
" Apa yang Kau lakukan hari ini? Bukankah kampus libur?"
" Aku bertamu ke keluarga Lion Pa.
Ayahnya terlihat terkejut.
" Rumah Lion?" Ayahnya bertanya, memastikan lagi.
Jasmine berpura-pura tidak memperhatikan reaksi Ayahnya.
" Iya Pa."
" Apa yang Kau lakukan disana?" Ayahnya terlihat menginterogasi Jasmine.
" Bisa dibilang Aku berkencan dengan Lion. Dan Dia ingin memperkenalkan Aku dengan orang tuanya Pa." Jelas Jasmine.
Ayahnya langsung sangat terkejut.
" Ayah baik-baik saja?"
" Kau berkencan dengan Lion!"
Suara Ayahnya menggelegar.
" Kupikir Papa menyukainya juga?"
" Kata Michael, Dia seorang putra ilmuwan yang bekerja sama dengan Mahluk asing."
" Tidak Pa, Papa salah paham"
" Justru Dia yang menolong Jasmine."
" Baiklah. Jadi Lion kekasihmu?
"Ya, Kurasa bisa dibilang begitu."
" Kapan Dia akan kemari lagi?"
" Sepertinya besok pagi."
" Dia menjemputmu untuk ke kampus?"
Jasmine menganggukan kepala.
" Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini."Ayahnya mengamati Jasmine.
Jasmine memutar bola matanya.
" Baiklah, tapi kalau bisa jangan terlalu berlebihan. Michael benar-benar memperingatkan Papa, agar Kau menjaga jarak dengannya." Jelas Ayahnya.
Jasmine pun langsung kembali ke kamarnya. Dia kesal.
Paginya setelah sarapan, Jasmine mendengar deruman mobil diparkir didepan rumahnya. Jasmine melompat dan mulai membersihkan piring bekas makannya.
" Tinggalkan saja piring-piring itu, Mama bisa mencucinya nanti." Ujar Ibunya. Namun Jasmine terbiasa menyuci piring bekas makannya sendiri.
Bel pintu berbunyi. Ayahnya langsung menoleh ke arah pintu. Maklum Dia belum pernah bertemu Lion. Ayahnya pun beranjak dan berjalan duluan ke arah pintu. Diikuti Jasmine beberapa jengkal dibelakangnya.
Jasmine tidaj menyadari, betapa derasnya hujan diluar sana.
Lion berdiri dibawah bias lampu teras. Tampak seperti model pria dalam majalah. Lion memakai jas hujan.
" Ayo masuk, Lion." Sapa Ayahnya Jasmine langsung terlihat mengenalinya.
Jasmine mendesah lega, setidaknya Ayahnya tetap ramah pada Lion.
"Terima kasih Pak." Sahut Lion dengan suara penuh hormat seraya melepas jas hujannya dahulu.
" Silahkah duduk dulu."
Lion duduk sengan luwes disofa ruang tamu. Dia mengedip kepada Jasmine. Jasmine cepat-cepat melirik jengkel padanya
" Jadi, Kudengar Kau berkencan dengan putriku."
" Iya Pak. Itu benar."
" Kalau begitu jaga putriku baik-baik."
" Dia akan aman bersamaku. Aku janji padamu Pak."
Ayah Jasmine terlihat tak bisa meragukan ketulusan Lion, yang terdengar pada setiap kata-katanya. Mereka berpamitan, lalu keluar.
Mereka memakai jas hujan dahulu.
Jasmine tiba-tiba terhenti diteras. Dia melihat mobil jeep berukuran besar. Bannya lebih tinggi dari pinggang Jasmine.Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja. Lalu empat lampu sorot besar terkait dirangka bemper yang besar. Atapnya hitam mengkilap
" Kau mengganti mobilmu?" Bisik Jasmine.
" Untuk berjaga-jaga." Suara Lion pelan.
" Kenakan sabuk pengamanmu."
Teriak ayahnya yang masih berada diteras. Jasmine hanya menoleh dan menganggukkan kepala untuk menjawabnya.
Lion mengikuti ke sisi Jasmine dan membukakan pintunya. Lalu membantu melepaskan jas hujannya. Jasmine mengira-ngira jarak jok dan bersiap-siap melompat naik. Jasmine terlihat kesulitan. Lion lalu mengangkatnya dengan satu tangan. Jasmine berharap Ayahnya tidak memperhatikannya. Apalagi posisi hujan. Lalu Lion beralih ke pintu jok pengemudi. Dia melepaskan jas hujannya dan menaruhnya dijok belakang. Jasmine berusaha mengenakan sabuk pengamannya. Tapi terlalu banyak kaitan.
" Ini semua untuk apa?" Tanya Jasmine
" Itu perlengkapan keselamatan off-road."
" Ok. Maaf belum tahu. Tapi bukankah Kita hanya akan ke kampus." Jasmine seraya masih mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat, tapi tidak mudah. Lion mendesah dan mencondongkan tubuh untuk membantu Jasmine. Jasmine senang hujannya sangat lebat, sehingga Ayahnya tidak terlalu jelas melihat Mereka
" Ini untuk berjaga-jaga, kalau Mereka tiba-tiba datang mengejar Kita." Ujar
Lion seraya memasang sabuk pengaman Jasmine. Jasmine berusaha berkonsentrasi agar tidak berpikir macam-macam, dengan jarak Lion yang hanya beberapa centimeter darinya.
Setelah selesai, Lalu Lion memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin mobilnya. Mereka berlalu meninggalkan rumah Jasmine.
" Jeep-mu besar sekali."
" Ini punya Ayahku."
" Di mana Kau menyimpannya?"
Namun tiba-tiba mata Jasmine teralihkan perhatiannya.
" Apa Kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?"
Lion menatap Jasmine dengan tatapan tak percaya. Lalu Dia tiba-tiba mengerti maksudnya.
" Mereka bisa datang kapanpun. Aku harus benar-benar konsentrasi untuk menjagamu."
Jasmine menggigit bibirnya sendiri. Melawan rasa ngeri.
Tiba-tiba Lion mencondongkan tubuh, mengecup kening Jasmine. Jasmine menatapnya, bingung."
Kemudian Mereka tiba di ujung jalan. Pepohonan
membentuk dinding hijau pada ketiga sisi Jeep. Hujan
masih deras, setiap detik semakin deras dan langit masih gelap.
" Maaf, Aku mencintaimu."
" Kau tahu. Aku juga mencintaimu."
" Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Padahal Kau sudah tahu siapa Aku ini."
" Aku tidak percaya Kau jahat."
Sampai kampus masih hujan. Namun tidak begitu deras
Lion memarkirkan mobilnya begitu sampai kampus. Lalu mengitari bagian depan mobil, dan menuju sisi Jasmine
dalam kelebatan. Lion mulai melepaskan kaitan sabuk
pengaman Jasmine. Jasmine jadi berpikir tidak-tidak saat Mereka berdekatan seperti itu.
Lion cepat-cepat menyelesaikannya.
“Sepertinya aku harus memanipulasi
ingatanmu." Ujar Lion.
Sebelum Jasmine bereaksi. Lion menarik Jasmine dari Jeep dan
membuat Jasmine berdiri di samping Jeep.
"Memanipulasi ingatanku?" Tanya Jasmine gugup.
"Semacam itu." Lion memerhatikan Jasmine lekat-lekat, dengan
hati-hati, tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. Lion
meletakkan kedua tangannya di Jeep, di kedua sisi kepala Jasmine
dan mencondongkan tubuh, memaksa Jasmine menempel ke
pintu. Lionmencondongkan tubuhnya semakin dekat,
wajahnya hanya beberapa senti dari Jasmine. Jasmine tak bisa
melepaskan diri.
"Pikiranmu menggangguku." Desah Lion.
"Apa tepatnya yang Kau khawatirkan?" Lanjut Lion.
"Kau pingsan." Ucap Jasmine menelan ludah.
Lion menahan senyum. Kemudian Dia menunduk dan
dengan lembut menyapukan bibirnya di lekukan
leher Jasmine. Bayangan-bayangan banyak bermunculan.
"Kau masih khawatir sekarang?" gumam Lion.
"Ya." Jasmine berusaha berkonsentrasi.
"Tentang semuanya."
Lion
menggunakan hidungnya, Dia menyusuri leher Jasmine hingga
ke ujung dagu. Napasnya yang dingin menggelitik kulit Jasmine.
"Sekarang?" Bibir Lion berbisik di rahang Jasmine.
" Kau tidak berpikir Aku akan melukaimu kan?"
" Tidak, tapi..., Tidak mungkin."Tak ada kepercayaan diri dalam suara Jasmine.
Lion perlahan-lahan menyelusuri sampai pipi dan berhenti tepat disudut bibir Jasmine.
" Akankah Kubiarkan Kau terluka dan kehilanganku?" Bibir Lion nyaris menyapu bibir Jasmine yang gemetaran.
" Tidak," Desah Jasmine.
Jasmine tahu pertahanannya nyaris hancur, tapi tak ada yang bisa Jasmine lakukan. Dan bayangan-bayangan masa kecil Lion berkelabatan di diri Jasmine. Tapi Jasmine tidak bisa berkonsentrasi untuk itu. Dia terfokus dengan wajah Lion.
“Kau lihat," Kata Lion, bibirnya bergerak dibawah bibir Jasmine.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, ya kan?"
" Iya," Sahut Jasmine.
"Aku mungkin memercayai itu sebelum Aku bertemu
denganmu. Sekarang, ayo Kita keluar dari sini, sebelum Aku
melakukan sesuatu yang sangat bodoh," Geram Lion menarik Jasmine keluar dari tempat parkiran.
To be Continued