
...***...
Agi sudah tidak lagi membalas, tapi dia yakin teman-temannya akan tetap ke rumahnya.
Selepas kejadian semalam, Agi tidak berani berada di dalam kamar dalam waktu yang lama. Dia hanya masuk untuk mengambil baju, charger beserta handphone, juga Mui yang entah sejak kapan tiduran manja di samping meja belajarnya. Sekedar mandi saja ia memilih untuk menumpang di kamar Akta, meskipun harus cekcok selama beberapa menit dulu.
Agi menyadari banyak kejadian aneh yang ia alami semenjak meminum air pemberian Kakek. Dia juga sudah sempat menanyakan perihal ini pada beliau, namun belum mendapatkan penjelasan secara rinci karena jarak mereka yang jauh. Sinyal di rumah Kakek bersifat terbatas, semakin menyulitkan Agi untuk memecah rasa penasarannya.
Sejauh ini Agi hanya tahu bahwa suara yang ia dengar selama ini adalah suara jodohnya, yang bercampur dengan suara roh-roh yang tak tenang.
"Woi, Gi!" Akta menyapa dari atas tangga, lengkap dengan handuk yang tersampir di bahu kiri, "Lo gak angkat telpon Bunda?"
Agi tampak tak acuh. Ia kembali fokus pada layar televisi yang menampilkan tayangan kartun asal Malaysia.
"Astaga, Gi! Jarak handphone dari lo itu gak jauh, masih bisa lo gapai pakai kaki!"
"Sudah! Paling Bunda hanya ingin nanyain kondisi gue gimana. Bilangin, gue baik-baik aja!" balas Agi.
"Bukan, Gi! Makanya jangan males angkat telpon orang tua!"
"Iya iya!"
Belum sempat Agi meraih handphonenya, Akta lebih dulu bersuara, "Gak usah, jam istirahat Bunda sudah habis! Bunda hanya ingin bilang, ada paket buat lo di kotak paket depan! Jangan boros-boros 'lah Gi jadi orang! Lo belanja apaan, sih?"
"Gak usah ngarang, gue terakhir beli online awal tahun! Itu juga beliin baju buat Mui.." balas Agi tidak terima.
"Oh.." Akta menggidikkan bahu tidak yakin, "Paket lama mungkin? Orang rumah kan memang jarang beli online.."
"Di bilangin gue gak ada beli!"
"Ya sudah buat gue aja,"
Akta sudah mencapai lantai dasar, tinggal beberapa langkah lagi menuju teras. Agi langsung menahannya dengan cepat, "Enak aja! Kalau sudah tertulis buat gue, berarti punya gue! Gak usah ngide!"
"Yee di bilangin! Dasar anak kecil!"
Agi tidak membalas lagi, membiarkan Akta berjalan menaiki tangga menuju kamar. Sedangkan Agi, ia langsung menghampiri kotak paket yang terletak di depan. Benar apa yang dikatakan Bunda, ada satu buah paket atas nama dia di dalamnya.
'Gachidene, 3 Juni 2022'
Ternyata, gadis itu masih menjadi pengagumnya. Ini sudah kali kelima Agi menerima kado dari gadis itu, yang Agi yakini 'Gachidene' bukanlah nama aslinya. Paket itu tiba di hari saat ia dan keluarganya berangkat ke Semarang untuk menjenguk Kakek. Berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya yang akan tiba seminggu usai ulang tahunnya. Tahun ini, terhitung lebih cepat.
...***...
Nala menatap meja ruang tamunya yang mendadak penuh dengan makanan. Benar, dia menuruti permintaan gila Bian. Lebih gila lagi, dia mempercayai ucapan lelaki itu!
Nala berulang kali berusaha menetralkan deguban jantungnya, tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bertemu dengan lelaki yang selama ini hanya bisa ia lihat dari layar handphone untuk pertama kali. Ia tidak akan mempercayai Bian, kalau saja Lintang tidak membujuknya sampai tengah malam. Lintang bilang, kalau memang Bian berbohong, makanannya bisa ia berikan pada orang-orang di pinggir jalan yang membutuhkan.
"Aku nanti harus gimana, ya?"
"Apa harus membungkuk?"
"Salim?" Nala menggeleng cepat, berusaha menepis ide gila itu.
"Ekhem.. Hai! Aku ngefans banget sama kamuuu!"
Nala bergidik ngeri membayangkan itu. Apa tidak bisa dia langsung menghilang saja dari bumi?
'Ting Tong!'
Suara bel yang berbunyi berhasil membuat jantungnya kembali berpacu lebih cepat. Setelah memastikan bahwa ia sanggup, Nala langsung menuju pintu dan membukanya.
"Permisi Nyai Nala yang terhormat.."
Suara cempreng Bian adalah hal pertama yang menyapa pendengarannya. Di samping lelaki itu, terdapat dua temannya yang tampak melemparkan senyuman manis. Sedangkan di belakangnya berdiri seorang lelaki yang Nala tunggu kedatangannya: Agi. Lelaki itu hanya diam tanpa ekspresi.
"E-eh, iya.. masuk aja.."
Bian, Kara, dan Daksa langsung masuk saat Nala membuka pintu dengan lebar. Tidak dengan Agi yang masih berdiri tanpa pergerakan. Nala tidak tahu apa yang ada di pikiran lelaki itu.
"Ka-kamu?"
"Duluan,"
Nala susah payah menggigit bibir bawahnya agar tidak membentuk senyum, meskipun ia yakin pipinya sudah memerah. Agi menghormati Nala sebagai tuan rumah dengan tidak mendahuluinya. Hal kecil seperti ini mampu membuat perutnya penuh dengan kupu-kupu.
"Widih, sesuai request!" Bian langsung mendudukkan diri di sofa, mencomot satu ayam dan memakannya dengan rakus.
Kara melemparkan tatapan kaget pada Nala, "Lo beli sebanyak ini memang gak bangkrut?"
"Traktir ojol satu Jakarta juga gak akan bangkrut!" celetuk Bian lebih dulu.
Kara dan Daksa langsung mengambil posisi duduk di samping Bian, ikut menikmati makanan itu tanpa beban. Mereka paham Nala menyiapkan ini untuk mereka, jadi mereka sebisa mungkin harus menghargai.
Berbeda dengan mereka, Agi justru masih berdiri di belakang Nala.
Bian kesal sendiri, "Sini lo, Gi! Anggap aja rumah sendiri!"
"Ada yang namanya tata krama di rumah orang," balas Agi sekenanya.
"Yaelah!" Bian menaruh ayam yang sisa setengah, membersihkan tangan dengan tisu dan meminum minuman kaleng dengan cepat. Semua pergerakannya tidak lepas dari delapan mata yang ada disitu.
"Ini kenalin, sepupu gue. Namanya Nala. Selebihnya tanya sendiri!"
Kara melambaikan tangan dengan senyum lebarnya, "Hai, Nala! Gue Kara!"
"Kalo gue Daksa. Salam kenal, ya!"
"Salam kenal, aku Nala.." balas Nala ramah.
"Itu di belakang lo, udah tau kan 'ya?"
Nala refleks membalikkan badan, menatap Agi yang masih berdiri dengan tenang, "Kamu boleh duduk.."
"Oke, thanks."
Agi yang sudah mengambil posisi duduk di samping Kara langsung membuat Nala menghela napas lega. Pasalnya, sepanjang Agi berdiri di belakangnya, Nala menahan napas. Ia takut kalau terjadi hal yang memalukan.
Sungguh, ini pertemuan yang paling aneh yang pernah ia alami.
Nala mengambil posisi duduk di single sofa. Posisinya tepat berhadapan dengan Agi.
"Aku gak tau cara menjamu tamu seperti apa. Tapi berhubung disini ada Bian, aku serahin semua ke dia. Kalian bebas mau ngapain aja disini," Nala tersenyum seadanya, mengundang acungan jempol oleh Bian. Mendengarnya, ketiga manusia itu; tidak termasuk Agi; semakin merasa senang dengan potongan ayam yang menggunung di hadapan mereka. Agi hanya menikmati minuman kaleng karena tenggorokannya kering.
"Lo kenapa tiba-tiba ke Jakarta, La?" tanya Bian.
"Ada keperluan," Nala menjawab sekenanya.
"Oh.."
Nala tidak ingin menjelaskan lebih rinci, karena ia merasa malu kalau saja orang asing mengetahui kekurangannya. Dia yakin, Bian sudah tahu maksudnya apa. Sebab, lelaki itu mengangguk berulang kali dengan tatapan mengerti.
"Kuliah dimana?" tanya Daksa.
"Belum. Aku gapyear,"
Kara menyeletuk, "Pasti ngincar negeri, ya?"
"Iya. Agak sulit,"
"Gampang sebenarnya, La!" kata Bian penuh ambisi, membuat Nala penasaran.
"Gimana?"
"Tinggal sogok. Duit lo 'kan gak akan habis!"
Nala berdecak kecil mendengar balasan lelaki itu. Sedangkan Bian hanya terkekeh bersama Kara dan Daksa.
"Kalau sudah sekali ngelakuin hal kotor untuk mendapatkan apa yang di mau, jalan selanjutnya gak akan berkah. Bahkan untuk memakan sesuap nasi pun gak akan tenang," Agi mengucapkan kalimat yang panjang untuk pertama kalinya. Terdengar tenang, penuh dengan niat baik yang bisa dirasakan oleh Nala.
"Tuh, denger!" Nala berucap spontan, mengundang cengiran lebar dengan tatapan mengejek oleh Bian.
"Iya, deh! Akhirnya Nyai sependapat sama manusia.."
'Ting!'
Susah payah Nala mengontrol ekspresinya agar tidak terlihat kaget. Pasalnya, ia melupakan jadwal kontrolnya hari ini. Nala harus segera ke rumah sakit demi menebus rasa bersalahnya pada Dokter Hani.
"Bi, titip bentar ya?"
"Lho mau keluar? Kemana?" Kara yang menyaut.
"Ada urusan sebentar. Maaf ya.."
Bian menyaut, "Urgent banget, La? Memang lo udah boleh bawa mobil?"
"Iya. Gapapa, aku bisa sama supir!"
"Lama lagi nunggunya. Sama Agi aja!"
Sumpah, Bian memang sangat berambisi untuk mendekatkannya dengan Agi.
...***...
Agi tidak tahu sudah berapa kali ia mendengar kata maaf keluar dari mulut gadis yang ia temui di Bandara waktu itu. Terlebih lagi, ia tidak terpikirkan bahwa dunia memang sempit seperti ini. Gadis yang ia ketahui sebagai penggemarnya, ternyata merupakan sepupu dari Bian yang berstatus sebagai sahabatnya. Meskipun ia sudah tahu, tapi ia tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu lagi secepat ini.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dengan suasana yang hening sekaligus canggung, mereka pun sampai di tempat tujuan. Rumah sakit swasta milik Ayah Agi.
"Terima kasih, Agi.." Nala melempar senyum manisnya. Ia langsung melepas seatbelt, mengenakan tas keluar dari mobil.
"Oh, iya!" Nala menghadap pada Agi dari luar dengan jendela yang terbuka, "Kamu boleh pergi sekarang. Untuk pulangnya, aku bisa di jemput,"
Agi menggeleng. Ia ikut melepas seatbelt usai mematikan mesin mobil, "Sekalian aja. Di tungguin,"
"Gak usah, Gi! Aku makin gak enak sama kamu.." Nala berucap dengan perasaan sangat tidak nyaman.
Agi mendekat, mengikis jarak mereka sampai hanya tersisa satu jengkal saja. Nala terkesiap kaget. Dia harus mendongak untuk melihat Agi yang terbilang lebih tinggi darinya, lengkap dengan jantungnya yang berpacu cepat. Nala yakin pipinya sudah merah seperti kepiting rebus!
Agi berbisik, "Kalau berangkatnya sama saya, pulangnya juga harus sama saya,"
Astaga. Nala rasa jantungnya sudah gempa.
...***...
"Dok, ini aneh banget! Beberapa menit yang lalu aku bisa mencium bau!"
Dokter Hani memajukan tubuhnya tanda tertarik dengan topik pembicaraan ini, "Tepatnya sejak kapan?"
"Baru aja, beberapa menit yang lalu. Mungkin.. 5 menit?"
"Kamu berangkat dengan siapa, Nala?"
"Agi. Sahabat sepupu ku.."
Nala tercekat saat menyadari hal ini. Dari sekian banyaknya manusia, tidak mungkin Agi orangnya, bukan?
"Dia orangnya, Nala," Dokter Hani berucap penuh yakin, lengkap dengan senyum lebar yang tampak puas. Tapi tidak dengan Nala, gadis itu justru tidak percaya.
"Gak mungkin, Dok! Bukan dia yang aku ajak ngobrol saat di bandara kemarin!" kekeuhnya.
"Well.. kamu bisa membuktikannya sendiri nanti,"
...***...
"Agi! Ngapain disini?"
Agi mendongak saat sebuah suara menyapanya dari arah kiri. Seorang gadis berambut panjang hitam legam sedikit bergelombang tampak tersenyum manis, masih lengkap dengan jas almamater kampus. Agi tidak kenal dia siapa.
"Oh iya, maaf! Aku Deana. Kamu sudah terima kado dari aku, kan?"
Agi sponton membulatkan mulutnya. Ini gadis yang digadang-gadang sebagai putri jurusan Sejarah itu. Agi balas tersenyum simpul sembari mengangguk, "Terima kasih. Kemarin barangnya di pake sama abang gue,"
"O-oh? Okay.. gapapa! Asal barangnya berguna aja, gue udah senang 'kok!"
Agi tidak lagi membalas. Ia hanya tersenyum sopan sebagai bentuk penghargaan. Lagipula, dia tidak tau apa yang harus di bicarakan.
"Gue abis jengukin Kakak yang masuk rumah sakit. Keguguran.." Deana bercerita tanpa di minta. Gadis itu memasang wajah murungnya.
Agi mengangguk mengerti, "Turut berduka cita,"
"Terima kasih! Kalau lo, ngapain disini?"
"Ada perlu,"
"Kalau boleh tahu, tentang apa?"
"Gak boleh tau,"
Bertepatan dengan itu, Nala keluar dari dalam ruangan. Kedatangannya di sadari dengan cepat oleh Agi, "Sudah?"
"Sudah,"
"Ada yang perlu di urus lagi?"
"Sudah semua. Maaf 'ya, Agi.." Nala menunduk tidak nyaman. Kepalanya juga dipenuhi ucapan Dokter Hani yang terdengar aneh menurutnya, hingga sulit di percayai.
Memang karena Agi dia jadi bisa mencium aroma lagi?
"Kamu gak perlu minta maaf untuk hal yang gak salah," ucap Agi lembut.
Agi beralih pada Deana, "Maaf, ya. Pamit dulu, urusannya sudah selesai,"
"Eh, Agi! Kalau nanti di kampus gue negur lo, boleh gak?" Deana melemparkan pertanyaan yang berhasil membuat Nala mengerti. Gadis asing ini merupakan teman kuliah Agi.
"Kalau sekedar negur doang, boleh,"
"Kalau lebih?"
"Gak usah repot-repot. Duluan."
Agi melempar tatap pada Nala, seolah menyuruhnya untuk berjalan lebih dulu. Nala melempar senyum singkat pada Deana, "Permisi.."
Nala langsung melengos melewati Deana, di susul Agi di belakangnya.
...***...
Nala terhitung berani kali ini. Sebab, saat mobil berhenti di lampu merah, ia nekat mendekatkan dirinya pada Agi. Dia tampak mengendus-endus aroma Agi, membuat cowo itu menatapnya aneh. Agi jadi ingat saat pertama kali mereka bertemu di bandara. Nala juga melakukan hal ini padanya.
"Nala?"
Nala terperanjat kaget. Ia langsung mundur ke posisi duduk semula. Dia menggunakan kedua tangan untuk menutup wajahnya yang sudah memerah menahan malu. Sungguh, Nala tidak sadar melakukannya! Nala terlalu larut dalam aroma wangi yang bisa ia cium sekarang!
"Maaf.." cicitnya.
Agi tampak menahan senyum. Ia lantas menjalankan mobil saat lampu sudah berubah menjadi hijau.
"Tadi ngapain aja?"
"Cuma kontrol biasa, gak ada yang istimewa.." jelas Nala.
"Oh, oke.."
"Agi, aku boleh nanya sesuatu?"
Agi mengangguk, "Boleh,"
"Kamu pakai parfum apa?"
Nala terlampau penasaran. Dia menyukai aroma ini, karena mungkin saja ini adalah aroma wangi pertama yang ia cium usai beberapa tahun lamanya. Nala sudah lupa rasa tiap wangi seperti apa, termasuk wangi lelaki yang ia temui di Bandara. Tidak peduli lagi soal itu, karena Nala turut membenarkan bahwa bersama Agi, indra penciumannya berguna dengan baik.
Alih-alih menjawab, Agi membuka dashboard mobil untuk mengambil sesuatu. Ia menyodorkan parfum dengan ukuran sedang berwarna bening pada Nala. Nala langsung menyambutnya dengan antusias.
Wangi parfum Agi ini sangat unik. Nala bisa tenang dibuatnya. Dia juga bisa merasakan feminim sekaligus misterius hanya dengan mencium aroma ini. Khas seorang Agi sekali.
"Boleh aku pake sedikit? Sedikiiiiiit aja!" kata Nala.
Agi mengangguk lagi, "Boleh,"
"Terima kasih, Agi!"
Nala langsung menyemprotkan parfum tersebut pada pergelangan tangannya. Satu kali saja, karena Nala tau batasan. Ia terlihat senang dan puas dengan hasilnya.
"Saya boleh minta sesuatu?" tanya Agi.
"Apa?"
"Bisa gak, kalau kamu ngurangin kata 'maaf' pas sama saya?"
Nala mengerjap kaget mendengarnya. Ternyata, Agi menyadari satu hal ini.
"Aku gak enakan orangnya, Gi.."
"Saya tau. Tapi kalau kamu terus-terusan seperti itu, kamu jadi takut ngelakuin, nerima, dan merasakan banyak hal baru. Tanpa sadar, kamu ngebatasin diri mu sendiri. Contohnya, nih.. kalau tadi saya gak ngasih kamu izin, kamu gak akan tau parfum yang saya pake apa. Begitu juga saat kamu bilang maaf, La. Kamu gak perlu minta maaf untuk hal yang gak salah. Kalau kamu terus-terusan melakukan itu, kamu akan terbiasa beranggapan bahwa semua yang kamu lakukan itu gak pernah benar,"
Mendengar penuturan panjang Agi, Nala jadi tersentuh di buatnya. Sebab, belum pernah ia temui jenis manusia yang memperhatikan hal kecil seperti itu darinya. Agi memberinya pemahaman baru lagi.
"Maaf, Agi.."
"La.."
"Oh, iya!" Nala menyengir, "Ya sudah, terima kasih 'ya, Agi!"
"Sama-sama,"
"Tapi, Agi.." Nala menatap Agi yang tampak fokus menyetir. Tatapannya dalam sekali, "Nyatanya, aku jenis manusia yang sering salah. Memang, gak boleh kalau minta maaf?"
"Boleh, tapi perlu digaris bawahi: hanya untuk sesuatu yang memang salah. Kalau sekedar saya temenin ke rumah sakit, gak perlu minta maaf karena saya gak merasa keberatan," jawab Agi.
"Berarti, kalau orang itu gak keberatan, tandanya bukan sesuatu yang salah?"
"Menurut saya seperti itu,"
Nala mengangguk mengerti. Diam-diam ia membenarkan apa yang di ucapkan oleh Agi. Ternyata, berbincang dengan Agi tidak seburuk yang ia pikirkan. Dia tidak pingsan, tidak juga salim, tidak juga mengucapkan dengan aneh bahwa ia adalah penggemarnya.
Sudah, seperti ini saja. Nala merasa sudah cukup, meskipun Agi tidak tau bahwa Nala sangat memujanya.
"Nala,"
"Iya?"
"Gak papa kalau gak sengaja melakukan hal yang salah. It means that you are human too. Manusia gak akan pernah lepas dari kesalahan. Jadi, nikmatin aja. Temukan salahnya, benahi, dan jalani lagi."
...***...