Who Be First Love Arumi

Who Be First Love Arumi
1. Ini seperti reuni dadakan



Upacara Penerimaan Siswa Baru Tahunan


SMA TOMA


Itulah yang tertulis di spanduk depan gerbang sekolah. Para calon murid yang berasal dari berbagai tempat mulai memasuki ruang aula. Ada sekitar 65 yang terdaftar hadir disitu.


Semua murid mulai diam saat seorang guru menaiki panggung dan berbicara.


“sekali lagi terima kasih atas perhatiannya, senang sekali rasanya banyak yang meminati sekolah ini, walaupun dengan seleksi yang ketat, tapi kalian tetap berjuang dan berhasil menjadi murid kami, saya sebagai perwakilan para guru disini mengucapkan rasa bangga kepada kalian semua, dan untuk terakhirnya, selamat datang di SMA TOMA dan jadilah yang terbaik”


Semua murid dan guru bertepuk tangan mengakhiri itu. Selanjutnya, perwakilan murid baru dengan predikat lulusan terbaik menaiki panggung untuk berpidato singkat. Para murid dan guru terpaku menatapnya, terlebih para kaum hawa.


“terima kasih atas kesempatan yang diberikan, saya Ryo Mifuki, perwaki-“


“MIFUKI?!”


Semuanya hening mendadak setelah teriakan seorang gadis. Ryo menatap fokus gadis yang tengah berdiri diantara kerumunan murid lainnya. Gadis itu yang menyadari kesalahannya segera duduk kembali dengan wajah tertunduk.


Oh astaga..apa yang ku lakukan barusan??


Gadis itu kembali menatap kedepan, menatap fokus cowok yang sedang berpidato di depan. Ryo Mifuki. Dia tak menyangka manusia yang pernah se TK dengannya dulu, sekarang satu SMA juga.


Setelah upacara selesai, para murid dan guru di persilahkan bubar.


“ne Nasao-chan, kau sangat lucu tadi, mengapa kau berteriak tiba-tiba dan kau meneriaki nama cowok tampan itu dengan kuat, apa kau menyukainya?”


Yang ditanya hanya cengengesan “ah sebenarnya bukan begitu”


“sudahlah aku tau kok perasaanmu, aku juga menyukainya, dia tampan, keren dan pintar.., ohya btw, aku mau berkeliling dulu, mau ikut?”


“mm.. entar aku nyusul”


“oke bye-byee...”


PTAAKK...


Sebuah gulungan kertas baru saja mendarat tepat di atas kepalanya.


“namaku bukan untuk diteriaki, Arumi Nasao”


Arumi mengusap pelan kepalanya lalu berbalik. dan benar, pelaku yang memukul kepalanya barusan adalah Ryo Mifuki.


“maaf-maaf, aku tidak sengaja tadi”


Kata-kata Ryo barusan kembali terngiang dikepalanya. “btw, kok kamu bisa tau aku Arumi dan kau juga menyebut nama lengkapku, padahal kita sudah berpisah 9 tahun dan baru bertemu, aku saja baru mengenalimu setelah kau mengucapkan namamu tadi”


Ryo hanya diam tak menanggapi. Arumi kembali menatap wajah Ryo.


“tapi aku senang, kita bisa satu sekolah lagi, Mifuki”


Ryo terdiam menatap wajah Arumi yang tengah tersenyum padanya. Disaat yang bersamaan datanglah seorang guru yang menghampiri mereka berdua. Guru muda itu menatap Ryo.


“pidato yang bagus, seperti yang diharapkan dari siswa berpredikat lulusan terbaik, Ryo-kun”


Ryo hanya diam. Lalu guru itu kembali beralih menatap Arumi yang dari tadi hanya diam juga. “kau tidak banyak berubah ya, Arumi-chan”


Arumi menegedipkan matanya berkali-kali, dari mana guru SMA-nya ini tau namanya.


“Miku-sensei?”


Arumi masih mencoba mengingat kembali siapa itu Miku-sensei.


“dia guru TK kita dulu” jelas Ryo membuat Arumi menatap kembali wajah senseinya dan dia baru ingat.


“wah Miku-sensei jadi guru juga disini?”


Guru itu mengangguk tersenyum “aku sudah jadi guru disini sejak 3 tahun yang lalu dan kalian harus memanggilku Fumi-sensei sekarang”


Arumi mengangguk. “baik Fumi-sensei” dia merasa senang sekali bertemu kembali dengan guru TK-nya.


“ini seperti reuni dadakan, bagimana kalo jam makan siang nanti ku traktir kalian sebagai tanda reunian pertama kita”


Arumi mengangguk setuju dan Ryo hanya diam. Dia tidak suka ini. Jadi dia menolak untuk ikut. Jadi yang di traktir hanya Arumi saja.


#Kantin


Arumi menyeruput cepat segelas jus semangka yang dibeli oleh Fumi-Sensei tadi. Sesuai perjanjian, saat jam makan siang, Arumi diajak ke kantin dan ditraktir 1 paket makan siang versi premium.


Dia mulai melahap fried chicken mayonaise yang ada dipiring. Fumi-sensei yang melihat itu hanya tersenyum sambil sesekali meneguk minuman bersodanya.


“wajahmu masih saja imut ya Arumi-chan, dan rambutmu juga sudah berubah, dulu pendek sekarang sudah panjang”


“wajah sensei juga masih sama seperti dulu hanya rambutnya saja yang sedikit panjang”


“haha kau bisa saja Arumi, sekarang aku sudah 29 tahun ni loo”


“kalo sekarang sensei 29 tahun berarti dulu sensei jadi guru TK umur 19 tahun?”


Fumi mengangguk.


“wah sensei hebat ya sudah jadi guru diumur semuda itu”


“dan diumur semuda itu, aku juga sudah pernah melamar seorang gadis”


Uhhukk... sepenggal daging ayam hampir saja tersangkut di tenggorokkan Arumi. Dia segera meminum minumannya.


“benarkah?”


Fumi mengangguk.


“lalu apa gadis itu terima lamaran sensei?


Fumi menggeleng. “dia belum menjawabnya”


Arumi manggut-manggut. “aku penasaran siapa gadis itu..”


PERHATIAN UNTUK PARA MURID BARU, KELAS KALIAN SUDAH DIBAGIKAN, SILAHKAN LIHATLAH DI MADING RUANG AULA.


Suara speaker itu menghentikan kegiatan makan Arumi, dia segera berdiri, izin pamit pada Fumi-sensei lalu pergi.


Fumi menatap diam bayang Arumi yang baru saja hilang dibalik dinding, seulas senyum terukir jelas diwajahnya. “kau tau siapa gadis itu Arumi..”