Where Are You Mom?

Where Are You Mom?
Kebahagiaan tak terkira.



"sayang ku mami sangat bahagia. terimakasih untuk hadiah terindah yang kamu berikan untuk mamu tahun ini..." ucap mami Dessy penuh bahagia.


"mi jika anak kakak nanti laki-laki aku yg akan memberinya nama. boleh kan?" rengek dan pinta Anna penuh semangat.


"tentu saja dia kan keponakan mu lagi pula kakak mu pasti tidak akan menolak permintaan gadis kecil kesayangannya."


"yeeee... nanti aku akan memamerkan keponakan ganteng ku pada teman-teman ku." luapan kegembiraan Anna yg melompat-lompat kecil.


"tapi sebelum itu kau harus menunggu 9 bulan dulu untuk kelahiran keponakan ganteng mu itu." ucap mami Dessy sambil mengelus-elus rambut Anna.


"keponakan? keponakan siapa?" tanya Hilda yang baru saja setengah sadar dari pingsannya begitu mendengarkan obrolan ibu mertua & iparnya itu.


"sayang... kamu sudah bangun."


"mi... apa yg terjadi? kenapa kepalaku begitu sakit rasanya & aku tak mengingat apa pun?"


"tadi kamu jatuh dari tangga?" jawab mami singkat.


"jatuh dari tangga...?"


"iya kamu jatuh dari tangga & mengalami cedera di kepala & pergelangan kaki, tapi akan membaik dalam 2 atau 3 minggu kedepan."


"astaga apa sebenarnya yang terjadi pada ku?" eluh Hilda sambil memegang jidatnya.


"kakak nggak perlu khawatir karna si ganteng yg ada di perut kakak baik-baik saja." ucap Anna sambil mengelus-elus perut Hilda.


"hah. si ganteng?" bingung Hilda.


"iya si ganteng yang ada di perut kakak." lugas Anna penuh bahagia.


"mi...?" tatapan bingung & heran dari mata sembab Hilda.


"iya sayang kamu sedang mengandung usia 1 minggu. mami sangat bahagia." mami Dessy langsung memeluk menantunya itu dengan hangat.


"mami..." pecah teriakan kebahagian Hilda air mata membasahi wajahnya & suara isakan menggema di ruangan itu.


"apakah benar aku hamil mi?"


"iya sayang iya." pecah tangis mengisi seruangan.


kepulangan Hilda ke rumahnya di sambut rona bahagia dari saudara & tetangganya yang mendengar berita kehamilan Hilda yang telah di harapkan pasangan itu sejak bertahun-tahun lamanya. mereka pun memutuskan mengadakan jamuan makan malam penyambutan kepulangan Hilda, Hilda yang duduk di kursi roda karna cedera pada kakinya pun di sambut pelukan, senyum bahagia & ucapanan selamat dari tetangga & saudaranya akan kehamilannya.


ibu & menantu itu duduk di depan api unggun di ruang keluarga sembari bersantai & betanya jawab.


"mami...?"


"iya sayang?"


"emmmh... mami sudah memberi tau Adam tentang kehamilan ku ini?"


"belum."


"kenapa?"


"karna mami ingin kamu langsung yang memberitahukan kabar bahagia ini kepada suami mu."


"emmmh... tapi mi...?" terdengar suara ragu & bimbang dari mulut Hilda.


"kenapa sayang ku? apa yang sendang kamu fikirkan?" tanya mami Dessy sembari menyeruput tehnya.


"Hilda bingung bagaimana cara memberi tahukannya pada Adam?" tanyanya dengan polos.


"hahahaha..." suara tawa mengelegar dari atas tangga.


Anna berlari kecil menuruni anak tangga sambil tertawa yang seolah sedang mengejek kakak iparnya yg sangat polos itu yang di sambut dengat tolehan kepala dari Hilda & mami Dessy.


"kakak kirim surat saja biar lebih mendramatisir & romantis." ejek Anna.


"kamu ini!" marah mami Dessy yang langsung mencubit pipi bulat Anna.


"mami sakit...!" jerit Anna sambil mengelus-elus pipinya yang memerah akibat cubitan sang ibu.


"eh tunggu dulu... tapi itu ide yang sangat bagus loh Hil pasti nanti Adam sangat penasaran kenapa kamu menulis surat & bukannya menelpon. lalu begitu dia membaca suratnya & mengetahui isisnya pasti dia akan sangat bahagia & akan langsung menelpon mu." ucap mami memberi saran.


"apa begitu mami?" tanya Hilda penuh keraguan.


"tentu saja saran mami mana ada yang tidak bagus." senyum sok dari mami Dessy pun muncul di ujung bibirnya.


"ayo lakukan kak lakukan..." desak Anna penuh semangat.


"baiklah kalau kalian bilang begitu malam ini akan aku tulis suratnya."


di dalam kamar Hilda begitu gusar tentang apa yang harus ia katakan pada suaminya di dalam suratnya itu. bolak balik ia menulis jika salah ia akan menghela nafas panjang & meremat serta langsung membuang kertas itu kedalam tempat sampah & entah sudah berapa banyak kertas yang telah ia buang.


jam menunjukan pukul 01:45 dini hari namun surat itu belum selesai juga dengan wajah depresi Hilda mematung begitu lama, sesaat kemudia Hilda mengambil ancang-ancang menarik nafas panjang & mulai menuliskan segala isi hatinya yang tengah merindu & tak lupa kabar berita itu ia sematkan di dalam surat. pukul 04:12 pagi akhirnya surat itu pun siap Hilda pun beranjak & langsung membaringkan diri di atas tempat tidurnya.


perasaan bahagianya belakangan ini sampai membuatnya lupa tentang janin yang ada di dalam perutnya itu.


"aku tidak merasakan apa-apa yang berbeda? apakah rasa hamil itu sama saja dengan rasa perut ku yang biasanya? ataukah karna usianya yang masih 2 minggu?" gumam Hilda pada dirinya sendiri sambil mengelus-elus perutnya.


"nak... cepatlah lahir aku sangat ingin melihat mu. apakah kamu nanti mirip dengan ku atau dengan ayah mu? aku sudah tidak sabar akan kehadiran mu malaikat kecil ku."


pagi hari yang cerah telah datang, dengan semangat Anna mengantarkam surat untuk kakaknya itu.


"selamat pagi..." sapa Anna pada resepsionis pos itu


"hai Anna selamat pagi juga." sapa kembali dari resepsionis pos itu.


"nona Grace bisakah aku mengirim surat? tanya Anna dengan polosnya.


"tentu saja bisa. kau ingin mengirim surat pada siapa?"


"kakak ku." jawab gadis manis itu pada tetangganya yang bekerja di kantor pos itu.


"kenapa menulis surat? kenapa tidak telpon saja?" tanya nona resepsionis pos itu bingung.


Anna mengayunkan tangannya yang tengah memberi isyarat pada wanita muda itu untuk mendekat ke arahnya.


"ini surat rahasia." bisik gadis manis itu yang di sambut dengan senyuman kecil dari gadis muda resepsionis pos itu.


"oh... apakan serahasia itu?"


"ya tentu saja. pastikan ini sampai pada kakak ku karna ini saaaaaaangat rahasia."


"baiklah princess." jawab gadis muda itu sembari memberi gerakan hormat.


"baiklah terimakasih." ucap Anna sambil berlalu & melambaikan tangan.


singkat cerita Adam yang berada di sebrang sanapun telah menerima surat dari istrinya itu.


"surat?" ucapnya dengan nada penuh kebingungan.


"dari rumah?" ucapnya lagi saat pembaca dari mana asal surat itu.


"Hilda?" ucapnya yang semakin bingung setelah membaca nama pengirim.


"kenapa Hilda mengirim surat? kenapa tidak telpon saja seperti biasanya jika memang ada yg ingin dia sampaikan?


perasaan laki-laki itu penuh dengan rasa kebingungan dengan cepat ia membuka surat & dengan tenang ia membaca isi surat itu.


(hai sayang ku ini aku istri mu.


sudah hampir 1 bulan kau meninggalkan ku untuk pekerjaan mu. bagaimana kabar mu sayang ku? apakah kamu sehat? sudahkan kamu makan? semua baik-baik saja kan? bagaimana dengan pekerjaan mu apakah lancar? kamu tidak sedang bermesraan dengan gadis-gadis muda kan!?)


senyum lebarpun terukir di bibir laki-laki itu saat membaca surat romantis & manis yang telah di kirimkan istrinya itu.


(aku sangaaaaaat merindukan mu. kau merindukan ku tidak? aku yakin pasti lebih.


sayang cepatlah pulang aku ingin banyak bercerita dengan mu, makan dengan mu, pergi berbelanja & jalan-jalan dengan mu, aku ingin memeluk & mencium mu, merasakan kehangatan mu, aku juga sangat ingin bermalam dengan mu & aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan mu & merawat anak kita bersama-sama.)


Adam sejenak tehenti di kata (merawat anak kita) fikirannya bingung saat harus menelaah perkataan istrinya itu matanya pun langsung hanya tertuju di kalimat itu dengan penuh kebingungan. ia pun kembali melanjutkan membaca isi surat yg membuatnya merasa aneh itu.


(iya anak kita.


aku sedang hamil sayang. hamil anak mu & 9 bulan lagi aku akan melahirkan buah cinta kita anak kita masa depan kita kebahagian kita. cepatlah pulang aku & anak mu selalu merindukan mu.


penuh cinta istrimu Hilda adam hill.)


selesai membaca surat itu rasa tak percaya akan isi & kabar yang telah di beritakan istrinya itu pun memenuhi isi kepalanya, air mata kebahagian pun langsung berderai jatuh membasahi wajah manly laki-laki itu dengan penuh haru dia memeluk & menciumi surat yg di sertai bau parfume istrinya itu.


dengan tegesa-gesa sampai terjatuh-jatuh ia berlari ke ruang depan resepsionis untuk menelpon istrinya & menyampaikan rasa bahagianya.


Kriiing...


"Hallo." sapa suara manis pada ujung panggilan.


"sayang..." teriakan penuh bahagia terucap dari mulut Adam dengan lantangnya sampai tak di perdulikannya seluruh orang yang ada di ruangan itu yang langsung menatap ke arahnya.


"sayang... kau sudah menerima suratnya?" tanya Hilda penuh harap & suara sedikit serak karna ia yang sedang mencoba menahan tangis.