Where Are You Mom?

Where Are You Mom?
Kehadiran sang pangeran.



"sayang... mami sangat rindu pada mu." ucap mertuanya sambil menciumi seluruh wajah Hilda.


"Hilda juga sangat merindukan mami."


"eheeem... menantunya langsung di peluk & di cium sementara anak sendiri malah di biarin aja! sebernya anak mami itu siapa sih aku atau Hilda?!" gumam Adam sambil merengut.


"Hilda." jawab ibunya sambil terkekeh. "ya kamu lah anak mami, anak laki-laki tersayang mami."


Adam & ibunya pun berpelukan melepas rindu.


"mi... Anna mana? Anna tidak ikut?" tanya Hilda sambil melongoh lihat ke sana kemari mencari ipar kesayangannya itu.


"Anna ada ulangan hari ini jadi dia kemarinya nanti setelah selesai sekolah. dia kan sudah mau masuk SMA jadi belakangan ini dia lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah."


"ya sudah ayo kita masuk. mami pasti lelah setelah perjalanan sebaiknya mami istirahat dulu barang-barangnya biar nanti aku yang akan bereskan." perintah Hilda pada mertuanya yang di sambut dengan anggukan & tepukan lembut tepat di pundak Hilda.


malam hari Adam menghampiri ibunya di kamar & menceritakan tentang niat kepergiannya besok ke luar kota untuk beberapa bulan yg di sambut dengan dukungan penuh dari ibunya.


di dalam kamar pribadi mereka Adam & Hilda sedang asik bercengkrama setelah mereka selesai makam malam.


"aaaagh... aku sangat lelah." keluh Adam sambil membaringkan kepalanya di atas dada Hilda.


"selalu saja seperti ini!?" rengut Hilda sambil mengelus-elus wajah & kepala suami tersayangnya itu.


"maukan kau memijat punggung ku?" pinta Adam sambil menciumi dada Istrinya dengan lembut.


"emmmmh...." gerutu Hilda menyaut.


Adam langsung bangun dari pelukan istrinya, duduk tegak & membelakangi Hilda, kemudian di sambut dengan pijatan-pijatan lembut dari tangan tambun Hilda yg membuat Adam merasa nyaman.


setelah cukup lama memijat punggung suaminya Hilda pun memeluk erat suaminya dari belakang mengelus-elus dada datar suaminya sambil menciumi punggung & leher suaminya.


"jangan malam ini ya sayang aku benar- benar lelah." pinta Adam memelas.


"jadi kalau tidak malam ini kapan!" tanya Hilda sedikit kesal.


"..." Adam hanya terdiam sambil berfikir jawaban apa yg harus ia berikan kepada istri manjanya itu.


"besok kamu sudah pergi ke luar kota selama berbulan-bulan entah kapan baru pulang, lalu kalau tidak ini malam mau kapan lagi! hah! hah! hah!" omel Hilda sambil melipat tangannya tanda kesal.


"baiklah-baiklah. apapun yang membuat mu senang ratu ku."


mereka pun mulai bersegama di dalam keheningan & remang-remang lampu kamar. di tengah persegamaan mereka air mata terus mengalir dari sudut mata Hilda saat membayangkan betapa kesepiannya ia nanti jika suaminya telah pergi ke luar kota & tentang akan betapa rindunya ia nanti pada belahan jiwanya itu.


singkat cerita pagi telah tiba selesai mereka semua sarapan Adam pun bergegas berangkat pergi di antar dengan istri, ibu & adiknya ke station kereta api.


"jaga diri kalian baik-baik." pesan Adam untuk keluarga kecilnya itu.


"kamu juga jaga diri di sana. perhatikan kesehatan mu." titah ibunya di sela mereka berpelukan.


"baik bu." jawab Adam sambil mengecup pipi ibunya.


"jangan lupa memberi kabar ya kak. oh iya kalau pulang jangan lupa juga oleh-olehnya ya. ☺" pinta adiknya di sela pelukan mereka.


"baiklah princess ku..." sahut Adam sambil mengacak-acak rambut ikal adik perempuannya itu


"jangan telat makan, istirahat yang cukup & baik-baiklah pada semua orang." ucap Hilda berderai air mata.


"aku mencintai mu." ucap Adam lalu mengecup bibir istrinya dengan kuat.


"aku juga mencintai mu. cepat lah pulang." sahut Hilda di tengah pelukan hangat mereka.


Adam pun berangkat & mereka saling melambaikan tangan. singkat cerita sudah 1 mingguan sejak kepergian Adam ke luar kota, pada siang hari yg senggang tiba-tiba Hilda mulai merasakan ke anehan pada dirinya setelah bangun dari tidur siangnya.


Hilda hampir jatuh saat ingin bangun dari tempat tidurnya namun berhasil bersandar pada tiang penyangga tempat tidurnya yg bergaya klasih itu.


"kenapa kepala ku terasa berat & badan ku terasa lemas?" tanyanya pada dirinya sendiri.


'oh mungkin aku hanya kekurangan cairan & kurang asupan makanan karna kan semenjak suami ku keluar kota aku jadi jarang makan.' gumamnya dalam hati.


saat ia sedang berusaha turun dari kamarnya yang berada di lantai atas ia pun terjatuh dari tangga yang akhirnya membuatnya pingsan & cidera. mendengar ada suara kegaduhan dari ruang depan ibu mertua Hilda yang sedang berada di ruang laundry pun langsung lari ke arah datangnya suara.


"Hilda..." teriak mami Dessy dengan kuat sambil berlari ke arah menantunya itu. "apa yang terjadi pada mu sayang? kenapa kamu bisa jatuh seperti ini?" tangis pecah mami Dessy sambil memeluk arat menantu kesayangannya itu.


mendengar teriakan dari dalam rumah yang cukup kuat beberapa tetangga pun datang & langsung menolong membawa Hilda ke rumah sakit terdekat.


DI RUMAH SAKIT.


"keluarga pasien..." panggil seorang perawat yang berdiri di depan pintu.


"iya... saya ibunya." sahut mami Dessy sambil berlari ke arah dalam.


"silahkan masuk nyonya dokter ingin bicara dengan anda." ajak perawat itu sambil memapah badan mami Dessy yang sedari tadi sudah lemas karna khawatir akan kondisi menantunya itu.


"dokter... apa yg terjadi pada anak saya?" tanya mami Dessy dengan penuh cemas.


"anak nyonya mengalami sedikit cedera di kepala & pergeseran pada tulang tumit kaki kirinya." penjelasan dokter.


"astaga sayang ku..." pecah tangis wanita tua itu sambil mengelus-elus rambut menantu kesayangannya itu.


"tapi untungnya kandungannya baik-baik saja karna ia terjatuh ke arah samping bukan ke arah depan perutnya." kembali dokter menjelaskan.


"kandungan?" tanya wanita tua itu dengan penuh bingung.


tiba-tiba terdengar suara gerusuh orang membuka pintu yang ternyata itu adalah Anna yang langsung menerobos masuk & memeluk kakak ipar ke sayangannya itu sambil menangis.


"kakak... kenapa kakak bisa jadi begini? mami apa sebenarnya yang terjadi? bagaimana kak Hilda bisa jatuh dari tangga? apa dia baik-baik saja? apa dia terluka? apakah lukanya parah? apakah dia akan baik-baik saja mi..." tangis Anna pecah.


begitu banyak pertanyaan dari Anna namun tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut mami Dessy yang masih terpaku diam karna masih menelaah dengan apa arti perkata dokter yang baru saja ia dengar.


"kakak mu tidak apa-apa gadis manis. keponakan mu juga baik-baik saja & dalam keadaan sehat." ucap dokter yang sedang berusaha menenangkan Anna.


"keponakan?" tanya Anna penuh bingung sambil melirik ke arah maminya.


"iya... nona Hilda sedang mengandung usia 1 minggu." jelas dokter.


"ya Tuhan... anak ku... kamu sedang hamil?" ucap mami Dessy penuh bahagia sambil menciumi wajah Hilda yang masih dalam keadaan pingsan.


"mami aku akan jadi tante?" pekik Anna penuh gembira sambil melompat-lompat kecil.


"iya sayang ku. kita akan nendapatkan anggota keluarga baru."


mami Dessy & Anna pun berpelukan penuh bahagi.


"tapi nyonya menginggat usia nona Hilda yang sudah tidak muda lagi serta kandungannya yang sangat rawan & lemah karna usia kandungannya masih sangat muda ini saya harap nyonya akan menjaga mereka dengan sangat baik." jelas dokter dengan kondisi Hilda & kandungannya saat ini.


"baik dokter. saya akan menjaga anak & cucu saya dengan sebaik-baiknya." jawab mami Dessy penuh bahagia sambil mengenggam erat tangan dokter itu sebagai lambang ucapan syukur & terimakasih.


"dan satu lagi saya sarankan untuk lebih sering kontrol ke rumah sakit agar kita semua bisa memantau kondisi & perkembangan si bayi. saya sarankan setidaknya untuk 2 bulan sekali harus konsultasi masalah obat & makanan nona Hilda." saran dokter.


"baik dokter apapun akan saya lakukan demi cucu saya."


"baiklah kalau begitu sayang tinggal dulu. permisi." dokter & perawat itupun berlalu pergi meninggalkan ruangan tempat Hilda di rawat.