
“Mitamii!!”
Suzuki yang sedang berlari dengan cepatnya menangkap bola hasil operan temannya. Beberapa orang tim lawan mulai datang menghampirnya tuk merebut bola.
Tapi maaf saja! Suzuki tak akan menyerahkannya semudah itu. Dia terus berlari dan menendang bolanya, semua halangan yang dilakukan tim lawan tak berarti apa-apa baginya, dengan mudahnya dia menghindar dan berhasil lolos dari semua penghalang.
Dia yang hampir mendekati gawang mulai sedikit memperlambat larinya, tapi kaki kanannya sudah melambung kuat ke belakang dan alhasil bola yang sejak tadi dengannya langsung tertendang menuju gawang dan..
“GOOLLL!!!” teriak semua orang yang menyaksikan bagimana kedua tim itu bertanding.
Pluit pun berbunyi yang menandakan akhir permainan selesai. Tiga babak berturut-turut dimenangkan oleh tim sepak bola SMA TOMA, 23 gol untuk mereka dan 0 untuk tim lawan. Mereka pulang dengan kemenangan tanpa balasan dan ini semua berkat Suzuki yang sangat ahli dalam hal sepak bola.
“kerja bagus semuanya, terutama kau Mitami-san” ucap sang pelatih saat mereka semua sudah masuk kedalam ruang ganti.
“kau sangat keren kapten”
“haha.. kapten benar-benar sadis tadi, dia tidak membiarkan tim lawan mengisi satu gol sekalipun”
“tapi itulah yang membuat kapten terlihat kereenn, kapten bagimana caranya agar aku bisa sepertimu?”
Suzuki yang baru saja selesai mengganti pakaian, menutup pintu lokernya. Dia melempar botol minuman ke arah temannya yang baru saja bertanya tadi. “dengan jangan pernah membolos di latihan lagi”
“ba-baik kapten!”
Suzuki yang sudah selesai beres-beres segera berjalan membuka pintu.
“apa kapten sudah mau balik, padahal kita mau merayakan kemenangan kita”
“aku ada urusan” ucapnya yang langsung menghilang di balik pintu.
Semua diam menatap pintu yang baru saja tertutup.
“hey, mengapa ya si kapten selalu pulang terburu-buru tiap kali kita habis ikut pertandingan?”
“kan udah dia bilang kalo dia ada urusan”
“tapi aku penasaran, urusan apa yang selalu dikatakan kapten itu”
Suzuki mempercepat langkahnya menyusuri tiap jalan. Dia melihat jam tangannya sebentar. Sekarang sudah pukul 4 sore.
“seharusnya jam segini dia sudah sampai dirumah”
Belum juga sempat dia mengangkat wajah, tiba-tiba ada sebuah kertas yang entah dari mana udah menempel aja di wajahnya. Raut wajahnya yang lagi tenang-tenang saja langsung berubah menjadi garang. Dia mengambil kasar kertas itu lalu ingin membuangnya. Tapi! Tangannya berhenti saat melihat apa yang tertera di kertas itu.
“inikan..” tanpa pikir panjang Suzuki langsung berlari sekencang mungkin ke jalur yang berlainan dari jalur rumahnya.
Dengan nafas terengah-engah dia berhenti di depan bangunan TK. Disana sudah terlihat sepi dan tinggal pak penjaga yang baru saja mau mengunci pintu pagar.
Pak penjaga itu berbalik dan menatap kaget Suzuki. “eh Mitami-san, mengapa kau kesini? Bukannya adikmu sudah pulang tadi?“
“apa tadi dia bersama kertas ini?” tanya Suzuki sembari memperlihatkan kertas bergambar denah rumah yang sedari tadi berada ditangannya.
Pak penjaga itu mengangguk. “itu kertas yang dipegang adikmu tadikan, dia tadi sempat bilang kalo itu kamu yang buat, saya juga tadi sudah menanyakannya mengapa kau tidak menjemputnya, dan dia bilang kalo kau ada pertandingan”
Tanpa menanggapi pembicaraan pak Penjaga itu, Suzuki berlari lagi sembari meneriaki nama YUZUKI berulang kali. Matanya tak henti-henti melirik kesana kemari mencari sosok gadis kecil berseragam TK.
Jadi dia menggambar denah ini agar mempermudah dia pulang, tapi sepertinya dia baru saja kehilangan kertas ini.
Lagi lari-larinya, tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari salah satu teman se timnya, tanpa lama Suzuki segera mengangkatnya dengan nafas yang masih terengah-engah. “ha..ha.. ada apa?”
“tadi kau melupakan seragammu di tempat pertandingan, tapi sekarang aku sudah membawanya kerumahmu dan ohya tadi itu aku memberikannya pada adikmu”
Mendadak kaki Suzuki berhenti melangkah. “adikku?”
“iya, si Yuzuki adikmu kan?”
Tanpa mematikan telepon, Suzuki kembali berlari lagi menuju jalur rumahnya. Sesampainya disana, tanpa mengetuk pintu, Suzuki langsung masuk dan memanggil nama adiknya. “Yuzuki!”
Yuzuki yang tengah bermain dengan pensil warnanya menatap cemberut sang kakak yang terlihat benar-benar basah. “Suzu-chan curang, Suzu-chan abis mandi ya ama hujan..?"
He?
“kakak tidak habis mandi hujan.. coba Yuzu lihat saja keluar”
Yuzuki menuruti dan melihat ke pintu yang sedikit terbuka.
“tidak hujan kan?”
Yuzuki mengangguk saat melihat matahari yang sedang bersinar terang diatas.
“bagimana Yuzu bisa sampai rumah? Bukannya Yuzu kehilangan kertas yang dibuat kakak?”
Yuzuki menatap takjub sang kakak. “waah..kok Suzu-chan tau, padahal tadi kertas rumah itu dibawah ama angin jahat”
Suzuki diam. Jadi ini sebabnya, kertas itu tiba-tiba saja ada padanya. “lalu bagimana Yuzu bisa pulang ke rumah?”
“tadi itu Aru-nee yang membawa Yuzu pulang, Yuzu kagum, Aru-nee bisa tau rumah Yuzu”
“Aru-nee? Siapa dia?”
“kakakku”
Wajah Suzuki berubah datar seketika. “hey Yuzu, kakakmu itu cuma satu dan itu aku”
“tidak, Suzu-chan tetap Suzu-chan, dan Aru-nee itu kakakku”
Suzuki drop seketika mendengar penjelasan adiknya. Seperti ada peluru yang menancap langsung ke jantungnya tanpa meleset. Dia tidak di akui kakak oleh adiknya sendiri, tapi orang asing malah di akui kakak. Apa selama ini, dia masih kurang perhatian pada adiknya, sehingga Yuzuki tak menganggapnya kakak. Dan untuk Aru-nee yang dianggap kakak oleh Yuzuki, siapa kau?!
Dia kembali menatap Yuzuki yang sudah bermain lagi dengan crayonnya dan sesekali menggigit donat yang ada di tangannya.
“donat darimana itu?”
“Aru-nee”
Lagi-lagi nama itu. “sudah kakak bilangkan jangan menerima apapun dari orang asing”
“Aru-nee itu bukan orang asing, dia kakakku”
Oh astaga, lagi-lagi Suzuki mendengar kalimat itu keluar dari mulut Yuzuki, sekali lagi Yuzuki mengucapkan hal yang sama maka dia akan menggila sekarang. Dengan cepat Suzuki melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Dia menyirami kepalanya dengan air dingin berkali-kali, mencoba mengurangi stress yang ada dikepalanya sekarang.