Welcome To Gerbera

Welcome To Gerbera
PROLOGUE: Rumah Gerbera




...***...


^^^Bandara Ahmad Yani, Semarang.^^^


^^^2 Juni 2022, 09.45 WIB.^^^


Seperti yang sudah-sudah, akan ada satu kali dalam setahun dimana Agi beserta anggota keluarganya berangkat ke Semarang. Tepatnya, menuju sebuah desa terpencil yang ada di Ungaran. Kalau dari bandara, akan membutuhkan waktu tempuh sekitar 40 menit. Tapi apabila melihat kondisi jalanan yang kadang ramai, bisa saja memakan waktu 1 jam.


Tujuannya mengunjungi Kakek, ayah dari pihak Bunda. Pria tua renta itu memilih untuk hidup menyendiri di sebuah rumah sederhana dekat gunung, selepas kepergian sang istri 10 tahun yang lalu. Isyana sudah berulang kali membujuk sang Ayah untuk ikut tinggal bersamanya, namun beliau menolak dengan dalih sudah nyaman dengan suasana desa yang damai. Memang benar bahwa desa tersebut memiliki suasana yang adem, terlebih karena tempatnya yang dekat dengan gunung. Semuanya masih terasa asri. Akan sering ditemui pemandangan para warga yang kerap kali bercengkrama di depan rumah saat sore hari, juga pemandangan anak-anak pulang sekolah di tengah teriknya panas matahari dengan mendaki bukit untuk pulang ke rumah. Mungkin, rumah Kakek menjadi tempat yang akan ia sambangi di kala bumi tengah jahat. Tapi kalau beda kota seperti ini, cukup menguras dompet juga!


"Mana 'sih koper lo?" Akta bertanya dengan sedikit kesal. Pasalnya, kepalanya sudah kepalang pusing menatap baggage conveyor yang berjalan berisi koper para penumpang.



Agi memijit pelipisnya pelan karena juga merasakan pusing, "Warna hitam kecil,"


"Banyak! Siapa suruh lo bawa koper warna hitam? Susah untuk di kenalin!" celetuk Akta. Kalau Agi tidak memandang bulu atau statusnya sebagai seorang Kakak, bisa saja Agi menghantamkan mukanya ke ban berjalan di hadapannya sekarang.


"Punya gue paling unik, soalnya gue lukis sendiri!" Agi membela diri. Omong-omong, dia memang tidak suka kalau ada barangnya yang mirip dengan manusia lain. Dia tau bahwa koper warna hitam akan sering ditemukan di bandara, jadi ia langsung menambahkan lukisan saat baru dibeli beberapa hari yang lalu.


"Percuma jadi pelukis handal tapi muka ganteng gak di manfaatin dengan baik dan benar!"


"Ngomong sekali lagi gue tonjok lo!" Agi sudah naik pitam.


Akta menyengir, kemudian memilih diam saja. Beberapa saat kemudian, koper dengan lukisan tokoh Chapline bergerak mendekat. Agi langsung sigap menyambut koper tersebut dan menurunkannya.


Melihat itu, Akta kembali bersuara, "Apa yang memotivasi lo menggambarkan Chapline disitu?"


"Gambaran kalo gue orangnya gak suka ngomong seperti lo!" balas Agi jengah.


"Dih! Sepertinya lo harus ikut kursus hidup biar tau cara gunain anggota tubuh 'tuh gimana. Minimal, lo tau lah kalo muka ganteng 'tuh—"


"Gue tonjok lo, ya! Bahas muka mulu.. Ambil 'nih muka gue! Ambil!"


Akta kembali menyengir tak berdosa. Pikirnya, demi kelangsungan hidup di negeri orang, ia harus pandai mencari uang. Meskipun sebenarnya dari pihak keluarga tidak kesulitan. Tapi hidup dengan penghasilan sendiri merupakan sebuah nikmat yang paling indah menurutnya. Jadi, ia tidak akan berhenti memaksa Agi untuk dapat bergabung dalam kontennya. Suatu saat nanti, pasti terwujud!


"Suuutt! Kalian ini di mana-mana berantem terus. Malu dilihatin orang-orang.." Bunda berucap dengan sedikit berbisik, menunjuk beberapa orang yang menatap mereka aneh.


Ayah menghela napas berat, "Sudah. Ayo kita keluar, mobil jemputannya sudah sampai!"


Agi mengekori orang tuanya yang berjalan lebih dulu. Di sampingnya terdapat Akta yang membawa koper sedikit besar. Di dalamnya berisi pakaian Bunda, Ayah, juga miliknya. Agi memilih untuk membawa koper sendiri karena dia kurang suka kalau barangnya bercampur dengan milik orang lain.


"Lo berapa lama di Indonesia?" Agi bertanya.


Akta tampak berpikir sejenak, "Harusnya gue balik hari ini, karena sebenarnya gue ambil jatah absen 2 hari doang. Tapi karena gue udah lama gak bertemu Kakek, jadi gue nambah jatah 1 hari lagi,"


"Sulit dipercaya," Agi menggeleng pelan sembari terkekeh pelan, "Padahal Kakek akan jadi orang pertama yang lo jawab kalo ada pertanyaan siapa orang yang paling menakutkan di dunia!"


"Ssssuutt! Jangan kencang-kencang! Gue malu!" Akta tampak kelabakan. Dia merasa aneh saja kalau ada manusia lain tau, bahwa dia: cowo dengan paras tampan sejagat raya yang sudah menginjak usia 24 tahun ini takut pada Kakek.


"Lagian, Kakek suka pilih kasih! Dia cuma sayang sama lo, gak sama gue!" balasnya sedikit iri. Sebab, Kakek selalu memberikan Agi hadiah saat ia berulang tahun. Bahkan, di hari yang sama pula keluarga mereka akan rela terbang dari Jakarta ke Semarang untuk menjenguk Kakek.


"Yakin? Serius lo mikir seperti itu?"


"Gak, hehe.." Akta menyengir, "Gitu-gitu, Kakek role model gue! Meskipun gue gak sedekat lo, sih!"


Memang benar bahwa Akta tidak memusingkan perihal Kakek yang terlihat jelas menyayangi Agi ketimbang dia. Selama masa ia hidup, Akta tidak merasakan kekurangan kasih sayang dari pihak mana pun. Dia sudah merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan sekarang.


"Kita cuma sehari disana, lo gak bawa hal yang gak berguna, 'kan?" kata Akta memastikan saat matanya tak sengaja menatap koper kecil milik Agi.


"Cuma beberapa pakaian. Emang sengaja bawa koper biar ada ruang untuk kado dari Kakek," jelas Agi yang mengundang balasan mengejek dari Akta, "Baiklah, Den Agi.."


Agi penasaran, Kakek akan memberinya hadiah apa di ulang tahun kali ini. Sebenarnya, kalau dari yang sebelum-sebelumnya, kado dari Kakek memang tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kado lain yang ia terima. Tapi karena itu dari Kakek, Agi selalu menantinya tiap tahun. Kakek pernah mengatakan bahwa kado paling mengesankan akan ia dapatkan saat usianya 20 tahun. Kira-kira apa yang akan dihadiahi oleh pria tua renta itu? Agi jadi kepikiran dibuatnya!


...***...


^^^Ungaran, Semarang.^^^


^^^2 Juni 2022, 10.45 WIB.^^^


Perjalanan dari Bandara ke Ungaran cukup membuat badan terasa pegal. Beruntung mereka menggunakan mobil, bukan motor yang Agi yakini akan membuat badan remuk saat sampai disana. Pasalnya, mereka memilih rute melalui Gunung Pati, melewati kampus yang diinginkan oleh Agi untuk menimba pendidikan S1. Sayangnya, dari pihak keluarga tidak mengizinkannya untuk berkuliah di luar kota. Alhasil, sepanjang hidupnya Agi hanya menempuh pendidikan di Jakarta: kota kelahirannya.


Sekarang, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah sederhana dengan gaya Jawa. Catnya berwarna kayu, terdapat taman kecil di depan rumah yang memberikan kesan menenangkan. Kalau di bandingkan rumah-rumah lain yang sudah mereka lalui, rumah Kakek ini terbilang unik. Hanya saja letaknya sedikit jauh dari rumah warga.



"Perasaan pas terakhir kesini tamannya masih belum terurus.." ujar Agi.


Ayah menurunkan koper dari bagasi, "Sudah satu tahun, ya pasti sudah berubah!"


"Keren 'ya, Kakek? Bisa ngurus hidupnya sendiri! Padahal banyak yang bilang kalau semakin tua justru makin seperti anak kecil!" kali ini Akta yang bersuara.


"Nanti, aku mau nikmatin hari tua kayak Kakek. Ngelukis di gunung gini pasti seru!" Agi menoleh pada Bunda, "Boleh ya, Bun?"


"Terserah apa kata Adek aja.."


Bertepatan saat mobil tumpangan mereka berjalan pergi, seorang pria tua renta terlihat berdiri di daun pintu. Kakek mengenakan pakaian adat jawa berwarna hitam, lengkap dengan blangkon yang melekat di kepala. Pemandangan demikian memang sudah menjadi kebiasaan kala berkunjung ke rumah Kakek. Kakek sangat mencintai budaya dan adat Jawa, juga masih mempercayai beberapa kepercayaan lama.


"Kakeeeek!"


Agi berlari, menghambur ke pelukan pria tua renta itu. Kakek menerimanya dengan hangat. Tangan keriputnya mengucap kepala Agi dengan lembut, "Selamat berulang tahun, anak kecil. Semoga di beri hati yang luas; luas sabar, maaf, dan ikhlas atas semua hal yang tidak berjalan sesuai keinginan.."


Sungguhan, Agi terlampau menyayangi keluarga ini.


"Terima kasih, Kakek!" Agi melepas pelukannya, "Kakek sehat?"


"Sehat. Masih bisa jalan-jalan besar, meskipun pelan.."


"Gapapa 'kok, Kek. Gak ada yang meminta cepat!"


Kakek tertawa mendengarnya.


Meskipun tidak selalu bersama Agi setiap hari, Kakek turut memperhatikan perkembangan manusia ini yang sampai kapan pun akan selalu kecil di matanya. Agi masih sama saja seperti dulu. Dia kurang suka berbicara, tapi Kakek tahu bahwa kepala kecilnya itu menyimpan berbagai kalimat dari dasar hati yang apabila diucapkan akan terdengar lucu.


"Kek.." Akta menyapa, menyingkirkan segala perasaan ragu dan takut dalam dirinya.


Kakek menoleh, tersenyum simpul dan memeluk cucu tertuanya itu, "Terima kasih sudah mau ikut kesini. Bagaimana misi bertahan hidup mu, anak besar?"


"Masih baik-baik aja, Kek. Akan lebih baik lagi kalau Kakek mau bantu aku membujuk anak kecil ini untuk bekerja sama.."


Balasan Akta mengundang gelak tawa oleh yang lain. Akta memang terlihat tidak putus asa sekali untuk membawa Agi membuat konten bersamanya. Sebenarnya bukan karena alasan uang saja, dia akan menjadikan kesempatan itu untuk merekam kenangan bersama adik satu-satunya ini. Sepanjang hidup, mereka tidak punya banyak kenangan yang tersimpan di kamera. Hanya beberapa, itu juga terlihat jelas dari wajah Agi kalau dia ingin mengakhiri video itu dengan cepat. Bagi Akta, Agi tidak pernah bisa memberikan jawaban yang jelas saat ditanya mengapa sangat benci terekam kamera.


"Bagaimana kabar mu, Nak? Badara merawat mu dengan baik?" Kakek beralih pada Bunda.


"Terima kasih, Badara. Ayah harap, kamu bisa mencintai anak Ayah sebaik-baiknya Ayah mencintai Ibunya.."


"Baik, Ayah.."


Setelah sesi sapaan itu, mereka masuk ke rumah Kakek. Tidak banyak yang berubah, semua masih terasa sama seperti terakhir kali Agi bertandang. Sofa dari yang semula ada di pojok kanan ruangan, beralih ke pojok kiri. Hanya itu saja. Sepertinya Kakek mengincar tempat dekat jendela, agar lebih terasa sejuknya.


Agi sudah hilang peduli dengan kadonya. Baginya, kehangatan yang ia dapatkan di keluarga ini sudah lebih dari cukup. Sudah, begini saja. Keluarga akan menjadi pilihan kedua setelah lukis yang akan ia datangi saat dunia terlalu kejam untuk dirinya yang mudah rapuh.


...***...


^^^Ungaran, Semarang.^^^


^^^2 Juni 2022, 23.20 WIB.^^^


Ternyata, itu hanya sementara.


Agi kembali penasaran dengan kado yang harusnya sudah ia terima seperti yang sudah-sudah. Tidak terhitung berapa kali ia menanyai Kakek mengenai kado, pria tua renta itu selalu mengalihkan topik lain. Terlihat jelas sekali sengaja mengulur waktu, atau memang tidak ada kado untuknya?


Saat anggota keluarga yang lain sudah tidur pun, Agi tidak berhenti menyodorkan Kakek pertanyaan yang sama. Sampai-sampai, beliau tidak bisa tidur di buatnya.


"Baiklah.." Kakek menghela napas pelan, "Tolong ambilkan teko dan cangkir yang ada di sebelah vas bunga dapur, ya.."


"Untuk apa?" Agi tidak langsung bergerak.


"Kamu temani Kakek nge-teh dulu.."


Agi bersuara, "Lalu? Gimana dengan kado ku?"


"Nanti, pasti kamu akan dapat.."


"Sungguhan 'kan, Kek?"


"Iya.." Kakek gemas sendiri, "Sekarang tolong ambilkan dulu, ya.."


Tanpa berpikir panjang, Agi berjalan menuju dapur. Mengambil teko dan cangkir yang di maksud dan membawanya ke hadapan Kakek.


"Duduk.." Agi menurut. Matanya menyoroti pergerakan Kakek yang menuangkan air ke cangkir.


"Katanya teh, tapi 'kok gak ada warnanya?" tanya Agi penuh penasaran.


Kakek tersenyum simpul. Beliau menyodorkan cangkir tersebut kepada Agi, "Minum lah.."


"Apa?" Agi menghela napas lelah, "Kakek.. aku gak mau minum, aku hanya ingin kado!"


"Kakek akan berikan kalau kamu sudah minum.."


"Sungguhan, ya?"


Melihat Kakek yang mengangguk, Agi tidak ambil pusing lagi. Ia langsung meminum air tersebut hingga tandas.


"Bagaimana rasanya?"


Agi bergidik tidak peduli, "Sama saja seperti air pada umumnya. Sekarang ma—"


Tunggu. Kenapa perutnya tiba-tiba sakit? Sudah. Agi tidak tahan!


"Kek, aku ke belakang!"


Agi langsung berlari menuju toilet dan menduduki kloset. Dia sudah tidak tahan, ia harus mengeluarkan semua ini!


'Ah! Air apaan yang barusan gue minum? Jelas-jelas rasanya biasa aja, tapi cukup bikin gue mules seperti ini. Habis ini gue mau hakimin Kakek karena sudah jahilin gue!' batin Agi kesal.


Tidak lagi ingin mengotori hati dengan perasaan kesal pada Kakek, Agi memilih untuk menuntaskan panggilan alamnya yang mendadak. Ia memanggu dagu, menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih. Pikirannya melayang entah kemana.


'Hiks.. hiks..'


Agi tersentak kaget. Tangis siapa yang memasuki telinganya di saat seperti ini? Bukankah hanya ada dia? Lagipula, ini terdengar seperti suara perempuan.


'Kenapa sih aku gak bisa lolos? Aku sudah mengusahakan yang terbaik untuk ini!'


'Aku harus berusaha sekeras apalagi?'


"Siapa disana!?" Agi kebingungan sekaligus takut. Suara itu semakin jelas ia dengar.


'Aku.. capek..'


"Keluar! Jangan macem-macem!"


'Bisa gak kamu jangan ganggu? Berisik! Hiks.. hiks..'


Agi mengerjap kaget. Bulu kuduknya berdiri ngeri saat menyadari bahwa ia tidak sendiri, "L-lo.. ngapain disini? Lo gak lihat gue sedang apa!?"


'Aku sudah bilang, diam! Aku bisa membunuh mu seperti yang ku lakukan pada teman-teman mu!'


"Hah? APASIH? GILA LO YA??" Agi memekik takut. Kenapa pembahasannya jadi ke pembunuhan?


'Diam dan pergi dari sini! Kalau gak, aku bisa membunuh mu dalam 3 detik,'


'Satu..'


"APASIH? INI RUMAH KAKEK GUE! LO YANG PERGI!!!"


'Dua..'


'Kamu kelihatan enak kalau di panggang..'


"GILA NI CEWEK! GAUSAH NGATUR! KALO BERANI, TUNJUKIN MU-"


'Ti.. ga!'


"AAAAAA KAKEKKK!"


Sontak saja Agi berlari keluar toilet dengan perasaan takut. Untung saja ia sempat memanfaatkan waktu beberapa detik untuk membersihkan diri. Ia berbelok menuju ruang tamu dan langsung menuju Kakek yang terlihat damai membaca buku—entah datang darimana. Agi mengguncang tubuh Kakek penuh dengan rasa penasaran.


"Kakek! Beri tahu aku! Apa semua ini? Aku mendengar suara perempuan yang menangis dan ia mengatakan akan membunuh ku. Katakan! Apakah di toilet ada penunggunya?" tanyanya cepat.


Kakek tersenyum simpul. Beliau menatap penuh arti, kemudian menjawab,


"Mulai sekarang kamu mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik mu. Suara yang kamu dengar adalah suara perempuan yang akan menjadi jodoh mu kelak. Selamat berpetulang di Rumah Gerbera, cari dan bawa lah dia pulang."


...***...