
^^^Jakarta Selatan, Indonesia.^^^
^^^1 Juni 2022, 23.45 WIB. ^^^
...***...
"Beneran 'kan dia udah tidur, Kak?"
"Iya, Bun! Tadi udah aku cek berkali-kali!"
"Kok bisa 'ya dia tidur padahal bentar lagi ulang tahun?"
"Katanya, makin tua makin gak peduli. Kalo dengan bertambahnya usia, masalahnya makin berkurang, baru dia senang!"
"Lho terus? Percuma dong kita nyiapin ini semua?"
"Gapapa, Bun. Yang penting kan kita udah berusaha. Biar keliatan kayak keluarga cemara!"
"Hush! Emang keluarga kita bukan keluarga cemara?"
"Sudah! Kapan kita ngagetinnya? Ayah lapar, mau makan kue buatan Bunda!"
Tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya perbincangan tiga manusia itu sudah tertangkap oleh telinga target. Pemuda dengan piyama tidur itu tertawa terkikik dari dalam kamar. Dia tau suara adu mulut itu berasal dari tiga penghuni rumah yang lain: Ayah, Bunda, dan saudara laki-lakinya yang lebih tua yang berencana untuk memberinya kejutan. Hal seperti ini selalu terjadi di penghujung hari pertama di bulan Juni, menghitung beberapa menit menuju pergantian hari.
"Sebentar lagi, Kak!"
"Ayah, siap? Bunda? BUNNN KUENYA MIRING!"
"Suuttt! Tangan bunda pegal, kamu aja yang pegang!"
"Udah? Satu, dua, ti-"
'BAAAA!'
"AAAAA! HANTU HANTUUUU!"
"HAHAHAHA!"
"ADEEEEK!!!"
Agi tertawa terbahak-bahak melihat wajah terkejut keluarganya, terutama saat sang Bunda terlihat kesal dengan topi ulang tahun yang terpasang di kepala. Ayah menggelengkan kepalanya berkali-kali sembari mengelus dada penuh sabar, seolah sudah terbiasa dengan hal yang demikian. Sedangkan Akta tampak menahan diri untuk tidak melayangkan tonjokan ke muka si pelaku.
Bunda mendekat cepat, menjewer telinga Agi dengan kesal, "Kamu tuh, ya! Tau gak itu bahaya untuk kesehatan kami para orang tua!?"
"AKKKK! IYAA MAAF BUNDAA, MAAF AYAH!" Agi mengaduh sakit. Tapi sungguhan, jeweran Bunda lebih sakit daripada jatuh dari sepeda.
"Makanya, lebih baik kamu gak ada ulang tahun!" Ayah bersuara.
"Lho, berarti aku gak usah lahir dong?"
"Iya, mending kamu di perjualbelikan aja!"
"AYAH!!!"
"Wleee, bakal di jual. Huuu!" Akta mengejek dengan penuh rasa puas. Habisnya, usaha mengejutkan adiknya ini sudah gagal. Padahal dia sampai rela memanfaatkan jatah absen kelasnya untuk kembali ke Indonesia dua hari.
"Diem lo, jelek!"
"Di antara kita gak ada yang jago akting, Bun.."
Ayah terkekeh pelan, "Sudah, ini sudah jamnya. Selamat ulang tahun jagoan Ayah. Perasaan baru kemarin kamu jatuh dari sepeda, sekarang sudah kepala dua saja.."
Agi tersenyum mendengarnya, hatinya menghangat. Kalau Ayah saja kaget dengan pertumbuhannya yang terasa cepat, apalagi Agi. Dia malah sering kepikiran 20 tahun hidup di bumi ngapain aja.
"Terima kasih Ayah udah ngajarin adek naik sepeda, sampai sekarang bisa upgrade ke motor. Semoga kerjaan Ayah lancar, biar bisa beliin motor baru.." balas Agi yang diakhiri dengan cengengesan.
"Ngelunjak ya satu ini!"
"Nanti Bunda beliin motor baru, kalau sudah hujan duit!" celetuk Bunda, mengundang gelak tawa dari yang lain; kecuali Agi. Dia cemberut sedikit sebal, tapi hatinya menghangat. Bunda mengusap kepala Agi dengan lembut, lalu menyambung, "Selamat menua ya, Nak. Terima kasih sudah berjuang sejauh ini. Kalau dunia ini jahat dan gak ada yang siap sedia untuk merengkuh mu, datangi Bunda. Bunda akan selalu ada untuk kamu.."
"Bunda.." Agi memeluk wanita paruh baya itu penuh sayang. Sungguh, Agi tidak begitu menanti hari ulang tahunnya. Sebab, dia tahu akan ada sesi seperti ini; saat keluarganya mengucapkan selamat berulang tahun yang diiringi berbagai harap. Agi mengira bahwa mereka menganggap hari itu adalah hari perpisahan, padahal tidak ada yang harus di tinggal menurutnya.
"Gak terasa, ya? Perasaan baru kemarin kamu nangis pas Bunda tinggal di playground!"
"BUNDAAAA!"
"Parah lo, cengeng!" Akta menyeletuk sembari tertawa puas.
"Diem lo, jelek! Lo gak mau ngucapin gue apa?"
Akta menepuk pipi Agi berkali-kali dengan gentle, "Hbd sob, semoga tahun ini gak minjam semp*k gue lagi!"
"Gue gak pernah minjem punya lo!"
"Ada! Pas lo gak sengaja pipis waktu itu!"
"Please, itu pas gue umur 8 tahun! It's been a while, you know!?"
"Yaudah, sih. Intinya semoga hidup lo makin jaya! Asal lo sering masuk konten gue aja, kita bakal kaya dalam waktu satu bulan!" kata Akta dengan penuh harap.
Agi menggeleng keras, "Dih, ogah! Mau manfaatin gue? Tidak semudah itu, sob!"
"Lo 'tuh di kasih muka ganteng percuma kalo gak di gunakan dengan baik dan benar!"
"Lo—"
"Sudah, sudah. Kalian ganteng karena Ayah ganteng. Sekarang ayo kita makan, Ayah lapar!"
"Ayaaaah!"
Namanya Sembagi Arutala. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, manusia lain sering memanggilnya Agi. Dia terlahir sebagai anak terakhir di keluarga yang hanya diisi oleh empat orang ini; Bunda, Ayah, dan Abangnya yang bernama Akta. Antara dia dan Akta hanya terpaut usia empat tahun. Agi tengah menempuh pendidikan sebagai seorang mahasiswa tingkat pertama di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta dengan mengambil program studi Seni Rupa. Dia jatuh cinta dengan dunia seni sejak di bangku TK, terutama dengan kegiatan yang berkaitan dengan kanvas. Sedangkan Akta, ia berkuliah di Australia sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kesibukan lainnya sebagai seorang konten kreator yang kerap kali menghiasi wajah tranding di Youtube. Kontennya tidak jauh dari misi bertahan hidup di negeri orang.
Kalau membahas mengenai pertemanan, tidak begitu buruk. Ia memiliki seorang sahabat sejak kecil yang masih akrab hingga sekarang, namanya Kara. Mereka berkuliah di kampus yang sama, hingga bertemu dengan dua manusia baru yang bernama Sabian dan Daksa. Kara dan Daksa dari seni musik, sedangkan Sabian dari Arsitektur.
Disamping statusnya sebagai seorang anak dan mahasiswa, Agi merupakan pelukis muda yang di gandrungi wanita karena parasnya yang tampan. Awal mulanya ketika ia tidak sengaja masuk dalam konten video Akta, saat ia menemani cowok itu belanja bulanan di Australia tahun lalu. Semenjak itu, banyak yang menyorotnya. Meskipun semakin di kenal banyak orang, Agi tidak merasa senang atau pun di untungkan. Sebab, mereka menyukainya bukan karena lukisannya, tapi karena paras yang dianugrahi oleh Tuhan untuknya.
Agi dengan dunia lukis merupakan satu kesatuan yang utuh. Melukis adalah kegiatan yang akan ia datangi dalam keadaan apapun; senang, sedih, kecewa, marah, dan berbagai rasa lainnya. Bagi Agi, pelukis adalah manusia yang paling mudah ditebak perasaannya. Sebab, seorang pelukis akan mencurahkan isi hatinya melalui goresan kanvas saat kata tak bisa mewakili. Berhubung Agi bukan jenis manusia yang pandai menulis, ia merasa diterima saat mengenal dunia lukis. Di dalamnya Agi mendapatkan ketenangan yang tidak ia dapatkan di tempat lain.
Beruntungnya lagi, Agi hidup dalam keluarga yang tidak mempermasalahkan pilihannya. Padahal, seni dan kedokteran merupakan dua hal yang berjauhan. Ayahnya: Badara, merupakan seorang dokter yang berhasil mendirikan tiga rumah sakit swasta di negeri ini. Sedangkan sang Bunda: Isyana, berprofesi sebagai seorang perawat. Sungguh pasangan yang serasi, bukan?
Sudah, seperti ini saja. Keluarga dan dunia lukis adalah dua hal yang akan ia pilih untuk di selamatkan kalau saja dunia ini akan hancur.
...***...