Welcome To Gerbera

Welcome To Gerbera
PRELUDE: Arnala Asmaralaya K.




^^^Surabaya, Indonesia.^^^


^^^2 Juni 2022, 10.15 WIB.^^^


...***...


Arnala Asmaralaya Kaditula, sebenarnya ia lebih memilih untuk tidak menggunakan 'Kaditula' dalam sesi perkenalan. Sebab, ia benci saat orang-orang menyorot kehidupannya. Terlebih saat ada manusia menyedihkan yang sengaja mendekatinya untuk berteman karena harta. Seperti tidak di kasihi oleh Tuhan saja.


Nala lahir di keluarga yang berprofesi di politik pemerintahan Indonesia. Dia merupakan anak tunggal dari pasangan mantan model terkenal pada masanya dan seorang anggota dewan tingkat kota. Nala sudah terbiasa hidup dalam kemewahan sejak kecil, terlebih lagi karena keluarganya memang sudah kaya sejak dulu. Terlebih lagi sang Mama: Librasih. Usai meninggalkan dunia model, beliau memfokuskan diri untuk berkecimpung di dunia bisnis. Hingga sekarang, bisnis tersebut terus meledak berupa toko kue, butik, swalayan, hingga mall. Disokong oleh latar belakang orang tua yang demikian, Nala ada pada keluarga yang menduduki posisi terkaya 10 besar di Indonesia.


Meskipun demikian, Nala juga punya kekurangan layaknya manusia.


Sejak usia 5 tahun, ia menderita penyakit anosmia. Gadis itu kehilangan kemampuan mencium semua aroma yang ada di sekitar. Harusnya, kalau dalam kurun waktu yang sudah cukup lama, penyakitnya bisa saja dikatakan sudah permanen. Tapi Nala tetaplah Nala, tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Nala ingin sembuh, agar ia tidak perlu bantuan manusia lain lagi kalau ingin mengecek makanan basi, atau sekedar mencari aroma parfum baru kalau saja dia sudah bosan.


"Kamu jadinya ngasih hadiah apa buat cowo itu?"


Itu Lintang Abhinanda, satu-satunya manusia yang murni berteman dengan Nala karena ingin. Nala berani menjamin hal ini, karena mereka bertemu saat acara bisnis besar yang diadakan oleh Librasih setiap tahun. Hanya orang-orang dari kelas atas yang bisa menghadiri acara tersebut. Ayah Lintang merupakan kolega bisnis mamanya, jadi sudah pasti perempuan itu berasal dari keluarga yang terpandang.


"Eum.. salah gak 'sih kalau aku ingin semangatin dia? Aku dengar-dengar, katanya umur kepala dua itu cobaan hidupnya lebih berat!" balas Nala. Sekarang mereka tengah berada di kamar gadis itu, membicarakan hal yang perlu untuk dibicarakan. Hanya buang-buang waktu ala-ala anak orang kaya yang tidak perlu memusingkan perputaran uang.


"Kalau konteksnya soal besaran masalah hidup, hal itu gak memandang umur, tau! Karena ada manusia lain yang umurnya masih kecil tapi udah harus berjuang menghidupi hidupnya sendiri," Lintang memasang wajah muram, "Seperti yang sering kita lihat di lampu lalu lintas.."


"Benar juga, ya. Gimana ya biar bisa bantuin mereka?"


"Sebenarnya ada dua cara. Pertama, kita harus turun ke jalan. Kedua, kita kasih dorongan dari belakang!"


"Dorongan dari belakang itu maksudnya gimana?"


"Ada teknologi namanya internet, Nala. Kita bisa cari organisasi atau penggalangan dana yang menargetkan mereka!" kata Lintang. Gadis itu membalikkan tubuh dari yang semula telentang menjadi telungkup, memandangi punggung Nala yang tengah memasang peel-off mask di wajahnya.


"Oh, gitu.." Nala mengangguk mengerti, ia tersenyum penuh semangat, "Pokoknya, aku harus masukin itu dalam bucket list tahun ini! Semoga terwujud!"


"Aamiin! Jadi, kamu mau kasih apa ke Agi?"


Nala menemukan Agi saat usianya 14 tahun, Agi ada di usia 15 tahun. Berarti, sudah terhitung 4 kali ia mengirimi cowo itu kado saat ulang tahun, 5 kali ditambah dengan tahun ini. Nala mengakui bahwa paras Agi melebihi tampan, tapi semua lukisan Agi akan menjadi hal paling pertama yang ia puja.


Semuanya bermula saat Nala mendatangi sebuah pameran lukis yang di adakan di Kota Lama Semarang, sekedar mengisi waktu kosongnya saat berlibur di kota itu. Dari sekian banyaknya karya, lukisan sebuah susunan tata surya yang di dominasi berwarna biru hitam memberinya ketenangan. Lukisan itu seolah memberinya pemahaman mengenai alur perjalanan semesta yang rumit. Layaknya kehidupan, semua itu tidak ada artinya kalau tidak dibarengi dengan kepercayaan terhadap diri sendiri. Semenjak itu, nama Sembagi Arutala menjadi hal pertama yang ia ingat ketika bangun tidur dan selalu ia bawa ke dalam mimpi.


"Aku buatin dia buku, judulnya Agi's Achievement Journey! Itu isinya karangan cerita tentang perjalanan hidup dia. Aku harap dia bisa mengapresiasi dirinya sendiri. Saat dia sedih, dia bisa lihat buku itu dan sadar kalau ternyata dia sudah hebat bertahan sejauh ini. Aku ajari dia cara bersyukur, seperti dia yang ajari aku cara mencintai diri sendiri," tutur Nala. Sepanjang penjelasannya, terlihat binar bahagia penuh harap. Lintang sampai terkagum melihatnya.


Lintang menggeleng tidak percaya dengan mulut sedikit terbuka, tangannya bertepuk refleks, "Wah! Kayaknya kalau ada nominasi mencintai Agi dengan baik, kamu pemenangnya! Demi dia, kamu rela jadi penulis!"


"Penulis apanya, 'sih? Aku cuma cetak 10 buku, itu juga gak aku bagiin semua. Satu untuk dia, satu untuk Mama, satu untuk Papa, satu untuk arsip aku, masih ada 6. Aku gak tau di kemanain," celetuknya.


"Kalo gitu kenapa kamu cetak banyak? 5 aja udah cukup, satunya bisa kamu kasihkan aku!"


"Biar genap biayanya 1 juta,"


"Mahal banget! Itu percetakan mana?"


"Ada, percetakan baru depan sana. Kayaknya mereka juga butuh dana lebih, yaudah aku terima aja penawarannya,"


"Astaga, Nalaaaaa!"


"Aku 'kan gak musingin itu. Asalkan bukunya bisa jadi cepat aja sebelum tanggal 1,"


"Seminggu sebelum tanggal 1, hehe.." Nala menyengir lebar, mengundang dengusan kesal oleh Lintang.


Nala merebahkan dirinya di samping Lintang, memandangi langit-langit kamar dengan pikiran yang terbang ke berbagai hal.


Mungkin, kalian bertanya-tanya mengenai usia gadis ini. Nala terpaut satu tahun dengan Agi, tapi mereka ada pada angkatan yang sama. Bedanya, tahun ini Agi sudah berkuliah. Sedangkan ia memilih untuk gapyear. Nala memiliki impian untuk bisa berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri dengan mengambil program studi Psikologi, sama sekali tidak berpikiran untuk mengambil di luar negeri meskipun orang tua sudah menyarankan. Sebenarnya, Sahla mendapatkan kesempatan untuk maju ke SNMPTN, tapi gagal karena memang sifatnya yang sulit di tebak. Saat ia kembali maju melalui jalur SBMPTN, dia kembali gagal dengan selisih nilai yang tidak seberapa. Jalur mandiri sudah ia coba, namun kembali menolaknya. Akhirnya, Sahla memilih untuk gapyear. Dia akan kembali mencoba tahun depan.


Kesimpulannya adalah ... dia pengangguran.


Hidupnya hanya belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi tahun depan, bersantai ria, menghabiskan uang, juga mengamati kehidupan Agi. Sungguh idaman anak muda zaman sekarang.


Kalau Lintang, dia sudah berkuliah di salah satu perguruan tinggi Swasta di Surabaya. Dia bukan jenis manusia yang menggilai PTN, dia suka sesuatu yang mudah. Prinsipnya, semua akan didapatkan dengan uang. Jadi dia memilih PTS yang tidak membutuhkan tes sama sekali.


"Oh iya! Aku penasaran banget sampe sekarang," Lintang menatap Nala penuh selidik, "Kamu tau alamat rumah Agi darimana?"


Nala tersenyum penuh arti tersirat. Ia memasang wajah bangga, "Seperti prinsip mu, semua akan mudah didapatkan dengan uang. Aku meminta Mas Nathan untuk mengurus ini,"


Nathan Delaska, asisten Mamanya. Kadang berganti profesi menjadi teman jalan-jalan Nala. Hubungan keduanya cukup dekat, bukan hanya sebatas atasan dan bawahan, juga seperti kakak dan adik. Nala sering menjadikan Nathan sebagai tempat bercerita, termasuk tentang Agi yang menjadi semangatnya selama 5 tahun terakhir ini. Selain Nathan dan Lintang, Nala juga menceritakan tentang Agi kepada kedua orang tuanya. Meskipun memiliki jadwal yang padat, keduanya tetap mengasihi Nala layaknya orang tua seutuhnya. Mereka menghargai semua yang sudah menjadi pilihan Nala, terlebih saat gadis itu menceritakan tentang berbagai hal yang sudah ia lalui dalam hidup. Kalau memang ada waktu, mereka ingin mengucapkan terima kasih pada Agi. Terima kasih karena sudah lahir ke dunia. Dengannya, putri kecil mereka tumbuh dengan baik menuju dewasa.


"Kehidupan anak tunggal kaya raya memang berbeda.." balas Lintang tak habis pikir.


Nala terkekeh pelan. Kemudian, ia teringat sesuatu, "Eh! Dua bulan lagi aku bakal ke Jakarta!"


"Ngapain? Jalan-jalan?"


"Gak. Kemungkinan aku menetap disana selama beberapa waktu,"


"Hah?" Lintang melongo, "Gabut banget?"


"Bukan! Aku mau berobat! Kamu lihat ini?" Nala menunjuk hidungnya dengan jengah, "Masih belum bisa mencium bau.."


"Astaga, Nala? Kamu belum nyerah juga?"


Nala bangkit berdiri, melepas peel-off masknya dan berjalan menuju kamar mandi, "Belum! Aku yakin bakal sembuh!"


"Penyakit kamu 'tuh hitungannya udah permanen, Nala! Bayangin, udah berapa lama coba?"


"Gaaaak! Aku bakal sembuh!" teriak Nala dari dalam kamar mandi.


"Oke, aku dukung. Aku penasaran udah berapa uang yang di habiskan selama kamu hidup. Mahal banget, udah bisa ngasih makan satu dunia!" celetuk Lintang.


"Berlebihan! Aku gak seboros itu, ya!" Nala keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar, "Kamu mau ikut?"


"No! Gimana sama kuliah ku? Papa pasti marah besar kalau aku main-main!" balas Lintang cepat tanpa berpikir panjang.


Nala mengangguk mengerti, "Oke. Aku sendirian juga gapapa,"


"Memangnya kamu berani?"


"Berani. Memangnya aku ini apa? Aku ini independent woman!"


"Iya, 'deh. Aku percaya aja biar senang! Independent woman idaman Agi!"


Nala tertawa mendengarnya. Lintang masuk dalam jenis manusia yang kadang jengah mendengarnya bercerita mengenai Agi, tapi terkadang ia bisa bertanya mengapa Nala tidak lagi bercerita. Pada intinya, menjadikan Lintang sebagai satu-satunya sahabat adalah pilihan yang sangat tepat.


...***...