
“ne Arumi, bisa kau tunggu sebentar disini, aku mau ke toilet dulu”
Arumi hanya mengangguk dan berdiri diam didepan toliet wanita menunggu Sena keluar. Dia memandang kesana-kemari dan berakhir menatap ke ruang perpustakaan yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Bruukkk...!!!
Tiba-tiba terdengar suara yang lumayan keras dari dalam perpustakaan itu. Karena penasaran, Arumi segera berjalan mendekat dan sedikit mengintip dari celah pintu.
Ruang itu benar-benar dipenuhi dengan banyak buku yang tertata rapi disana. Arumi menatap takjub semua buku itu lalu beralih fokus menatap seseorang yang terbaring dilantai bersama dengan beberapa buku yang berhamburan disekitarnya.
Tanpa pikir panjang, Arumi langsung masuk tanpa permisi dan menghampiri orang itu. Wah bule. Itulah yang dipikirkan Arumi setelah menatap rambut pirang cowok itu.
Apa yang sudah terjadi padanya?.
Arumi segera menyentuh pelan pipi cowok itu, namun tak ada respon sama sekali.
Pikiran Arumi mulai berlarian kesana-kemari. Jangan bilang kalo dia sudah..no-no Arumi! Itu tidak mungkin.
Dia segera menaruh telunjuknya didepan hidung cowok itu dan syukurlah..dia masih bernapas.
Arumi segera menggoyang-goyangkan tubuh cowok itu berkali-kali dan akhirnya si cowok itu pun tersadar.
Matanya mulai terbuka perlahan, manik biru yang terpancar dari mata cowok itu membuat Arumi tertegun seketika.
Si cowok yang baru menyadari adanya orang asing langsung bergeser menjauh begitupun Arumi.
“matamu-“
Belum selesai Arumi menyelesaikan kalimatnya, cowok itu sudah dengan cepat menata poni pirangnya yang sukses menutupi kedua matanya.
Arumi agak sedikit terkejut melihat itu. Ingin dia berbicara lagi tapi suara yang barusan memanggil namanya membuatnya mengurungkan niat itu.
Dia segera berdiri dan berjalan balik. Saat hampir keluar dari ruangan itu, dia sedikit melirik kembali ke belakang. Cowok itu tengah mengumpulkan buku yang berhamburan tadi. Tak sengaja matanya menangkap sesuatu yang sangat familiar baginya. “buku itu..”
“Arumiii...” lagi-lagi suara itu menyadarkan Arumi. Dia segera berjalan cepat keluar dari ruang itu.
Sena yang melihat kesana-kemari dan meneriaki nama Arumi berulang kali, mulai terlihat kebingunan. Kemana si Arumi pergi?. “Arumiii..” teriaknya lagi dan akhirnya si sosok yang dicari pun muncul.
“ne Arumi, kau darimana saja? Aku mencarimu dari tadi”
Yang ditanya hanya cengengesan. “maaf Sena, tadi aku sedikit mampir di perpustakaan yang ada disana”
“perpustakaan?”
Arumi mengangguk. Sena hanya diam menanggapi, dia melihat ke jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.46, sudah hampir waktunya makan siang. “ya sudah, lebih baik kita makan siang dulu sekarang, setelah itu baru kita lanjut lagi meneliti klub”
Arumi mengangguk mengiyakan dan mereka berdua pun berjalan pergi menuju kantin yang berada di tingkat kedua.
Seperti biasa, Sena selalu memesan paket makan siang versi premium. Sedangkan Arumi lebih memilih paket makan siang harian yang harganya terjangkau, dan hari ini jadwalnya si Onigiri. Arumi memesan Onigiri dan sebotol teh hijau.
Selesai makan siang, mereka berdua kembali melanjutkan tugas. Kali ini tujuan mereka klub teater, lalu klub musikal, klub sains, klub menanam, klub shogi, klub tenis, klub fashion, klub penyiaran, klub fotografer, klub voly, klub melukis, klub majalah, dan klub sepak bola. Untuk klub sepak bola, tak ada orang satu pun disana, dan setelah bertanya, ternyata klub sepak bola tengah mengikuti pertandingan.
Sekarang sudah waktunya pulang sekolah, Arumi dan Sena juga sudah menyelesaikan tugas mereka meneliti semua klub yang ada. Dan yang terakhir, mereka hanya harus memilih klub mana yang mau diikuti dan yang itu baru akan dikumpulkan besok pagi.
Arumi yang baru saja tiba di stasiun menghentikan langkahnya ketika ada suara berat yang memanggil namanya. Arumi segera berbalik dan mencari asal suara. “ayah..!”
Pria berjas itu mulai mendekati Arumi lalu memberikan selembar kertas dan beberapa lembar uang padanya. Tanpa bertanya, Arumi langsung menerima kertas itu dari ayahnya dan membacanya, ternyata itu daftar belanjaan.
“ibu sedang pergi ke rumah nenek dan mungkin pulangnya agak kemalaman, jadi ibu memberikan ini untukmu, dan ayah juga masih ada pekerjaan, jadi mungkin ayah juga akan pulang agak larut”
“aku hanya perlu membeli semua yang ada disini kan?”
Ayahnya mengangguk.
“di rumah nenek sedang ada acara, jadi ibu diminta untuk membantunya menyiapkan makanan”
Arumi mengangguk paham.
“setelah berbelanja ini, langsung pulang ke rumah ya, jangan kesana kemari dan satu lagi, jangan menerima apapun dari orang asing!”
“baik yah”
Setelah mendengar ucapan terakhir Arumi, sang ayah pun pergi. Arumi melihat kembali daftar belanjaan itu lalu menatap ke sekeliling.
Di depan stasiun ini kan ada supermarket, mumpung dia lagi sini, lebih baik dia belanja aja di situ. Dan Arumi mulai melakukan tugas berbelanjanya.
Tidak banyak barang yang di tulis ibunya disana, hanya beberapa sayur, sosis, dan saus yang tertera disana.
Setelah selesai, Arumi segera keluar dari supermarket itu, dan tanpa sadar dia mencium bau enak yang sangat familiar sekali di hidungnya.
Arumi segera menatap ke asal bau dan ternyata benar, itu bau donat. Dia segera mampir ke stand donat yang ada di samping supermarket. Disana ia menghabiskan sisa uang jajannya hari ini untuk memborong semua rasa donat yang ada disitu.
Karena tak sabar ingin mencicipinya, dia segera duduk di bangku taman yang letaknya tak jauh dan mulai membuka kotak donatnya. Baru saja aromanya tercium, matanya malah terfokus ke seorang gadis kecil yang baru saja berlalri didepannya. Gadis kecil itu berseragam TK dengan topi kuning yang masih menancap rapi di kepalanya.
Tak lama gadis kecil itu terduduk diam dan mulai menangis. Arumi yang melihat itu langsung mendekati. “a-apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?”
Gadis kecil itu tak menanggapi dan tetap menangis. Arumi mulai panik dan tanpa pikir panjang, dia segera menyondorkan satu donat rasa strawberry padanya.
Dan dalam seketika gadis kecil itu berhenti menangis dan malah menatap bingung donat yang diberi Arumi dengan pipi gembul dan mata besarnya. “hiks..kata Suzu-chan, Yuzu ngga boleh menerima apapun dari orang asing”
Arumi terdiam mendengar kalimat gadis kecil itu, kalimat yang sama seperti yang ayahnya katakan barusan tadi dan dia juga jadi teringat masa kecilnya, dulu ayah dan ibunya juga selalu mengatakan kalimat itu berulangkali, dan dia menurutinya, tapi untuk donat, dia tidak bisa menolaknya, walau dari orang asing, dia akan menerimanya dengan senang hati dan itu membuatnya terus diceramahi oleh sang ayah.
“hehe..aku bukan orang asing kok, ohya namamu Yuzu ya? Kalo gitu kenalin, aku Arumi Nasao”
Gadis kecil itu terdiam sebentar lalu menatap kembali Arumi. Dia tak berkata apapun dan masih tetap diam.
“ohya, jika Yuzu-chan tidak suka yang rasa ini, Yuzu-chan boleh pilih rasa mana saja yang Yuzu-chan mau dan ambilah sepuasnya, aku ngga akan marah kok, dan donat ini itu tidak ada racunnya sama sekali, lihat ni aku makan”
Arumi mulai menggigit satu donat warna kuning yang membuatnya penasaran sejak tadi bagimana rasanya dan di detik berikutnya mukanya langsung berubah masam.
“aasaamm..” dia baru ingat kalo yang warna kuning itu rasa lemon.
Yuzu yang menyaksikan itu pun tertawa dan Arumi yang melihat itu juga ikut tertawa. Dia merasa sepertinya gadis kecil bernama Yuzu ini mulai sedikit akrab dengannya.
Seperti hal tadi, Arumi menyondorkan kotak donat ke depannya lagi. Dan tak lama Yuzu pun mengambil satu donat yang mungkin rasanya itu bluberry karena warnanya ungu. Mereka berdua menikmati donat bersama dengan wajah ceria.
“anoo.. mengapa tadi Yuzu-chan menangis?”
Dia yang lagi mengunyah donat menatap diam Arumi. “kertas rumah Yuzu hilang dibawa angin jahat, padahal Suzu-chan yang buat itu untuk Yuzu tadi dan Yuzu nangis karna ngga tau pulang”
Arumi diam mencoba mencerna kembali kata-kata yang baru saja terucap dari mulut gadis kecil itu. Ucapan anak TK ini seperti rumus matematika baginya yang penuh teka-teki. Kertas rumah? Apa maksudnya ya kertas rumah? Apa itu kertas yang bergambar rumah? Tapi tunggu! Tadi dia juga bilang itu dibuat oleh Suzu-chan, aku masih penasaran siapa itu Suzu-chan, apa mungkin kakaknya ya? Ato temannya? Terus, dia bilang dia ngga tau pulang. Apa mungkin..itu kertas arah jalan rumahnya yang dibuat oleh Suzu-chan.
Arumi mengangguk memahami pikirannya sendiri lalu menatap kembali Yuzu. Dia kembali berpikir sejenak. Lalu bagimana dia mengantar gadis kecil ini kembali kerumahnya? Tunggu dulu! Bukannya gadis kecil ini masih mengenakan seragam TK lengkap dengan ransel merah, topi kuning dan botol minum yang tergantung di depannya. Yah itu dia! Botol minum! Dulu kalo tidak salah, semua botol minum murid TK pasti tertulis nama, kelas dan alamat rumahnya. Apa sekarang masih sama ya?
“Yuzu-chan, apa aku boleh lihat botol minummu?”
Yuzu mulai melepas gantungannya lalu memberikan langsung pada Arumi. Arumi yang menerima itu langsung mencari tulisan yang ada di botol itu, dan benar saja, ternyata TK zaman sekarang masih sama. Dia segera membaca tulisan yang tertera disitu.
“Yuzuki Mitami, kelas Dandelion, Blok B No.35”
Mitami? Sepertinya dia pernah mendengar marga ini, tapi siapa ya..? ah itu tidak penting, sekarang dia harus mengantar gadis bernama Yuzuki ini kerumahnya dan alamat rumah ini.. sepertinya dia tau dan jaraknya lumayan dekat dari sini mungkin.
“Yuzu-chan, apa kau mau ku antar pulang?”
Yuzuki mengangguk dan mereka pun mulai berjalan pergi dari situ.