
Begitu sampai rumah Jasmine. Perlahan Lion menepikan Jeepnya. Dia memarkirkan tepat di belakang mobil Jasmine. Lion sangat waspada, duduk tegak dikursi, mendengarkan setiap suara, mengamati setiap bayangan seraya mematikan mesinnya.
" Mereka belum sampai di sini." Kata Lion tegang.
" Ayo!" Lion meraih ke sisi Jasmine, untuk membantu melepaskan sabuk pengamannya.
" Jangan khawatir. Aku akan membereskan semuanya. Dan orang tuamu akan aman." Jelas Lion.
Jasmine merasakan matanya berkaca-kaca. Tidak mengetahui kapan Dia bisa bertemu dengan orang tuanya setelah malam ini, membuat Jasmine sedih walaupun Lion sudah menenangkan dirinya. Jasmine tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus ditahan sementara. Dan pikiran itu membuat air matanya mulai turun.
Lion membukakan pintu untuk Jasmine, memegang tangannya, kemudian menariknya ke dalam pelukannya, yang terasa sangat melindungi bagi Jasmine. Lalu Dia mengantar Jasmine dengan cepat ke rumah.
" Lima belas menit."Lion mengingatkan Jasmine dengan berbisik.
" Aku bisa melakukannya." Isak Jasmine. Jasmine berhenti diteras dan menggenggam wajah Lion dengan kedua tangannya. Serta menatap Lion lekat-lekat.
" Aku mencintaimu." Kata Jasmine, suaranya pelan dan dalam.
" Aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apa yang akan terjadi sekarang."
" Takkan terjadi apa-apa padamu, Jasmine. Jalankan saja rencana sesuai dengan ideku." Kata Lion tegas.
"Masuklah. Kita harus bergegas." Suara Lion waspada.
Jasmine langsung masuk rumah dan sesuai rencana. Lalu keluar begitu selesai berkemas. Lion mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata menuju rumah Ayahnya.
"Aku benar-benar bukan anak yang baik," Jasmine mengaku,
sambil
menunduk memandangi lutut. Mengingat Dia berbohong kepada kedua orangtuanya.
Jasmine menatapnya putus asa. Dan Lion melihat kepanikan dimata Jasmine. Lion hanya bisa menenangkan saja.
" Semua akan baik-baik saja. Dan Kau tetap jadi anak yang baik." Lion menenangkan Jasmine.
" Tapi tidak akan baik-baik saja saat Aku tidak bersamamu." Bisik Jasmine saat Mereka sampai di rumah Ayah Lion.
" Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. Setelah Aku berhasil memusnahkan Mereka." Kata Lion seraya memeluk Jasmine.
" Kenapa ini terjadi? Kenapa Aku?
Lion menatap marah. Lebih terlihat marah pada diri sendiri.
"Selain karena Kau rhesus negatif. Ini juga salahku, yang bodoh terlalu egois mengutamakan perasaan." Lion merasa bersalah.
"Bukan itu maksudku," Jasmine berkeras. Dia tidak ingin Lion menyalahkan dirinya sendiri. Karena itu salah Jasmine juga yang berharap lebih dan masuk dalam kehidupan Lion.
"Aku mendengarkan pikiran Mereka malam ini," Lion memulai
dengan suara pelan.
" Dan Aku akan bertindak secepatnya."
Mereka pun melangkahkan kaki menuju rumah orang tua Lion. Mereka tidak terlihat terkejut. secara Lion sudah mengkonfirmasi sebelumnya. Tidak selang lama Tiffani dan Alex datang.
" Jaga dirimu baik-baik dan jangan ceroboh." Lion menatap sendu.
"Ayo kita pergi." Alex berjalan menuju ruang tamu. Tapi
Lion masih berdiri di sisi Jasmine. Dia menangkap Jasmine
dalam genggamannya yang kuat, lalu memeluknya erat-erat. Dia
sepertinya tidak menyadari keluarganya memerhatikan saat
Lion meraih wajah Jasmine. Dan mendekatkannya ke wajahnya,
mengangkat tubuh Jasmine dari lantai. Dalam waktu sekejap
mencium kening Jasmine.
Kemudian semuanya selesai. Lion menurunkan Jasmine kembali ke
lantai, masih memegangi wajah Jasmine. Matanya yang indah membara menatap Jasmine.
" Jangan khawatir.Aku akan segera kembali." Bisik Lion.
Sorot matanya berubah hampa, mematikan, Ketika sudah berpaling dari Jasmine. Dan Mereka pergi. Lion, Alex dan Tiffani. Sedangkan Jasmine tinggal bersama Ayah, Ibu dan adik kembarnya. Serta Marco membantu Lion untuk menjaga Jasmine.
" Aku merepotkan Kalian." Ucap Jasmine.
"Tidak," Gumam Jasmine.
“Iya ,Kau keliru," Dia mengulanginya, tersenyum ramah Jasmine.
Malamnya Marco dan Ayahnya Lion tetap terjaga. Angka yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga. Tak sedikit
pun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan
benderang karena cahaya lampu.
Sedangkan dilain tempat, Lion, Alex dan Tiffani menyusun strategi untuk memusnahkan Mereka. Mereka bertiga mencari tempat utama pendaratan saat ini. Begitu ketemu. Mereka bertiga pun menyusup ke sebuah pesawat yang mirip piring terbang tersebut. Tanpa ragu, satu per satu Mereka hadapi. Hingga akhirnya Mereka bertiga diketahui.Mereka pun keluar dari persawat mahluk asing tersebut. Namun pertarungan pun tak terelakkan.
Tiga hari sudah berlalu. Jasmine berada di rumah orang tua Lion.
Jasmine bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih
ke jendela. menyingkap tirainya.
Di luar gelap.
Kamar Lion menghadap bagian teras dan halaman rumah. Jelas, Mereka bertiga belum pulang. Rasanya sedikit tidak nyaman dan gelisah. Mengingat Lion sedang bertarung melawan musuhnya.
Jasmine memandang dirinya sendiri. Dia masih mengenakan
pakaian casualnya. Lalu Jasmine mengedarkan pandangannya,
Jasmine baru saja akan mencari pakaian tidurnya, ketika ketukan
pelan di pintu membuat Jasmine kaget.
"Boleh aku masuk?" Suara Lion namun lebih ngebass dari biasanya dan terdengar serak.
Jasmine menghela napas lega. Setidaknya kegelisahan tiga hari ini sudah terlewati.
"Tentu."
Pintu pun terbuka, Jasmine sangat terkejut. Lion mempunyai Sayap seperti malaikat. Namun sayapnya berwarna hitam, seperti burung elang. Namun lebih ke ukuran besar.
Lion hanya bergerak, tanpa suara lagi dan melangkahkan kakinya, Dia langsung menghempaskan dirinya ke sofa. Lion hanya terdiam, tertunduk dan lama-kelamaan sayapnya menghilang, setelah lima belas menit berlalu.
"Maaf, Kita harus tinggal di kamar yang sama," Lion memberitahu Jasmine.
" Aku disofa."Tambah Lion dengan Suara serak dan parau.
“Oke."Jasmine terlihat mengerti.
Jasmine terduduk ditempat tidur. Seraya memandang Lion.
" Tidurlah." Ujar Lion, antara setengah sadar dan tidak. Secara Dia terlihat sangat letih. Pertarungan tersebut sepertinya menguras banyak tenaga Lion.
Paginya, Jasmine terbangun. Jasmine mengedarkan pandangannya. Sedikit bingung, Ruangan yang masih asing baginya. Walaupun sudah tiga hari Dia disitu. Lalu Jasmine pun tersadar. Jasmine langsung terbangun, Dia melihat ke arah sofa.
Lion sudah tidak ada disofa. Sepertinya Dia telah bangun duluan. Tidak selang lama, pintu terbuka. Lion masuk dan membawakan sarapan pagi.
" Kau sudah bangun?"
Jasmine menganggukkan kepalanya. Lion meletakkan sarapan diatas meja kamar.
" Terima kasih." Ucap Jasmine.
" Sama-sama." Lion tersenyum hangat.
" Bagaimana hasilnya?" Jasmine penasaran.
" Kita berhasil memusnahkan Mereka. Namun ada beberapa yang lolos. Tapi setidaknya Mereka sudah kembali ke planet Mereka. Jadi Kau sudah aman." Ujar Lion.
Jasmine bernafas lega. Setidaknya rasa khawatir saat ini sudah sirna. Walaupun suatu saat Mahluk tersebut akan datang kembali. Tapi pasti dalam waktu yang lama.
" Jadi hari ini Aku sudah bisa pulang?"
" Tentu saja. Kecuali Kita sudah menikah. Kau boleh disini selamanya." Ucap dengan Lion senyuman nakalnya membuat Jasmine salah tingkah.
Jasmine pun langsung buru-buru menyantap sarapannya. Rasa gelisah selama tiga hari, memberikan efek tidak berselera makan. Namun pagi ini, Dia jadi merasa sangat lapar.
Lion yang melihatnya hanya tersenyum. Namun juga terlihat lega. Setidaknya bahaya kali ini sudah diatasi.
...THE END...