Welcome To Gerbera

Welcome To Gerbera
PART 2: Putri Tunggal Kaditula




...***...


Nala sangat tidak mengerti apa yang sudah terjadi padanya.


Terhitung tiga hari berada di Jakarta, Nala masih merasa kebingungan untuk melakukan banyak hal. Tapi yang paling membuatnya bingung adalah kemampuan hidungnya yang kembali hilang.


"Baik. Boleh diceritakan lebih detail lagi?"


Nala menatap Dokter Hani yang ada dihadapannya dengan bingung. Sudah cukup ia dibingungkan mengenai keadaannya, sekarang ditambah lagi kebingungan untuk menjelaskan perihal sebabnya.


"Kamu bisa jelaskan dengan bahasamu sendiri. Saya akan coba mengerti," sambung Dokter Hani.


Akhirnya dengan kalimat yang tidak juga tersusun, Nala menjelaskan dengan sebiasanya, "Tiga hari yang lalu aku di bandara menunggu jemputan. Di toko roti, aku bisa mencium aroma parfum seseorang. Tapi ketika aku kembali ke mobil, aku sudah gak bisa mencium apa-apa. Terus—eh! Apalagi ya.."


Dokter Hani mengangguk mengerti. Keningnya berkerut dengan jari-jari tangan yang mengusap dagunya tak mengerti. Ini adalah kasus pasien paling aneh yang pernah ia tangani.


"Kamu yakin mencium aroma pada saat itu?" tanya beliau memastikan.


Nala mengangguk cepat, "Yakin! Wanginya itu wangi banget, Dok! Aku gak bisa menjelaskan sewangi apa, karena aku sudah lupa semua rasa wangi,"


"Baiklah, saya paham. Saya jadi bingung kamu kenapa, sebab ini pertama kalinya terjadi pada pasien Anosmia yang pernah saya tangani," jelas Dokter yang membuat Nala semakin khawatir.


"Kamu gak perlu khawatir. Kita hanya perlu fokus pada pengobatan kamu saja,"


Nala bertanya dengan ragu, "Dok, saya gak akan terkena penyakit serius kan?"


"Saya tidak bisa menjamin. Karena Anosmia juga bisa menyebabkan penyakit yang serius. Ditambah lagi ini sangat mempengaruhi pola makanmu,"


Nala tidak lagi bersuara. Pikirannya kosong, tidak lagi menimbulkan berbagai macam pertanyaan yang membingungkan. Jawaban Dokter Hani sudah menjawab semuanya: bahwa penyakitnya memang sulit untuk disembuhkan.


"Nala," panggil Dokter Hani dengan nada yang serius, mengundang tatapan penuh tanya oleh Nala.


"Kamu saat itu sedang bersama seseorang?"


"Enggak, Dok. Sa—" ucapannya terhenti saat memori kepalanya berputar menuju lelaki asing waktu itu. Lelaki yang menanyainya tentang Agi, sekaligus manusia yang diguncang olehnya, "A—ada, dia laki-laki. Aku gak mengenalnya.."


Seperti menemukan secercah harapan untuk pasiennya, Dokter Hani tersenyum hangat dan penuh arti. Matanya memancarkan sinar harapan kepada Nala yang kini duduk termangu ditempat.


"Nala, sepertinya lelaki itu bisa menjadi obatmu."


...***...


Di ruangan hitam putih bergaya minimalis dengan ukuran cukup luas, Agi menggosok rambut basahnya menggunakan handuk seraya menatap pantulan tubuhnya di cermin kaca.


Kelas terakhirnya di hari ini sudah habis siang tadi. Selepas kelas, Agi langsung memilih untuk kembali ke rumah untuk mengistirahatkan diri. Sebelumnya, dia juga sempat mampir ke toko buku untuk membeli beberapa perlengkapan lukis yang sudah habis.



Tidak banyak yang tahu bahwa Agi memiliki seekor kucing bernama Mui. Kucing abu-abu putih berjenis British Shorthair yang dia dapatkan sebagai kado ulang tahun dari Ayah dua tahun yang lalu. Agi tidak pernah mengekspos tentant Mui ke sosial media miliknya, apalagi mukanya yang selalu menjadi incaran orang-orang. Semua akun sosial media Agi hanya berisi lukisan, juga beberapa potret alam yang menenangkan.


"Ayo, Mui. Makan dulu!" Agi berjongkok dengan sebuah mangkuk makanan kucing dihadapannya. Mui yang semula tiduran anteng dikasur, langsung melompat dan memakan pakannya dengan semangat. Hal itu membuat Agi gemas dan mengusap kepala Mui penuh sayang.


"Kamu akhir-akhir ini bosan?" Agi mulai berbicara, "Maaf, ya? Aku sibuk kuliah! Kamu jangan ganggu aku, kecuali kalau anak besar atas nama Akta menakali mu, datangi aku!"


Usai berbicara dengan Mui, Agi berjalan menuju kanvasnya yang terletak di sudut ruangan. Kanvas yang baru ia beli itu masih putih bersih, sudah lebih dulu ia letakkan pada kayu penyangga. Agi mengambil posisi duduk di hadapannya, mulai memikirkan objek yang akan ia lukis kali ini.


Kalau berbicara soal lukisan, Agi jadi teringat gadis itu. Agi akui, semenjak gadis itu mendo'akan harinya agar terus terasa seperti hari minggu, mata kuliah yang tidak begitu Agi sukai terasa lebih menyenangkan. Padahal sebenarnya lebih banyak diisi presentasi mahasiswa daripada pemaparan materi oleh dosen. 


'Arnala Asmaralaya,' batinnya, mengeja nama gadis itu untuk kesekian kali.


Agi meraih handphone yang semula tergelak di atas meja, mulai mengetik nama gadis itu di kolom pencarian Instagram.



"Ternyata dia mengikuti ku. Penggemar Agi sungguhan.." gumamnya tanpa sadar. Agi mengabsen tiap foto yang diunggah oleh Nala yang berhasil menaikkan suasana hatinya. Beberapa menit kemudian, dia baru tersadar satu hal.


'Followed by sabiansadawira'


Tulisan itu berhasil menimbulkan tanda tanya baru bagi Agi. Apakah Bian mengenalnya? Sampai-sampai mereka harus saling mutualan di Instagram seperti itu. Besok, Agi harus menanyai Bian langsung mengenai ini.


...***...


"Siang ini jalan-jalan, yuk? Mumpung hari Kamis, 'nih!"


Sekarang, Agi bersama ketiga temannya tengah berada di gazebo fakultas teknik yang letaknya sangat jauh dengan fakultas seni di kampus depan. Meskipun demikian, mereka kerap kali menyambangi Bian agar lelaki itu tidak merasa tidak adil. Sekalipun dia minoritas dalam perkumpulan ini, mereka tidak mau Bian merasa di kucilkan.


Dalam seminggu, akan ada hari dimana mereka membuang penat ke suatu tempat yang telah direncanakan. Biasanya, jatuh pada hari Kamis karena jadwal kelas mereka hanya ada di waktu pagi.


"Gue mah ayo-ayo aja!" Daksa bersuara, "Mau kemana emang?"


"Mall?"


"Bisa gak kalau Mall dihapuskan dari list perjalanan kita? Rasanya, kita hampir tiap minggu kesana!" celetuk Kara tidak terima.


"Lo tau 'kan Jakarta itu panas? Kita kesana untuk ngadem!" Bian melakukan pembelaan.


"Kayak gak punya kipas angin aja.." Kara mengeluarkan kipas angin berkepala hello kitty dari dalam tasnya. Menghidupkan benda kecil itu dan menyapukannya ke wajah, "Minimal punya ginian lah!"


"Lo nyolong punya siapa lagi, Kar?" tanya Agi penuh curiga.


Kara tersenyum lebar, "Amanda. Habisnya duitnya banyak!"


"Minimal bilang!"


"Gue bilang! Katanya ambil aja. Yaudah.."


"Gak baik lo begitu, Kar! Hayoloh.." Daksa mengejek, sampai Kara merasa bersalah di buatnya.


"Yaudah 'sih.. Namanya juga bertahan hidup.." Kara memasang wajah muram. Daksa memanfaatkan kesempatan dengan mengambil kipas tersebut.


"Wah! Adem!" ujarnya tak merasa bersalah. Anak-anak yang lain hanya bisa menggeleng melihatnya.


Agi teringat sesuatu, "Nanti siang ke rumah gue aja, ya? Bunda sengaja masak banyak untuk kalian," kata Agi yang membuat mereka antusias.


"Wih? Sungguhan, Gi?" Bian memastikan. Melihat Agi yang mengangguk, mereka bersorak ria.


Isyana memang sering memasak untuk mereka, setidaknya satu bulan sekali. Kalau memang ada waktu lebih, bisa dua kali dalam sebulan. Ditambah lagi, Isyana sangat pandai memasak. Cukup mengobati kerinduan terhadap masakan rumah, terutama bagi Bian dan Daksa yang merantau.


Sebenarnya Agi ingin menanyai Bian tentang Nala, tapi melihat situasi yang tidak memungkinkan ia jadi memilih untuk mengurungkan niatnya. Agi hanya tidak ingin mereka menganggap bahwa Agi tengah kasmaran, sebab untuk pertama kalinya dalam sejarah dirinya akan membahas mengenai perempuan. Padahal sebenarnya Agi hanya sekedar bertanya saja untuk menjawab rasa penasarannya. Hanya itu, tidak lebih.


...***...


"Sandraaaa, main yuk! Gue punya lego baru, nih!"


"SANDRAAAA!"


'BRAK!'


"NGOMONG SEKALI LAGI GUE LEMPAR POT INI KE MUKA LO!!!"


Kara menyengir tanpa merasa takut. Ia masih pada posisi semula, mendongak menatap jendela kamar yang semula tertutup sudah dibuka keras oleh sang empunya. Terlihat seorang gadis sebayanya dengan rambut berantakan, lengkap dengan piyama tidur berwarna merah muda. Itu Sandra, tetangganya sejak kecil yang sekaligus menjadi temannya bermain.


Kara, Sandra, dan Agi merupakan sahabat kecil. Mereka ada di SD, SMP, dan SMA yang sama. Sandra memilih untuk mengambil program studi management di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan Kara dan Agi masih ada di satu tempat yang sama. Kendati demikian, hubungan ketiganya masih tergolong baik.


"Lo gak lihat ini jam berapa? Ini masih pagi!" teriak Sandra murka.


Kara memasang wajah tak percaya, "Ini udah jam 11, Sandra!"


"Ini jam gue tidur! Mending lo balik badan, buka gerbang dan pulang! Gue mau tidur lagi!"


"Tapi gue sudah bawa lego baru, San!" Kara mengangkat tas bening berukuran sedang berisi lego yang baru saja ia beli usai dari kampus. Hatinya sedikit sedih, padahal ia sudah mengusahakan untuk mampir sekedar membelinya.


"Nanti malam aja, Kar! Gue baru tidur jam 8 tadi!" Sandra terlihat putus asa.


"Gak ada yang nyuruh lo untuk begadang! Salah lo sendiri!"


"Kalo bisa milih juga gue gak mau! Tugas gue menumpuk setinggi gunung!" Sandra mengibas-ngibaskan tangannya di udara, "Balik! Lain kali lo datengin gue jangan ngajakin main lego, bantuin gue kelarin tugas jokian aja. Lebih berguna!"


"SAN!"


'BRAK!'


"GUE DOAIN BANTAL LO PANAS!" Kara berteriak kesal saat Sandra sudah hilang tertelan jendela. Ia terus mengeluarkan sumpah serapah, merasa tidak adil mengapa Sandra lebih mementingkan tugas kuliah dan jokian yang ia buka daripada bermain lego bersamanya.


Tidak mungkin semuanya tidak berdasar. Kara menyukai Sandra sejak gadis itu memerankan tokoh Rapunzel di puncak seni sekolah ketika SMP. Sudah lama, masih sampai sekarang. Agi sudah berulang kali memberi masukan agar Kara dapat mengungkapkan perasaannya, tapi Kara memilih menolak karena bermental kapas. Dia takut persahabatan mereka hancur. Dia takut tidak lagi bisa bermain lego bersama Sandra, meskipun umur mereka sudah terbilang dewasa hingga kurang cocok memainkannya.


"NANTI MALAM HARUS TEMENIN GUE MAIN! AWAS AJA!"


...***...


"Bi, gue boleh nanya sesuatu?"


Bian yang semula fokus memperhatikan layar televisi yang menampilkan pertandingan playstation oleh Akta dan Daksa pun menoleh ke sumber suara.


Sesuai dengan yang telah di tetapkan sebelumnya, empat serangkai itu memilih untuk menghabiskan siang di hari Kamis pada minggu ini di rumah Agi, menyantap makanan yang disiapkan oleh Isyana saat jam istirahat tadi. Sekarang wanita paruh baya itu sudah kembali ke rumah sakit, menyisakan Agi, Akta, dan tiga sahabat lainnya.


"Ada apa? Serius banget.." kata Bian.


"Gak serius banget, hanya hal biasa aja,"


"Iya. Memangnya ada apa?"


"Peringatan pertama, gue hanya nanya, murni gak ada maksud terselubung. Gue harap lo gak punya pemikiran aneh tentang ini," ujar Agi yang membuat Bian semakin penasaran. 


Cowo itu semakin mendekat untuk berbisik, "Ini rahasia antara kita berdua?"


"Ya. Untuk sementara," Agi menghela napas pelan, "Cepat atau lambat mereka akan tahu sendiri,"


"Okay. So, what's wrong?"


"Nothing. Just.." Agi memberi jeda sejenak, meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan lah sesuatu yang salah.


"Wah! Lo paling tahu kesabaran gue ini setipis kapas, Agi. Jangan memancing!" pekik Bian. Agi kelabakan, terutama saat Daksa dan Kara menatap mereka penuh curiga. Bahkan Akta yang tidak masuk dalam pertemanan itu pun ikut penasaran.


"Gu-gue gak sengaja menginjak kakinya. Bukan apa-apa!" terang Agi, seolah menjawab rasa penasaran tiga manusia itu. Mereka mengaduh bersamaan, kemudian kembali fokus pada permainan.


"Suuutt! Kan sudah janji kalau ini rahasia!" Agi berbisik dengan perasaan kesal.


Bian menghela napas kasar. Tangannya meraih wadah berisi keripik dan menyantapnya, "Apa yang mau lo tanyakan?"


Agi mengeluarkan handphonenya. Mengutak-atik sesuatu dan memberikannya pada Bian.


"Lo tau dia?" tanyanya.


Bian mengambil sodoran handphone tersebut dan melihat objek pembicaraan. Seperkian detik kemudian ia memasang wajah mengejek, "Lo naksir sama dia? Langkahin gue dulu!"


"Gak! Gak mungkin! Gue baru sekali bertemu dia, pas kemarin menjemput Bang Akta di bandara!" terang Agi cepat sembari menggeleng keras berkali-kali.


"Gue udah kasih peringatan, ya! Kalau naksir dia, harus berurusan sama gue dulu! Tapi kalau buat lo, lolos jalur dalam 'deh!"


Bian yang semakin ngawur membuat Agi mulai menyesali tindakannya. Harusnya ia tidak perlu bersusah payah untuk menanyai hal demikian. Lagipula rasa penasaran ini tidak harus dijawab.


"Dia Arnala Asmaralaya, putri tunggal keluarga Kaditula. Keluarga konglomerat yang memang sudah kaya sejak lama,"


Agi mengangguk mengerti. Dia sudah tahu namanya, tapi baru mengetahui informasi bahwa gadis itu merupakan putri tunggal Kaditula.


"Dia sepupu gue,"


"Hah?"


Bian tertawa melihat Agi yang nampak terkejut. Ia mengeluarkan sebuah foto keluarga yang dilipat dua berukuran sedang dari dalam dompetnya. Tangannya menunjuk seorang gadis kecil berambut hitam legam. Agi bisa tebak bahwa itu Nala. Kemudian, Bian menunjuk anak kecil laki-laki yang mengenakan jas berwarna abu-abu, "Ini gue,"


"Wah! Gue sama sekali gak tau kalau lo dari keluarga Sadawira yang kaya itu!"


"Gue mah sederhana!"


"Gak begitu 'sih.." Agi mengamati Bian dengan tidak yakin. Pasalnya, Bian memang bukan jenis manusia yang kerap berpakaian mewah sampai orang awam pun tahu bahwa harganya bukan main. Bian menghabiskan semuanya di aksesoris dan sepatu. Lelaki itu kerap kali mengganti Apple Watch kalau memang sudah keluar versi terbaru, juga tertangkap sering menggunakan sepatu dari brand luar negeri yang banyak dikira hanya barang premium atau bahkan tiruan. Agi sudah bisa tebak sejak awal bahwa manusia satu ini memang memilih rezeki yang berlebih, tapi tidak terpikirkan masuk dalam keluarga besar terkaya di Indonesia.


"Eh, gimana awalnya lo bisa bertemu dia?" Bian melemparkan pertanyaan baru, menarik mereka pada topik pembicaraan utama.


"Ketemu di bandara pas jemput Bang Akta kemarin. Gue bisa ngobrol bareng dia karena gue penasaran,"


"Gue rasa lo bukan jenis manusia yang bisa mengobrol dengan orang asing hanya karena penasaran," kata Bian.


Agi kembali menimpali, "Lockscreen dia lukisan Astungkara yang gue lukis 5 tahun lalu. Gue sendiri bahkan udah lama gak melihat itu,"


"Wow.." Bian membulatkan mulut tak percaya, "Jadi.. dia penggemar lo?"


"Mungkin. She seems to know a lot about Agi. Dia bahkan memahami makna lukisan gue dengan baik,"


Bian melemparkan tatapan yang sulit di artikan pada Agi. Sampai-sampai, Agi menggidikkan bahu ngeri. Agi memilih pergi ke dapur, mencuci piring yang tadi digunakan untuk makan.


Agi tidak tahu bahwa di dalam kepala kecil milik Bian itu tengah merangkai berbagai rencana. Sudahlah, serahkan saja semuanya pada Bian.


...***...