
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
sepasang suami istri itu berjalan ke arah vino yang sedang berbaring
"tidak apa apa, jika kamu tidak mengingat kami, kami yang akan membuat mu mengingat semua kenangan bahagia, kamu, mamah,papah, dan abang abang kamu" ucap mamah riana mengusap rambut vino
"abang?" ucap vino bingung
"iyah kamu punya 4 abang, dan 5 sepupu laki laki, mereka lebih tua dari kamu, ada juga yang beda 1 tahun dari kamu, tapi kamu tetap harus memanggilnya abang mengerti" ucap mamah riana
"baik" ucap vino menangguka kepalanya
"anak pintar, kamu mau minum ga sayang" ucap mamah riana
"mau vino mau minum, tenggorokan vino kering" ucap vino
"baiklah, mamah ambilin minum dulu" ucap mamah riana hendak berjalan keluar, riana memberhentikan langkahnya saat di depan pintu, lalu riana berbalik
"mas tolong jaga vino, jangan di apa apain vinonya, dia baru sadar" ucap mamah riana yang meihat suaminya terus menatap anaknya, lalu berjalan kembali keluar ruangan
"ada apa, kenapa papah liatin vino terus" ucap vino yang agak risih
zeno langsung saja memeluk vino
"maaf" ucap papah zeno
"ga akan gue maafin" batin vino, vino tau bahwa vino yang asli hanyalah karakter pendukung, dalam ceritanya vino yang asli membantu sang protagonis saat hampir terbunuh tapi sayang dirinya lah yang terbunuh oleh para harem sang protagonis, karena telah di tuduh melakukan pembunuhan terhadap sang protagonis, sang protagonis tidak membela vino, malahan sang protagonis hanya bisa menangis saja tanpa mengatakan satu kata pun, beban emang, dan sekarang ciel mendapatkan ingatan bahwa yang membuat vino masuk ke rumah sakit adalah karena ulah papahnya sendiri
"cih, memikirkannya saja membuatku kesal" batin vino
"papah vino mau duduk" ucap vino
papah zeno yang mendangarnya pun melepaskan pelukannya, membantu vino untuk duduk, setelah selesai papahnya memeluk vino kembali
"papah lepasin vino" ucap vino berusaha melepaskan dirinya dari papahnya ini
"tidak biarkan papah memelukmu sebentar saja" ucap papahnya, entah kenapa dirinya menjadi seperti ini, biasanya dirinya selalu memarahi vino, ataupun memukulnya, zeno merasa bahwa putranya yang satu ini berbeda dari biasanya, zeno juga merasa bahwa putranya seperti sudah menjauh dari dirinya dan keluarganya.
cklek
vino mamah ud.... ucapan mamah riana terhenti saat dirinya melihat pemandangan yang ada di hadapannya hati nya seakan akan berbunga bunga melihatnya
"sudah lama aku tidak melihat pemandangan yang seperti ini, biasa nya mereka berdua.., tidak aku berjanji bahwa kejadian seperti dulu tidak akan terulang lagi" batin riana menggigit bibirnya sendiri
"mamah tolong vino, papah ga mau lepasin pelukannya" ucap vino mengadu
"ouh, jadi putra papah ini sudah pintar mengadu yah" ucap papah zeno menggelitik perut vino.
"hahaha, papah hentikan itu geli, hahaha, mamah hahaha, tolong haha" ucap vino berusaha menahan tangan papahnya yang menggelitik perutnya
"mamah hahah mamah vino ga bisa nafas" ucap vino
riana yang mendengar itu memberhentikan apa yang di lakukan suaminya
"mas hentikan, vino ga bisa nafas katanya" ucap mamah riana khawatir
papah zeno yang baru mendengarnya pun memberhentikan gelitikannya, lalu melihat ke arah anaknya, dan benar saja nafas vino mulai tidak beraturan lagi.
zeno langsung saja memeluk vino lalu membisikan sesuatu
"bernafaslah perlahan lahan" bisiknya papah zeno
vino menuruti perkataan papahnya, nafas vino mulai beraturan lagi
riana yang tersadar dari ke khawatirannya pun mendekati suaminya, lalu memberikan minumannya
Zeno mengambil gelas yang di berikan istrinya
" vino, minum lah dulu" ucap papah zeno meminumkan minumannya ke vino, setelah habis