Touch Me Please My Uncle

Touch Me Please My Uncle
Bab 72



" Bapak ini apa - apa an, kalau kita menikah hari ini. Memang siapa yang akan menjadi wali nikah ku, ayah ku baru akan kembali ke Indonesia satu bulan lagi. Apa bapak ingat" Mia mengerucutkan bibir nya lucu.


" Nah, kamu dengar itu? Calon istri mu bahkan lebih pintar dari diri mu" Ivan pun berlalu setelah mengatakan hal itu sambil mengulum senyum di bibir nya diikuti Mia yang mengikuti nya dari belakang meninggalkan Devan yang tampak menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Mia sangat malas bila sedang berdua dengan calon suami nya itu karena pasti ada saja yang akan membuat nya malu dan jantung nya berdetak dengan sangat cepat dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantung nya.


Mia pun hendak menghampiri Dena yang terlihat sedang menyambut para tamu dari pihak pengantin pria dan pak penghulu yang baru saja datang ke sana. Namun niat Mia terhenti saat mata nya menangkap dua orang yang baru saja datang ke acara itu, ke dua orang itu sangat tidak asing di mata Mia. Siapa lagi kalau bukan Yemi dan Kenzi.


" Yemi, kamu datang juga?" Mia tersenyum senang seraya memeluk sahabat nya itu.


" Tentu saja, kak Celin adalah sahabat uncle Ken. Benarkan uncle?" Yemi tersenyum manis menatap suami nya itu


" Em" Kenzi hanya mengatakan itu sambil menganggukan kepala nya dengan wajah yang terlihat datar.


" Benarkah? Kok kamu baru bilang sih Yem?" Mia mengerutkan kening nya.


" Benarkah? Mungkin aku lupa?" Yemi terkekeh saat mengatakan nya.


" Ish, kamu ini" Mia memutar bola mata nya malas.


Tak lama pengantin wanita pun tampak keluar dan akad nikah pun segera di mulai. Acara akad nikah berlangsung sangat khidmat dan lancar, tak terasa sekarang Celin dan Denis sudah resmi menjadi pasangan suami istri baik di mata agama maupun di mata hukum.


Setelah semua ritual terselesaikan dengan baik dan sempurna, kini Celin dan Denis naik ke atas pelaminan mereka untuk menyambut dan menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang.


" Selamat Denis, Celin, semoga keluarga kalian selalu harmonis" ucap Kenzi dengan senyum tipis di bibir nya seraya memeluk Denis dan menepuk punggung nya pelan. Sedangkan Yemi kini memeluk Celin


" Terima kasih" ucap Denis dan Celin bersamaan seraya membalas pelukan dari mereka berdua.


" Cepet dapat dedek bayi kayak aku ya kak " Yemi tersenyum manis.


" Ya, do'akan saja ya" Celin membalas senyuman Yemi. " Kamu lagi isi Yem, berapa usia kandungan kamu?" Celin menatap perut Yemi yang masih rata.


" Baru tiga minggu, makan nya setiap pagi dia muntah - mutah. Aku jadi tidak tega melihat nya" Kenzi yang menjawab dengan wajah sendu nya.


" Itu biasa bagi yang hamil muda Zi" Celin terkekeh saat mengatakan nya.


" Aku gak nyangka seorang Kenzi akan bersedih saat melihat istri kecil nya menderita karena kehamilan nya" Denis berkata dengan nada cibiran.


" Ish, aku juga manusia yang tidak tega melihat orang yang aku cintai menderita" Kenzi merangkul dengan sayang pinggang Yemi dan menarik nya agar merapat pada nya.


" Cih, aku fikir kamu itu robot Zi" Celin dan Yemi terkekeh bersama setelah Celin mengatakan hal itu. Setelah itu tak lama Kenzi dan Yemi berlalu dari hadapan pasangan pengantin itu karena yang lain nya juga sudah mengantri menunggu giliran mereka untuk mengucapkan selamat pada pasangan itu.


Suasana pesta pun berjalan dengan sangat meriah, berbagai aneka hidangan pun tampak tersaji di sana. Dari mulai makanan berat, cemilan dan berbagai desert tampak menggugah selera siapa saja yang melihat nya.


" Aku tidak mau apa - apa uncle, rasa nya aku mual hanya dengan melihat nya saja" Yemi tampak berwajah lesu.


" Tapi kamu harus makan sayang, demi bayi kita oke!" Kenzi berusaha membujuk istri kecil nya itu.


Seperti itu lah Yemi semenjak kehamilan nya, dia jadi susah makan dengan alasan mual dan setiap pagi dia pasti akan memuntahkan isi perut nya.


" Baiklah, tapi sedikit ya uncle. Dan setelah itu aku ingin es krim" Yemi menunjuk stand es krim beraneka rasa yang ada di sana.


" Baiklah, nanti aku akan ambilkan es krim nya. Sekarang kamu makan dulu oke!" Kenzi pun mengambilkan beberapa makanan yang menurut nya enak dan sehat untuk ibu hamil. Setelah itu, Kenzi dengan telaten menyuapi Yemi yang susah makan itu dengan sabar sampai piring yang di pegang Kenzi pun akhir nya kosong tak bersisa. Setelah selesai memakan makanan nya, seperti yang sudah di janjikan pada Yemi. Kenzi mengambilkan es krim beraneka rasa yang diinginkan Yemi tadi.


Yemi yang sedang menunggu Kenzi untuk mengambilkan es krim pun dengan iseng membuka ponsel nya dan melihat beberapa foto kenangan nya bersama dengan ke dua orang tua nya. Sungguh hanya itu obat yang bisa meringankan rasa rindu yang Yemi rasakan pada mereka saat ini.


Yemi memang terlihat tegar dari luar, namun di dalam Yemi juga terkadang menangis dalam kesendirian nya. Namun kehadiran Kenzi yang selalu memberikan perhatian pada nya sedikit mengurangi beban kesedihan yang di alami Yemi.


" Kami sendirian, dimana suami kamu?" Terdengar seseorang yang tak asing bagi Yemi bertanya dan mendudukan diri nya di kursi yang berada di samping Yemi.


" Eh, tante Dena. Uncle sedang mengambilkan es krim untukku, itu dia!" Yemi pun menunjuk Kenzi yang sedang mengantri di depan stand es krim yang di inginkan oleh Yemi.


" Uncle?" Dena merasa aneh dengan panggilan yang di sebut oleh Yemi pada suami nya itu.


" Ya uncle, itu terdengar aneh ya tante?" Yemi pun nyengir kuda.


" Aneh sih tidak, tapi hanya berbeda saja" Dena terkekeh saat mengatakan nya.


" Itu karena aku sudah terbiasa memanggil nya seperti itu sejak aku masih kecil" Yemi ikut terkekeh.


" Sejak kecil? Kamu sudah lama mengenal suami mu?" Dena mengerutkan kening nya.


" Ya, dia sahabat dari ayah ku yang sudah meninggal. Umur uncle memang sedikit lebih muda dari ayah, tapi uncle sudah mengikuti ayah sejak dia berumur delapan belas tahun dan aku saat itu masih bayi. Ayah dan ibu dulu menikah muda dan kata nya itu juga yang membuat hubungan ibu dan keluarga nya tidak baik" Yemi teringat akan apa yang pernah dia dengar dari ibu nya. " Apa lagi saat ayah menikah dengan ibu, ayah ku belum mempunyai apa - apa. Ayah menikahi ibu hanya dengan modal cinta dan kegigihan dalam usaha nya, dan akhir nya ayah berhasil mewujudkan impian nya mendirikan perusahaan nya sendiri dan membesarkan nya dengan kerja kerasa nya. Namun sebelum beliau bisa di akui oleh keluarga ibu, mereka malah mengalami kecelakaan naas itu" wajah Yemi berubah sendu.


" Kenapa cerita itu sama dengan kisah dia?" batin Dena menatap Yemi dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


" Boleh tante tahu siapa nama ayah dan ibu mu?" Dena tampak ragu saat mengatakan nya.


" Tentu saja, nama ayah ku Davin dan ibu ku Dinda" Yemi tersenyum manis tapi tidak dengan wajah Dena yang kini berubah dengan wajah yang sulit untuk di artikan.


**Kira - Kira apa hubungan Dena dan orang tua Yemi? Jeng jeng jeng... Nantikan bab berikut nya 😁😁


Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏**