kamar dan turun kelantai bawah, Clara melihat sang Ayah serta Zarina dan Cattleya duduk di ruang makan, karna telah saatnya makan malam.


Saat melewati ruang makan dengan menyeret koper dan tas sang ibu, Clara menuju pintu depan untuk keluar, saat suara Zarina mengintrupsi.


"Clara"


Clara berbalik dengan tatapan sinis.


"Kamu sudah mau pergi nak? Mari makan malam dulu." ucap Zarina dengan senyum ramah yang dibuat-buat.


"Tidak terima kasih, karna saya takut menggu waktu kalian sebagai keluarga bahagia. Dan lain kali, tolong jangan menampilkan sikap ramah Anda kepada saya, karna saya tahu bahwa itu hanya sandiwara di hadapan suami Anda tuan Darmoni yang terhormat." kata Clara menekankan pada kata keluarga.


Saat mendengar penekanan pada kata keluarga, Darmono menundukkan kepalanya.


Dan saat Clara mengatakan 'tuan Darmono yang terhormat', ada tatapan kecewa yang dilemparkan Darmono pada Clara.


"Apakah saya sudah keterlaluan memperlakukannya sehingga dia menjadi sedingin ini dan tanpa emosi?" batin Darmono.


Zarina mengetatkan rahangnya melihat tatapan kecewa sangsuami karna ucapan Clara.


"Awas saja kamu Clara, sampai Darmono memperhatikan kamu dan tidak melihat Cattleya, saya akan membuat hidup kamu lebih menderita." batin Zarina kesal.


"Cla.."


"Jika tidak ada yang ingin Anda sampaikan lagi, maka saya permisi" kata Clara sambil mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya.


Tidak ingin lebih lama membuang waktu, Clara berhalan keluar dengan menggeret koper di tangannya.


Dengan mata yang membulat sempurna karna terkejut dan terharu, karna sebelumnya tidak ada yang menghawatirkannya selain ibunya, tentu membuat Clara menunjukkan senyum tipis, yang sangat tipis bahkan jika tidak diperhatikan sejelas-jelasnya, maka senyum itu tidak akan dapat ditemukan.


"Ibu, Clara kangen sama ibu. Seandainya aja ibu masih di sini sama Clara, Clara pasti nggak akan kesepian"


Cukup lama mematung, suara orang tersebut mengintrupsi.


"Clara"


Clara jalan menghampiri laki-laki yang sebaya dengan sang ibu. Ya lelaki yang berdiri di sana adalah Juan, sahabat sekaligus pengacara sang ibu.


"Om Juan, om kenapa bisa tau aku ada di sini?" tanpa Clara sadari, panggilan dan caranya berbicara dengan Juan berubah.


Yang biasanya ia memanggil Juan dengan sebutan Mr. Cortez menjadi om Juan, dan jangan lupakan nada suaranya yang menunjukkan sedikit emosi. Yang dimana biasanya ia selalu berbicara dengan datar.


"Clara, are you okey? Ohh god. Bibirmu sobek dan..." sambil menyentuh sudut bibir Clara yang sobek dengan sisa darah yang mengering.


"Shh... I'am okey" rintih Clara saat rasa perih terasa.


"Ya sudah mari saya antar kamu pulang dulu dan nanti saya akan mengobati kamu" kata Juan sambil mengambil alih koper Clara dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.


                    🚗🚗🚗


Saat tiba dikediaman Clara...


"Silahkan masuk om" kata Clara sambil membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan Juan masuk.


"Ahh iya" jawab Juan sedikit terkejut dan sedikit kehangatan menjalar di hatinya saat mendengar perkataan Clara yang lebih hangat dan tidak datar.


Sambil menggeret koper serta membawa tas hitam milik Clara, Juan memasuki rumah tersebut.


"Silahkan duduk om" ucap Clara saat mereka berada di ruang tamu.


Juan terpana saat memasuki rumah sederhana itu, karna suasana ruangan yang sangat asri dan menenangkan.


Dan yang lebih membuatnya terpana adalah foto Clara dengan prame besar sedang tersenyum.


...



...


Clara terlihat sangat cantik dengan senyum yang tersungging di wajahnya.


"Claudia, kamu pasti sangat bahagia memiliki malaikat cantik seperti Clara sebagai anakmu. Seandainya aku yang menjadi Ayahnya, aku tidak akan pernah menyianyiakan malaikat cantik ini, sama seperti dirimu"batin Juan.


Clara mengambil koper beserta tas sang ibu dari tangan Juan yang masih terpaku di tempatnya sambil memperhatikan foto Clara.


"Ah maaf saya tidak memperhatikan apa yang kamu katakan" Juan memberi jeda "kau terlihat lebih cantik dan,,, manusiawi jika tersenyum seperti pada foto di prame tersebut"lanjut Juan dengan menunjuk pada pigura foto yang tergantung.


Clara mengikuti arah yang ditunjuk oleh Juan.


Clara memperhatikan pigura tersebut.


"Sayangnya Clara itu telah pergi bersama kenangan dan ikut dengan orang yang sangat disayanginya dan tidak akan pernah kembali" gumam Clara lirih dan seperti bisikan namun masih bisa didengar oleh Juan.


"Dia pasti sangat tertekan karna kehilanganmu Claudia, sama seperti aku. Dia sangat tertekan sampai melupakan emosinya." batin Juan sedih mendengar ucapan lirih Clara.


Tbc


Maafkan jika ada Typo


Jangan lupa vote dan comment