
...***...
Nala mengunci layar handphone, memilih untuk menonton televisi di ruang tengah agar memudahkan apabila tutornya sudah datang.
Sesuai dengan apa yang telah ditetapkan, Nala tetap belajar untuk menunjang kelolosannya mengikuti pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri tahun depan. Maka dari itu, sang Mama mengutus seorang tutor untuk dapat membantunya meskipun tengah berada di Jakarta. Akan sangat di sayangkan kalau gadis itu tidak belajar selama disini, sebab Nala tidak akan kembali dalam waktu dekat. Dia akan menatap untuk beberapa lama.
'Ting tong!'
Nala segera menuju pintu, mengecek dari lubang kecil untuk melihat pelaku pemencet bel kali ini. Seorang gadis berambut coklat tampak berdiri, lengkap dengan tas gendong yang tersampir di bahunya. Nala bisa kira bahwa mereka seumuran, atau bisa saja lebih tua satu atau dua tahun darinya.
'Mama gak ada bilang kalau dia masih muda..' batinnya. Nala langsung membuka pintu, menampilkan senyum terbaiknya.
"Halo! Nala, ya?" tebaknya. Nala semakin yakin umur mereka tidak terpaut jauh.
Nala melambaikan tangannya, "Iya. Kamu tutor yang dikirimkan Mama?"
"Yaps!" gadis itu mengulurkan tangannya untuk berjabatan, "Panggil aja Sandra. Kita seumuran,"
Sesuai tebakan. Hal itu membuat Nala sedikit lebih lega, karena dia tidak akan merasa digurui, namun justru seperti belajar bersama. Nala menjabat tangan Sandra dengan antusias, "Nala! Nice to see you! Ayo masuk!"
Sandra mengekori Nala dari belakang, berjalan menuju ruang tengah yang berukuran sedang.
"So, lo mau belajar untuk persiapan ujian masuk tahun depan?" Sandra bertanya sebagai suatu awalan.
"Iya. Soalnya semalam aku kurang persiapan, jadi belum rezeki.."
"Gue udah sempat lihat transkrip nilai lo. Itu sebenarnya udah bagus banget tau! Kalau untuk ukuran UI, bisa aja!"
"Aku semalam mengajukan SNMPTN ke Psikologi UI, sudah optimis banget akan lolos. Tapi karena memang sifatnya sulit di tebak, aku kecolongan," tutur Nala.
Sandra mengangguk mengerti, "Maksudnya, karena sudah optimis akan lolos, jadi lo gak ada persiapan untuk SBMPTN?"
"Iya. Waktu itu juga aku disibukkan sama lomba KSN dan ujian sekolah, jadi belum bisa membagi waktu dengan baik. Aku kaget saat pengumuman bahwa ternyata aku dapat tulisan merah, bukan biru. Aku sudah berusaha mengejar materi dalam waktu 2 minggu menuju hari test. Aku hampir dapat, sayangnya nilainya kurang sedikit. Sudah coba jalur mandiri juga, tapi karena aku ujian dalam keadaan hopeless, jadi kurang maksimal.." Nala menghela napas pelan, namun seperkian detik kemudian, ia memasang wajah menggebu-gebu, "Aku tahu yang perlu dibenahi itu diri ku sendiri. Jadi aku gak akan menyerah semudah itu!"
"Wah! Keren! Sungguhan!" Sandra mengacungkan dua jempolnya dengan wajah berseri. Bersyukur bahwa muridnya ini bukan jenis manusia yang hilang harap, sehingga ia tidak perlu repot berusaha agar Nala semangat.
Nala terkekeh pelan, "Terima kasih! Omong-omong, kamu sekarang kuliah?"
"Yaps! Gue sempat lolos SBMPTN di Manajemen UI dengan nilai sempurna, tapi gue tolak karena gue lebih milih swasta,"
"Hah? Kamu serius?"
"Iya. Lo gak salah dengar, kok!" Sandra tertawa melihat wajah Nala yang terlewat kaget. Hal ini sudah biasa baginya. Manusia lain yang mendengar ini juga pasti akan sama dengan Nala sekarang.
"Karena gue sudah masuk di kampus itu lama sebelum SNM & SBM dibuka. Gue sudah bayar sampai puluhan juta. Berhubung gue bukan dari keluarga yang kaya banget, jadi gue gak mau orang tua gue merasa sia-sia," jelas Sandra, mengundang anggukan mengerti oleh Nala.
"Lalu, tujuan kamu ikut SBMPTN.. untuk apa?" Nala masih tidak mengerti satu hal ini.
"Untuk gue yang sekarang," Sandra mengulas seutas senyum penuh ambisi, "Gue gak akan bisa jadi tutor lo kalau gak dapat embel-embel lolos SBMPTN UI dengan nilai sempurna.Gue mencintai pekerjaan ini."
Nala menutup mulutnya tidak percaya. Di balik tubuh Sandra yang tidak begitu jauh darinya, ternyata terdapat jiwa yang matang dalam pertumbuhan. Sandra berani mengambil keputusan, juga pandai dalam memanfaatkan kondisi. Dia tidak membiarkan sebuah kesempatan hangus begitu saja.
Sandra akan menjadi idolanya mulai sekarang!
...***...
...'SEDANG MELUKIS....
...MOHON JANGAN DIGANGGU.'...
Bian mengeja tulisan tersebut dengan suara nyaring, sampai-sampai bisa didengar oleh anak lain yang berada di ruang keluarga lantai bawah. Dia sengaja melakukannya, agar Agi yang tengah berkutat dengan alat lukis di dalam sana mengetahui keberadaannya.
Ini memang sudah kebiasaan, bahwa Agi akan menutup diri dari segala hal yang bisa menghancurkan fokusnya dalam melukis. Dia rela tidak makan daripada kehilangan inspirasi. Rela juga membiarkan teman-temannya bermain sendiri di tempat yang merupakan rumahnya, padahal tuan rumah harus menjamu tamu sebagaimana mestinya.
"Agi! Gue mau masuk, dong!"
Lama tidak ada jawaban, membuat Bian kesal sendiri. Seperkian detik kemudian, sebuah notifikasi pesan masuk menjawab pertanyaannya.
Bian berteriak, "Gue bawa informasi terbaru tentang dia, Gi! Kalau lo gak mau buka, gue akan beri tahu yang lain ka—"
'KLIK!'
Agi menatap Bian dengan malas, berbeda dengan Bian yang memasang wajah tak bersalah. Ia menerobos masuk, mengamati ruang lukis milik Agi yang berukuran sedang.
Ruangan ini memang sengaja dibangun untuk Agi, agar lelaki itu bisa terus mengembangkan bakatnya dalam melukis. Terlihat banyak kanvas dan kayu penyangga, juga cat lukis dan berbagai peralatan lainnya memenuhi ruangan ini. Bahkan ubin yang semula bersih, sudah terkena noda cat warna-warni. Agi terlihat sangat menikmati kegiatan ini.
"Apa ini? Anime?" tebak Bian saat melihat lukisan Agi kali ini.
"Bukan. Ksatria, mungkin?" Agi menjawab dengan tidak yakin, menimbulkan kerutan bingung di kening Bian.
"Tumben?"
"Gue hanya melukis apa yang ada di kepala gue. Akan gue usahakan menjadi seni," Agi berdecak kesal, "Lagian ini belum kelar!"
"Asli! Agi memang pelukis handal. Pantes sepupu gue yang gak tersentuh itu bisa naksir sama lo!" Bian terkekeh pelan.
"Gak tersentuh gimana coba.." Agi bergumam pelan, memilih untuk melanjutkan lukisannya.
"Nala itu belum pernah pacaran sama sekali, Gi! Untuk sekedar naksir orang lain aja, dia gak pernah! Pokoknya, standar dia tinggi banget, deh! Karena lo berhasil nempatin posisi itu, berarti lo hebat!"
Sungguh, Bian ini akan juara kalau ada nominasi manusia yang suka melebih-lebihkan.
"Naksir apa 'sih, Bi? Perasaan dia ke gue itu, hanya sebatas seorang penggemar dan idola. Gak lebih!"
"We never know until we know," Bian masih terdengar optimis.
Agi menatap Bian tidak suka, kegiatan melukisnya jadi terganggu karena manusia ini.
"Gak ada. Hanya mau lihat aja,"
Agi berdecak sebal. Ia menendang pelan kaki Bian untuk meluapkan emosinya, "Kali ini gue ampunin, gak untuk nanti. Keluar lo sekarang!"
"Baiklah, Den Agi.."
'CEKREK!'
Belum jauh Bian melangkah, suara bidikan kamera berhasil membuat Agi menoleh. Bian tersenyum dengan sangat lebar, nampak sedikit takut saat menangkap wajah kesal Agi.
"Gue udah yakin sejak awal, lo gak mungkin masuk tanpa sebab!"
"Izin ya, Gi! Suatu saat, lo akan berterima kasih sama gue!"
"BIAAAANN!!!"
Bian langsung pergi dan menutup pintu rapat-rapat, tidak mempedulikan Agi yang naik pitam. Agi tidak tahu lagi akan digunakan untuk apa fotonya itu. Namun jauh dalam hati sana, ia berharap besar semoga bisa bertahan dengan manusia sejenis Bian.
...***...
'Ting!'
Sebuah pesan masuk mengurungkan niat Nala untuk tidur. Meskipun kondisi matanya sudah tidak mendukung lagi untuk tetap terjaga, tapi ia tetap membukanya. Siapa tau itu adalah hal yang penting.
Nala membelalak kaget. Foto tersebut berhasil membuat kedua kelopak matanya terbuka sempurna, seolah mengusir semua kantuk yang ada dan memintanya udah pulang ke rumah. Jantungnya berpacu dengan cepat, memompa darah ke seluruh tubuh dengan cepat diiringi pemikiran yang bercabang-cabang.
Bukan kah itu Agi? Sembagi Arutala: manusia yang menarik perhatiannya 5 tahun ini. Mengapa Bian bisa mendapatkannya?
Nala sedikit meringis, melupakan informasi bahwa sepupunya itu memang berkuliah di tempat yang sama dengan Agi. Jadi wajar saja kalau mereka kenal, tapi tidak sampai terpikirkan bahwa mereka akan berkawan sedekat ini.
Nala mengunci layar handphonenya tanpa membalas, tidak peduli bagaimana komentar Bian padanya. Nala tidak ingin mengikuti perintah Bian. Tidak akan! Lagipula, dia tidak bisa membayangkan kalau nanti akan bertemu dengan Agi. Kalau dia pingsan, bagaimana?
...***...
Agi terbangun dengan membutuhkan waktu pengumpulan nyawa yang cukup lama.
Jarum pendek pada jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 2 dini hari, dengan jarum panjang yang lewat beberapa menit. Sadar bahwa kondisinya berantakan dengan perut yang mendadak mual, Agi segera bangkit dari kasur dan berlari kecil menuju kamar mandi.
Agi bukanlah jenis manusia yang mampu bertahan lama dalam ruangan yang dingin. Dia harus mematikan AC saat ingin tidur, kalau tidak bisa membuatnya sakit perut seperti sekarang.
Setelah membersihkan mulutnya, Agi memandang pantulan dirinya pada cermin besar di kamar mandi. Rambut yang berantakan ia basahkan dengan sedikit air, setidaknya dapat membantunya merasa segar. Mukanya juga sekalian di bersihkan. Kalau sudah bangun jam segini, akan sulit baginya untuk lanjut tidur. Sepertinya ia akan terjaga sampai pagi dengan memainkan game.
"Apa gue beneran gak matiin AC 'ya tadi?" gumamnya mencoba mengingat, "Perasaan udah. Atau jangan-jangan Bang Akta isengin gue lagi?"
Sadar dengan gumaman ngawurnya, Agi terkekeh geli, "Dia gak segabut itu kali. Terakhir pas gue kelas 10.." ucapnya, kemudian memukul pelan wajahnya mencoba untuk tetap sadar.
Saat dirasa cukup, Agi membalikkan badan berniat keluar kamar mandi. Namun sebuah suara lagi-lagi menganggunya,
'Hiks ..'
"Ah, ****!" Agi terdiam kaku dengan mulut yang merapalkan segala macam do'a. Memorinya berputar pada kejadian beberapa minggu lalu, saat Daksa menceritakan hantu tanpa kepala yang ada di pagelaran fakultas, "Gue ingat banget itu jam 2 dini hari. Kalian tau gak? Kata Nenek gue, jam segitu memang jamnya mereka!"
Tapi Agi tidak perlu takut. Ini jelas suara manusia. Jodohnya beneran manusia, kan?
'Kenapa sekarang adalagi, sih? Ini udah 2 bulan, dan gue baru ngalamin ini lagi setelah terakhir kali gue katain gila!' batin Agi kesal, meskipun sebenarnya takut.
Agi kembali merebahkan diri ke kasur. Dia tidak mau peduli, ingin tidur saja.
'Hiks.. capek.. Aku harus usaha sejauh apa lagi?
'Aku juga capek kalau harus minum obat terus. Semuanya pahit..'
"Lo—"
'Aku gak mau minum obat kalau gak ada yang gerusin. Gapapa, aku gak usah sembuh aja..'
'Ta-tapi, aku gak mau mati sebelum masuk sana. Aku pengen masuk sana..'
Agi terdiam. Rasa kantuk dan keinginan untuk memarahi gadis itu hilang begitu saja. Hatinya mendadak bisa merasakan kesedihan yang begitu menyiksa dan menyayat hati. Agi tidak tau mengapa terasa tiba-tiba, namun rasanya.. ia ingin menangis.
'Aku bisa mendapatkan semuanya dengan mudah, tapi aku gak mau membiarkan satu hal ini sama mudahnya. Aku mau dengan cara jujur, bukan curang..'
'Aku harus sembuh! Aku gak boleh keracunan lagi..'
"Hah? Lagi? Lo pernah keracunan?" Agi bertanya dengan cepat. Dia agak terkejut dengan hal itu.
'Aku harus ke pantai untuk menenangkan diri..'
"Sekarang? Lo gila? Ini jam 2 malam!"
'Bi, tolong bantuannya ya. Aku mau ke tempat biasa..'
"Woi? Lo denger gue gak, 'sih?"
Agi gusar sendiri. Ia menyingkap selimut, mengambil posisi duduk dengan wajah gusar. Dia merasa jengkel.
"Kemungkinan besar dia gak bisa dengar suara gue. Cuma gue yang bisa denger dia. Tapi kalau itu benar, kenapa kemarin kami terdengar seperti ngobrol?"
...***...