Touch Me Please My Uncle

Touch Me Please My Uncle
Bab 65



Mia pun mulai mendekati Devan yang masih berdiri di hadapan nya sedangkan Devan pun melangkah mundur untuk menghindari Mia saat ini.


Mia terus mendekat sampai akhir nya Devan tidak bisa mundur lagi karena di belakang nya ada sofa bekas ia duduki tadi.


Hap


Mia bermaksud memeluk Devan dengan ke dua tangan nya, namun Mia tidak mendapatkan nya karena Devan dapat menghindar dari Mia. Namun Mia tidak menyerah begitu saja, dengan langkah yang masih sempoyongan dia mulai mengejar Devan dan Devan pun terus menghindar. Dan terjadi lah aksi kejar - kejaran antara mereka berdua di sekitar sofa dan meja yang ada di sana. Ke dua nya terus kejar - kejaran seraya berputar mengitari meja sofa sampai akhir nya ke dua nya pun merasa kelelahan.


" Sudah ya, jangan lari lagi! Kita sudahi main nya, aku cape" Mia berbicara dengan nafas yang tersengal - sengal.


" Siapa yang sedang main, hanya kamu yang menganggap nya permainan" batin Devan yang juga ngos - ngosan karena kelelahan. Posisi mereka sekarang Mia sedang duduk di sofa sedangkan Devan di sebrang meja sofa yang ada di sana sambil mendudukan diri nya di atas lantai.


" Mia, kita hentikan oke! Lebih baik kita tidur, lagi pula ini sudah sangat malam" Devan berbicara setelah dia menetralisir rasa lelah nya, namun yang di ajak bicara tidak mengeluarkan suara nya.


Devan pun bangun dari posisi duduk nya untuk melihat gadis itu dan ternyata Mia sudah tertidur lelap dengan posisi duduk bersandar di atas sofa.


" Pasti dia sangat kelelahan" Gumam Devan seraya menghampiri tubuh gadis yang terlelap itu dan mengangkat nya untuk dia pindahkan ke kamar nya. " Aku sudah tidak sabar ingin segera menikahimu agar kita bisa tinggal bersama selama nya" gumam Devan seraya menatap wajah cantik Mia yang tampak tenang dalam tidur nya.


Keesokan hari nya, Mia mulai terbangun dari tidur nya karena terusik dengan sinar mata hari yang masuk melalui celah gorden dan menerpa wajah cantik nya.


Mia menggeliat seraya mengerjapkan mata nya berkali - kali untuk membiasakan mata nya dengan cahaya yang ada di ruangan itu.


" Ish, kenapa kepala ku pusing sekali?" Mia memegangi kepala nya yang terasa berat. " Mana aku tidak mengingat apa - apa lagi" gumam Mia seraya mengedarkan pandangan nya ke segala arah dan Mia baru sadar kalau dia tidak berada di dalam kontrakan nya.


" Oh god, aku ada di mana?" Mia mengedarkan pandangan nya dengan wajah panik nya. " Eh tunggu - tunggu, apa itu pria? Oh god, apa yang sudah aku lakukan?" Mia memandangi tubuh seorang pria yang kini sedang tertidur sambil membelakangi nya tepat di samping nya. Ya, Devan yang merasa sangat kelelahan langsung tertidur di samping Mia sesaat setelah dia membaringkan Mia yang sudah tertidur pulas. Setelah itu dia meneliti tubuh nya sendiri, masih berpakaian tapi bukan pakaian milik nya dan beberapa kancing baju nya juga terbuka.


" Aaaaaahk" Mia berteriak histeris seraya menyilangkan tangan nya pada bagian dada nya untuk menutupi bagian tubuh nya yang sedikit terbuka, membuat Devan yang sedang tertidur merasa kaget dan terjatuh ke atas lantai.


Bruuk


" Aw" Pekik Devan tertahan masih dengan posisi jatuh nya tengkurap di atas lantai yang dingin dan keras.


" Ish, berisik! Apa yang aku lakukan pada mu? Yang ada apa yang kau lakukan pada ku semalam?" Devan pun bangun dan langsung mendudukan diri nya di sisi tempat tidur dengan keadaan yang cukup acak - acakan.


Kaos yang sedikit robek bagian bawah nya dan beberapa bekas kemerahan di sekitar leher dan dada nya akibat perbuatan Mia semalam.


" Pak Devan?" Mia membulatkan bola mata dan mulut nya saat melihat siapa yang ada di hadapan nya. " Apa yang sedang bapak lakukan di sini? Dan apa yang sudah bapak lakukan pada ku?" Mia masih menyilangkan ke dua tangan nya di dada nya.


" Seharus nya aku yang mengatakan itu pada mu, apa yang sudah kamu lakukan pada pria polos sepertiku? Kamu lihat ini, ini, juga ini!" Devan menunjukan beberapa tanda merah yang ada pada tubuh nya


" Apa aku yang sudah melakukan itu pada bapak?" Mia tampak menutup mulut nya sendiri saking terkejut nya. " Tapi tungu dulu, biar aku periksa siapa tahu bapak juga melakukan nya padaku" Mia pun beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan mendekati cermin yang ada di sana dan mulai melihat sekitar area leher dan dada nya mencari tanda merah yang sama seperti yang ada pada tubuh Devan, namun hasil nya nihil tidak ada tanda kemerahan sedikit pun pada tubuh nya. " Astaga Mia, sebenar nya apa yang sudah kamu lakukan semalam. Jangan - jangan kamu memperkosa pak Devan? Aih, mampus kamu Mia!" Mia merutuki kebodohan nya sendiri seraya memukul kepala nya pelan.


" Bagaimana? Apa ada tanda kemerahan di sana" Devan tampak menatap wajah cantik Mia dari dalam cermin yang ada di hadapan nya seraya melipat ke dua tangan nya di dada nya.


Mia pun dengan ragu membalikan badan nya menghadap pada pria yang berdiri di belakang nya, " he he" Mia tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. " Maaf" Mia menundukan wajah nya.


" Maaf? Apa dengan maaf semua bisa beres begitu?" Devan menatap Mia dengan tatapan intimidasi.


" Lalu aku harus apa? Kalau bapak memintaku bertanggung jawab karena telah memperkosa bapak aku tidak bisa" Mia berkata tanpa melihat wajah Devan.


" Apa tadi dia bilang? bertanggung jawab karena telah memperkosa ku?" batin Devan tersenyum menyeringai menatap gadis yang kini sedang menundukan wajah nya. " Kenapa tidak bisa? Cepat katakan alasan mu! Bagaimana pun kamu harus bertanggung jawab kepada ku" Devan tampak mengulum senyum nya.


" Kalau aku bertanggung jawab, bagaimana dengan wanita cantik itu? Dia pasti akan sedih karena tidak jadi menikah dengan mu dan dia pasti akan sangat marah pada ku, aku tidak mau jadi seorang pelakor" Mia mengelengkan kepala nya dengan air mata yang sudah menetes pada ke dua pipi nya.


" Aku tidak mau tahu, pokok nya kamu harus bertanggung jawab pada ku! Bagaimana pun kamu sudah mengambil kesucianku" Devan tidak melihat kalau Mia sudah menangis sekarang sehingga dia terus saja menggoda gadis yang ada di hadapan nya.


" Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menjadi istri iimpanan mu begitu? Agar aku bisa bertanggung jawab pada mu dan kamu bertanggung jawab pada wanita itu?" Mia berteriak pada Devan dengan air mata yang sudah membasahi wajah nya.


Devan yang melihat itu pun menjadi tidak tega. " Hey, jangan menangis oke! Wanita yang kamu maksud itu memang akan menikah tapi tidak dengan ku , dia adalah kakak sepupuku!" Devan akhir nya mengatakan yang sebenar nya. " Jadi kamu bisa bertangung jawab pada ku tanpa menghawatirkan kamu akan menyakiti hati orang lain" Devan pun menghapus air mata pada wajah Mia dan menarik nya ke dalam pelukan nya. Mia pun tak menolak, dia malah membenamkan wajah nya pada dada bidang Devan dengan isak tangis yang masih keluar dari bibir nya.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏