
Pantai
“coba lihat , apa yang bisa kita tangkap . tapi sebelum itu aku harus membuat alat terlebih dahulu “
Zalina pergi menuju bibir pantai berbekal pisau lipat yang selalu ia bawa kemana – mana ia mencoba meruncingkan kayu untuk menangkap ikan . Setelah selesai meruncingkan kayu , zalina pergi ke pingir pantai. matanya terus fokus kebawah dibalik sela – sela batu dan tumbuhan air . mencari ikan , kerang , udang apapun itu .
zalina benar – benar menikmati kegiatanya, mencari ikan di pantai mengingatkan akan kebiasaan yang ia lakoni dulu dirumah. Dan sejenak melupakan kejadian yang menimpa dirinya dan elina .
“wahh ukuran udang dan kerang ini sunggu besar , aku dan elina bisa berpesta malam ini hihihi”
Karena terlalu asik mencari makanan zalina tanpa sadar terus berjalan jauh . dari tengah laut sesuatu terus saja memandanginya , awalnya makhluk itu tak terlihat tapi lama kelamaan makhluk itu mulai muncul kepermukaan . monster itu memiliki kaki yang Panjang , ekornya seperti ekor kalajengking serta kulitnya yang sangat pucat. Semakin lama dilihat monster itu berlari kearah zalina , zalina yang panik kepalang berusaha menyelamatkan diri sebelum tertangkap monster itu . dia berlari sebisa mungkin tapi bebatuan karang ini membuatnya kesulitan, beberapa kali kakinya terjeblos ke sela – sela batu sehingga membuat kakinya mengeluarkan darah . monster itu semakin dekat . dengan pesimis zalina mencoba untuk berlari lagi namun sayang monster itu berhasil menagkap zalina .
Monster mengangkat tubuh zalina dan berteriak didepannya .
“ grahhhhhh!!!”
“aaaaa elinaa “
Zalina meronta ronta . tangan monster itu menggengam kuat tubuh zalina sehingga membuatya sesak .
“ lepaska aku lepaskan akuu!”
Monster itu membanting tubuh zalina dengan sangat kuat membuat zalina semakin ketakutan
“ aaaa pergi , pergi jangan sakiti aku “ kata zalina sambil menangis
Monster itu mendekati zalina kemudian mengayunkan tanganya untuk menyakiti zalina lagi . tapi zalinan mampu menghindari serangan itu dan berlari menyelamatkan diri .
Monster itu terus mengerjar zalina . kesal kerena zalia terus menghindari serangannya monster itu kemudian menyerang lagi menggunakan ekornya dimana ekornya juga memiliki cairan yang bisa saja racun .
“aaaa ampun jangan sakiti aku “
“ huuhhhuhuu ku mohon ya tuhan selamatkan aku “
“grawaaaaaa!!!”
“ aaaa elinaaaaaaa”
Zalina terus menerus memanggil nama elina sambil menangis , berharap agar temanya dapat menyelamatkan
Elina
Elina terus berlari mempercepat langkahnya , berkali – kali dia mendengar zalina berteriak
“aaa lepaskan aku lepaskan akuu” teriak zalina
“ ya tuhan lindungi temanku “
Elina hampir sampai ke pantai dari jauh dia melihat makhluk mengerikan sedang menyerang zalina . elina kemudian berlari menyelamatkan temannya .
“ zalinaa!!”
“ rasakan ini “ kata elina sambil melempari monster itu dengan batu
“grawwwww”
Monster itu menyerang elina dengan kakinya.Membuatnya terpental kesakitan .
“ ahh sial “ rutuk elina
Elina terus berusaha berani melawan monster itu meskipun ia sebenarnya sangat ketakutan . monster itu sangat kuat elina tidak dapat melawanya hanya dengan melemparkan batu ataupun buah – buahan yang ia dapatkan .
“ ya tuhan tolong beri aku sesuatu untuk melumpuhkan monster itu “ doanya dalam hati.
Seloah doanya langsung dikabulkan dari arah lain pedang yang tadi telah dikubur melayang kearah elina dia benar – benar sangat kebingungan . bagaimana bisa sebuah pedang dapat melayang kearahnya . namun detik kemudian elina menghilangkan pertanyaanya dan meraih pedang itu . dengan segera elina kemudian menyerang monster itu menggunakan pedang ditanganya . mereka bedua saling menyerang . sejujurnya elina sendiri tidak pernah belajar beladiri . yang dia lakukan hanyalah menyerang apa yang bisa dia lukai . dan mengenai perut monster itu . karena kesakitan monster itu melemparkan zalina hingga mengenai batu membuatnya muntah darah dan pingsan dan mulai menyerang elina . tidak terima temanya dilempar sampai seperti itu . elian naik pitam dia sudah tidak perduli lagi dia terus menyerang monster itu dengan membabi buta . dan membuat pertarungan itu semakin sengit . saat monster itu ingin menusuk tubuh elina menggunakan ekonrnya dengan sigap dia kemudian memotong ekor itu . membuat monster itu mengerang dengan keras . semakin mengamuk monster itu menangkap elina dan mengengamnya seolah monster itu ingin meledakan elina menggunakan tanganya . elina tidak dapat bernafas , dia menangis ingin rasanya menyerah . monster itu membawa elina kearah matanya memelototinya dengan marah . melihat kesempatan itu elina berusaha dengan sekuat tenanga menusukan pedangnya kemata monster itu terus menerus dan yang terahir dia menusukanya dengan sangat dalam hingga monster itu mati .
“hiyaaa”
“jelbb “ pedang itu benar – benar tertusuk kemata monster itu dan mati .
Elian terjatuh ketanah mengambil nafas banyak – banyak , Eliana sangat kelelahan . dia menghampiri zalina yang masih pingsang karena dilempar terlalu keras .
“ zal , zalina , bangun , zal “ saat elina membangunkan zalina suaranya semakin lirih dan ahirnya dia pingsan di sisi zalina .
Zalina
Matahari sudah mulai tenggelam . zalina terbangun dengan memegang dadanya yang sakit . badanya sakit terutama dibagian punggung dan dada . dia melihat elina terbaring disampingnya . matanya mengedar dan menemukan monster itu mati dengan pedang yang masih tertancap dimatanya .
“ elina , ell”
elina tidak menjawab , dia masih pingsan akibat kelelahan . melihat hari semakin gelap dengan sekuat tenaga dia memapah elina untuk ke camp dan mengistirahatkanya disana . setelah itu dia mencoba membuat api agar tidak kedinginan dengan batu .
“ hah primitive sekali “ kesalnya
“ tidak papa , kita lakukan dengan cepat . kemudian kembali kesini lagi “ tekatnya .
Benar saja zalian mengambil semuanya dengan berlari, seolah – olah seperti anak – anak yang pergi ke kemar mandi sendirian dimalam hari . setelah mengambil semuanya dia berlari kembali ke camp dengan terengah – engah . disaat bersamaan elina terbangun dari pingsanya .
“ elina kamu sudah bangun ,bagaimana keadaanmu ?”
“ aku baik – baik saja hanya kelelahan , bagaimana denganmu kamu tadi terlempar keras sekali ?”
Tanpa terasa kemudian zalina menanagis
“ huwaaaa sakit , sakit sekali , aku ingin pulang ell huhuhu”
Melihat zalina menangis elina ikut menangis. Mereka berpelukan sambil menangis
“huwaaaaaa zalinaa aku juga mau pulang huhuhu aku takut berada disini ”
Setelah adengan menangis selesai mereka berudua duduk dalam diam , tenggelam dalam pikiran masing – masing .
“ maaf “ kata zalina memecah keheningan
“ untuk ?”
“ karena aku , monster itu _ “
“ tidak apa – apa bukan salahmu zalina “
“ tetap saja itu karena aku tidak berhati – hati “
“ jangan salahkan dirimu zal. Lebih baik kita istirahat dan melanjutkan perjalanan besok pagi “
“ aku tidak bisa tidur el aku takut akan ada monster lagi “
“ sama , kalau begitu kita tidak usah tidur saja lalu kalau sudah pagi kita langsung pergi dari sini “
Pagi
Matahari hari mulai muncul . elina dan zalina mengerjapkan matanya . mereka ketiduran karena kelelahan
“ sudah pagi “
“ kau benar el “
“ apa kita akan langsung bergerak sekarang el ?”
“ sebaiknya begitu , semakin cepat kita bergerak semakin kita sampai rumah “
“emmm . aku setuju . sekarang kearah mana kita akan pergi ?“
“ hemm entahlah , aku juga sebenarnya tidak tau , apa kamu punya ide ?”
Zalina dan elina sama – sama memandangi satu sama lain . mereka tidak tau harus berjalan kemana . sekeliling pantai ini tidak terlihat ada bangunan lain .
“ entahlah tapi hati kecilku bilang untuk berjalan saja tanpa arah “
“ apa kau gila “
“ hati kecilku tidak pernah salah “
“ lalu hati kecilmu bilang kemana kita harus pergi hah ?”
“ kesana “ menunjukan arah hutan
“ hati kecil sialan , kamu pikir di ujung hutan itu ada jalan keluar ?”
“ siapa tau ada jalan setapak “
“ baiklah terserah saja “
“ baiklah ayo kita bergerak “
“emmm el sebelum bergerak .ini “ lanjut zalina dengan memberikan pedang yang tadinya tertancap di mata monster
“pedang ini “
“ kemarin aku mengambilnya , aku rasa sepertinya pedang itu menyukaimu dan juga kalau terjadi sesuatu nanti kamu bisa menggunkan itu untuk bertarung “
Elina berfikir sejenak . menimbang – nimbang perkataan zalina , yahh mungkin memang bisa saja nanti akan ada sesuatu sehingga dia dan zalina membutuhkan pedang itu untuk bertarung .
“ baiklah ayo kita pergi “
Mereka berjalan menuju hutan . kaki mereka terus melangkah tanpa tujuan . entahlah elina juga berfikir jika dia hanya perlu terus berjalan .