Where Are You Mom?

Where Are You Mom?
Awal kisah.



ini kisah hidup & cerita tentang perjuangan seorang anak laki-laki yang bertahan hidup tanpa kedua orang tuanya. ia berdiri dengan kakinya sendiri berjuang untuk tumbuh & dewasa demi membalaskan dendam akan kematian ibunya.


di sebuah kota besar hiduplah sepasang suami istri Adam & Hilda mereka sudah menikah lebih dari 7 tahun namun tak kunjung di karunia anak yang sangat mereka idam-idamkan.


"Adam..." gumam Hilda dengan suara kecil.


"ada apa sayang?" sahut Adam dengan nada santai.


"aku bosan terus-terusan hidup seperti ini!" kesal Hilda dengan nada kecil.


"maksudnya?" tanya Adam bingung.


sejenak Hilda terdiam di sela-sela merajut. kemudian dengan nada gusar dia menghela nafas panjang & kasar.


"hah..."


"jangan menghela seperti itu tidak baik kalau di dengar orang!" tegur Adam pada Hilda dengan nada sedikit kesal karna melihat istrinya itu nampak punya eluhan yg besar akan kondisi mereka saat ini.


"aku bosan kalau harus begini terus sayang! pagi kau pergi kerja tinggi malam baru pulang! sentara aku harus menghabiskan waktu sepanjang hari sendirian di rumah hanya merajut masak merajut masak merajut masak merajut lagi & masak lagi! begitu saja setiap hari!" eluh Hilda dengan wajah masam.


"jadi kamu maunya bagaimana sayang ku?" tanya Adam dengan penuh kasih sambil berajak dari bangkunya menuju bangku Hilda & duduk tepat di hadapan Hilda.


Adam pun menyandarkan kepalanya di pangkuan Hilda sambil menciumi paha gendut istrinya itu yg di sambut dengan elusan tangan Hilda di rambut & kepala Adam.


"beri aku anak..." pinta Hilda dengan wajah melas.


"anak? bukannya selama ini kita selalu berusaha agar bisa punya anak? tapi mau bagaimana lagi Tuhan belum memberi kepercayaan pada kita." tegas Adam sambil mencium punggung tangan Hilda dengan lembut.


"ya kamu harus lebih berusaha membuat ku senang & lebih banyak berusaha agar bisa punya anak! aku ingin kau semakin mencintai ku dengan adanya anak kita nanti." melas Hilda.


"ada atau tanpa anak aku tetap akan selalu mencintai mu sayang ku, sampai akhir hidup ku." tegas Adam menenangkan hati istrinya itu.


Adam pun bangkit dari duduknya menarik Hilda berdiri & dengan lembut mengecup bibir tebal & merah milik Hilda kemudian mereka pun mulai bersegama, tak lama bersegama dengan kuat Adam menekan tubuh tambun Hilda beberapa kali yg membuatnya sedikit meringis di tengah ringisan Hilda saat bersegama dengan suaminya itu terselip do'a yg mana iya ingin secepatnya di berikan kepercayaan untuk memiliki anak & tak tertahankan air mata pun jatuh di sudut matanya. melihat itu Adam pun bertanya.


"kenapa kamu menangis? apakah aku menekannya terlalu kuat? apakah rasanya sangat sakit?" Adam seketika menghentikan semua gerakannya & mengelus lembut wajah bulat istri kesayangannya itu.


dengan penuh sedih Adam menatap istrinya yang sangat kalut itu.


"tenang sayang ku malam ini aku akan berusaha sebaik-baiknya?! dan percayalah besok kau akan langsung hamil."


mendengar perkataan Adam Hilda pun terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. melihat istrinya itu telah senyum kembali Adam pun akhirnya melanjutkan persegamaan mereka. dengan penuh harap Hilda memohon & berdo'a di sepanjang persegamaan mereka malam itu agar segera di karuniai seorang anak.


pagi harinya rutinitas sepasang suami istri itu berlangsung seperti baisanya. Hilda akan mempersiapkan keperluan Adam bekerja & Adam akan peegi bekerja.


"sayang." panggil Adam pada Hilda di sela-sela sarapannya.


"iya sayang." sahut Hilda yg sedang mengaduk secangkir coklat panas untuk suaminya.


"tadi pagi aku mendapat telpon dari menejer kantor ku & aku akan dinas ke luar kota selama beberala bulan. ini dinas pertama ku setelah naik jabatan apakah kamu mau ikut?"


"tidak..." jawab Hilda dengan wajah kesal.


"kenapa tidak sayang ku kan kita bisa sekalian honemoon?" rayu Adam yang sudah berdiri tepat di belakang istrinya itu sambil memeluk & menciumi leher istrinya itu dengan lembut.


"pergi saja sana tidak usah pulang lagi bila perlu!"


"loh loh loh... kenapa kamu ngomongnya begitu? memangnya kamu nggak sedih kalau misalnya aku nggak pulang-pulang lagi?" goda Adam.


"nggak tu biasa aja!"


"yakin... terus nanti siapa yg peluk kamu kalau lagi hujan & mati lampu?" goda Adam sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"ha! tu kamu tau kalau aku nggak bisa nggak peluk kamu kalau lagi hujan & mati lampu! terus nanti kalau mati lampu & hujan siapa yg meluk aku?!" rengek kesal & manja Hilda.


"peluk mami aja..." tiba-tiba ibu Adam masuk ke dalam rumah.


"mami..." pekik Hilda sambil berlari ke arah ibu mertuanya itu & langsung memeluknya dengan erat sambil menciumi pipi mertuanya itu.


ya Hilda memang sangat dekat dengan ibu mertuanya itu mereka saling menyayangi karna kedua orang tua Hilda sudah meninggal sejak Hilda remaja & begitu juga dengan papi Adam yg sudah meninggal sebelum mereka menikah sekarang mereka hanya hidup berempat Adam, Hilda, mami Dessy & Anna adik perempuan Adam.