
"Selamat ulang tahun Ren, makin ganteng aja deh ponakan tante," ucap seorang wanita paruh baya.
Salaman demi salaman tersalurkan spontan, laki-laki perempuan, tua muda, tante om, kakek nenek, sepupu, bahkan ponakan? Aku pikir ia adik sepupuku tapi ternyata ia ponakan? Gadis kecil bernama Ira beramput hitam lurus yang baru saja menyalami dan mengucapkan selamat dengan memanggilku om. Aku pikir bukankah terlalu muda untuk dipanggil.
Awalnya kukira para gadis di rumah ini sedang menggangguku seperti biasanya. Tapi setelah kutanyakan alasan kenapa Ira memanggilku om pada mama, kenapa aku baru tahu? Mengingat Ira jarang main me rumah karena tempat dinas orang tuanya yang cukup jauh, dan sekalinya ketemu pun ia sepertinya tidak memanggilku, wajar jika aku baru mengetahuinya.
"Ira, kok panggil om?" tanyaku pada gadis kecil tembam itu yang sedang asik melahap kue ulang tahun. Mendengar pertanyaanku ia hanya menatap bingung ke semua orang di sekitarnya.
"Kamu ini, jangan ganggu Ira," kata kak Keo memukulku pelan.
Acara potong kue sudah berlangsung 5 menit yang lalu, dan semua undangan sedang menikmati semua hidangan yang telah dipersiapkan. Aku mengambil sedikit kue ulang tahunku karena tak terlalu menyukai makanan manis. Apalagi jika dilihat dari bentukannya kue ulang tahunku itu terlihat sangat manis. Sepertinya mereka semua sengaja membuatmu mengambil sedikit bagian dari kue ulang tahunku sendiri.
"Sekarang giliran mbak Farah dan mas Tomi." Tante Lina mulai membawa acara ini. Kemampuan MC nya tak pernah kuragukan setelah sekali kamu berpapasan dalam acara pernikahan temanku yang ternyata MC mereka bukan lain adalah tanteku. Dan siapa pun nama yang dipanggilnya kali ini, mereka harus datang dan bernyanyi bersama.
Pesta berlalu layaknya pesta keluarga pada umumnya. Dan puncaknya baru saja akan dimulai. Panggilan nama terakhir untukku, bang Ewo, dan bang Oni menggusur sebagian penonton yang mulai lupa gundukan kecil di depan adalah panggung kecil. Beberapa peralatan band segera keluar. Ya, tentu saja, pertunjukan band yang sedikit liar di tengah acara keluarga yang manis dan meriah. Mari kita lihat bagaimana respon semua orang.
Akh ... bruk
"Renn..." mama berteriak kuat melihatku tiba-tiba terjatuh.
"Ya ampun Ren!"
"Eh, Ren Ren Ren."
Semua orang berkumpul, mata ini melihat mereka satu persatu.
"Ayo bawa ke dalem."
...**...
"Baik, nama anda siapa?" Seseorang berdiri dihadapanku berkali-kali menanyakan hal yang sama. Wajahnya tertutup membuatku berusaha melihatnya lebih dalam.
"Ini untuk yang kesekian kalinya, tidak mungkin anda melupakan nama anda sendiri, jadi, siapa nama anda?" tanyanya sekali lagi yang lagi-lagi kujawab dengan bungkam. Sudah kutanyakan beberapa kali sebelum ia mulai bertanya beberapa kali tempat macam apa ini? Kenapa aku bisa di sini? Ini orang siapa? Tapi tak satu pun dari mereka dijawab bahkan mungkin didengarkan. Tangan sibuk dengan sebuah ... kertas? Tab? Jaman macam apa ini sebenarnya? Apa aku melakukan perjalanan waktu? Melihat bagaimana kertas itu menampilkan tulisan dan gambar yang berbeda-beda dengan hanya satu kedipan mata yang dilakukannya--mungkin.
Sedari tadi kuamati ia yang sedang bermain dengan kertas atau Tabnya itu. Ia memegangnya dengan tangan kanan dan tanpa menyentuhnya beberapa kali tampilan benda itu berganti. Aku yakin itu kertas ... atau mungkin itu lapisan luarnya saja? Kuamati beberapa kali sepertinya setiap ia berkedip, kertas itu mengubah tampilannya otomatis. Apa ada tombol khusus yang ia tempelkan di matanya?
"Maaf tuan, bisa saya tahu dimanakah saya berada saat ini?" tanyaku untuk yang kesekian kalinya hingga aku menjadi mahir mengucapkannya dengan sangat sopan. Tapi lagi-lagi ia diam. Begitulah yang terjadi kira-kira beberapa waktu lalu sebelum akhirnya ia mendekat dan mulai penasaran dengan namaku.
"Sudahlah," ucapnya dengan nada yang bahkan tak berubah sejak tadi meninggalkanku sendiri dalam ... aku pikir ini bukan sebuah ruangan, tapi ini terlalu luas hingga aku tak bisa melihat sudut-sudutnya.
"Jadi, Renaldi, benar ya?" Aku pikir pertanyaannya akan sama, ternyata ia lebih pintar sepertinya.
"Iya," jawabku singkat. "Boleh saya tahu ini dimana?" lanjutku menanyakan hal yang sama pada orang yang berbeda.
"Kamu ada di tempat paling aman dan damai," jawabnya tersenyum hangat yang membuatku bingung. Aman? Damai? Aku justru merasa asing saat ini.
"Bagaimana saya bisa ada di sini?"
"Umur anda 20 tahun ya?" jawabnya dengan pernyataan lain.
"Iya." Aku melirik ke arah kiri seperti ada sesuatu yang lewat. "Lalu bagaimana bisa saya ada di sini?"
"Semua data diri sudah sesuai, selanjutnya ditunggu saja ya," jawabnya lalu pergi meninggalkanku dengan wajah kosong tanpa ekspresi. Aku seperti tak memikirkan apa pun, tak merasakan apa pun.
"Apa-apaan ini?" gumamku melihat semua itu.
Kulirik seluruh bagian ruangan ini. Tak terlihat sebuah jam pun di sini. Tapi, ruangan ini seperti tak punya dinding, tentu saja tak ada jam. Mari coba mengingat apa yang terjadi sebelum akhirnya aku terjebak dalam ruangan dan perasaan aneh ini. Kufokuskan diriku sebaik yang kubisa, tapi tak satu pun ingatan yang berhasil kugapai. Kemana semua ingatanku? Tidak mungkin semua hilang begitu saja kan?
"Apa aku hidup hanya untuk mengingat nama, umur, data diriku?"
Seorang lainnya tiba-tiba muncul, dan ia orang yang sama dengan yang pertama menanyakan namaku. Ia kembali. Kini wajahnya lebih tenang, aku rasa ia menyiapkan mental di luar sana. Ia mendekatiku dan mulai membacakan peraturan yang sama sekali tak kumengerti peraturan apa itu.
Butuh beberapa waktu menyelesaikannya dan saat selesai ia mengakhirinya dengan pertanyaan "Apakah anda sudah mengerti?" yang hanya kujawab dengan kerutan kecil antara dua alisku yang sedikit terangkat.
"Peraturan apa itu?" tanyaku berharap kali ini ia menjawabnya.
"Ini bukan peraturan, ini ketentuan yang sudah pasti terjadi."
"Maaf maaf, sejak tadi saya menanyakan sesuatu dan jawaban yang saya dapat sama sekali tidak bisa saya mengerti, sebelumnya ia mengatakan tempat ini tempat paling aman dan damai, sekarang anda mengatakan semua yang anda bacakan adalah ketentuan yang pasti terjadi, maksud semua itu apa?" tanyaku panjang lebar yang hanya diresponnya dengan senyum hangat yang sangat berusaha ia perlihatkan walau akhirnya terlihat sedikit aneh.
"Lalu apa maksudnya dengan saya disuruh untuk menunggu? Apa yang harus kutunggu?" lanjutku semakin menjadi merasa menerima perlakuan tak adil.
"Dan ruangan ini tidak memiliki sudut? Bukankah ini sebuah ruangan?" tanyaku lagi hampir membuatnya tertawa.
"Benar, tempat ini adalah tempat paling aman dan damai, semua yang kubacakan adalah ketentuan itu benar adanya, karena itulah yang terjadi di sini, sampai saat ini tidak pernah melenceng dan itu membuat semuanya tertata rapi," jelasnya yang sama sekali tak menjelaskan teka-teki ini.
"Saat waktunya tiba, anda akan mengerti semuanya." Lalu ia pergi.