Welcome To Gerbera

Welcome To Gerbera
PART 5: Garside




...***...


Gelap. Dingin. Senyap.


Tak ada seorangpun selain mereka, dua murid SMA yang mengenakan pakaian olahraga.


Kalau dilihat dari keadaan sekeliling, harusnya mereka ada di ruangan musik. Terlihat dari sebuah piano yang berukuran besar dan beberapa alat musik lainnya yang tersusun rapi.


Tapi mau sebagus apapun ruangan tersebut, sama sekali tidak berarti jika lampunya dimatikan dan seperti tidak memiliki kehidupan. Hal itu justru membuat suasana ruangan terasa mencekam, ditambah lagi dengan tirai jendela yang sengaja disingkap oleh salah satu dari mereka untuk menghalangi cahaya.


Gadis berambut pendek sebahu itu semakin tersandar pada tembok pada saat lawan bicaranya mendekat, menatapnya dengan tatapantajam penuh dendam, "Lo sengaja menghancurkannya!"


"Gak! Aku gak sengaja!" jawab gadis itu dengan takut. Suaranya sudah bergetar hampir menangis. Lawan bicaranya ini mempunyai senyum yang mengerikan dan tatapan membunuh, membuatnya ingin berteriak dan keluar dari sini.


"A—aku mau keluar, Daniel..."


Daniel. Murid lelaki yang dikenal sadis dan dingin oleh penduduk sekolah. Lelaki yang mempunyai tatapan bak 'elang', dan mampu membuat lawan bicaranya mati kutu dengan pembawaannya yang dingin dan tak terbantahkan.


Gadis itu tidak beruntung karena telah terlibat masalah dengan Daniel.


"Semudah itu?" Daniel mendecih tak suka, "Setelah lo menghancurkannya?"


"T-tapi—"


"Gak sengaja? TERUS AJA LO BILANG LO GAK SENGAJA!" Daniel pecah. Ia meneriaki gadis itu tepat didepan mukanya, membuatnya tidak bergeming sedikitpun.


Daniel menarik paksa rambut gadis itu, "Gini! Sakit?"


"A—DANIEL! S-sakit ..."


Bukannya melepaskan, Daniel justru semakin menarik kuat cengkramannya pada rambut gadis itu. Membuatnya mengaduh kesakitan dan menangis, "Daniel! A-aku salah apa..."


Lirih sekali. Suaranya menyayat hati.


"SALAH LO KARENA LO SUDAH MENGHANCURKAN DIA! DASAR PELAC*R!"


BRAK! Daniel tercengang saat tubuhnya terbanting mengenai beberapa alat musik dan tersungkur ke lantai. Gadis yang ia kira lemah ternyata memiliki cukup kekuatan untuk melawan. Gadis itu semakin meringkuk di pojokan sembari memeluk lututnya, "A—aku gak sengaja ... barusan juga ..."


"LO GILA HAH!?" Daniel bangkit berdiri, mendekati gadis itu dan menjambak rambutnya lagi. Namun alih-alih kembali menjerit, gadis itu mencekik Daniel secara tiba-tiba. Ia membalikkan keadaan dengan begitu mudah hingga membuat Daniel terkejut sepenuhnya.


"Haha," Gadis itu tersenyum bak iblis, "HAHAHA!"


Sesak. Itu yang Daniel rasakan. Dia merasakan aura yang berbeda dari gadis itu. Rasanya sungguh berbeda dari saat menjambak rambutnya, namun kini harus menyaksikan dirinya yang tertawa mengerikan. Ada sesuatu yang aneh disini.


Gadis itu berdiri, tetap dengan posisi mencekik leher Daniel dan membawa cowo itu berdiri. Daniel berkali-kali mencengkram pergelangan tangannya untuk melepaskan cekikan tersebut.


"Kenapa?" Gadis itu tersenyum kecil, "Kamu gak menarik rambut ku lagi?"


"S-stop! LO BISA NGEBUNUH GUE!" teriak Daniel dengan berusaha keras.


"Iya, aku juga akan membunuhmu,"


Daniel semakin takut, "Lepasin tangan kotor lo! G-gue bisa melaporkan ini ke hukum!"


"Dengan alasan apa?"


"A—lepasin gue! Gu .. gue .. gak bisa ..."


"Jangan mati dulu. Gak seru kamu mati gitu aja," Gadis itu tersenyum penuh misteri. Matanya yang semula berwarna coklat terang, digantikan dengan warna hitam pekat yang memenuhi matanya. Terlebih saat ia melihat jendela yang masih tertutup gorden.


"L—lo, ARGH! Lo m-mau apa!?" Daniel semakin mencengkram erat pergelangan tangan gadis itu saat membawanya menuju jendela. Sinar matahari yang ia belakangi berhasil menembus ruangan saat jendelanya dibuka lebar.


Gadis itu menyeringai jahat. Daniel merasakan tubuhnya yang sudah tersandar pada jendela, "ANJ*NG! L-LEPASIN GUE! GUE GAK BISA NAPAS!"


"Bukannya ini yang kamu mau? Kamu dapat banyak oksigen,"


"G-gue .. gue gak mau mati ..."


Daniel semain memberontak. Sekuat tenaga ia berusaha mengambil pasokan oksigen agar tetap bertahan hidup. Namun rasanya percuma saja, gadis ini terlalu sulit dikalahkan.


"Kamu mau tau rahasia?"


Gadis itu semakin mendorong Daniel, membuat cowo itu sangat takut saat melihat jarak antara jendela dan lapangan yang tinggi. Pikirannya kalut dan pandangannya semakin buram. Pasokan oksigennya semakin sedikit, hingga dirinya semakin susah untuk bernapas.


"Aku ..."


Daniel mulai kehilangan kesadarannya.


"Bukan Margaret,"


Gelap. Tidak ada lagi yang Daniel dengar dan tidak ada lagi yang ia lihat. Gadis itu mendorong tubuh Daniel dengan keras hingga jatuh melesat menuju tanah. Daniel tergeletak tak berdaya di lapangan samping sekolah dengan darah yang berlumuran dari tubuhnya. Semua siswa yang kebetulan berada di sekitar lapangan merasa terkejut dan ketakutan, melihat jasad salah satu murid jatuh dari ketinggian.


Sedangkan si pelaku, tersenyum puas menatap jasad Daniel dari atas. Di rasanya sebuah kepuasan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sudut bibir kanannya terangkat, sama sekali tidak merasa berdosa dengan perlakuannya.


"Aku ... Garside."


...***...


Malam ini langit terlihat indah dengan taburan bintang berkilauan menghiasi warnanya yang gelap. Nala baru tahu bahwa ternyata semakin malam, Jakarta semakin menarik untuk di lihat. Matanya tertuju pada segala objek yang ada di hadapan: langit malam, rumah dan gedung dengan sinar lampu yang terang, juga lalu lalang kendaraan tiada henti mengisi jalan. Ia menikmati malam yang tenang ini dari balkon apartemen, ditemani beberapa kaleng minuman bersoda juga angin malam yang membelai halus kulitnya.


Ini dingin, tapi tidak lebih seram dibandingkan mimpi yang baru saja ia alami.


Kepalanya tampak memutar ke segala kemungkinan, mengantarkannya pada berbagai pertanyaan baru,


Siapa dua manusia dalam mimpinya itu?


Apa yang membuat mereka bertengkar sampai harus meregang nyawa?


Bagaimana kelanjutannya?


Apa maksud dari kata 'menghancurkan' dalam perseteruan mereka?


Nala memijat pelipisnya yang nyeri, kepalanya pusing sekali. Ia meraih satu kaleng minuman lagi, menenggaknya sampai tersisa setengah. Mimpi itu cukup bisa membuatnya gila. Jam sudah menunjukkan pkl. 02.02 WIB, dia harus segera melanjutkan tidurnya yang terganggu.


'Ah, sudah lah. Aku gak perlu repot mikirin ini, paling hanya lewat aja..' pikirnya.


Ting! Belum sempat ia berdiri, notifikasi pesan masuk dari Bian mengurungkan niatnya.






Oke. Nala akan menantikan ini!


...***...


"Aku ... Garside,"


"Garside ..."


"Si ..."


"De ..."


"ARRGHH!!"


Agi terbangun dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya terasa sesak. Matanya merah dan bengkak. Agi tidak tau bahwa sedaritadi ia menangis tanpa sebab. Ia memegang dada kiri, merasakan detak jantung yang berpacu cepat tidak seperti biasanya.


Mimpi apa barusan? Kenapa hal ini berbeda dari biasanya? Sebelumnya, ia memang pernah mendapatkan mimpi yang serupa. Namun, yang terlibat adalah orang yang berbeda. Lalu, siapa Garside?


Agi berusaha keras mengingat rupa gadis itu, termasuk rupa Daniel yang telah menjadi korban. Tapi usahanya justru membuat kepalanya semakin pusing, berdenyut hingga membuatnya ingin pingsan saja. Akhirnya sebagai bentuk menenangkan diri, Agi mengusap wajah dengan kasar sembari menghela napas berkali-kali.


Sepertinya meminum segelas air dapat menjadi solusi yang tepat.


Terdengar pergerakan jam dinding saat ia menyingkap selimut di kamarnya yang masih sunyi. Jarum pendeknya berada di angka 2, itu artinya sekarang menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Hiks ..."


"Sial!"


Agi menarik kembali kakinya yang hampir menyentuh lantai. Suara tangis yang memang sudah tidak asing baginya, namun masih terdengar menakutkan di waktu seperti ini. Double kill sekali. Usai mendapatkan mimpi yang mengerikan, dilanjut dengan suara tangis tak bertuan.


"Hiks ... Agi ..."


Agi langsung menarik selimut menutupi tubuh. Menenggelamkan diri ke kasur paling dalam sembari menutup telinga. Ia tidak ingin mendengar tangisan itu, juga keluhan yang disampaikan dengan menyebut namanya.


"K-kamu ... melihatnya?"


"A-aku ... gak sengaja. Kamu percaya aku, kan?"


"Agi ... jawab aku ..."


Jantungnya semakin memompa cepat saat suara kaki terdengar mendekat. Kedua tangan besar itu merapat, menutupi telinga dengan berusaha agar tidak ada celah pun yang terbuka. Agi tidak suka ini. Dia sangat membencinya!


"Agi..."


"Kenapa? Hah? KENAPA!?" sergah Agi tiba-tiba. Dia pun tidak sadar melakukan itu, sampai-sampai ia memukul mulutnya berkali-kali, "Aduh, bodoh banget ngapain gue jawab ..." gumam Agi penuh penyesalan.


"Kamu melihatnya, kan?" suara itu terdengar semakin nyaring, "Kamu ... ada di pihak aku, kan?"


"G-gue sama sekali gak tau permasalahan lo apa! Jadi, please! Please stop ceritain keluh kesah lo ke gue! G-gue gak peduli!"


"Aku benar ... kamu melihatnya ..." balas gadis itu dengan nada yang berbeda. Lebih terdengar seperti mengandung pengkhiatan.


Agi meneguk salivanya dengan susah payah. Dirasakannya aura kamar yang semakin mencekam dan mengerikan, "Lo ... Garside?"


"Itu bukan namaku ..."


"J-jadi?"


"Itu bukan nama ... asliku ..."


"Garside. Lo Garside!"


"Salam kenal, Agi. Haha ... Ha ... Hahahaha!"


Bulu kuduknya merinding mendengar tawa mengerikan itu. Garside. Gadis pemilik suara yang kerap kali mengganggunya. Gadis tidak berwujud dan tidak diketahui asal muasal dan keberadaannya sekarang, memperkenalkan diri kepada Agi dengan membawa nama lainnya. Bukankah ... itu mengerikan?


"Selamat ..."


'Tuk ... tuk ...'


Suara langkah kaki semakin mendekat. Asalnya terdengar dari depan pintu kamarnya. Agi terduduk cepat diatas kasur sembari memeluk lutut dengan bibir yang bergetar. Ia ingin berteriak, namun napasnya seperti tercekat dan sulit untuk bicara. Matanya terfokuskan pada sela bawah pintu kamar yang terlihat jelas bayangan seseorang dibaliknya. Apakah itu Garside?


"Selamat ..."


"Berpetualang di Gerbera ..."


"Hihihi .."


"ARRGGHHH!"


Agi berteriak nyaring sekuat tenaga. Tangannya sudah lebih dulu menutup telinga, menghalangi suara mengerikan Garside yang menganggu. Puas berteriak, Agi berhenti dengan napas tak teratur. Suasana kamar menjadi sunyi dan sudah terasa seperti biasanya. Hanya terdengar pergerakan jam yang tidak pernah berhenti, seolah menertawainya.


Agi mengusap wajahnya kasar dan mengatur napas berkali-kali. Tak ingin berlama-lama, ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh dan segera turun menuju dapur. Sepertinya, dia harus memutar jam tidurnya menjadi siang karena dinilai lebih aman dan menjanjikan. Ingin rasanya ia terbang ke Semarang, menangis sampai bersimpuh darah meminta pada Kakek untuk dihapuskan kemampuan ini. Agi bisa saja menerima ini kalau hanya satu suara yang ia dengar; suara jodohnya, bukan suara roh-roh gentayangan yang mengganggu. Ini bukan hal yang menyenangkan, tapi malapetaka!


...***...