Welcome To Gerbera

Welcome To Gerbera
PART 1: Lukisan Astungkara




...***...


^^^Jakarta Selatan, Indonesia.^^^


^^^8 Agustus 2022, 10.40 WIB.^^^


Hari senin adalah hari yang paling ingin Agi hapuskan kalau memang bisa. Sebab, kelasnya terlampau padat hingga pukul 6 sore.


Agi berjalan keluar kelas, menyusuri lorong fakultas dengan langkah gontai. Dia tidak akan langsung pulang, lebih memilih untuk ke kantin fakultas sekedar mengisi perut. Kalau pulang, takut menguras tenaga karena ada kelas lagi pukul 1 siang ini.


"Agi!" sebuah tepukan ringan mendarat di bahu kanannya dari arah belakang. Kara datang bersama Daksa, lengkap dengan tas yang tersampir di bahu mereka.


"Yoi! Aman?" Agi menyambut dua temannya itu dengan senyum sumringah.


"Gak begitu bagus. Kita tadi telat kelas Pak Aris!" Daksa mendesah pelan, "Gue gemetar tiap berhadapan sama beliau. Sungguhan!"


"Apalagi gue, ih! Pak Aris sarapannya batu es kali, ya?" timpal Kara. Terlihat jelas penyesalan dari rawut wajah dua manusia itu.


Agi terkekeh, kemudian merangkul keduanya, "Sudah, belajar dari pengalaman! Yuk, kantin!"


"Kemana Bian?"


"Kelasnya dialihin jadi online, dia baru ke kampus nanti siang," jawab Agi yang diangguki oleh keduanya.


Mereka berjalan menuju kantin fakultas yang diselipi perbincangan ringan. Ketiganya memang ada di fakultas yang sama, berbeda dengan Bian yang fakultasnya ada di pojok belakang: teknik. Meskipun demikian, Bian sering menyambangi mereka di fakultas seni kalau memang ada waktu.


"Hari ini gue mau skip mie ayam kantin, meskipun enaknya tiada dua!" Kara berjalan menuju kantin tiga yang menyediakan menu berupa ayam katsu.


Daksa tertawa melihatnya, "Tumbenan! Lo kayak biasa, Gi?"


"Iya. Tolong ya, Sa!"


"Aman!"


Selang beberapa menit, Kara dan Daksa datang membawa makanan mereka. Agi menerima mie ayam yang disodorkan oleh Daksa dengan mengucapkan terima kasih. Mereka pun menyantap sarapan mereka dengan khidmat.


Mereka menyebutnya sarapan, karena memang belum sempat makan apa-apa sebelum kelas.


"Oh iya, Gi!" Kara teringat sesuatu, "Kemarin ada yang nitipin lo kado. Katanya dalam rangka ulang tahun!"


"Siapa, Kar? Dia telat dapat informasi, ya? Ulang tahun Agi 'kan sudah dua bulan yang lalu!" celetuk Daksa.


"Katanya, sudah nyiapin dari lama tapi takut untuk ngasih. Akhirnya dia milih untuk nitip ke gue,"


Mendengar itu, Agi bersuara, "Mana?"


"Lo mau terima?"


"Gak masalah. Selagi niatnya baik, akan gue hargain,"


Kara mengeluarkan sebuah kotak kado berukuran sedang berwarna putih, menyodorkannya pada Agi, "Jangan lupa kirim bukti sama kadonya ke gue nanti!"


"Buat?"


"Laporan kalau misi sudah selesai. Supaya orangnya bisa kasih penilaian bintang lima!" tutur Kara, kemudian menyeruput es tehnya.


"Sekarang aja,"


Agi bersiap membuka kadonya, tapi Daksa sempat berucap, "Eits! Jangan di buka disini! Lo buka nanti aja kalau lagi sendiri. Lagipula, kalau gue ada di posisi orang itu, akan lebih senang kalau kadonya cuma crush gue doang yang lihat!"


"Wih! Pinter lo, Daksa!" pekik Kara yang mengundang raut bangga Daksa. Mendengar itu, Agi mengangguk membenarkan. Ia memasukkan kado tersebut ke dalam tas dan mengucapkan terima kasih pada Kara.


Menyadari kenyataan bahwa sahabat kecilnya ini sangat digandrungi para wanita, Kara menggeleng sedikit tidak percaya. Padahal, Agi bukan jenis manusia yang pandai berbicara, atau sekedar menebar pesona demi menarik perhatian manusia lain. Lelaki itu bisa bersinar dengan caranya sendiri, tidak pula harus melakukan usaha yang berlebih. Kalau memang boleh menukar diri, Agi akan menjadi pilihan pertamanya untuk diajak bertukar. Sebab, kehidupan Agi ternilai menyenangkan di matanya.


"Nih 'ya, Gi.. Kalau gue jadi lo, gue udah gonta-ganti cewe tiap minggu!" kata Daksa yang diacungi jempol oleh Kara.


Agi terkekeh pelan, "Gak ada untungnya, Sa.."


"Bukan persoalan tentang untung atau rugi. Tapi tentang kebutuhan batiniah yang gak mungkin bisa menampung segala masalah sendirian. Emang lo gak pernah merasa kesepian?"


"Dengan adanya Bunda, Ayah, Bang Akta, Kakek, dan kalian udah lebih dari cukup," tutur Agi. Ia melahap suapan kesekian mie ayamnya.


Kara menyentuh dadanya yang menghangat, "Gue akuin itu romantis, tapi lo gak bisa ngelak suatu saat nanti pasti butuh seorang tambatan hati!"


"Suatu saat nanti, kan? Bukan sekarang?"


Kara dan Daksa sama-sama menghela napas berat. Mereka sebenarnya tidak ada keinginan untuk memaksa Agi mempunyai pacar, atau sekedar merespons setidaknya satu dari banyaknya gadis yang menggilai dia. Selain Kara dan Daksa, Bian juga kerap kali menjadi sasaran para gadis penggila Agi. Entah untuk menanyai makanan kesukaan lelaki itu, keberadaan dan kabarnya, maupun segala hal lain tentang Agi. Namun, akan merasa gemas sendiri kalau temannya ini akan terus begini.


"Omong-omong, kado barusan dari Deana: putri jurusan Sejarah," kata Kara, murni memberikan informasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh Agi. Sekaligus menjawab pertanyaan Daksa.


Agi mengangguk mengerti, meskipun ia tidak tahu bagaimana rupanya, "Terima kasih. Tolong sampaikan, lain kali gak perlu repot-repot,"


"Eh, jangan!" Daksa menahan, "Nanti kalau ada kado atau makanan lagi, terima aja. Kalau gak mau nampung, kasih ke kita! Kita itu harus menghargai manusia yang menyukai kita, Gi. Manatau mereka sudah mengupayakan banyak hal untuk itu!"


"Lo emang jago merangkai kata-kata, ya?" Kara terkekeh pelan, "Tapi 'kok gak ada yang naksir lo, sih?"


"Diam lo, Kar!"


Agi hanya tertawa pelan mendengarnya. Kalau di pikir-pikir, memang tidak ada salahnya menerima pemberian orang. Setidaknya, Agi harus menghargai usaha mereka tanpa harus memberikan harap.


'Kado dari cewe itu mana, ya? Apa dia udah gak lagi suka gue?' Agi membatin saat kepalanya melayang pada kado-kado terdahulu yang paling terakhir sampai padanya. Mengapa kali ini tidak ada lagi kado dari puan bernama Gachidene itu?


...***...


^^^Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.^^^


^^^8 Agustus 2022, 18.45 WIB^^^


Untuk kesekian kalinya, Nala menghela napas berat. Sebab, pesawatnya sudah landing sejak 15 menit yang lalu, namun jemputannya belum juga tiba.


Sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya, Nala terbang ke Jakarta untuk melakukan pengobatan. Kali ini akan dilakukan oleh Dokter Hani: teman Librasih yang mengabdikan dirinya di sebuah rumah sakit di Jakarta. Nala tahu pengobatannya akan membutuhkan waktu lama, jadi ia memutuskan untuk terbang langsung agar memudahkan kedua belah pihak.



...***...



Meskipun demikian, Agi tetap menurut.


Lelaki itu memasukkan handphonenya ke saku jaket, keluar dari mobil dan berjalan memasuki bandara. Langkahnya tertuju pada outlet toko roti yang dimaksud. Ia memesankan kopi untuk Akta dan dirinya, juga beberapa roti sekedar mengganjal rasa lapar.


Usai kelas terakhirnya hari ini, Agi langsung berangkat menuju bandara untuk menjemput Akta. Abangnya itu memilih pulang karena banyak kelas yang dilangsungkan secara online. Setidaknya, ia bisa bertahan di Indonesia selama sebulan. Agi masih lengkap depan pakaiannya dari pagi saat berangkat ke kampus, juga dengan tas gendong hitam yang sengaja ia tinggal di mobil. Habisnya, dia tidak ada waktu untuk kembali ke rumah meskipun jaraknya tidak begitu jauh. Beruntungnya Agi membawa parfum, jadi baunya tidak begitu buruk meskipun belum mandi sore.


"Totalnya 98 ribu, Mas!"


Agi mengeluarkan kartunya untuk melakukan pembayaran. Setelah selesai, ia menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruangan, mencari tempat yang strategis untuk menunggu Akta.


Berhubung malam ini kondisi toko lebih ramai dari saat terakhir Agi datang, tempat biasanya sudah lebih dulu di duduki manusia lain. Pandangannya terhenti pada kursi kosong di samping seorang gadis seumurannya yang menggunakan kemeja putih. Tanpa berpikir panjang, Agi menduduki kursi tersebut.


Di sisi lain, Nala menggigit bibirnya karena belum ada kabar dari supir yang dikirimkan Mamanya. Nala jadi takut bahwa ia akan menjadi gelandangan di Jakarta!


Kesibukannya dalam berpikir buyar saat seseorang menduduki kursi kosong di sampingnya. Ah, tidak. Tepatnya dijaraki oleh satu kursi kosong. Hal yang menjadi perhatian Nala bukanlah lelaki itu, melainkan wangi sesuatu yang berhasil menembus indra penciumannya.


"Apa ini? Hidungku kenapa?" Nala membeo, ia menekan hidungnya dengan tidak percaya.


"Aku sudah bisa mencium sesuatu?" sambungnya antusias, "YES! YES! BALIK KE SURABAYA! GAK JADI GELANDANGAN!"


Nala memekik keras, tidak memperdulikan banyak pasang mata yang melihatnya. Termasuk Agi yang menduduki kursi di sampingnya, menatapnya bingung dengan penuh tanya.


'Gadis gila spesies mana lagi ini?' seperti itu pemikiran Agi.


Perhatian Agi teralihkan pada layar handphone gadis itu yang menyala, menampilkan notif pesan baru. Yang menjadi perhatiannya bukan isi pesan tersebut, melainkan locksreen yang terpasang adalah salah satu dari lukisannya.



Entah perasaan apa ini, dada Agi menghangat melihatnya. Ada suatu kebanggaan saat melihat karyanya di apresiasi oleh orang lain. Senyum kecil itu mengembang kala menyadari bahwa ternyata masih ada segelintir orang yang melihat dia sebagai pelukis, bukan seorang manusia berparas tampan.


"Kamu lihat? Kamu lihat?" Nala mengguncang tubuh Agi dengan kuat, "Aku sudah bisa mencium sesuatu! Wah! Ini wangi bangeeet!"


Agi melongo ditempatnya. Gadis ini sama sekali tidak memperdulikan pesan baru yang masuk. Ia justru mengendus-endus tubuh Agi dengan penuh semangat, membuat Agi bergidik ngeri melihatnya. Senyuman yang terpancar cerah, justru menguatkan pendapat Agi mengenai kegilaan gadis ini.


Agi berdehem keras untuk menyadari Nala, "So-"


"Eh? Maaf!" Nala tersadar dan merasa sangat tidak nyaman. Ia merutuki dirinya dalam hati sambil sesekali memukul kepalanya pelan. Agi tersenyum geli dibalik masker hitamnya. Pandangannya menyoroti pergerakan gadis itu diam-diam.


Kalau bertemu manusia baru yang menyukai lukisannya, Agi jadi penasaran. Dia ingin bertanya mengapa lukisannya yang sudah lama itu bisa disukai gadis ini.


"Maaf.." Agi mulai bersuara, "Boleh ngomong?"


Nala menoleh dan mengangguk singkat, "Ada apa?"


"Lockscreen mu bagus," kata Agi sebagai suatu awalan.


"Benar! Bagus, 'kan?" Nala terlihat semangat menunjukkan lukisan tersebut pada Agi. Terlihat sekali bahwa ia senang dilemparkan pertanyaan demikian.


"Terima kasih untuk pujiannya!" Nala tersenyum simpul, "Dari sekian banyaknya lukisan Agi, itu yang paling aku suka!"


"Agi?"


"Iya. Ini lukisan dia. Sembagi Arutala,"


Agi tampak sedikit mendekat, mulai tertarik dengan topik pembicaraan ini, "Tell me more about him. That 'Sembagi Arutala' boy," katanya, bertingkah seolah minim pengetahuan tentang pelukis muda itu.


Nala mengangguk antusias, membenarkan duduknya dan mulai bercerita tentang Agi.


"Sembagi Arutala. Namanya aja sudah bagus banget, kan? Sepertinya, dia memang dilahirkan untuk seni. Manusia lain sering menyebutnya Agi, jadi aku juga ikutan meskipun belum pernah bertemu. Aku sudah mengikuti dia sejak 5 tahun yang lalu, saat aku melihat lukisan Astungkara ini di Kota Lama. Melalui lukisan ini, Agi ingin memberitahu dunia bahwa manusia hidup dalam arus waktu. Semuanya di kendalikan oleh Semesta, pemegang kendali penuh atas kehidupan manusia. Itu sebabnya, manusia harus mempunyai kecintaan terhadap diri sendiri agar dapat bertahan dengan ketetapan Semesta!" tutur Nala singkat, padat, dan jelas. Sepanjang ucapannya, Agi sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari tiap lekuk wajah gadis itu.


Cantik. Dia terlihat bahagia saat menceritakan tentang Agi pada Agi di dunia nyata. Gadis ini terlihat sangat memahami tiap makna yang ia siratkan dalam kanvas.


"Kalau begitu, Agi ingin mengajari manusia cara mencintai diri sendiri?" tebak Agi, meskipun dia sudah tau jawabannya.


Nala mengangguk cepat, "Yaps! Kamu keren bisa nangkap!"


"Kamu juga keren, bisa menjelaskan dengan singkat dan mudah di pahami," balas Agi. Dia menyambung, "Kenapa kamu gak ragu saat orang lain mengajak mu ngomong seperti ini?"


"Gak ragu, karena kamu kelihatan bukan orang jahat," kata Nala. Ia kemudian menyerut es coklatnya.


Agi tersenyum hangat, "Terima kasih. Terima kasih juga sudah bercerita tentang Agi,"


"Terima kasih sudah bertanya. Aku senang kalau ada manusia lain yang bertanya tentang Agi,"


"Kenapa seperti itu?"


"Karena aku ingin dunia tau kalau ada manusia sebaik dan sehebat Agi. Aku ingin mereka semua tahu, kalau ada yang berharga seperti dia,"


Jantung Agi terasa berhenti berdetak. Darahnya berdesir hebat, seperkian detik kemudian mulai menghangat di ulu hati. Rasanya tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Agi terlampau bahagia bahwa ternyata ada manusia yang menghargai keberadaannya, selain keluarga dan 3 temannya sekarang.


"Maaf. Dengan Nona Arnala Asmaralaya?" sebuah suara mengintrupsi perbincangan mereka. Baik Agi maupun Nala sama-sama menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pria berbadan tegap yang mengenakan pakaian hitam khas bodyguard yang menatap Nala penuh tanya.


Nala mengangguk, "Benar. Maaf, tadi saya lupa mengabari kalau menunggu disini, Pak.."


"Tidak apa-apa, Nona. Mari, saya antarkan ke apartemen sesuai perintah Nyonya.."


Mendengar itu, Nala segera mengemasi barang-barangnya. Memberikan kopernya pada orang tersebut dan bersiap untuk pergi.


"Senang berbincang dengan mu. Semoga hari mu minggu terus, ya!" Nala melemparkan senyum manisnya pada Agi, meskipun ia tidak tahu bahwa itu adalah Agi yang selama ini ia sukai.


Di sisi lain, Agi membalas senyum hangat itu dengan baik. Matanya menyorot punggung Nala yang mulai mengecil semakin jauh.


Arnala Asmaralaya. Nama itu akan menjadi nama yang akan ia ingat saat bangun tidur, akan ia bawa pula ke alam mimpi bersama paras cantik sang puan.


...***...