VINO AND CIEL

VINO AND CIEL
Chapter 8




.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


skip


zeno sekarang sudah berada di kantornya, zeno menaiki lift menuju lantai paling atas


ting ( pintu lift terbuka)


zeno berjalan menuju ruangannya, membuka pintu ruangannya, setelah pintu terbuka zeno melihat putra ke 2 nya, yang sedang duduk di kursinya, memandang dirinya, dengan kedua tangannya berada di dagunya


"wah wah aku pikir papahku ini tidak akan bekerja lagi" ucapnya terseyum


"sedang apa kamu berada di kantor papah, bukankah kamu sudah memiliki kantormu sendiri, kenapa tidak kamu urus saja kantormu itu" ucap zeno memasuki ruangannya mendudukan dirinya di kursi yang agak panjang


"papah tidak tau berterima kasih iyah, seharusnya papah berterima kasih kepada putramu ini, karena telah meringankan bebanmu, papah tau semenjak 5 hari papah mengurusi anak itu, aku lah yang menanggung beban di kantormu ini" ucapnya melipatkan kakinya


" omong omong soal anak itu, aku dengar kalau dia hilang ingatan, apa kah benar, atau cuman akal akalannya saja" ucapnya


"tidak, dia tidak pura pura amnesia , pamanmu yang memeriksa nya, dan aku juga sudah  mengawasi anak itu, sikapnya sedikit berubah dari sebelumnya, dia juga sering berbicara sendiri" ucap zeno meminum secangkir air putih


"apa dia gila" ucapnya terkekeh


"Setelah mendegar cerita papah, sepertinya  aku akan menemui adik bungsuku itu nanti, aku penasaran sebesar apa perubahannya dengan sebelumnya" ucapnya


"temuilah dia, dia terus saja menanyakan para abangnya, sepertinya dia merindukanmu  dan yang lainnya"ucap zeno


" hahaha sejak kapan vino menjadi adik kesayanganmu" ucap zeno terkekeh


"sejak, aku menemui nya nanti, tugas ku disini sudah selesai, sekarang giliran papah, yang mengerjakan dokumen dokumen ini" ucapnya menunjuk berkas berkas yang sudah menumpuk seperti gunung


"Kalau begitu aku pergi, sampai jumpa, selamat mengerjakan berkas berkas itu" ucapnya melambaikan tangan, setelah itu, dia langsung pergi dari ruangan papahnya


Besoknya


"Mah sudah vino bilang, kalau vino ga suka sayuran, berhentilah menyuapi vino dengan makanan menjijikan itu" ucap vino, berdiri menjauh dari mamahnya


"Ayolah sayang, makan sayurannya, sayuran ini tidak menjijikan sama sekali, malahan baik untuk kesehatan kamu" ucap riana mendekati anaknya


"Apapun manfaatnya, pokonya vino tetap tidak suka dengan sayuran" ucap vino mundur


"Sayang ayolah jangan keras kepala, bukankah kamu ingin pulang ke mansion, jika kamu ingin pulang makan sayurannya dulu, supaya kamu cepat pulih" ucap riana mencoba mendekati anaknya


Vino lagi lagi mundur


" Ga, vino ga mau makan sayuran itu" ucap vino menutup mulutnya


Cklek ( pintu terbuka ), menampilkan, seorang  laki laki yang memakai kemeja melekat di tubuhnya


" Dengarkan lah mamah itu, vino " ucapnya


Vino dan riana, yang mendengar pintu terbuka , dan suara seseorang pun membalikan tubuhnya,


Riana terkejut setelah melihat, siapa pria yang datang ke sini, tapi tidak dengan vino dia hanya penasaran saja siapa laki laki ini, yang tiba tiba masuk keruangannya


" Siapa lo" ucap vino tidak bersahabat


" Aku dengar kalau, adik kesayangan ku ini amnesia, setelah sadar dari komanya, awalnya aku tidak percaya, tapi setelah melihatnya secara langsung, sepertinya aku sedikit percaya"  ucapnya berjalan  mendekati vino


Vino, yang melihat orang itu berjalan ke arahnya pun, memundurkan langakahnya lagi


Duk


" Sialan" ucap vino, setelah menubruk  tembok


"Kenapa kamu menjauh dari abangmu ini, bukankah kamu merindukanku" ucapnya memegang dagu vino lalu menariknya, supaya menatap dirinya, mata vino dan pria itu bertemu


"Abang, apa benar lo abang gue" ucap vino tidak percaya


"Sepertinya, adikku ini tidak percaya bahwa aku adalah abangnya, baiklah, biar ku perkenalkan diriku" ucapnya melepaskan pegangannya