
Cuaca cukup berawan hembusan angin menerpa helaian rambut membuat seorang gadis yang terkapar selama beberapa hari terbangun dengan kesakitan .
“ argh , kepalaku sakit sekali “ gadis itu terbagun dan melihat sekelilingnya .setahu dia terahir kali dia terjatuh ditangga sebelum ia pingsan . tetapi disini dia terbangun di pinggir pantai yang sangat asing
“ zalina , zalina bangun “
“erghhh kepalaku sakit sekali . dimana kita ?“
“entahlah , aku juga tidak tau “
“ el lihatlah barang – barang kita ada disini “
“ benar masih utuh”
“ tapi kenapa kita bisa ada di sini , apakah kita diculik , tapi kita tidak diikat dan barang – barang kita utuh , atau jangan - jangan kita dibuang ?”
“ dibuang , bukankah seharusnya kita masih di kampus atau rumah sakit , karena kita terjatuh sebelumnya “
“apa kita sekarat , apakah kita ada di surga “ lanjut zalina
“ cubit aku el “
“ auuu sakit ! “ zalina sangat tidak terima ahirnya mencubit Elina kembali
“ auuu sakit “
“ hahhh kita tidak bermimpi “
“ jadi dimana kita sebenarnya ”
Mata mereka menerawang jauh , melihat sekeliling . mencoba mencari sesuatu.
mereka berjalan mengelilingi pantai itu naik keatas sampai mereka menemukan reruntuhan bangunan seperti bekas castle.
“ kenapa ada reruntuhan disini , apakah dulunya ini sebuah castle ?”
“ entahlah , semua yang ada disini tampak aneh .”
Mereka terus berkeliling mencari sebuah jawaban atas pertanyaan yang ada dikepala .
“ kalau disini ada bangunan , bukankah harusnya dulu ada orang yang tinggal di sini , lalu kemana perginya mereka semua .”
“ mungkinkah ada sebuah bencana sehingga membuat semuanya hancur sehingga membuat mereka meninggalkan tempat ini “
“ dan jika dilihat dari kerusakanya bukankah ini sudah terjadi cukup lama ?”
“benar . lalu kenapa kita bisa ada disini , siapa yang membawa kita kesini ?”
Mereka memandang satu sama lain seolah mencari jawaban di dalam kepala masing - masing . lama mereka mengelilingi tempat itu dan tidak menemukan jawaban apapun . saat mereka tengah berjalan kembali ke titik awal Elina melihat sesuatu yang tampak menyilaukan , tidak benar – benar menyilaukan tetapi sesuatu itu nampak berwarna merah dan bersinar . mereka mencoba mendekat, mereka ketakutan tapi rasa penasaran mereka jauh lebih besar . saat mereka medekati , benda itu seperti melayang . dengan ragu – ragu Elina mencoba menyentuh benda itu dan .
“ bummmm”
“ ahhhhhhh” saat Elina mencoba menyentuhnya benda itu semakin melayang dan tiba tiba saja meledak menimbulkan suara yang sangat keras sekali . keduanya terpental dan cahaya itu kemudian perlahan – lahan beruba menjadi sebuah pedang .
“ hah pedang ?”
“ kenapa bisa berubah menjadi pedang ?” zalina sangat penasaran .
“ entahlahh apakah ada pemiliknya sebelumnya “
Zalina mengeleng gelengkan kepalanya . mereka terus memandanginya , mereka tidak berani menyentuh , pedang itu terlihat bukan pedang biasa seperti ada aura yang membuat pedang itu tampak mengerikan.
“ apakah kita ambil saja el , lagipula kita membutuhkan ini untuk bertahan , jika yang punya mencarinya kita kembalikan aja . toh kita hanya meminjam bukan mencuri . “
“ tapi aku ragu kalau ada apa – apa bagaimana , bagaimana kalau yang punya pedang ini ternyata orang jahat , lalu kita dituduh mencuri ?”
“ apa kamu gila , kalau orang yang berniat buruk mengambilnya bagaimana ?”
“ lalu bagaimana ?” kata zalina kesal
“ entahlah”
“ Elina , kita tidak bisa terus memandangi pedang ini , kita akan kehabisan waktu .”
“ lalu bagaimana ?”
“ kita tinggalkan saja el , lagipula pedang ini bukan urusan kita , urusan kita adalah bagaimana caranya menemukan jalan untuk pulang .”
“ lalu apakah kita tinggalkan saja pedang ini ?”
“ yahh”
“ kalau orang jahat mengambil bagaimana ?”
sejenak zalina berfikir bagaimana caranya menyembunyikan pedang itu .
“ ahh kita sembunyikan saja el , disemak - semak itu . ”
“ ide bagus . ayo .”
Mereka kemudian membawa pedang itu untuk di sembunyikan . pada saat Elina memegang pedang itu ternyata pedang yang sangat tajam sehingga mengiris sedikit jarinya sehingga mengeluarkan darah .
“ aw “
“Elina kamu berdarah , kamu tidak apa – apa ?”
“ pedangnya sangat tajam “
“ hati – hati el .”
Mereka kemudian menaruh pedang itu dan sedikit menguburnya dengan tanah dan daun kering supaya sulit ditemukan oleh orang – orang . setelah itu mereka kembali lagi ke titik awal untuk bermalam .
“ sebaiknya kita beristirahat disini saja dulu el , cukup aman jika ada hujan dan tidak terlalu kepanasan saat siang. sekarang yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan makanan setelah itu baru kita pikirkan bagaimana cara untuk pulang kerumah “
“aku setuju “
“ bagaimana kalau kita bagi tugas saja aku akan ke laut menangkap ikan dan kamu ke atas mencari buah dan air untuk diminum .”
“ baiklah kalau begitu . jangan lupa tangkap ikan yang banyak karena aku sangat lapar .“
“tentu saja “
“hahahaha “ mereka tertawa bersama kemudian mereka berpisah untuk mencari makanan . zalina pergi menuju pantai sedangkan Elina menuju bukit
Elina berjalan menyusuri jalan bebatuan sesekali menyibakan rerumputan demi mencari buah nanas atau berry – berry yang siapa tau dapat dimakan .ia terus berjalan sampai menemukan satu buah nanas yang sudah berwarna kuning . hatinya sangat lega , setidaknya tidak sia – sia usaha dia . kemudian dia kembali menemukan buah kecil yang terlihat seperti strowberry ia memasukan semuanya k etas yang dia bawa . tidak lama ia menemukan pohon apel yang berbuah lebat . karena terlalu kalap elina menjadi serakah dan memasukan semuanya buah kedalam tas dan menyisakan beberapa buah saja di pohon .
“ hah syukurlah setidaknya kitab isa bertahan hidup “
“ selanjutnya aku harus mencari air , hah apakah ada sungai di tempat seperti ini .” tanyanya pada diri sendiri meskipun ragu ia berjalan lagi sambil memasang baik – baik telinga untuk mencari suara air .
Lama sekali elina berkeliling kakinya terasa sakit ditambah cukup sulit menemukan mata air di pulau ini . ahirnya ia memutuskan kembali ke camp awal dan beristirahat .
Saat dia kembali ke camp dia justru menginjak sesuatu seperti tanah yang becek , elina menyusuri alirannya ke hulu dan menemukan titik air , segera elina mengeluarkan botol minumnya yang kosong dari tasnya. Aliran airnya cukup kecil sehingga menyulitkan elina dalam memenuhi botol minumnya .
“ aaaaaaaaaa elinaaa !!”
“ hahh zalina, apa yang terjadi kenapa dia berteriak keras sekali “