VINO AND CIEL

VINO AND CIEL
chapter 7




.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


beberapa menit telah berlalu ciel tidak mendengar suara vino lagi, ciel berfikir mungkin saja tuh hantu udah balik ke alamnya, tanpa memikirkan vino yang asli, ciel bangun dari duduknya, ciel membalikan dirinya, setelah berbalik, ciel  kaget melihat papahnya yang sudah berada di belakangnya


"pa papah, sedang apa papah berada di sini" ucap vino bertanya dengan sedikit terbata bata


"seharusnya papah yang bertanya, sedang apa kamu disini, bukankah seharusnya sekarang kamu sedang tidur siang, kenapa tiba tiba kamu sudah berada di taman" ucap zeno melipatkan ke dua tangannya


"itu, vino bosan di kamar terus jadi vino pergi keluar untuk mencari udara segar" ucap vino


" tapi bukan itu saja, papah juga melihat kamu berbicara sendiri" ucap papahnya menatap vino dengan serius


" i itu vino, vino sedang latihan" ucap vino


"latihan?" ucap papahnya bertanya


"iyah latihan, papah tau kan jika vino suka pertunjukan teater, makannya itu vino latihan, karena vino ga ada teman, jadi deh vinolatiuan berbicara sendiri sama diri sendiri" ucap vino ngasal


"papah tidak tau kalau kamu suka teater, bukankah kamu pernah mengatakan sebelumnya kalau kamu lebih suka musik, dan bermain gitar dari pada yang lainnya" ucap papahnya mengintrogasi


"mulut sialan" batin vino


semenjak kejadian itu zeno melarang vino untuk pergi keluar dari ruangannya, sampai vino sembuh sepenuhnya, zeno juga tidak ingin anaknya menjadi gila karena berbicara sendiri, jadi zeno dan riana mereka sepakat akan bergantian mengawasi gerak gerik vino


_____________________________________________


"baiklah, tapi kau mau kemana, sekarang adalah hari minggu, bukankah hari ini kau tidak bekerja" ucap riana berbalik menatap suaminya


"tidak, iyah.. meski akhir akhir ini aku selalu menghabiskan waktu  dengan vino, tapi aku tidak melupakan kewajiban ku sebagai atasan, salah satunya adalah mengerjakan semua berkas berkas ku yang semakin hari semakin banyak, dan sepertinya nanti aku tidak bisa menemui vino untuk seminggu ini, mungkin ini yang terakhir kalinya aku melihat putra bungsuku" ucap zeno menatap istrinya dengan serius


"kau terlalu berlebihan suami ku, kau hanya menghadapi pekerjaan mu, bukan mempertaruhkan nyawamu, semenjak vino hilang ingatan, sikap mu perlahan lahan berubah, aku penasaran ada aapa dengan dirimu" ucap riana bertanya


" seharusnya aku juga mengatakan hal yang sama padamu istriku, dimana sikap tak peduli mu terhadap vino, meski kau tau jika vino sering kali di tindas oleh teman temanmu, dan anak anak dari temanmu itu.., tapi semenjak vino hilang ingatan, sikapmu mendadak berubah, sama seperti ku bukankah begitu" ucap zeno tersenyum miring


"setidaknya aku tidak seperti dirimu, yang selalu memarahi anakku, memukulnya, bahkan kau hampir saja membunuh dirinya, mulai sekarang aku berjanji sebagai orang tuanya aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada putra ku lagi, aku yang akan  melindung dirinya, meski nyawa ku taruhannya" ucap riana menatap zeno


" kau lupa jika vino juga anakku, aku juga berhak atas dirinya,intinya meskipun hubungan kita tidak baik baik saja, kita harus tetap terlihat seperti papah dan mamah yang harmonis di depan vino, aku tidak ingin anak itu menjadi sedih kembali seperti dulu, kau juga tidak ingin itu terjadi bukan" ucap zeno


"iyah, aku tidak ingin melihat putra bungsuku sedih lagi" ucap riana mengepalkan tangannya


" berarti kita sudah sepakat, kalau begitu tolong jaga dia, jika aku mendapatkan kabar bahwa vino diam diam keluar dari ruangannya lagi, kau lah yang akan menerima sekuensinya ( gini bukan sih nulisnya ಥ⁠‿⁠ಥ)" ucap zeno meninggalkan istrinya