Where Are You Mom?

Where Are You Mom?
Kepulangan & kedatangan.



"iya sayang ku aku sudah menerima surat dari mu." deraian air mata & suara tersedu-sedu mengiringi setiap kalimat yang terucap dari bibir Adam.


"apakah benar semua itu sayang? apakah benar aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Adam penuh harap.


"tentu saja sayang ku tentu semua itu benar & tahun depan keluarga kecil kita akan lengkap." tutur Hilda penuh bahagia.


"aku sungguh tak sabar menanti kehadiran anak kita Hilda."


"aku juga suami ku." jawab Hilda penuh bahagia."


ingin sekali rasanya Adam memeluk erat istri tambunnya itu untuk meluapkan rasa kebahagianya namun apa daya mereka saat ini sedang tak bersama & di tempat yang sama.


berjam-jam Adam berdiri di depan meja resepsionis untuk bergumal dalam telepon dengan istrinya, begitu banyak cerita yang mereka untai penuh bahagia.


beberapa minggu kemudian Adam menghubungi Hilda untuk memberikan suatu kabar.


"sayang..." sapa suara berat di ujung sana.


"iya sayang ku? kau sudah makan?" tanya Hilda.


"aku sudah makan & aku baik-baik saja. emmmmh Hilda. aku... aku..." terdengar nada suara yang gusar & ragu dari Adam.


"ada apa dengan mu sayang ku? kenapa kau terdengar seperti sedang memiliki masalah & kehawatiran?" tanya Hilda penuh khawatir.


"begini. aku... aku..."


"kau apa? kenapa sayang ku ada apa sebenarnya? apakah semua baik-baik saja?"


"aku... sepertinya aku akan di sini lebih lama?"


"kenapa?" pekik Hilda kecewa.


"dan bukannya harusnya kau sudah pulang seminggu yang lalu kan?!" lugas Hilda penuh kekecewaan.


"iya aku tahu."


"lalu jika kau tahu kenapa kau belum pulang sampai saat ini!" pekik Hilda yang semakin kesal.


"itu dia masalanya aku tak bisa pulang karna rancangan kami sukses & berhasil. jadi... aku & Dhom harus tetap di sini & mengawasi proyek sampai selesai. tapi itu tak akan memakan waktu yang lama hanya sekitar beberapa bulan saja." jelas Adam


"terserah padamu aku tak mau ambil pusing!"


BRUUUK.


dengan sembarang Hilda memutus sambungan telepon & langsung membanting teleponnya.


"kenapa sayang?" tanya mami Dessy yang khawatir karna mendengar suara kegaduhan dari arah ruang keluarga.


"tidak apa-apa!" jawab Hilda dengan nada dingin & wajah masam sambil beranjak ke kamarnya.


berhari-hari Hilda merenungi masalahnya dengan suaminya itu karna ini kali pertama mereka bertengkar setelah sekian lama menikah. ya mereka memang selalu harmonis & tak pernah bertengkar sekalipun itu semua karna kedewasaan fikiran mereka, namun entah mengapa kemarin itu Hilda menjadi egois & kekanak-kanakan terhadap suaminya itu hingga marah & merajuk seperti itu ya... mungkin bawaan sedang hamil juga kali ya.


tak terasa kandungan Hilda sudah memasuki trimestri akhir & kurang dari 2 bulan lagi ia akan melahirkan buah hatinya itu. setelah masalah dengan suaminya yang kemarin itu selesai dengan damai kini hubungan mereka menjadi baik-baik saja seperti baisanya.


KRING...


"halo..." sapa suara berat khas laki-laki di ujung sana.


"ini Hilda bisakah aku bicara dengan Adam?"


"oh ini Hilda. bagaimana kabar mu Hil? & bagaimana kabar anak mu?" tanya laki-laki itu dengan akrab.


"aku baik-baik saja Dhom begitu juga anak ku. bagaimana kabar mu?"


"aku juga baik-baik saja Hil ya... seperti biasa. kau ingin bicara dengan Adam kan? tunggu sebentar akan ku panggilkan."


setelah hening sesaat.


"hallo sayang." sapa Adam.


"haloo sayang ku. bagaimana kabar mu?" tanya Hilda.


"aku baik-baik saja? bagaimana kabar kalian di sana?"


"kami juga baik-baik saja. aku sangat merindukan mu suami ku."


"aku juga sangat merindukan mu istri cantik ku. oh iya bagimana kabar jagoan ku?"


"dia baik-baik saja dia hanya sedikit nakal belakangan ini." ucap Hilda dengan senyum tipis sambil mengelus-elus perut besarnya itu.


"dia nakal?! apakah dia banyak menendang?" tanya Adam penuh khawatir.


"emmmh ya begitulah."


"maafkan aku sayang karna di saat kau membutuhkan ku aku malah tidak ada di dekat mu untuk menjaga & membantu meringankan beban mu." gumam Adam penuh rasa bersalah.


"tidak apa-apa sayang ku aku mengerti kondisi kita saat ini seperti apa. cukup waktu itu saja aku keras kepala & akhirnya membuatmu bersedih & menjadi jauh dari ku, maafkan aku sayang." tutur Hilda penuh penyesalan.


"tidak apa-apa sayang aku juga mengerti kondisi mu saat ini. bersabarlah sayang 2 atau 3 hari lagi aku akan pulang aku akan menemanimu melahirkan & akan menjaga anak kita bersama-sama itu janji ku." tegas Adam.


"benarkah itu? benarkah kau akan pulang?" tanya Hilda penuh bahagia.


"iya do'akan kepulangan ku selamat, aku sangat ingin memeluk mu aku sangat merindukan mu."


"aku mencintai mu Adam."


"aku juga mencintai mu."


"baiklah aku tutup telponnya, aku akan segera memeberi tahu mami & Anna akan kepulangan mu. hati-hati di jalan nanti ya."


"iya sayang ku." Adam pun memutus sambunga telepon.


dengan riang gembira Hilda mencari mertuanya untuk memberikan kabar.


"mami... mami..." teriak Hilda berlari-lari kecil sambil menahan perut buncitnya itu agar tak terlalu bergerak.


"jangan lari-lari Hilda!" tegas mami Dessy sambil menangkap tubuh tambun Hilda.


"ada apa sayang mengapa sepertinya kau terlihat sangat bahagia?" tanya mami Dessy penuh heran.


"mi beberapa hari lagi Adam akan pulang..." Hilda melompat-lompat kecil.


"benarkah? mami sangat bahagia mendengarnya Hilda." ucap wanita paruh baya itu sambil memeluk menantunya itu dengan erat. mereka pun tampak sangat bahagia mendengar akan kepulangan Adam.


beberapa hari kemudian.


Hilda, mami Dessy & Anna menunggu kepulangan Adam di rumah saat mereka tengah asik bercengkrama terdengar suara bell pintu yang berbunyi.


Ding dong...


Anna berlari riang membuka pintu & langsung berteriak begitu melihat sosok laki-laki yang ada di balik pintu itu.


"kakak..." teriak histeris Anna yang langsung memeluk kakak laki-laki tersayangnya itu.


"my little princess..." sahut Adam yang membalas pelukan adik tersayangnya itu.


"aku sangat merindukan mu kak..."


"aku juga sayang ku."


"oh my boy... oh my prince I miss U so much mami saaaaangat-sangat-sangat merindukan mu anak ku sayang." mami Dessy menghampiri Adam langsung memeluk erat & mencium anak laki-lakinya itu.


"aku juga sangat merindukan mu mami." balas Adam yang juga mencium pipi legok ibunya itu & langsung terpaku melihat istrinya yang mematung.


"Hilda... apa kau tak merindukan ku? apa kau tak ingin mencium & memeluk suami mu ini?" tanya Adam yang menatap legam pada istri tambunnya yang sedang berdiri mematung itu.


Hilda pun langsung berlari pelan menuju tempat suaminya berdiri & langsung memeluknya erat dengan deraian air mata.


"aku sangat merindukan mu Adam." (emuah emuah emuah emuah) Hilda pun menciumi seluruh wajah suaminya itu dengan penuh cinta.


"malaikat ku." tutur Adam yang kembali memeluk erat istri tercintanya itu setelah beberapa saat memandangi wajah bulat istrinya itu.


"aku sangat-sangat merindukan mu." rengek manja Hilda.


"aku juga sangat merindukan mu my queen." jawab Adam sembari menciumi bibir Hilda tanpa henti.


"jangan pernah pergi lagi dari ku. cukup sekali ini saja kau jauh dari ku." tegas Hilda yang tak kuasa menahan tangis.


"aku tak bisa jauh dari mu & aku tak ingin jauh dari mu lagi." rengek manja Hilda sembari memeluk & menciumi aroma khas tubuh suaminya itu.


"aku tak akan pernah pergi lagi dari mu sayang ku, untuk apapun alasannya aku akan memilih bersama mu & anak kita ini." ucap Adam sembari mengelus lembut perut besar Hilda & sesekali mencium perut buncit istrinya itu.


beberapa hari di habiskan Hilda & Adam untuk bersenang-senang mereka jalan-jalan, makan romantis, piknik, & liburan. tanpa di rasakan badan Hilda pun kelelahan yang akhirnya membuatnya mengalami kontraksi awal sebelum jadwal kelahiran yang mengakibatkannya harus melahirkan di awal perkiraan bulannya.


"makan malamnya sangat enak. aku sangat merindukan masakan mu Hil." goda Adam sambil mengelus-elus perut Hilda yang sedari tadi berbaring di atas pangkuannya.


"kau rindu masakan ku atau segama ku." sinis Hilda.


"oh ayolah Hilda... mana mungkin aku tak merindukan tubuh mu yang sudah hampir 1 tahun tak menyentuh ku." goda Adam sambil menciumi tengkuk istrinya itu.


"hentikan Adam! apa kau tidak malu jika nanti anak mu ini mendengarnya." bisik Hilda sambil menepun tangan Adam pelan & tersenyum kecil.


"oh ayolah. jagoan ku ini juga paham akan Ayahnya." sahut Adam sedikit terkekeh.


"Adam! hentikan!" pekih Hilda kesal.


"agh..." pekik Hilda sambil memegang kuat perutnya & meringis kesakitan.


"sayang kau kenapa?" teriak Adam yang langsung di selimuti rasa khawatir.


"perutku rasanya sakit sekali. sangat sakit Adam agh..." teriak Hilda memecah keheningan malam.


"kau kenapa sayang ku? jangan menbuat aku cemas."


"agh... sakit sekali. sepertinya aku akan melahirkan." teriak Hilda, teriakan Hilda di dengar oleh mami Dessy yang langsung berlari ke kamar anak & menantunya itu.


"kau mau melahirkan sayang ku." tanya mami Dessy sambil mengelus-eleus perut Hilda.


"sepertinya iya mami." pekik Hilda sambil menahan rasa sakit yang teramat sakit.


"Adam cepat panggil ambulance." seru & perintah mami Dessy pada Adam.


"b-b-b-baik mi." sahut Adam terbata-bata & dengan panik langsung turun kelantai bawah untuk menelpon ambulance.


tak lama ambulance datang & langsung membawa Hilda ke rumah sakit untuk mendapatkan perlotongan. karna kondisi tubuh Hilda yang sehat & kondisi bayi yang kuat Hilda pun bisa melahirkan dengan normal, cepat & selamat.


setelah menunggu berjam-jam di luar ruang persalinan dengan gelisah & cemas akhrinya semua kegelisahan & kecemasan Adam & keluarganya itu sirna seketika begitu mendengar tangisan kencang khas bayi dari dalam ruangan. mami Dessy & Anna langsung tenang & mengucap syukur sementara Adam langsung merasa lemas & terduduk di lantai.


dokterpun keluar untuk memberikan kabar bahagia.


"tuan Adam." panggil dokter yang menyadarkan Adam dari lemasnya.


"iya dokter saya Adam." sahut Adam yang langsung berdiri & menghampiri dokter.


"selamat tuan Adam hari ini anda telah menjadi seorang ayah dari anak laki-laki yang tampan & juga sehat. istri anda juga baik-baik saja & tengah menunggu anda di ruangan.


"bo-bo-bolehkan sayan masuk?" tanya Adam yang masih di selimuti rasa tak percaya & gugup untuk melihat putranya.


"tentu saja boleh. silahkan-silahkan... silahkan anda temui istri & anak anda." ucap dokter sambil menepuk pundak Adam pelan.


dengan terduyun & gemetar Adam pun memberanikan diri masuk ke dalam ruangan & langsung menuju ke tempat istrinya yang tengah istirahat sembari memeluk bayinya di dekapannya.


"sayang apakah kau baik-baik saja?" tanya Adam sembari mengelus-elus wajah penuh keringat isrinya.


"aku baik-baik saja suami ku. lihatlah anak kita dia begitu mirip dengam mu..."


"putra ku..." tangis Adam pecah melihat anak laki-lakinya yang telah lahir & langsung mengedongnya, menciumnya serta memeluknya erat.


ruangan itu di penuhi isak tangis dari Adam, Hilda, Anna & mami Dessy. pelukan & ciuman hangat dari mami Dessy mendarat di wajah bulat Hilda.


setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya mereka semua pulang ke rumahnya, dengan penuh bahagia saudara & tetangga dekat rumah menyambut kepulangan keluarga bahagia itu dengan bayi kecil mereka. ya adegan berikutnya bisa di tebak pelukan tergambar & ucapan selamat terurai semua merasakan euphoria kebahagia.