
Silau lampu membuat mataku harus sangat merapat. Perlahan kurasakan sekujur tubuhku seperti telah lama berada di posisi yang sama. Tertidur di atas kasur.
"Al?" tutur mama yang berada di sampingku. Tak lama setelahnya seseorang berjaket putih panjang datang dengan sedikit bagian stetoskop bergantung di saku jaket itu. Ia memeriksaku menggunakan segala alatnya.
Setelah memeriksaku, pria itu menjelaskan sesuatu yang tak bisa kudengar dengan jelas. Mama tampak bahagia saat itu, tapi ia juga meneteskan air mata. Menjawab perkataan pria itu sesegukan. Papa yang ada di sampingkan merangkul mama seakan berusaha menenangkan wanita di sampingnya itu. Aku kembali melihat diriku. Lalu melihat sekeliling. Sebuah kamar rumah sakit kini menjadi latar tempatku berada. Kamar yang sama. Seperti dalam mimpi itu.
...**...
"Hei Al!" sapa Erga dari balik pintu. Terlihat Doni dan Ciko membuntutinya dengan sekantung plastik buah-buahan.
"Hei!"
"Gimana?" tanya Ciko sedikit meledek.
"Gak baik, mereka bilang waktuku hanya 2 hari," jelasku dengan perasaan aneh. Mereka bertiga menatapku aneh setelahnya. Ciko memeriksa suhu badanku lalu iya mengerutkan dahinya dengan mengangkat alis kirinya.
"Nggak sehat nih anak," jelas Ciko.
"Kena otaknya kali, kegeser," tambah Doni membuat semua tertawa. Aku menggetok satu persatu kepala mereka sebelum seseorang datang menegur karena telah mengadakan stand up komedi dadakan di kamar ini.
"Rame banget, ini rumah sakit bro," tegurku merendahkan nada bicaraku.
"Maaf-maaf, lupa." Seketika ketiganya menyatukan tangan meminta maaf. Aku sedikit tertawa melihatnya.
Mama masuk tiba-tiba. Melihat kehadiran mereka bertiga, wajah mama menjadi sumringah. Mereka cukup dekat dengan keluargaku jadi sudah dianggap seperti ponakan sendiri katanya. Aku melihat ke arah mama dan mulai bingung memikirkan semua ingatan itu. Apa benar umurku hanya tersisa 2 hari?
Mama meninggalkan kami berempat di dalam kamar. Dan seperti biasa, Doni memulai permainan tetrisnya. Bukan seperti kebanyakan orang yang bermain ML dan semacamnya. Lingkar pertemanan ini cukup kudet untuk itu. Kita masih bermain tetris dan berlomba-lomba mendapat skor tertinggi. Semua ini diawali dengan kegabutan seorang Doni. Doni yang tak pernah mendownload permainan di gawainya, tiba-tiba muncul satu permainan masa kecil. Tetris. Ia bermain lebih sering dari aku dan Ciko yang bermain ML di setiap ada waktu luang. Aku, Ciko dan Erga mulai penasaran dan kami mulai mengadopsi permainan itu juga di gawai kami. Dan setelah itu, tetris menjadi game andalan kami saat berkumpul.
"23.650," ucap Erga sangat bersemangat.
"23.100, dikit lagi!" Ciko sedikit geram.
"Gua paling tinggi, 26.800," lanjut Doni sedikit menunjukkan tawa jahat seperti dalam film.
"25.000."
"Yaaa... sekarang waktunya Ciko traktir." Itulah yang terjadi jika skor terbaik kami berada di tempat terbawah. Dan selama itu sepertinya Doni tak pernah mengeluarkan sepeserpun uang di kantongnya untuk hal ini.
"Ya ampun, gua lagi," keluh Ciko yang baru saja menraktir kami sekitar 2 minggu lalu.
Panggilan masuk di gawai Erga. Kami melihat tulisan ibu sebagai nama pemilik nomor itu. Dan kamu bertiga mulai tertawa kecil menanti apa yang akan terjadi.
"ERGA!" teriak ibu Erga hingga didengar kami berempat meskipun posisinya tak sedang di loud speaker. "PULANG! Kerjaannya main mulu, gak tahu apa toko lagi rame," lanjut ibu Erga membuat kami semakin kesulitan menahan tawa. Erga segera mengiyakan dan akhirnya ibu Erga menutup panggilan itu setelah puas dengan jawaban Erga.
"Balik dulu deh, emak gua ngamuk," ucap Erga lalu segera meninggalkan ruangan ini, disusul dengan Doni dan Ciko yang juga akan pulang bersamanya. Dan beberapa menit kemudian mereka menghilang dari balik pintu itu."
...**...
Sebuah potongan apel kusantap perlahan, sembari memikirkan yang harus kulakukan. Ucapan selamat tinggal apa yang pantas untuk 2 hari terakhir ini. Mama terus mengupas apel-apel itu tanpa henti.
"Besok aku mati," ucapku lirih hingga mama tak mendengarnya. Aku berusaha menahan tangis yang menyesakkan dada. Rasanya ingin berteriak, tapi kepalaku akan menjadi tumbalnya. Mengingat berapa banyak ibu-ibu di rumah sakit ini. Sepertinya saat itu aku telah menjadi arwah penasaran.
Aku berkeliling seluruh rumah sakit melihat arwah lain tersenyum padaku karena akhirnya ia terbebas dari siksaan dunia. Melihat arwah lain yang berdiri menangisi tubuhnya yang tak bisa ia masuki sama sepertiku. Melihat beberapa hantu yang mengerikan. Tentu saja. Apalagi ini rumah sakit. Hanya satu tempat yang tak berani kukunjungi, yaitu kamar mayat. Entah kenapa hawanya terasa mencekam bahkan dari jarak yang cukup jauh. Lagi pula tepat di depan pintu masuk, ada sosok yang menjaganya. Aku lari terbirit-birit setelah mata kami tak sengaja bertemu. Aku mulai merinding mengingatnya dan tiba-tiba mama mematikan pendingin ruangan itu.
"Kenapa dimatikan ma?" tanyaku heran karena mama adalah seseorang yang tidak kuat dengan hawa panas.
"Kamu kedinginan, jadi mama matikan," jawabku kemudian kembali duduk.
"Nggak ma, gak ada yang kedinginan, dihidupkan lagi ya," pintaku berusaha bangun meraih remot pendingin itu yang telah dipindah mama ke rak putih di samping kasur ini.
"Jangan, kamu kedinginan." Mama mengambil remot itu sigap, menjauhkannya dariku. "Kamu tidur aja, jangan banyak gerak," perintahnya dengan nada yang sedikit mengerikan untuk ditentang.
......**......
Aku muak berada di kamar setelah seharian berada di sana. Berkutat dengan remot tv dan buku pelajaran yang entah kenapa tak ada buku novel atau semacamnya. Mama membawaku berkeliling. Tapi rasanya aku sudah mengenal rumah sakit ini. Ini sama bosannya kurasa. Hingga mama membawaku ke taman rumah sakit ini. Di sore hari taman ini terlihat lebih nyaman dan sejuk. Rasanya damai, melihat tanaman-tanaman itu bermain dengan angin. Rumput yang tumbuh dengan cantik, bahkan lebih cantik dari yang ada di taman kecil di rumah.
Mama mendapat sebuah panggilan masuk, lalu ia berdiri sedikit menjauh. Mataku mulai berkeliling, melihat semua yang bisa kulihat. Semua terasa sangat nyaman di mata ini. Hingga tiba-tiba aku melihat malaikat itu di depan salah satu kamar.
"Malaikat!" ucapku sedikit berteriak membuat semua orang menoleh ke arahku, termasuk sang malaikat.
"Al? Malaikat? Maksudnya?" tanya mama khawatir dengan tingkahku.
"Tiba-tiba aja lewat kata malaikat di otakku dan gatau kenapa pingin teriak, maaf ma." Mama sedikit lega mendengarnya dan mama langsung membawaku pergi dari taman itu.
Mata ini tetap terpaku pada malaikat itu. Malaikat itu juga menghadap ke arahku. Aku tetap tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia tak telihat akan mendekatiku. Tapi aku butuh bertemu dengannya. Tapi jika aku teriak lagi, bukan hanya mama yang akan menganggapku sakit, tapi seisi rumah sakit ini akan mulai berpikir aku gila.