
Beberapa hari kemudian mereka pun pergi ke Singapura sesuai rencana awal mereka beberapa hari yang lalu. Saat ini di Bandara tampak Simi, Alfaro, Devan dan Mia sedang menunggu kedatangan pasangan terlama kita, siapa lagi kalau bukan Yemi dan Kenzi yang kata nya sudah sampai juga di sana tapi belum terlihat juga batang hidung nya.
" Coba kamu telpon lagi, mereka sudah sampai di mana!" Devan menyuruh Mia untuk kembali menghubungi Yemi.
" Ya Mia, coba kamu tanyakan lagi! Kenapa mereka belum kelihatan" Simi ikut menimpali.
" Baiklah, sebentar!" Mia pun mulai menghidupkan ponsel nya dan bersiap melakukan panggilan pada sahabat nya itu. Baru saja Mia akan memencet tombol hijau, mata nya sudah menangkap sosok yang mereka tunggu sedang berjalan ke arah nya. " Itu mereka" Mia kembali menyimpan ponsel nya pada tas kecil yang selalu dia bawa.
" Maaf kami datang terlambat" Yemi datang dengan nafas yang tersengal - sengal karena berjalan cepat tadi.
" Sayang, aku bilang jalan pelan - pelan! Kamu harus ingat kalau ada bayi di perut mu" Kenzi mengusap punggung Yemi dengan lembut.
" Maaf, aku terlalu bersemangat. Dan aku takut kita telat" Yemi tampak nyengir kuda.
" Ish, kamu ini sudah mau jadi seorang ibu masih saja bar - bar seperti itu" ucap Devan dengan nada mencibir.
" Iya yem, kamu harus lebih hati - hati! Jangan sampai keponakan kita yang ada dalam perutmu kenapa - napa" Mia ikut mengomeli Yemi.
" Iya aku tahu, aku cuma agak terburu - buru tadi" Yemi mengerucutkan bibir nya.
" Sudah - sudah, nanti kalian boleh melanjutkan omelan kalian setelah kita sampai di Singapur. Kita hampir telat" Alfaro pun menghentikan percakapan mereka dan mengajak semua nya untuk segera cek in karena pesawat yang akan mereka tumpangi sebentar lagi akan lepas landas.
Semua nya tampak menuruti perkataan Alfaro tanpa membantah sedikit pun karena memang mereka sebentar lagi akan terlambat.
Yemi merasa terselamatkan dengan perkataan Alfaro dari omelan semua orang. Yemi memang ceroboh dan sering melupakan kalau kini dia sudah berbadan dua dan harus bersikap lebih hati - hati dari sebelum nya dan Yemi sadar akan hal itu.
Setelah menempuh waktu hampir dua jam, akhir nya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di bandara Changi Internasional Singapura. Yemi dan yang lain nya tampak turun dari pesawat dan langsung menuju ke depan menuju mobil yang sudah Alfaro pesan untuk membawa mereka ke tempat tujuan mereka.
Tempat tujuan mereka saat ini adalah hotel tempat mereka akan menginap di sana dan keesokan hari nya Alfaro baru akan membawa Simi pergi ke rumah orang tua nya.
" Apa ini hotel yang akan kita tempati?" Yemi menatap kagum pada bangunan yang ada di hadapan nya.
" Wow, daebak" Mia pun menatap dengan tatapan yang sama. " Menginap di sini pasti sangat mahal, apa kak Alfa tidak apa - apa?" Mia menatap Alfaro dengan tatapan menyelidik
" Ya om, pasti uang om akan habis untuk menyewa kamar di sini. Bagaimana om akan menikahiku kalau uang om habis" Simi berkata dengan nada mengejek nya. Devan dan Kenzi hanya diam seraya mendengarkan ocehan para istri mereka.
" Apa maksud mu?" Kenzi yang menyadari sesuatu dari perkataan Alfaro barusan tampak menatap alfaro dengan tatapan menyelidik.
Kenzi memang sudah mulai curiga pada jati diri Alfaro sudah sejak beberapa bulan yang lalu, saat Kenzi pernah tak sngaja mendengarkan percakapan Alfaro dengan seseorang entah siapa itu dengan menggunakan bahasa Singapura dan Kenzi paham betul apa saja yang Alfaro ucapkan. Apa lagi saat itu Alfaro menyebut nama perusahaan yang sangat besar di Singapura ini dan Kenzi masih belum tahu hubungan Alfaro dengan perusahaan terbesar di Singapura itu, dan yang Kenzi tahu bahwa hotel yang kini mereka kunjungi adalah salah satu hotel terbesar di sana dan itu adalah salah satu aset milik perusahaan itu.
" Maksudku, aku bisa meminta temanku yang bekerja di sini untuk memberikan diskon nya untuk kita" Alfaro menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Alfaro baru menyadari kalau diri nya telah salah bicara.
" Oh, jadi om meminta bantuan teman om di sini, begitu?" Simi mengangkat alis nya sebelah.
" Ya, seperti itulah sayang!" Alfaro mengacak rambut Simi dengan gemas.
" Ish, jadi berantakan kan om" Simi mengerucutkan bibir nya seraya membenahi rambut nya yang sudah di acak - acak oleh Alfaro tadi.
" Ayo kita masuk! Aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat" Devan menggandeng tangan Mia dan langsung melangkah masuk ke dalam hotel. Semua tampak mengikuti mereka dari belakang dan Alfaro berjalan paling belakang di antara mereka.
Pegawai hotel tampak membungkuk hormat saat Alfaro dan yang lain nya melewati mereka.
" Selamat datang tuan mu_ " seorang pelayan berniat untuk menyambut kedatangan Alfaro dengan istimewa namun Alfaro tampak memberikan isyarat nya dari arah belakang sehingga membuat pelayan itu menghentikan ucapan nya dengan wajah yang terlihat bingung dan itu tidak luput dari pengamatan mata Kenzi .
Tak lama mereka pun sampai di depan meja receptioanis hotel dan Alfaro menyuruh yang lain nya menunggu di tempat duduk yang di sediakan di sana sementara dia mengambil kunci kamar yang akan mereka tempati nanti nya.
" Bagaimana? Apa kalian sudah menyiapkan semua nya sesuai dengan apa yang aku pinta?" Ucap Alfaro dengan nada tegas nya saat menghampiri salah satu pegawai yang bertugas di meja receptionis hotel itu.
" Sudah tuan muda, semua sesuai dengan apa yang tuan muda minta. Ini kunci kamar nya!" Pegawai itu pun memberikan kunci kamar yang di minta oleh Alfaro dengan gugup. Sudah lama Alfaro tidak datang ke sana dan sejak dulu, kewibawaan dan ketegasan Alfaro sudah di kenal oleh seluruh pegawai itu. Jadi mereka semua takut melakukan kesalahan di depan tuan muda mereka itu.
" Kerja yang bagus" pegawai itu pun tersenyum saat mendengar pujian dari Alfaro barusan.
" Biar kami yang mengantar tuan muda dan yang lain nya sampai ke kamar" ucap pegawai lain nya yang bertugas mengantarkan pengunjung yang datang sampai ke kamar mereka, pegawai itu berjumlah tiga orang yang juga akan membawakan barang bawaan mereka juga.
" Baiklah! Tapi ingat, jangan panggil aku seperti itu di depan mereka semua karena mereka ti dak tahu siapa aku yang sebenar nya. Alfaro berkata dengan nada tegas nya membuat ke tiga pegawai itu mengangguk mantap. Setelah mengatakan hal itu, Alfaro pun kembali menghampiri Simi dan yang lain nya untuk menyerahkan kunci dan mengajak mereka ke kamar mereka masing - masing.
Yemi dan yang lain nya akhir nya di antarkan oleh para pegawai hotel itu sampai ke kamar mereka masing - masing, dan ternyata kamar mereka bersebelahan satu sama lain nya sehingga membuat mereka mudah untuk berkomunikasi satu dengan yang lain nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏