
"terimakasih untuk makannya..." Dan bangkit dari duduknya & berlalu ingin pergi.
"tunggu..." teriak Ji mencoba menghentikan Dan agar tak pergi dari sana.
mendengar panggilan Ji Dan pun langsung berbalik & menatap sendu ke arah Ji berdiri. jujur saja Dan pun bingung harus kemana & harus apa setelah ini karna sudah berhari-hari ia luntang lantung tak tentu arah di jalanan kota karna ia tak memiliki tempat tujuan.
"ada apa?" tanya Dan dengan dingin.
"kau... kau mau pergi kemana? apakah... kau punya tempat tujuan?" tanya Ji dengan sedikit ragu-ragu.
"emmmmh..." Dan mengangguk pelan.
"eee... apakah kau mau tinggal di sini?"
"tinggal di sini? di restoran mu ini?" Dan balik bertanya kepada Ji.
"iya..." Ji menjawab dengan sangat tak sabar.
"ya... sebenarnya saat ini aku sedang membutuhkan orang untuk menginap & mengurus tempat ini saat malam hari." ucap Ji sambil menggaruk-garuk bagian belakang lehernya dengan wajah canggung.
Dan menatap tajam & bingung ke arah Ji karna jujur saja ini semua terasa aneh baginya bagaimana mungkin ada orang yang mau memperkerjakan seorang anak kecil, apalagi anak kecil tanpa identitas seperti Dan.
"tapi... aku... aku kan masih anak-anak. mana... mana bisa aku menjaga restoran mu ini & aku juga tak akan mampu menghadapi pencuri yang bertubuh besar." ucap Dan penuh dengan kebingungan di dalam fikirannya.
"kau tidak perlu menjaga restoran ini dari pencuri atau orang jahat karna restoran ini di lengkapi dengam CCTV & pengaman pintu ganda. pencuri tidak akan bisa dengan mudah masuk ke sini"
"lalu... untuk apa kau butuh aku menjaga restoran mu ini? jika semua keamananya sudah mumpuni." tanya Dan kembali yg terlihat semakin bibgung.
"ya... bagaimana menjelaskannya ya..." Ji menggaruk-garuk kecil dagunya.
"aaa... aku tahu. kau hanya harus menjaga restoran ini dari tikus-tikus nakal yang sering mencuri di sini."
"oh... kalau hanya tikus aku rasa aku bisa menangkapnya."
"benarkah?" tanya Ji dengan semangat.
"iya... karna dulu di rumah aku selalu berburu tikus bersama ibu ya... sembari menunggu ayah pulang dari bekerja."
mengingat kenangan manis dengan kedua orang tuanya membuat Dan mengembangkan sedikit senyuman manis di sudut bibirnya. yang tidak di ketahui oleh Dan adalah bahwa Ji telah menyukai & menyayangimya sejak pertama kali mereka bertemu.
melihat mata besar & wajah imut nan tampan milik Dan membuat Ji terpanah & langsung teringat kepada mendiang kakaknya yang meninggal sekitaran di usia seperti Dan. itulah yang membuat hati Ji menjadi tergerak & memutuskan akan merawat serta menjaga si kecil Dan.
"selamat pagi boss..." suara berat khas seorang remaja lelaki terdengar bersamaan dengan suara pintu di buka.
"pagi Adam." sapa Ji dengan ramah sambil melambaikan tangan.
mendengar kata Adam sontak membuat Dan langsung refleks melihat ke arah laki-laki itu laki-laki yang bertubuh kurus kecil dengan banyak jerawat & memakai kacamata besar dengan gigi yang di pagar.
"astaga..." Dan sontak melonjak kaget.
"kau kenapa?" Ji bertanya karna terkejut dengan reaksi Dan yang menurutnya aneh itu.
"si-si-siapa dia itu?" Dan bertanya dengan nada terbata-bata sambil menggenggam erat tangan kiri Ji.
"oh... dia? dia itu Adam. dia barista & pelayan di sini."
"wajah... wajahnya begitu menyeramkan." ucap Dan dengan polosnya sambil bersembunyi di belakang Ji.
"hei...!" bentak Adam sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Dan & langsung menatap tajam ke arah anak kecil itu.
"anak kecil tidak sopan! beraninya kau mengkritik wajah ku ini!"
"aku hanya mengatakan apa yg aku fikirkan tentang mu." ucap Dan yang balas menatap tajam ke arah Adam.
"wajah ku ini sangat tampan kau tau!?" bentak Adam yang membuat Dan tersentak kaget.
"tampan apanya. wajah mu itu sangan jelek tau! kau bahkan tidak pantas mengelarkan nama Adam di dalam nama mu." sinis Dan sambil melotot menatap Adam.
"kenapa memangnya?! kenapa aku tidak pantas menggunakan nama Adam jordan?! itu nama pemberian ayah ku & itu adalah nama yang bagus serta sangat cocok untuk ku kau tau!" sinis Adam sembari melitap kedua tangannya & mendengus.
"orang yang bernama Adam itu harusnya berwajah tampan & bertubuh bagus. bukan seperti mu..." sinis Dan.
"APA!... berani sekali kau membully ku & mengatakan aku tak cocok memakai nama Adam! kau tau apa tentang aku & naman ku!?" murka Adam sembari menghentakan kakinya kecil bak seperti anak-anak yang sedang merajuk.
"aku sangat tau tentang nama Adam & aku juga sangat tau kalau kau itu sangat tidak cocok menggunakan nama itu!"
"APA...!!!" teriak Adam murka.
"sudah lah Ad hentikan semua drama ini. kenapa kau harus tersinggung dia kan hanya seorang anak kecil yg lucu & tampan." ucap lembut seorang gadis berwajah cantik khas timur tengah.
gadis itu masuk kedalam restoran menghampiri Dan lalu berlutut di hadapan Dan, gadis itu mengelus lembut pipi mungil Dan sembari tersenyum dengan ramah.
"kau bilang dia tampan! cih... tampan dari mana." ucap Adam sinis.
"jelas dia tampan Ad lihat saja wajah imutnya itu, dia saaaaaangat menggemaskan." sambung seorang pria bertato & bertubuh kekar dengan kulit hitam gelap.
"hai anak manis... siapa nama mu?" tanya gadis cantik itu pada Dan.
"aku... Dan."
"kau bisa memanggil ku El jika kau merasa kesulitan menyebutkan Elsahaba."
"Elsahaba. aku bisa memanggil nama mu dengan lengkap & jelas." sombong Dan menunjukan kepintarannya.
"wah... kau adalah anak yg pintar Dan." puji Ji.
"tapi aku lebih suka di panggil El. kau bisa memanggil ku El."
"emmmh baiklah." jawab Dan dengan nada dingin.
"hih... lihat saja betapa sombongnya anak kecil itu." ketus Adam sambil bergidik & berlalu pergi menuju meja bar.
"siapa dia Ji?" tanya Arman.
"dia Dan. dia anggota baru di keluarga kita."
"benarkah...?" tanya El dengan rasa tak percaya.
"mulai hari ini dia akan tinggal di restoran & akan menangkap semua tikus yang ada di sini. iya kan Dan..." ucap Ji sambil mengacak-acak gemas rambut lusuh Dan.
"emmmmh..." Dan mengangguk.
di dalam hati kecilnya Dan merasa sedikit tenang & bahagia karna bisa bertemu dengan Ji serta teman-temannya Ji, ia sangat merasa bersyukur karna bisa memiliki tempat bernaung & bisa melanjutkan hidupnya untuk mencapai tujuannya membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
"apa...! dia akan tinggal di restoran!?" teriak Adam sambil melompat keluar dari meja bar.
"apa kau yakin Ji. kalau dia nanti membakar restoran karna kecerobohannya bagaimana?"
"tidak... aku janji akan menangkap semua tikus yang ada di sini & akan menjaga rsetoran ini dengan baik. percayakan semua kepada ku aku janji tidak akan mengecewakan kalian." belum sempat Ji menjawab pertanyaan Adam Dan langsung menyambar untuk berucap & mengikrarkan janji.
Ji menaikan kedua pundak & alisnya sembari tersenyum ke arah Adam. melihat itu Adam jadi sedikit merasa kesal kepada Ji.
"hah terserah saja lah aku tidak ikut-ikutan ya kalau sampai nanti terjadi apa-apa." ucap Adam sambil kembali ke dalam meja bar untuk membersihkan perlengkapan yang ada di situ.
"tapi... sebelum itu kau harus mandi Dan." ucap El sambil mengelus rambut Dan.
"benar juga aku sampai lupa akan hal itu." sambung Ji.
"baiklah kalau begitu aku akan ke luar untuk membelikan beberapa baju untuk di pakai Dan. aku berangkat." ucap Arman sambil berlalu keluar restoran.
kehidupan Dan membaik dia tinggal di restoran milik Ji dengan bahagia. Ji langsung mempersiapkan kamar untuk Dan, El juga mempersiapkan segala keperluan Dan untuk tinggal di restoran, Arman turut membelikan beberapa pakaian untuk dan pakai & sedangkan Adam hanya melihat saja dengan tatapan sinis. 😅
"cih... dulu mereka sangat menyayangi ku karna aku yg paling muda di sini. tapi sekarang sepertinya aku akan tersingkirkan oleh kehadiran anak nakal itu." ucap Adam sambil menyipitkan kedua matanya & melipat tangannya.
"kau kenapa Ad?" tanya El sambil merangkul Adam dari samping.
"tidak apa-apa!" ketus Adam langsung membuang muka.
"hahahaha... jangan bilang kau cemburu dengan Dan Ad?"
"tidak! untuk apa aku cemburu dengan anak nakal itu cih...!"
"kau takutkan kami tidak akan menyayangi & memperdulikan mu lagi." ledek El.
"tidak! untuk apa aku takut tidak akan kalian sayangi lagi!"
"lalu kenapa kau menatap Dan dengan tatapan aneh seperti itu?"
"tidak! aku menatapnya dengan biasa!" ketus Adam semakin mejadi-jadi.
"biasa bagaimana. saat kau menatap Dan seolah-olah kau itu ingin memangsa & mengoyak-ngoyak nya."
"tidak... aku tidak begitu. lagi pula aku yakin aku tetap akan menjadi yang paling kalian sayangi di sini jadi untuk apa aku harus repot-repot iri dengan anak nakal itu." ucap Adam penuh keyakinan sambil memejamkan mata & mendongakan wajah dengan sombongnya.
"hahaha... tentu saja Ad. kau akan tetap menjadi adik kecil kesayangan kami." sahut Arman sembari memeluk El & Adam dari belakang.
senyum lebar penuh bangga pun mengembang di bibir kecil Adam & rasa bahagia pun memenuhi hatinya seperti ingin meledak saja.
"hei... aku juga mau di peluk..." teriak Ji dari arak belakang & langsung memeluk Adam, El & Arman dari samping.
"aku juga tidak keberatan berbagi cinta dengan mu kak." ucap Dan tiba-tiba & langsung memeluk mereka berempat.
"dasar anak nakal." sahut Adam sembari merangkul Dan.
senyum & tawa pun tergambar dari wajah mereka berlima, di dalam hati Dan sangat merasa bersyukur atas kebaikan yang menghampirinya di saat ia sedang mengalami banyak masalah. Dan pun segera memutuskan untuk bangkit & berjuang demi kehidupannya agar ia bisa membalaskan segala rasa sakitnya kepada orang-orang itu.
"terimakasih tuhan, karna kau telah mempertemukan aku dengan mereka."
"aku akan bangkit, berjuang & tumbuh dengan baik agar aku bisa membalaskan dendam atas kehancuran yang telah mereka lakukan pada ku & keluarga ku!"
"aku bersumpah akan menghancurkan mereka & membuat mereka menyesali segala perbuatan mereka terhadap keluarga ku!"
"tidak akan ada yg bisa menghentikan ku atau membuat ku berhenti untuk tujuan ku ini."
"apapun yang terjadi aku akan menghancurkan mereka karna mereka telah merenggut semua kebahagiaan ku & telah menghancurkan hidup ku! mereka juga dengan kejamnya memisahkan aku dari ayah & ibu yang sangat aku cintai!"
"aku hancur & itu semua karna mereka! maka dari itu mereka juga harus sama hancurnya dengan ku saat ini!" ucap Dan dalam hati dengan wajah yang dingin serta mata yang berapi-api penuh dengan dendam