Who Be First Love Arumi

Who Be First Love Arumi
5. aku menyukaimu apa adanya



Bel istirahat siang berbunyi setelah pelajaran ketiga selesai. Para murid mulai berhamburan ke kantin.


Arumi yang berdiri didepan stand menatap daftar menu yang tertera disana, dia sempat melirik ke paket makan siang versi premium yang dibeli Fumi-sensei kemarin dan ternyata harganya lumayan menguras dompet.


Dia kembali menatap daftar menu yang harganya terjangkau, tidak ada tulisan donat disana. Wajahnya murung seketika. “tidak ada donat disini..”


“donat hanya ada di hari jumat” ucap bu kantin yang membuat Arumi tersenyum kembali. “benarkah?”


Ibu kantin mengangguk. “disini daftar menu selalu berubah sesuai hari”


“kalo gitu aku pesan 1 yakisoba dan jus jeruk”


Sang ibu kantin segera menyajikan pesanan Arumi dengan cepat. Lalu mengembalikan uang kembalian Arumi.


Arumi berjalan duduk dikursi yang disana juga sudah ada Sena yang sedang menikmati makan siangnya. Sena memesan satu paket makan siang versi premium. Arumi mengedipkan matanya berkali-kali.


“kan harga paket makan siang ini lumayan mahal, apa Kenshi-senpai yang membelinya?”


“ya-ya..aku membelinya pakai uang sendiri, aku bukanlah tipe cewek yang suka habisin uang pacarnya, tapi kalo udah nikah baru tuh ku kuasai isi dompetnya..”


he?


“pemikiranmu sudah jauh sangat ya Sena, padahal kita baru kelas 1 SMA, tapi kau sudah terpikir soal nikah”


“ya masa depan memang harus ditata mulai sekarang Arumi, kalo tidak, nanti kita yang bakal susah nantinya”


Arumi terdiam. Dia merasa jalan pemikirannya belum sampai situ. Merasakan cinta saja dia belum pernah apalagi soal nikah. Walaupun begitu, dia tak pernah mengeluh, asalkan masih ada anime dan donat di muka bumi ini, maka hidupnya akan senang tiasa bahagia selalu.


“ne Arumi, yakisoba-mu belum tersentuh, jika kau belum makan sekarang, nanti kau akan terlambat pelajaran berikutnya"


Arumi kembali beralih ke makanannya dan segera memakan yakisobanya, begitupun dengan Sena.


Setelah waktu istirahat selesai, mereka semua kembali ke dalam kelas masing-masing dan memulai pelajaran berikutnya.


Tak lama setelah itu, khusus kelas 1 diberikan jam bebas pelajaran di jam akhir sebelum pulang sekolah. Mereka dibebaskan bukan tanpa alasan. Tapi di jam terakhir ini mereka ditugaskan untuk meneliti semua klub yang ada disekolah.


Dan diwajibkan untuk semua murid harus memilih satu klub untuk diikuti dan pilihannya harus dikumpulkan besok pagi. Semua dibubarkan dan terserah mau berjalan sendiri atau berkelompok tak apa asalkan jangan buat kebisingan yang mengganggu para kakak kelas. Itulah yang dijelaskan para wali kelas mereka masing-masing didalam kelas.


“ne-ne Arumi, bagimana kalo kita mulai dulu dari klub basket?”


Arumi menyerngit. “kenapa? kan kita sudah ada didepan ruang klub masak, mumpung sudah disini bagimana kalo kita lihat-lihat dulu baru setelah itu ke klub basket”


Tanpa memperdulikan perkataan Arumi, Sena segera menarik tangan Arumi tuk berjalan pergi dari situ.


Namun belum juga selangkah, pundak Sena sudah ditahan oleh seseorang, membuatnya tak bergerak sama sekali.


“he? Kenshi-Senpai..? senpai disini dan...” Arumi menatap Taka dari atas sampai bawah. Dengan topi chef, wajah yang penuh tepung disana-sini dan juga celemek biru tua yang melekat di tubuhnya.


Apa dia..


Sena segera berbalik dan tersenyum seperti anak kecil. “hehe..ternyata kau disini Taka-kun, ku kira kau tidak ada”


“benarkah? Bukannya tadi kau mau lari setelah melihatku”


“aahh..”


“apa senpai anggota klub masak?”


Taka menatap ke Arumi yang baru saja bertanya dan dia mengangguk. “aku anggota sekaligus ketua klub ini”


Arumi terdiam. Sena yang melihat itu langsung menatap cemberut pada Taka. “tuhkan sudah ku bilang, kalau cowok di klub masak itu sangat tidaklah keren, kau seharusnya memilih klub lain yang lebih keren, pilih basket kek, ato sepak bola, ato karate juga, kan ada banyak klub keren di sekolah ini, tapi kau malah memilih klub masak, bukan aku saja yang tidak menyukainya tapi Arumi juga sama, iyakan Arumi?”


“apa senpai bisa buat donat??”


he?


Taka terdiam lalu mengangguk pelan. Dengan seketika senyum lebar merekah diwajah Arumi.


“dan kebetulan kami sedang buat donat saat ini”


“boleh aku minta donatnya senpai??” ucap Arumi sembari menengadahkan kedua tangannya pada Taka. Sena menatap kaget. Sedangkan Arumi tidak memperdulikan hal itu, kalo sudah mencangkup soal donat maka hal lain tak dia perdulikan.


“ah, masuklah kedalam, mungkin beberapa donat sudah selesai di goreng”


“ne Arumi, beneran ni kau mau kedalam?”


Arumi mengangguk.


“temanmu saja mau masuk, apa kau mau ditinggal sendirian disini?”


Sena menatap sebentar Taka lalu membuang mukanya. “aku ikut bukan berarti aku suka, aku hanya ingin menemani Arumi”


Dan mereka pun masuk ke dalam yang didahului dengan Taka dan diikuti oleh Arumi dan Sena dari belakang. Semua penghuni ruang itu yang ternyata gadis semua, menatap fokus pada dua gadis yang berada di belakang ketua mereka.


“hum anoo..ketua, siapa dua gadis itu?”


“mereka berdua adalah murid kelas 1 dan sekarang mereka sedang ditugaskan tuk meneliti semua klub, jadi berbuat baiklah pada mereka”


Semuanya mengangguk dan beberapa gadis mulai menarik Arumi ke salah satu meja yang sudah terhidang banyak donat disana.


“hari ini kita buat banyak donat dengan varian rasa loh, ada stoberi, blubery, cokelat, keju, dan kacang, ambilah semaumu”


Dan dengan senang hati, Arumi mengambil satu persatu donat itu dan melahapnya dengan cepat, semua yang ada disitu menatap kaget tapi setelah itu mereka tersenyum senang.


“apa donatnya enak?”


Arumi mengangguk membuat kedua pipinya yang terisi penuh donat, terlihat sangat mengemaskan ditambah lagi wajah imut Arumi yang masih seperti anak kecil membuat tangan mereka gatal tuk mecubitnya.


“siapa namamu?”


“Arumi Nasao”


“waah..apa kau sangat menyukai donat Nasao-chan..??”


Sekali lagi Arumi mengangguk dan ditambah dengan senyuman, membuat mereka makin menggila dengan kegemasan Arumi. Ada yang sudah teriak histeris tadi dan hampir pingsan.


Taka dan Sena yang masih berdiri didepan hanya menatap diam kelakuan para gadis itu.


“kau tak ikut gabung Sena?” tanya Taka namun hanya didiami oleh Sena.


Rata-rata semua gadis yang memakai celemek disitu mempunyai dada yang agak berisi. Sena kembali menatap dadanya yang rata layaknya papan.


“aku tidak memperdulikan hal itu, aku menyukaimu apa adanya”


Blushing..~~


Ucapan Taka barusan membuat jantungnya berdetak kencang dan jangan tanyakan seberapa merah wajahnya saat ini.


Karena tak ingin orang lain melihat, Sena segera menarik paksa Arumi dari kerumunan itu dan berjalan pergi keluar tanpa permisi.


Arumi yang mulutnya masih dipenuhi donat hanya menuruti walaupun rasanya masih berat karena masih ada 1 loyan donat yang belum dia makan tadi.


Sedangkan Taka hanya tersenyum kecil. “terlebih saat kau seperti itu yang kusuka darimu, Sena”