Where Are You Mom?

Where Are You Mom?
Kebahagian yang sempuran.



setelah mereka selesai merayakan pesta penyambutan keluarga kecil itu pun pergi untuk beristirahat.


di dalam kamar.


"istirahatlah kau pasti lelah pasca melahirkan. biar Dan aku yang mengurus."


"Dan..." gumam Hilda pelan.


"kau akan memberi nama anak kita Dan?" tanya Hilda sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"ya... Dan adam hill. bagaimana menurut mu sayang." ucap Adam sambil meletakan bayinya di dalam boks bayi.


"sangat indah, nama yang bagus. dari mana kau mendapatkan nama sebagus itu?"


"saat aku sedang bekerja tiba-tiba saja nama itu muncul di dalam fikiran ku & entah mengapa aku merasa nama itu sangatlah indah & aku sangat menyukainya."


"ya tentu saja itu nama yang indah & sangat cocok untuk anak tampan kita."


"syukurlah jika kau menyukainnya istriku." sunggingan senyum yang lebar terukir di bibir Adam.


"tentu saja aku menyukainnya itukan nama pilihan dari suami ku tercinta." senyuman terukir di bibir kedua orang tua baru itu.


setelah kelahiran Dan kehidupan mereka menjadi lebih bahagia & terasa sangat sempurna.


"ternyata begini rasanya menjadi ayah. begitu saaaangat membahagiakan & menyenangkan." ucap Adam sembari mengelus pipi mungil Dan.


"apa kau bahagai suami ku?"


"ya tentu saja. aku sangat-10x bahagia sampai tak tau harus mengucapkannya dengan cara apa." ucap Adam sambil mencium kening istrinya itu yang di sambut dengan senyuman lembut dari Hilda.


mereka dengan bahagia menjalani kehidupan normal layaknya keluarga pada umumnya, Adam bekerja & Hilda mengasuh Dan serta mengurus rumah.


hari ini mami Dessy & Anna akan kembali pulang ke rumah mereka karna Adam sudah pulang dari perantauan jadi mami Dessy menganggap mereka sudah bisa untuk di tinggal.


"dimana mami & Anna?" tanya Adam sembari duduk di depan meja makan untuk sarapan sambil celingukan.


"sedang siap-siap."


"apakah mami jadi pulang hari ini?" kembali Adam bertanya.


"iya." Hilda menjawab dengan nada gusar & sedikir sedih.


"kenapa kau bersedih sayang ku?" tanya Adam sembari mengelus-elus lembut punggung tangan istrinya itu.


"aku sedih karna mami & Anna akan pulang. aku pasti akan merasa sendirian & kesepian." gumam Hilda sambil menunduk lesu.


"ada Dan yang akan menemani mu kan?"


"iya... tapi rumah pasti akan terasa sangat sepi karna mami & Anna tidak ada di sini."


"tenang sayang mami akan sering berkunjung." ucap mami Dessy memotong pembicaraan Adam & Hilda.


"aku juga akan sering mengunjungi kakak & Dan." ucap Anna penuh riang.


"hah... baiklah memang mami harus pulang & aku bisa apa." lesu Hilda.


"oh sayang ku... mami akan sering menghubungi mu." ucap mami Dessy sembari memeluk & mengelus-elus punggung Hilda lembut untuk menenangkannya


"jaga kesehatan mami ya..." ucap Hilda dengan senyum terpaksa.


"ya sudah ayo kita sarapan dulu. nanti aku akan mengantar mami ke setation." ucap Adam.


mereka pun melanjutkan acara sarapan mereka & setelah sarapan mereka pun menuju pintu depan untuk saling berpamitan.


"jaga diri kalian baik-baik ya." ucap mami Dessy sembari memeluk hangat menantu ke sayangannya itu & mengecup lembut kening Hilda.


"mami juga jaga ke sehatan & sering-seringlah berkujung untuk menengok Dan." pinta Hilda.


"iya sayang ku itu pasti."


"kak jaga Dan dengan baik ya jangan sampai dia sakit." ucap Anna sembari memeluk erat kakak ipar ke sayangannya itu.


"iya gadis kecil ku. mampir & menginaplah jika nanti kau ada tour sekolah." ucap Hilda sambil menciumi wajah mungil adik ipar ke sayangannya itu.


"baik. laksanakan komandan." ucap Anna sambil memberi gerakan hormat & tersenyum lebar.


"kami berangkat." pamit Adam sembari mencium bibir Hilda.


"hati-hati di jalan... beri kabar jika sudah sampai rumah ya mi..." teriak Hilda sambil melambaikan tangan.


"iya sayang ku... jaga dirimu baik-baik..." teriak mami Dessy sambil melambaikan tangan.


Hilda kemudian masuk ke rumah saat melihat mobil suaminya yang perlahan mulai menghilang, iya segera menutup pintu & beranjak untuk membersihkan rumah. selesai membersihkan rumah Hilda pun kembali ke kamar untuk melihat Dan.


"oh... anak ibu yang tampan kau ternyata sudah bangun? oh kau sangat manis anak ku kau bahkan tidak menangis saat ibu tak ada di dekat mu. oh... malaikat kecil ku..." ucap Hilda sembari mengangkat Dan dari dalam boks bati & menggendongnya.


"apakah kau haus sayang? kau mau minum susu?" tanya Hilda yang di sambut dengan senyuman manis dari Dan.


"oh... my boy. senyumu begitu manis nak. apakah kau tersenyum kepada ibumu? oh itu sangat manis sayang." ucap Hilda sembari mengecupi wajah mungil anaknya itu.


bulan berganti & hari2 terus berlalu Dan pun tumbuh semakin besar, Hilda melakukan segala rutinitas seperti biasanya mengurus Adam & Dan serta mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari berbelanja dan lainnya. saat malam telah tiba Adam baru pulang dari bekerja ya seperti biasanya.


CEKREEEEK...


"aku pulang..." teriak Adam sembari membuka pintu.


"oh kau sudah pulang sayang?" teriak Hilda dari dalam kamar.


"naiklah & bersihkan tubuh mu aku akan memasak setelah menyusui Dan." perintah Hilda.


"baiklah sayang ku..." sahut Adam lesu & berjalan teduyun-duyun ke dalam kamar.


Adam masuk ke dalam kamar dengan terduyun-duyun.


"hai sayang ku." sapa Hilda dengan penuh cinta.


"hai sayang..." sahut Adam dengan lemas.


"itu handuknya di atas meja & letakan tas itu di dalam lemari, pergilah mandi segarkan tubuh mu kau pasti sangat lelah." ucap Hilda sembari melepaskah Dan dari aktivitas menyusunya.


"ya aku sangat lelah. pekerjaan hari ini sangat berat." ucap Adam lesu sambil menuju ke dalam kamar mandi.


"baiklah aku akan menyiapkan makanan untuk mu. turunlah begitu kau selesai mandi."


"eummm sayang. makanan mu memang yang paling enak." lugas Adam dengan mulut penuh.


"apa yang kau inginkan? katakan." ucap Hilda ketus sambil menyeruput tehnya & melirik ke arah Adam dengan tatapan sinis.


"aku tak menginginkan apa pun. aku hanya memuji masakan mu apa itu salah?" sahut Adam dengan wajah sok polos.


"hah..." desah Hilda kesal.


"dengarkan aku Adam. aku ini istri mu aku sangat mengenal mu!? aku tau setiap kali kau memuji masakan ku pasti kau menginginkan sesuatu, kau selalu merayuku dengan cara ini selama kita menikah." ketus Hilda yang masih melirik tajam ke arah Adam.


"hahahaha... aku memang tidak bisa berbohong kepada mu, kau begitu sangat memahami ku & sangat mengerti aku Hilda." ucap Adam sambil terkekeh.


"jadi katakan apa mau mu?" ucap Hilda ketus.


"nanti saja akan aku katakan setelah kita di kamar."


"hah..." desah Hilda penuh rasa sebal.


'aku tau kau pasti akan memintaku untuk. hah sudahlah Adam kan memang selalu begitu saat ia lelah bukannya tidur iya malah akan meminta bersegama, aku heran apakah ia tak merasa lelah.' gumam Hilda dalam hati.


di dalam kamar.


"sayang... aku mau."


"hah... sudah ku tebak." sahut Hilda ketus sambil membuka jaket tidurnya.


"apa yang kau tebak." tanya Adam penuh heran.


"hal yang kau inginkan saat memuji masakan ku." sahut Hilda ketus sambil menaikan bola matanya.


"kau memang ratu ku kau selalu tau apa yang aku inginkan." ucap Adam sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"apakah kau tak merasa lelah setelah lembur?" tanya Hilda.


"tidak. karna saat bersegama dengan mu lelah ku justru hilang aku juga heran mengapa aku bisa begitu. ataukah mungkin kau adalah sumber tenaga & semangat ku?" rayu Adam.


"hah... terserah lah. lakukan saja sesukamu."


"Asiiiik..." teriak Adam pelan sambil menanggalkan pakaiannya.


mereka pun bersegama seperti biasanya. namun di tengah-tegah persegamaan mereka tiba-tiba terdengar suara tangisan Dan yang menangis dengan kencangnya, itu membuat segala aktifitas mereka langsung terhenti & membuat Adam kesal.


"Dan menangis." ucap Hilda menghentikan aktifitas Adam.


"aghr anak itu!" ucap Adam dengan kesal.


"kenapa dia terbangun di saat seperti ini?! kenapa dia tidak ada sedikit pun pengertiannya kepada ku!?" lengus Adam kesal sambil mengacak-acak rambutnya.


"menyingkirlah aku harus menyusui Dan."


"tidak mau!" sahut Adam dengan nada ketus & langsung membenamkan wajahnya di sela leher & pundak kanan Hilda penuh manja.


"Adam... dengar itu Dan semakin kencang menangisnya aku harus segera menyusuinya. nanti akan kita lanjutkan lagi." ucap Hilda sembari mencoba mengangkat tubuh Adam agar menyingkir dari atas tubuhnya.


"tapi aku belum sampai. oh ayolah Hilda..." rengek Adam yang seolah tak mau menyingkir.


"menyingkirlah Adam aku harus menyusui Dan dia semakin kencang menangisnya." pekik Hilda yang mulai kesal dengan sikap manja suaminya itu.


Adam pun menyingkir & langsung menidurkan tubuhnya di sisi lain tempat tidur & langsung membalut seluruh tubuhnya dengan selimut & mengeluh pada istrinya.


"aku akan segera kembali." ucap Hilda sembari memakai jaket tidurnya.


"kau sekarang lebih mencintai anak mu di bandingkan aku. aku membenci mu..." gerutu Adam sambil memalingkan wajahnya & memejamkan matanya.


"Adam-Adam..." gumam Hilda yang tersenyum lebar melihat tingkah pola suaminya itu.


"oh my prince kenapa kau menangis? apakah kau haus? kau mau minum susu?" ucap Hilda sembari mengangkat bayinya itu & bersiap untuk menyusuinya.


"oh... kau begitu haus ya sayang sampai menarik ****** ibu dengan begitu kuatnya. oh malaikat tampan ku. minumlah yang banyak & cepatlah tumbuh besar."


ketika selesia menyusui Dan Hilda pun kembali ke tempat tidur namun ia malah menemukan suaminya yang sudah terlelap dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.


"hah... dia malah tertidur. Adam-Adam kau begitu sangat menggemaskan. aku mencintai mu suami ku." ucap Hilda sembari memeluk & mencium kening suaminya itu.


pagi hari saat tengah sarapan Adam yang merajuk pun membuat Hilda kewalahan untuk membujuknya namun hal itu malah membuat tawa riang pagi hari untuk Hilda.


"sayaaaaaang turunlah untuk sarapan..." teriak Hilda memanggil suaminya namun tak ada jawaban.


"sayaaaang cepatlah turun nanti coklat mu dingin kau juga bisa terlambat ke kantor nanti..." pekik Hilda yang semakin kuat namun masih tak ada jawaban.


"sayaaaaang..." pekik Hilda semakin kuat & sesaat kemudian Adam pun turun dengan pakaian kantor yang acak-acakan.


"kenapa lama sekali turunnya." ucap Hilda sedikit kesal sambil menoleh ke arah suaminya itu yang tengah berdiri lesu dengan lemas.


"hahahaha... kenapa dengan pakaian mu sayang ku?" ucap Hilda yang langsung menghampiri suaminya.


"kenapa berantakan seperti ini & kenapa wajah mu masih mengantuk seperti itu?"


Hilda pun merapikan pakaian, celana, dasi & juga rambut Adam dengan penuh kasih yang pada akhirnya mengukir sedikit senyum simpul di ujung bibir Adam.


"kenapa kau diam saja tak seperti baisanya. (ya biasanya Adam akan banyak bicara & menggoda Hilda di kesempatan apapun).


"kau masih marah pada ku tentang tadi malam?" tanya Hilda menggoda.


"tidak! untuk apa aku marah pada mu! tak ada gunanya juga!" sinis Adam.


"kau marah. lihat saja nada bicara & kata-kata mu tak menunjukan seorang Adam hill."


"aku ingin sarapan jangan menganggu ku!"


"oh ayolah Adam hentikan sikap lucu mu yang ke kanak-kanakan ini."


"aku kekanak-kanakan kau bilang!" bentak Adam sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"iya tentu saja. orang yang sedang merajuk kan sedang bersikap kekanak-kanakan." Sahut Hilda santai sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"jika kau yang ku tolak saat ingin apakah kau tidak akan marah?!" lugasnya dengan kesal.


"tentu saja aku marah bahkan aku akan menangis dengan kencang." sahut Hilda masih santai berniat menggoda suaminya itu.