
Simi terus berteriak dan memberontak diatas pundak Alfaro, kaki dan tangan Simi terus di gerak - gerakan agar pria itu mau menurunkan nya. Alfaro seakan tuli dan tidak memperdulikan teriakan Simi pada nya. Teman - teman Simi tidak ada yang berani melakukan apa pun dan hanya bisa melihat punggung Alfaro yang perlahan menghilang di balik tembok kantin dengan tanda tanya besar pada kepala mereka. Apa lagi Simi tadi memanggil Alfaro dengan sebutan om, jadi mereka berfikir kalau Alfaro adalah om nya Simi.
" Turunkan aku! Om mau membawa ku kemana ha?" Simi berteriak seraya tangan nya memukul - mukul punggung Alfaro dengan cukup keras.
" Diam!" Alfaro berkata dengan nada tinggi nya. " Atau aku akan melakukan hal yang lebih nekat dari ini di depan seluruh kampus" tambah Alfaro lagi dengan nada mengancam nya membuat Simi terdiam seketika . Simi hanya bisa menutup wajah nya agar tidak ada yang mengenali nya saat semua mata yang berada di kampus itu melihat ke arah nya dengan tatapan aneh mereka. Dan yang bisa di lakukan Simi saat ini hanya pasrah kemana pun pria menyebalkan ini membawa nya.
Setelah beberapa lama Alfaro berjalan sambil menggendong Simi di pundak nya, akhir nya mereka sampai di tempat di mana mobil Alfaro di parkirkan. Alfaro pun membuka pintu mobil kursi penumpang bagian depan dan langsung melempar tubuh Simi dengan sedikit kasar.
" Aw" pekik Simi saat tubuh nya di lemparkan ke dalam mobil. " Apa om fikir aku ini karung beras apa? " gumam Simi seraya mendengus kesal. Sedangkan Alfaro tidak memperdulikan omelan Simi dan langsung memutari mobil nya untuk masuk ke dalam mobil dari sisi yang satu nya setelah dia menutup pintu mobil di bagian Simi.
Alfaro pun tanpa berkata apa - apa langsung menginjak pedal gas mobil nya dan pergi dari kampus Simi dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Sedangkan tak jauh dari mobil mereka tampak Mia yang menatap kepergian mobil Alfaro dengan senyuman penuh arti.
Hari masih sore dan Alfa hanya ingin bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan gadis yang berada di samping nya ini dan ingin meluruskan permasalahan yang ada agar fikiran nya tenang dan bisa kembali mengerjakan pekerjaan nya dengan baik seperti dulu lagi. Karena jujur saja sejak pertemuan nya yang terakhir dengan Simi membuat nya tidak tenang.
Perjalanan mereka kali ini hanya di selimuti keheningan dari kedua nya, Alfaro sibuk memikirkan apa yang akan dia katakan pada Simi sedangkan Simi sedang merasa sangat kesal pada pria yang suka seenak nya yang kini sedang duduk di samping nya.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit akhir nya mobil yang di kendarai oleh Alfaro akhir nya terparkir di sebuah tempat yang Simi tahu persis di mana mereka sekarang.
" Turunlah!" Ucap Alfaro dengan nada datar nya.
" Aku tidak mau" ucap Simi dengan ketus.
" Aku bilang turun!" Alfaro berkata dengan nada tak mau di bantah seraya melepaskan seat belt yang meindungi tubuh nya.
" Aku tidak mau, lagi pula kita mau apa ke sini?" Simi masih tidak bergerak dari posisi nya saat ini.
" Nanti kau juga akan tahu, jadi cepat turunlah!" Alfaro mencondongkan tubuh nya ke arah Simi sehingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja.
" A apa yang om lakukan" ucap Simi terbata dengan detak jantung yang berdetak sangat kencang saat tiba - tiba Alfaro mendekati nya.
" Hufth" Simi membuang nafas nya lega saat Alfaro kembali menjauh dari tubuh nya. " Kenapa dia tidak bilang kalau ingin membukakan seat belt di tubuh ku sih, bikin jantungan saja" batin Simi seraya mengusap pelan dada nya. Alfaro yang melihat nya hanya bisa mengulum senyuman nya melihat tingkah gadis yang ada di samping nya seraya turun dari mobil nya dan berjalan mengitari mobil itu untuk membukakan pintu mobil bagian Simi.
" Cepat turun! Atau aku akan menggendong mu lagi" Alfaro berkata dengan nada ancaman membuat Simi langsung turun dari mobil Alfaro. Enak saja kalau Alfaro kembali menggendong nya seperti tadi, Simi pasti akan sangat malu.
Tanpa berbicara apa pun lagi, Alfaro langsung menggandeng tangan Simi dan menarik nya untuk mengajak nya masuk ke dalam apartemen milik nya. Ya, Alfaro membawa Simi ke apartemen milik nya karena dia tidak tahu harus membawa gadis itu kemana. Karena yang kini dia butuhkan adalah tempat yang tenang dan jauh dari keramaian agar diri nya bisa berbicara serius dengan Simi nanti nya.
Hening, hanya itu yang ada di sepanjang perjalanan menuju apartemen Alfaro. Bahkan selama dalam lift pun mereka masih saja saling terdiam, dengan tangan Alfaro yang masih saja setia menggenggam tangan Simi dengan cukup erat.
Tak lama pun mereka sampai di dalam apartemen Alfaro, Alfaro pun mendudukan Simi di atas sofa ruang tamu nya dengan diri nya yang ikut duduk di samping Simi.
Hening
Suasana masih saja kaku dan tanpa suara sedikit pun walau mereka sudah duduk disana selama tiga puluh menit, hanya suara tik tok dari jam dinding yang terdengar di antara mereka.
" Katakan, kenapa om membawa ku ke sini? Kenapa om hanya diam?" Simi memecah keheningan di antara mereka seraya menatap pria yang ada di hadapan nya dengan tatapan menyelidik.
Alfaro menatap Simi sekilas kemudian dia kembali meluruskan pandangan nya, entah apa yang dia lihat saat ini yang pasti saat ini fikiran nya sedang sangat kacau dan juga bingung harus mengatakan apa pada gadis yang berada di samping nya. Detak jantung nya kini berdetak dengan sangat kencang dengan keringat dingin yang mengalir pada punggung nya. Jujur saja Alfaro memang pria yang tidak pernah dekat dengan wanita mana pun kecuali Yemi yang merupakan istri dari bos nya dan itu pun tidak bisa di kategorikan kedekatan antara pria dan wanita secara umum nya.
Alfaro juga bukan tipe orang yang bisa dengan mudah nya mengeluarkan kata - kata lembut apa lagi kata cinta, sehingga seperti ini lah Alfaro sekarang. Seperti orang bodoh yang tidak tahu cara nya berbicara.
" Kenapa om diam saja? Cepat katakan atau aku akan pergi dari sini" Simi langsung berdiri dari duduk nya dan hendak pergi meninggalkan pria yang sudah membuat nya sangat kesal itu.
Alfaro yang tidak ingin Simi pergi pun langsung menarik tangan Simi sehingga Simi terjatuh di atas pangkuan Alfaro. Mata ke dua nya saling bersirobok satu sama lain dengan detak jantung mereka yang sama - sama berdetak dengan sangat cepat.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏