Where Are You Mom?

Where Are You Mom?
Sempurna sebelum sirna.



"oh ayolah Adam. itukan bukan keinginan ku tapi karna Dan menangis."


"sudahlah jangan ganggu aku! aku mau sarapan! urus saja anak mu yang tersayang itu!"


"itu kan juga anak mu Adam & apakah kau tidak menyayanginya?" sahut Hilda bertanya sambil memicingkan sebelah alisnya.


"aku sangat menayanginya & kau sangat tau itu. tapi karna kejadian tadi malam sekarang aku jadi menganggap sepertinya dia itu adalah musuh ku & dia ingin merebut mu dari ku." gumam Adam sedikit kesal sembari memalingkan wajahnya dari pandangan mata istrinya.


"hahahaha... Adam-Adam." Hilda tertawa terbahak-bahak melihat tingkah pola suaminya yang menurutnya sangat lucu & mengemaskan itu.


"baiklah apakah kau mau kita melakukannya di sini & sekarang juga." ucap Hilda asal sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda suaminya yang tengah marah itu.


"apa?" pekik Adam terkejut.


"kau ingin melakukannya di sini & saat ini juga? apa kau yakin? apa aku tak salah dengar?" sambung Adam sembari membuka kancing celananya.


"tentu saja, asal kau tak merajuk lagi. kenapa tidak." sahut Hilda santai sembari membuka celemeknya & di sambut dengan tatapan sinis dari Adam.


"sudahlah jangan menggoda ku!" ucap Adam sinis sembari mengancingkan celananya lagi & kembali duduk untuk menyelesaikan sarapannya.


"sudah lah sayang ku jangan merajuk seperti ini, kau itu kan sudah tua & sudah sangat tidak pantas melakukan hal-hal seperti ini kan?" ledek Hilda sembari memeluk suaminya yang sedang sarapan dari belakang & mengecup mesra pipi Adam.


"hemmmh. sudahlah jangan merayu ku! baiklah aku berangkat dulu jaga dirimu & Dan." ucap Adam sembari memeluk & mencium bibir Hilda untuk berpamitan.


"iya kau juga hati-hatilah di jalan. aku mencintai mu." ucap Hilda membalas ciuman sumainya.


"aku juga mencintaimu." sahut Adam sembari mencium kening Hilda & beranjak pergi.


kehidupan Adam, Hilda & Dan berjalan begitu baik mereka adalah keluarga yang bahagia & harmonis, semuanya berjalan dengan sangat baik mulai dari kenaikan jabatan Adam & tumbuh kembang Dan yang sangat baik sehingga membuat Adam & Hilda begitu sangat bahagia akan kehidpuan sempurna mereka.


singkat cerita kini Dan sudah menginjak usia 7th. Dan tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan, pintar, aktif & baik hati serta ramah sehingga iya memiliki banyak teman di sekolahnya & begitu sangat di sukai oleh tetangga-tetangganya.


"selamat pagi bibi Noel." sapa Dan pada wanita tua tetangganya.


"selamat pagi Dan sayang. kau mau berangkat sekolah?" tanya wanita tua itu dengan ramah.


"ya bibi. apakah ada barang yang ingin kau titipkan pada ku kali ini?" tanya Dan sembari memberikan setangkai bunga tulip yang di tanam ibunya pada wanita tua itu.


"seperti biasa Dan. ini dia daftar belanjaannya & ini uangnya serta ada uang saku juga untuk mu." ucap wanita tua itu sembari memberikan daftar belanja & uang kepada Dan.


belakangan ini Dan memang selalu membantu wanita tua itu berbelanja setiap harinya karna beberapa bulan lalu wanita tua itu mengalami kelumpuhan pada sebelah kakinya yang mengakibatkannya harus menggunakan kursi roda, wanita tua itu juga tinggal sendirian karna itu Dan selalu membantunya untuk berbelanja keperluan sehari-hari.


"baiklah bibi aku berangkat sekolah dulu. jaga dirimu." pamit Dan sambil berjalan pergi & melambaikan tangannya kepada wanita tua itu.


"hati-hati di jalan sayang." sahut wanita tua itu sembari melambaikan tangannya pelan.


di sekolah.


"selamat pagi Rose." sapa Dan pada teman sebangkunya seperti biasa.


"selamat pagi Dan. eummm... Dan apakah tugas mu sudah selesai kau kerjakan?" tanya gadis itu dengan senyuman manis.


"tentu saja sudah." jawab Dan singkat & tersipu.


ya Dan memang menyukai gadis manis berkulit coklat & berambut pendek itu sejak pertama mereka bertemu & duduk satu meja.


"emmmmh... Dan. bisakah kau mengajari ku untuk mengerjakan tugasnya?" gumam gadis manis itu dengan ragu.


"aku..." sahut Dan dengan rasa tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"iya kau. eummm... sejujurnya aku banyak tak mengerti dengan pelajaran kemarin. aku kehilangan fokus karna papa & mama ku habis bertengkar beberapa hari yang lalu, sehingga... itu membuatku jadi merasa tak nyaman belakangan ini." ucap gadis manis itu lirih.


"aku mengerti dengan keadaan mu Rose. baiklah aku akan mengajari mu semuanya mana buku mu?" Dan pun mengajari Rose tentang soal pekerjaan rumah mereka.


saat jam pulang sekolah tiba-tiba Dan memiliki inisiatif untuk mengajak Rose ke rumahnya. niatnya Dan sih untuk sekedar menghibur & membantu Rose untuk menenangkan fikirannya yang sedang gundah itu.


"Rose..."


"iya."


"emmmmh maukah kau berkunjung kerumah ku?"


"kerumah mu? aku?" sahut Rose dengan sedikit ragu mendengar ucapan Dan.


"iya kerumah ku. ya... hanya sekedar biar kau mendapatkan sedikit ketenangan dari perkelahian orang tuamu."


Dan memang masih berusia 7th tapi pola pikirnya sangat cerdas & dewasa, dia bahkan bisa mengatasi lingkungannya dengan baik.


"benar juga kenapa tak terfikirkan oleh ku. baiklah aku mau berkunjung ke rumah mu & menerima undangan mu." ucap gadis manis itu sambil tersenyum lebar.


"baiklah ayo kita pulang. oh iya... sebelum itu aku harus berbelanja keperluan untuk bibi Noel apakah kau mau menemani ku?" tanya Dan dengan wajah tersipu.


"tentu saja dengan senang hati mr. Dan adam hill." sahut Rose manis.


setelah mereka selesia berbelanja ke supermarket di dekat sekolah mereka pun bergegas pulang karna merasa begitu lapar. di perjalanan Rose terus saja mengajak Dan bebicara tak seperti biasanya dimana Rose lebih banyak diam saat di sekolah.


"aku tidak menyangka kau bisa berbelanja." ucap gadis manis itu penuh kekaguman pada Dan.


"kenapa kau sampai tak menyangka? berbelanja itu kan sangat mudah kau hanya tinggal menunjukan daftar belanjaannya & mereka akan memberikan barangnya lalu kau membayarnya, simple kan." sahut Dan dengan polosnya.


"hahahaha... Dan-Dan kau ini ada-ada saja. dengar ya biasanya bagi anak-anak seusia kita berbelanja itu ya hanya untuk pakaian,sepatu, tas & jajanan saja bukan untuk keperluan sehari-hari seperti ini, kalau untuk berbelanja keperluan sehari-hari itukan tugas para orang dewasa." Rose terkekeh karna mendengar jawaban Dan yang begitu polosnya.


"hahahaha... aku tak pernah tau akan semua hal itu yang ku tahu aku hanya menolong bibi Noel untuk berbelanja saja, karna dia sekarang lumpuh jadi aku harus membantunya untuk berbelanja." sahut Dan santai sambil menggaruk-garuk rambut tebalnya.


"kau benar-benar anak yang baik Dan." puji Rose yang membuat Dan semakin tersipu.


"oh... itu bibi Noel." Dan menunjuk seorang wanita tua di kursi roda yang sedang duduk di depan rumah besar bercat biru tua.


"hai bibi Noel. ini semua belanjaan mu & termakasih untuk uang sakunya." ucap Dan sembari memberikan belanjaan ke pada wanita tua itu.


"oh terimakasih Dan. hei... siapa dia Dan? aku belum pernah melihatnya sebelum ini." ucap wanita tua itu memperhatikan dengan seksama wajah manis Rose.


"dia ini Rose andy. dia teman sebangku ku di sekolah hari ini aku mengundangnya untuk datang berkunjung kerumah ku." jawab Dan.


"oh... hai anak manis wajah mu begitu cantik. bersenang-senanglah dengan Dan & berteman baiklah dengannya dia adalah anak yang sangat baik." ucap wanita tua itu sembari mengenggam erat tangan Rose


"iya bibi aku akan berteman baik dengannya. salam kenal untuk mu." sahut Rose dengan senyuman ramah.


"oh... senyum mu begitu cantik anak manis." puji wanita tua itu pada Rose yang membuat Rose tersipu malu.


"baiklah bibi kami harus segera pulang ibu pasti sudah menuggu ku. lagi pula aku sudah sangat lapar heheheh..." pamit Dan sembari beranjak pergi.


"baiklah. hati-hati di jalan ya anak-anak manis..." sahut wanita tua itu sembari melambaikan tangannya pelan.


setelah berjalan beberapa menit akhirnya mereka pun sampai di rumah Dan.


"ini dia rumah ku, ayo masuk lah." ucap Dan sembari membuka pintu & mempersilahkan Rose untuk masuk.


"hahahaha... ibu ku sangat suka bersih-bersih & dia sangat tidak suka melihat hal-hal yang kotor." ucap Dan santai sembari mengajak Rose menuju dapur di mana ibunya sedang berada.


"ibu aku pulang." teriak Dan memanggil ibunya.


"hai sayang kau sudah pulang. letakan tas mu di kamar & cepatlah turun untuk makan siang..." perintah Hilda tanpa melihat ke arah anaknya.


"ibu lihatlah siapa yang ku bawa." ucap Dan dengan semangat yang membuat Hilda langsung menolehkan pandangan ke arah putra kesayangannya itu.


"selamat siang bibi." sapa Rose dengan sangat manisnya.


"hai... selamat siang gadis manis. siap nama mu? kau begitu cantik." ucap Hilda terpana melihat Rose sembari berlutut untuk memeluk gadis kecil manis itu.


"nama ku Rose andy bibi. aku teman sekelas & sebangkunya Dan." sahut Rose memperkenalkan diri.


"oh... jadi kau Rose. Dan sering sekali menceritakan tentang mu katanya kau itu adalah gadis tercantik & termanis di sekolah, kau juga sangat baik kata Dan." ucap Hilda yang membuat Rose tersipu malu.


"ibu! aku tak pernah mengatakan itu semua...!" teriak Dan histeris dengan wajah merah padam (malu).


"bukannya kau selalu menceritakan hal-hal manis & baik tentang Rose." goda Hilda pada putranya yang sedari tadi sudah tersipu malu.


"baiklah sudah cukup ngobrolnya kalian pasti lapar ayo kita makan dulu." ajak Hilda.


"iya-iya-iya ayo kita makan. wah aku sudah sangat lapar & masakan ibu pasti sangat enak." sahut Dan mengalihkan pembicaraan.


mereka pun makan siang bersama-sama. selama seharian penuh Dan & Rose bermain di sekitaran rumah, mereka melakukan banyak hal yang menyenangkan & Rose pun merasa sangat bahagia karna bisa menghabiskan waktu seharian di rumah Dan & bersama ibunya Dan juga.


"bibi aku pamit pulang. senang bisa berkujung." ucap Rose untuk berpamitan.


"hati-hati di jalan ya sayang. bibi juga sangat senang mendapatkan kunjungan dari mu. sering-seringlah main ke sini nanti akan bibi masakan banyak makanan enak untuk mu."


"iya bibi. terimakasih untuk makanan hari ini & waktu yang menyenangkannya. Dan aku pulang dulu terimakasih karna sudah mengajak ku berkunjung kerumah mu & memberikan ku banyak kesenangan hari ini." pamit Rose pada Hilda & Dan.


"emmmh... hati-hati di jalan Rose." ucap Dan sedikit sedih karna harus berpisah dengan gadis pujaannya itu.


Rose pun menaiki taxi & beralalu pergi untuk pulang. tak lama kemudian mobil Adam berbelok & masuk ke dalam rumah.


"sedang apa kalian di luar?" tanya Adam sembari keluar dari dalam mobilnya & menutup pintu mobilnya.


"menunggu ayah." ucap Dan dengan semangat sambil berlari & memeluk erat ayahnya.


"benarkah? tak bisanya kalian menunggu ayah di luar rumah." ucap Adam dengan nada penuh bingung.


"aku & Dan baru mengantarkan calon menantu kita pulang suami ku." sahut Hilda menggoda Dan sembari mengambil tas kerja Adam.


"hah menantu? taxi yang tadi itu ya?" bingung Adam sembari menatap lekat pada Dan yang tersipu malu.


"ibu...!" pekik Dan kesal sembari melipat kedua tangannya & berjalan dengan hentakan kaki kuat.


"Rose itu hanya teman sekolah ku ibu! lagi pula aku kan masih kecil kenapa ibu malah membahas masalah menantu-menantu seperti itu sih!" marah Dan dengan wajah mengemaskan.


"oh jadi nama gadis itu Rose... apakah dia secantik bunga mawar istri ku?" tanya Adam pada Hilda dengan niat menggoda Dan.


"dia bahkan lebih cantik dari bunga mawar suami ku. wajahnya oval, kulitnya coklat, matanya bulat besar & bibirnya begitu manis saat tersenyum." pungkas Hilda sembari mengacak-acak rambut Dan dengan gemas.


"oh harusnya tadi ayah pulang lebih cepat ya agar bisa bertemu dengannya." lirik Adam nakal pada Dan.


"ayah! ibu!" kekesalah Dan semakin memuncak sehingga ia berlari menuju kamarnya dengan suara langkah yang berat & kuat.


"hah... anak ku sudah besar rupanya." gumam Adam.


"bahkan sekarang dia sudah memiliki wanita yang dia sukai."


"ya & sebentar lagi dia akan jadi jauh dari kita karna kehidupannya yang baru." ucap Hilda sambarang.


"tidak! tidak akan ku biarkan anak ku jauh dari ku walaupun sebentar saja!?" tegas Adam dengan wajah serius.


"iya-iya. sekarang setelah Dan semakin tumbuh besar sepertinya kau lebih menyayanginya di bandingkan aku." seru Hilda sedikti kesal.


"hahaha... siapa yang bilang hah? aku tetap paling mencintai mu istri ku sayang." ucap Adam sembari memeluk Hilda dari belakang & mengecup mesra pipi istrinya itu.


"gombal." pungkas Hilda lalu beranjak pergi.


tak ada yang mengira jika malam itu adalah malam terakhir Dan betemu dengan Rose & bersama dengan kedua orang tuanya. karna setelah malam itu semuanya menjadi tak terkirakan akan seperti apa kelanjutannya.


"Dan turunlah. ayo kita makan malam..." teriak Hilda memanggil putra ke sayangannya itu.


"iya ibu aku akan segera turun..." sahut Dan sembari berlari turun menuju ruang makan.


"cepat makan & setelah itu pergilah tidur besok kau harus sekolah." perintah Hilda.


"ibu... aku ingin melihat film kartun favorit ku malam ini adalah penayangan perdananya. boleh ya? please..." rengek Dan sembari menciumi pipi Hilda.


"tidak boleh! pokoknya selesai makan kau harus langsung pergi tidur, kau sudah cukup bersenang-senang dengan Rose hari ini!" jawab Hilda tegas.


"dengarkan kata ibumu anak ku." tegas Adam kembali.


"aaaaa... ayah... ibu..." rengek Dan lagi.


"ibu akan merekamkan filmnya kau boleh menontonnya setelah pulang sekolah besok oke." bujuk Hilda.


"baiklah..." sahut Dan dengan sedikit kecewa sembari memakan makananya.


di saat mereka sedang menikmati makan malam tiba-tiba pintu rumah Adam di dobrak oleh sekelompok pria bersenjata.


BRUUUUUK...


suara dobrakan kuat yang membuat pintu rumah Adam rusak. karna terkejut Adam & Hilda pun langsung refleks berdiri & mengapit Dan dalam lindungan mereka.


"siapa kalian?" tanya Adam tegas setelah melihat para pria itu menodongkan senjata ke arahnya & keluarganya.


"Adam hill apakah kau lupa pada kami?" jawab salah satu pria itu sembari menodongkan pistolnya di dagu Adam.


"siapa kalian!? mau apa kalian?!" tegas Adam untuk menakut-nakuti para pria jahat itu.


"sepertinya dia sudah lupa pada kita Stev?" lugas pria lainnya.


"setelah lama tak berjumpa ternyata dia melupakan kita teman-teman." ucap pria yang menodongkan senjata di dagu Adam.


"kalau begitu mari kita ingatkan dia." ucap pria lainnya.


seketika tubuh Adam di sungkurkan ke lantai & langsung di hajar habis-habisan secara membabi buta oleh 5 orang pria misterius itu, tanpa ampun mereka memukuli Adam sampai lemah & berlumuran darah.


Hilda hanya bisa menjerit Histeris meminta pengampunan & memohon kepada para penjahat itu untuk berhenti menyiksa suaminya yang sudah lemah tak berdaya itu. sementara Dan hanya bisa menangis terisak menyaksikan ayahnya di sakiti & ibunya yang mulai di lecehkan oleh beberapa pria jahat itu.