Who I Am

Who I Am
Pemburu



Dalam perjalanan pulang. Seperti dugaan Lion. Mereka tiba-tiba menghadang.


" Siapkan cincin perlindungan Ayahku." Bisik Lion seraya keluar dari Mobil.


Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan, terpisah-pisah


sejauh dua belas meter. Mahluk pendek yang pertama


muncul langsung mundur, membiarkan yang jangkung


berdiri di depan, menempatkan dirinya di dekat makhluk yang


tinggi, sikapnya jelas menunjukkan


dialah pemimpin Mereka.


Mereka bergerak saling mendekat, sebelum dengan hati-hati


menghampiri Lion, memperlihatkan rasa


hormat alami, sekelompok predator ketika bertemu jenisnya


sendiri.


Ketika Mereka mendekat, bisa Jasmine lihat betapa berbedanya


Mereka dengan Lion. Langkah Mereka cepat, langkah yang secara konstan nyaris berubah siap


menerkam.


Mata Mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati


postur Lion yang sempurna. Lion melangkah hati-hati


menghampiri Mereka, dan tanpa komunikasi yang kentara. Mereka seperti marah.


Lion memperlihatkan gertakan


giginya, balas siap menerkam, menggeram penuh ancaman.


Sama sekali bukan geraman main-main yang seperti Jasmine dengar sebelumnya. Melainkan hal paling mengerikan yang pernah


Jasmine dengar. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut


hingga ke ujung kakinya.


"Apa ini?" Salah satu Mereka blak-blakan menunjukkan rasa


terkejutnya. Baik Lion maupun mahluk tersebut tidak mengubah


pose agresif Mereka. Salah satu bergerak sedikit ke samping, dan


sebagai jawabannya Lion bergeser.


“Dia bersamaku." Jawab Lion tegas.


"Kau membawa mangsa Kami?” Tanyanya, ekspresinya


keheranan saat Dia melangkah enggan ke depan.


Lion menggeram bahkan lebih menakutkan lagi,


bengis, bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang


berkilauan. Tangannya mulai tumbuh seperti bulu burung elang.


Mereka melangkah mundur.


"Kubilang Dia bersamaku," Lion mengulangi


kata-katanya


dengan tegas.


"Tapi dia manusia,” Protes Mereka. Ucapannya bernada agresif, semata-mata tidak hanya terkejut.


"Ya. Tapi Dia bersamaku." Lion tetap tegang bagai Monster juga di hadapan Mereka.


Lalu Mereka terlihat mundur dan masuk ke dalam hutan kembali.


Lion dan Jasmine masuk kembali ke dalam mobil. Lion terlihat mengusap bagian tangannya.


" Kau benar-benar bisa berubah?" Jasmine penasaran dengan reaksi yang dilihatnya.


Lion menganggukan kepala.


" Disaat , Aku merasa terancam." Jelas Lion.


Jasmine tidak bisa membayangkan disaat Lion benar-benar berubah.


Perjalanan Mereka sampai rumah terlihat hening. Lion sepertinya sedang fokus memikirkan sesuatu. Sedangkan Jasmine tidak berani mengganggu kefokusannya.


" Mereka sedang menyiapkan taktik." Ucap Lion tiba-tiba disela-sela keheningan Mereka.


" Apa maksudmu? Bukankah tadi Mereka mundur?"


Lion menggelengkan kepalanya.


" Itu hanya tidak ingin menghadapku tanpa rencana matang. Aku melihat pikiran Mereka. Berburu untuk eksperimen adalah hasrat Mereka, obsesinya dan Mereka menginginkanmu, secara spesifik. Mereka akan memulai perburuannya malam ini."


"Mereka belum tahu tempat Kita."


Lion menginterupsi.


Kalau sudah begini Jasmine tidak tahu apa-apa. Dia hanya mendengarkan Lion.


"Pikirmu berapa lama waktu


yang diperlukannya untuk menemukanmu?


Rencananya sudah matang bahkan sebelum."


" Aku benar-benar tak boleh lengah."Tambah Lion.


Jasmine terkesiap, menyadari bahayanya.


Mobil Mereka berhenti sambil berdecit. Jasmine terdorong ke


depan, lalu terempas lagi ke jok.


"Tidak ada pilihan," Desis Lion.


Lion benar-benar waspada.


"Aku harus membawamu pergi bersamaku. Untuk keamanan,"Tambah Lion.


"Tidak, Aku tidak akan pergi. Itu akan membuat khawatir orang tuaku." Sahut Jasmine spontan.


Jasmine terdiam. Lalu Dia berpikir untuk memecahkan masalah itu.


"Tidakkah Kau ingin


mendengar rencanaku?" Jasmine menawarkan solusi.


"Dengar," Jasmine memohon.


"Bawa aku kembali dulu."


"Tidak," Potong Lion yang sedang kalut.


Jasmine memandang marah dan melanjutkan.


"Bawa Aku kembali, Aku akan bilang pada orang tuaku bahwa Aku ada keperluan mendadak tugas kampus keluar kota. Lalu Kukemasi barang-barangku. Dan Ayahku takkan melaporkanmu. Lalu Kau bisa membawaku ke mana pun Kau mau." Jelas Jasmine khawatir terhadap orang tuanya juga Lion.


" Orang tuamu aman."


" Tapi setidaknya itu buat waspada. Siapa tahu Mereka berubah pikiran dan mengganggu orang tuaku."


"Jadi, Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang."


Jasmine berusaha terdengar tegas.


Lion menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan


mata.


"Kumohon," Kata Jasmine, suaranya jauh lebih pelan.


Lion tidak


mendongak. Ketika bicara, suaranya terdengar terluka.


"Baiklah, Kau akan pergi malam ini, tak peduli apakah si


pemburu melihat atau tidak. Katakan pada Orang tuamu, Ceritakan apa saja agar Mereka percaya. Kemasi apa pun yang bisa Kau ambil, kemudian


masuk ke mobil ini. Aku tak peduli apa yang dikatakannya


padamu. Kau punya waktu lima belas menit. Kaudengar


Aku? Lima belas menit setelah Kau keluar dari pintu."


Jeep menderu menyala, dan Lion memutarnya, bannya


berdecit-decit. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai


kecepatan.


Jasmine menganggukkan kepala.


Beberapa menit berlangsung dalam keheningan, kecuali


bunyi deru mesin. Lalu Lion berbicara lagi.


"Inilah yang akan Kita lakukan. Sesampainya di rumahmu, kalau si pemburu tidak ada di sana, Aku akan menunggumu."


Lion mendesah.


"Namun kalau si pemburu ada di sana,"Lion


melanjutkan perkataannya dengan muram.


"Kita tidak akan


berhenti."


"Kita akan sampai di sana sebelum mahluk itu," Kata Jasmine


yakin.


Suaranya terdengar pahit.


Sepertinya Lion tidak mendengarkan Jasmine.


"Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri," Jasmine


berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan.Lion mendengarnya.


"Kumohon lakukan saja dengan caraku, sekali ini


saja,” Katanya, menggertakkan giginya.


"Dengar, Orang tuaku bukan orang bodoh, Mereka bakal mencarimu kalau Aku tiba-tiba pergi tanpa alasan dan tanpa menemui Mereka dahulu." Protes Jasmine.


"Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat


lengahnya, disaat Kau sendiri.Dia akan berpikir Kau


bersamaku di mana pun Kau berada. Kalau Kau sendirian tanpa perlindungan, Kau akan semakin membuat Mereka mudah."


Mobil Mereka tiba-tiba terhenti. Alex dan Tiffani menghadang Mereka. Mereka terpksa berhenti.


" Kau tunggu dimobil." Pinta Lion dan langsung turun dari mobilnya.


Lion menghampiri Mereka berdua.


" Apalagi yang Kalian inginkan?"


Alex dan Tiffani saling berpandangan.


" Kami menawarkan bantuan." Ucap Alex kali ini terlihat tulus.


" Iya , terlalu egois kalau Aku tidak membantumu karena egoku." Jelas Tiffani secara Lion pernah membantunya dulu.


Lion berpikir sejenak , sambil membaca ketulusan kedua sahabatnya tersebut. Apakah benar-benar tulus atau hanya memanfaatkan situasi.


" Aku masih meragukan Kalian."


" Aku serius ingin membantumu." Tiffani meyakinkan kembalikan. Begitu juga Alex.


" Aku tidak ingin Mereka menyepelekan ras draconi. Kita lebih kuat dari Mereka. Kalau Kau melawannya sendiri dan kalah. Itu akan menjelekkan spesies ras Kita." Jelas Alex mengejek.


" Kau!" Lion langsung menatap tajam Alex.


" Aku hanya bercanda." Sahut Alex buru-buru, begitu melihat tatapan tajam dari Lion.


" Baiklah. Nanti akan Kupanggil Kalian saat Aku membutuhkan bantuan."


Alex dan Tiffani mengangguk setuju dan lalu Mereka pergi dengan kekuatannya.


To be continued