
" Ada apa ini, siapa yang berani - berani nya membuat keributan di perusahaan ku? Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja" gumam Devan di sela langkah nya menuju pos satpam yang berada di depan gedung.
Devan yang baru saja selesai dengan pertemuan penting nya harus di buat kesal dengan laporan dari keamanan yang ada di sana karena ada orang - orang yang membuat keributan di perusahaan nya, padahal dia ingin segera bertemu dengan calon istri nya yang hari ini dia suruh datang kesana untuk menemani nya.
Tak membutuhkan waktu lama sampai Devan akhir nya sampai di pos satpam perusahaan nya dan langsung masuk ke dalam sana dengan kilatan amarah di mata nya.
Di dalam sana tampak Dira dan dua teman nya yang sedang menunduk ketakutan dan seorang gadis berpakaian hitam putih yang memunggungi nya dengan wajah yang tertutupi rambut yang acak - acakan.
" Kalian bertiga adalah karyawan lama di perusahaan ini, kalian sudah tahu bagaimana aturan di sini kan? Katakan, kenapa kalian membuat keributan di perusahaan ku?" Devan menatap nyalang pada ketiga orang yang ada di hadapan nya dengan kilatan amarah yang tercetak di mata nya.
" Ka kami hanya membantu Dira saja pak" ucap salah satu teman Dira.
" I iya pak, Dira yang punya masalah dengan gadis itu" teman Dira yang lain nya berbicara sambil menunjuk pada gadis yang masih setia menyembunyikan wajah nya.
Devan mengerutkan kening nya melihat gadis itu dari atas sampai bawah dengan pandangan menelisik. " Kenapa dia seperti Mia?" Batin Devan masih menatap gadis itu. " Hey kamu, kamu siapa? Kenapa kamu membuat kerusuhan di perusahaan ku?" Devan bertanya dengan nada yang tinggi namun gadis itu masih diam.
" Apa kamu tidak dengar ha? Cepat katakan!" Devan tampak geram melihat kediaman gadis yang ada di hadapan nya dan langsung menghampiri nya untuk melihat dengan jelas wajah gadis itu. Dan betapa terkejut nya Devan saat tahu siapa yang ada di hadapan nya itu, Devan bahkan lebih kaget lagi saat melihat kondisi gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri nya itu, wajah Mia kini acak - acakan dengan luka cakaran dan bekas tamparan pada wajah nya bahkan sudut bibir Mia terlihat pecah dan mengeluarkan sedikit darah.
Wajah Devan kini berubah menjadi semakin marah dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal erat menahan amarah yang kini memuncak pada diri nya.
" Katakan, siapa yang melakukan ini semua?" Devan menatap nyalang pada tiga wanita yang berdiri di samping Mia membuat ke tiga wanita itu gemetar ketakutan.
" Di dia yang mulai pak" Dira berkata dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
" Dia bohong pak, dia yang mulai duluan" Mia berucap dengan santai nya.
" Kamu diam, siapa yang menyuruh mu bicara!" Devan melihat sudut Mia yang pecah kembali terbuka dan mengeluarkan darah lagi saat dia berbicara, Devan pun langsung mengentuh nya dengan lembut menggunakan sapu tangan yang selalu di bawa nya. " Apa kamu tidak bisa diam dan menjadi anak baik saja? Kenapa tidak di sini atau di sekolah kamu selalu membuat ulah" Devan terus mengomeli Mia sedangkan yang lain nya tampak menatap mereka dengan dahi yang mengerut.
" Ish, sudah ku bilang kan bukan aku yang mulai" Mia mengerucutkan bibir nya.
" Pak, tolong urus mereka! Sebentar lagi Andi akan ke sini untuk memberikan surat pemecatan mereka dari perusahaan ini" Devan berkata serius pada satpam yang ada di sana.
" Apa? Kami di pecat?" Dira tampak terkejut begitu pun ke dua teman nya.
" Benar pak maafkan kami, kami hanya di ajak oleh Dira saja" teman Dira yang lain nya tampak ikut memohon.
" Kalian kenapa berbicara seperti itu?" Dira menatap tajam pada ke dua teman nya, tapi ke dua teman nya tidak memperdulikan nya karena saat ini yang penting adalah pekerjaan mereka.
" Aku sudah beberapa kali mendapat laporan tentang kelakuan kalian yang selalu seenak nya pada karyawan lain dan aku masih mentoleransi kalian karena aku belum mendapatkan bukti yang otentik, tapi kali ini aku sudah melihat sendiri apa yang kalian lakukan pada calon istriku" Devan berkata tegas.
" Ca calon istri?" Dira tampak sangat terkejut dengan tubuh yang melemas saat mendengar perkataan Devan barusan. " Pantas saja pak Devan begitu perhatian pada nya, kali ini aku akan benar - benar habis" batin Dira pasrah
Kedua teman Dira juga tampak terkejut dengan wajah yang memucat saat mendengar perkataan Devan barusan.
" Maafkan kami pak, jangan keluarkan kami!" Kini mereka bertiga sama - sama memohon, namun Devan tidak menghiraukan nya malah langsung menggendong Mia keluar dari tempat itu. Mia awal nya memberontak namun Devan menatap nya tajam membuat Mia pasrah saja dengan apa yang di lakukan oleh calon suami nya itu. Mia menelusupkan wajah nya pada dada bidang Devan karena malu saat semua mata yang ada di perusahaan itu tampak melihat ke arah nya dengan tatapan yang berbeda - beda. Ada yang menatap iri, kagum dan lain sebagai nya.
" Duduk di sini, jangan ke mana - mana!" Ucap Devan setelah dia sampai di ruang kerja nya yang berada di lantai tertinggi gedung itu dan mendudukan Mia di atas sofa yang ada di sana.
" Memang nya aku akan kemana sih" gumam Mia pelan dengan wajah yang terlihat kesal melihat Devan yang pergi memasuki sebuah ruangan kecil di belakang meja kerja nya, entah ruangan apa itu.
" Kenapa di mana - mana kamu selalu membuat ulah ha? Lihat lah wajah mu sekarang ini! Jelek sekali" ucap Devan dengan nada mengejek nya saat sudah duduk kembali di hadapan Mia dengan membawa sebuah kotak yang berisi obat dan beberapa alat untuk membersihkan luka.
Tangan Devan dengan cekatan membersihkan dan mengoleskan salep luka pada bagian wajah Mia yang terkena luka cakaran dan tamparan di wajah nya. Mia sesekali meringis saat tangan Devan menyentuh luka nya yang terasa perih. Devan menatap iba pada gadis yang ada di hadapan nya ini, sungguh hati Devan saat ini terasa sakit saat melihat gadis itu kesakitan.
" Ish bapak ini bagaimana, aku ini selalu cantik kapan pun dan di mana pun ya pak. Aku tidak terima dengan tuduhan bapak itu" Mia berkata dengan pd nya saat Devan sudah mengoleskan salep pada wajah nya
" Lihat ini, apa ini yang nama nya cantik ha?" Devan mengulum senyum nya seraya mengulurkan layar ponsel nya yang sudah dia seting dengan kamera depan nya.
" Ommo, kenapa wajah ku seperti ini? Dan rambut ku?" Mia sangat terkejut melihat wajah nya sendiri yang terdapat beberapa luka cakaran dan kemerahan bahkan sudut bibir nya juga pecah. Tangan Mia juga memegang rambut nya yang kini acak - acakan dengan wajah panik nya. " Ish, kenapa bapak melihat ku? Cepat keluar sana! Aku harus memperbaiki dulu penampilanku" Mia berwajah panik sekaligus malu karena calon suami nya harus melihat penampilan nya yang seperti itu. " Aih, kamar mandi? Dimana kamar mandi?" Mia masih terlihat panik sambil sambil celingak - celinguk mencari apa yang dia cari. Devan pun menunjukan sebuah pintu tanpa mengatakan apa pun karena dia sedang menahan tawa nya melihat eksfresi dari calon istri nya itu.
" Kamu tenang saja sayang, aku tidak akan membatalkan pernikahan kita karena ini kok" Tawa Devan pecah setelah mengatakan hal itu sedangkan Mia tampak berlari ke kamar mandi yang ada di sana untuk merapikan penampilan nya saat ini tanpa memperdulikan perkataan Devan pada nya dengan wajah yang sudah sangat merah karena malu.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏