
Lion dan Jasmine kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan berikutnya. Mereka berhenti di depan pintu lorong terakhir.
" Kamarku." Lion memberi tahu Jasmine dan menariknya masuk.
Kamarnya menghadap ke selatan, dengan banyak jendela sehingga terlihat sangat terang. Selain itu juga luas. Jasmine merasa sebagian rumah tersebut pasti terbuat dari kaca. Pemandangan kamar Lion menyajikan sebuah teras balkon dibagian utara, dengan pemandangan padang rumput liar yang terdapat banyak bunga bermekaran. Sedangkan Sebelah barat sepenuhnya tertutup rak buku. Banyak buku yang Lion miliki. Hampir seperti perpustakaan mini. Sedangkan disudut ada sebuah meja, lampu belajar dan kursi belajar. Sebuah tempat tidur single berada tepat ditengah-tengah ruangan sebelah utara. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna kehijauan. Tidak jauh dari meja belajarnya. Sebelah timur, terdapat satu sofa panjang berwarna cokelat.
Tidak jauh dari rak buku, terdapat layar televisi didinding tembok dan juga sound system disudut ruangan, sepertinya sound system yang canggih. Jasmine berusaha tidak menyentuhnya, takut rusak.
" Perlengkapan audio yang bagus?"
Jasmine mencoba menebak. Lion mengambil remote dan menyalakan stereonya.
Suaranya pelan, namun alunan nada Moonlight terdengar memenuhi ruangan saat ini.
Jasmine melihat buku-bukunya. Kebanyakan tentang dunia luar angkasa. Jasmine berbalik, Dan Lion memandang Jasmine dengan ekspresi aneh dimatanya.
" Apa?"
" Aku tahu, Aku akan merasa lega setelah Kau mengetahui semuanya. Aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. Tapi Aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Ternyata Aku menyukainya. Ini membuatku bahagia."Lion mengangkat bahu, tersenyum samar.
" Aku senang dan bahagia." Jawab Jasmine, balas tersenyum. Jasmine khawatir Lion menyesal telah mengatakan semua rahasianya pada Jasmine.
Senang telah mengetahuinya. Tapi kemudian tatapan Lion memilah-milah ekspresi Jasmine. Dan tiba-tiba senyumnya memudar.
Lalu dahinya berkerut.
" Kau masih menungguku berlari ketakutan dan meninggalkanmu, kan?" Jasmine menebak.
Lion menyunggingkan senyum tipis dan menganggukkan kepala.
" Aku benci menghancurkan harapanmu. Tapi Kau tidak semenakutkan yang Kau kira. Aku sama sekali tidak takut." Jasmine berbohong.
Lion mengerutkan keningnya, alisnya terangkat, jelas-jelas tidak percaya. Kemudian Lion tersenyum lebar dan licik.
" Kau seharusnya tidak mengatakan itu."Lion tergelak. Lion menggeram pelan, bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. Matanya berubah menjadi kuning keemasan. Sekonyong-konyong Lion bergeser posisinya, setengah membungkuk, tegang, seperti seekor singa yang mau memakan mangsanya.
Jasmine mundur darinya, menatapnya nanar.
" Kau tidak akan melakukannya."
Jasmine tidak tahu Lion tiba-tiba ke arahnya, terlalu cepat. Tiba-tiba Jasmine sudah mendapati Mereka mendarat disofa. Lengan Lion membentuk sangkar baja disekeliling Jasmine. Nyaris menyentuh Jasmine. Jasmine terengah-engah memperbaiki posisinya.
" Kau sangat menakutkan." Ucap Jasmine jujur.
Jasmine menatap Lion ngeri.
Tapi Lion bisa mengendalikan diri dengan baik. Rahangnya melemas ketika Lion tersenyum, matanya berkilat-kilat penuh canda.
" Apa katamu tadi?" Lion berpura-pura menggeram.
" Kau mahluk yang sangat menakutkan." Kata Jasmine.
" Jauh lebih baik." Lion menyetujuinya.
" Hmmm." Jasmine berusaha bangkit.
" Boleh Aku bangun sekarang?"
Lion hanya tertawa.
Suara ketukan pintu, membuat Mereka menoleh ke arah pintu.
" Boleh Mommy masuk?" terdengar suara lembut dari balik pintu.
Jasmine berjuang melepaskan diri, tapi Lion hanya menggeser posisi Jasmine, hingga Jasmine dan Lion terlihat duduk dengan sopan .
" Silahkan!" Sahut Lion seraya menahan tawa.
Pipi Jasmine merah padam, tapi Lion tampak santai. Ibunya membawakan cemilan dan minuman.
" Mommy membawakan cemilan buat Kalian. " Ucapnya seraya menatap Lion dengan ekspresi yang tidak Jasmine pahami.
" Kau tidak menakutinya kan?" Tambah Ibunya melihat ekspresi Jasmine.
Lion hanya tersenyum dan menggeleng, melihat tatapan mata Ibunya.
Selanjutnya, Lion tidak ada niat bercanda atau menakuti Jasmine kembali. Mereka lebih sibuk membaca buku. Begitu juga Jasmine, Mereka memilih membaca buku dibalkon kamar Lion seraya makan cemilan dari Ibu Lion.
" Ada apa?"
" Ini cincin buat perlindungan, maksudnya bagaimana?" Jasmine penasaran.
" Ada saatnya Kau akan mengerti."
" Pakailah disaat Kau membutuhkan." Jelas Lion.
Jasmine pun menganggukkan kepala tanda
Setelah menjelang sore, Lion dan Jasmine pulang menuju ke kota. Gerimis baru saja mulai ketika Lion berbelok menuju halaman rumah Jasmine. Hingga saat itu, Jasmine sama sekali tidak ragu, kalau Lion akan terus menemani Jasmine, walaupun Jasmine hanya manusia biasa.
Kemudian, Jasmine melihat mobil hitam diparkir di halaman rumahnya juga. Lion menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
" Sepertinya Ayahmu kedatangan tamu. Sesuatu yang tidak pernah kuduga." Ujar Lion pelan dan parau.
" Ini sudah kelewatan, " Gumamnya lagi.Suara Lion terdengar marah.
" Dia datang untuk memperingatkan Ayahmu." Lion mengerutkan keningnya, seakan Dia fokus mendengarkan sesuatu.
" Aku akan mengatasinya." Sahut Jasmine.
Lion tersenyum seraya mengerutkan keningnya melihat keberanian Jasmine.
" Baiklah kalau begitu." Lion membantu melepaskan sabuk pengamannya.
" Thanks."
" I love you!" Bisik Lion.
" I love you so much!" Sahut Jasmine lalu membuka pintu mobil dan keluar.
Lion pun menunggu sampai Jasmine masuk ke rumah, lalu Dia putar balik dan pulang.
Ayah Jasmine yang sedang berbicara dengan sahabatnya langsung menatap ke arah Jasmine.
" Kau sudah pulang?"
" Iya." Jasmine menatap aneh.
" Oya ini Om Michael, Ayahnya Nico. Kau mengingatnya?"
Jasmine menganggukan kepala. Nico , tetangganya waktu di Jerman.
" Iya , Jasmine ingat Pa." Jasmine langsung menjabat tangan seraya tersenyum.
" Wah, Kau sudah besar dan cantik."
" Terima kasih." Lalu Jasmine ijin masuk.
Jasmine jadi berpikir ulang tentang Om Michael. Setahu Jasmine Dia juga seorang ilmuwan. Jangan-jangan? Jasmine menggelengkan kepalanya. Namun Lion terlihat marah. Apakah Dia? Pemburu mahluk asing. Jasmine pun terhenti dan terduduk diam di kursi ruang tengah. Lalu Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Jasmine langsung menuju ke balkon. Dan mengintip ke balkon sebelah. Namun Lion tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin Dia sedang mandi. Pikir Jasmine membayangkan Lion sedang mandi dibayar guyuran shower. Tidak! Tidak! Jasmine langsung mengalihkan pikirannya yang mulai gila.
Dia pun langsung mengambil peralatan mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai, Dia langsung turun ke ruang kerja Ibunya. Ibunya terlihat masih sibuk dengan laptopnya.
Ibunya melihat wajah Jasmine yang penuh tanda tanya.
" Ada apa?"
" Apa Mama ingat, Om Michael, Ayahnya Nico tetangga Kita waktu di Jerman." Jelas Jasmine.
Ibunya berpikir sejenak.
" Oya ingat. Kenapa?"
" Setahu Mama pekerjaan Beliau apa?" Jasmine memastikan.
" Ilmuwan."
Jasmine langsung terdiam. Pikirannya penuh tanda tanya. Tapi kenapa Lion marah? Peringatan apa yang dimaksud Lion. Ibunya Jasmine kembali melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan Jasmine terlihat duduk disamping Ibunya, seraya masih berpikir. Namun selang beberapa menit. Ayahnya memanggil Jasmine.
To be Continued