
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"bagaimana, apa masih sesak nafas? " tanya zeno yang terlihat khawatir
"vino sudah baik baik saja pah" ucap vino
"hu.." ucap riana menghela nafas
"aku khawatir sepertinya vino memiliki asma" ucap zeno melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh zeno ke kasurnya
"aku, akan bertanya kepada dika, jika benar vino memiliki asma, kita tidak boleh membiarkannya beraktivitas berlebihan yang membuat asma nya kambuh lagi, vino papah pergi dulu, papah akan segera kembali setelah menemuai pamanmu" ucap zeno panjang lebar, mengusap kepala anaknya sambil tersenyum lalu pergi dari ruangan vino
tubuh mamah riana, dan vino menegang
"ada apa dengan pak tua/ suami ku" batin vino dan riana heran dengan perubahan suami/ papahnya
"mah apa benar itu papah" ucap vino keceplosan kaget dia tuh
riana yang mendengarnya menatap vino dalam
" vino apa kamu sudah ingat sesuatu" ucap mamah riana yang entah kenapa membuat dirinya takut, riana takut, jika ingatan yang pertama kali vino ingat tentang kejadian waktu itu...
vino yang tersadar akan ucapannya pun berusaha mengelaknya
"tidak, vino tidak ingat tapi vino merasa bahwa papah berubah, seperti ultramen hehe" ucap vino tertawa
"biisa bisanya gue ngomong ke gitu" batin vino malu
" haha kamu bisa aja" ucap riana mencium pipi kiri anaknya
"mamah cium pipi vino disini juga" ucap vino menunjuk pipi kanannya
"kali kali modus" batin vino
"ehem papah ga di ajak nih" ucap zeno yang berdiri di depan pintu sambil melipatkan tangannya
"ganggu orang lagi berduaan aja" batin vino cemberut
"kenapa papah, cepat sekali datangnya" ucap vino yang sudah di cium pipi satunya
"ouh " ucap zeno
"ada apa kenapa mukanya di tekuk gitu" ucap zeno mencubit pipi vino sebentar
"sakit tau" ucap vino mengusap pipinya
"iyah habis papah, ganggu vino sama mamah" ucap vino cemberut
"jadi ceritanya papah ga diajak nih" ucap zeno pura pura sedih
"engga" ucap vino
"serius, padahal papah mau kasih hadiah, satu permintaan apapun yang kamu mau papah turuti, kayanya hadiah nya papah hangus kan saja" ucap zeno cedih
"ga boleh gitu, kata siapa papah ga diajak, maksud vino itu, engga koma di ajak jadi enggak, tapi di ajak gitu" ucap vino
"kalau gitu, berarti papah boleh cium kamu juga dong" ucap papah zeno ternyum
tubuh vino tiba tiba mematung
"ba***at" batin vino, vino melihat mamah nya, berusaha meminta pertolongan, tapi sepertinya itu sia sia, malahan riana sudah siap siap memotret suami dan anaknya
"lumayankan kalau aku poto, jarang jarang liat ayah dan anak akur seperti ini" batin riana tersenyum
Vino melihat ke arah ayahnya kembali, panas dingin bercucuran di dahinya
"Tenanglah ciel, itu hanya sebuah ciuman di pipi saja, kau pasti bisa semangat" batin ciel menyemangati dirinya sendiri
"Ba baiklah, tapi cuman di pipi kan pah" ucap vino, vino merasa hal yang lebih buruk akan menimpanya sekarang
Zeno tidak menjawabnya malah menyeringai
"Jangan tersenyum seperti itu, itu membuatku takut pak tua" batin vino
"Pah" ucap vino
Zeno langsung saja mencium wajah vino, pipi kiri, pipi kanan, dahi, dagu, semua wajahnya bertubi tubi
"Papah hentikan, katanya cuman di pipi" ucap vino lagi lagi vino harus berusaha menghentikan papahnya itu
Cup
"Papah"
Cup
"Papah hentikan" ucap vino
Cup cup cup
"Mamah tolong vino, wajah vino udh ga suci lagi" ucap vino meminta pertolongan lagi
Pletak
"Ngomongnya" ucap papah zeno
"Iya mangap, kan itu juga salah papah siapa suruh cium cium wajah vino" ucap vino memegang dahinya