Time's Up

Time's Up
Chapter 4 - Cewek Misterius



Bersamaan dengan gemuruh petir berlumur air mata kawanan awan yang tengah berduka akan kepergian sang rembulan membatasi jarak pandangku. Erga sejak tadi merasa ada yang salah dengan hari ini. Ia memiliki kebiasaan bermain dengan intuisinya yang lebih banyak benar 1 poin jika dimisalkan dengan angka. Aku yang tak terlalu mempercayai intuisinya berusaha terus menerobos deraian air mata yang sudah seperti guyuran seember penuh pada satu titik.


"Ren, serius, mending kita pulang," ajaknya untuk yang kesekian kali. Sebenarnya aku sangat setuju dengan keinginannya yang secara tidak langsung mendukung intuisinya itu. Tapi kalau sampai mama mengetahuinya, habis hidupku.


"Mana bisa, emak gua ngamuk entar," bantahku dengan terus berusaha mengemudi dalam kecepatan minim.


Erga mengerti maksudku, karena itu ia tak berkomentar lainnya. Tapi tentu diam membuatnya jauh lebih gelisah tentang sesuatu yang entah apa itu memenuhi benaknya dengan adegan-adegan buruk yang mungkin terjadi. Aku pikir ia terlalu overthinking.


Beberapa kali aku hampir menyerempet mobil yang tak bisa kuketahui arah kemunculannya. Seberapa lambat mobil ini berjalan, bahaya seperti enggan pergi. Sorotan lampu kendaraan lain pun harus kulihat dengan sangat jeli hingga akhirnya sampai ke netra ini. Menggambarkan betapa mengerikannya cuaca saat ini tak sebanding dengan gambaran kemarahan mama jika ia tahu bukan hanya telat, tapi aku bolos kuliah.


"Hati-hati," tegur Erga setelah sekian kalinya hampir saja mobil ini bersentuhan dengan mobil lainnya.


...**...


"Selamat pagi semua." Dosen cantik memasuki ruangan gelap gulita yang sengaja tak satu pun dari kami menghidupkannya. "Kenapa ini gelap banget, ayo dihidupkan lampunya," perintah bu Ratna sedetik setelahnya.


Meski di tengah hujan yang lebat, perkuliahan berjalan lancar seperti biasanya. Dan mata kuliah kali ini adalah salah satu yang selalu dinanti para mahasiswa. Pembawaan yang menyenangkan menjadi satu faktor penting yang membuat materi susah menjadi lebih mudah dipahami. Andai semua dosen bermain layaknya bu Ratna, pastilah tak perlu dikhawatirkan setiap IP penghuni kelasnya.


Setelah 1 jam lebih berlalu, bu Ratna selalu memberi tugas di akhir untuk dikumpulkan esok harinya. Sangat menyebalkan jika tugas itu proyek. Meski waktu pengumpulan satu minggu, proyek membutuhkan effort lebih dalam memanaskan otak.


Kuliah pertama selesai dan tempat yang pasti kutuju adalah kantin kampus yang letaknya tak jauh dari gedung fakultasku ini. Aku dan Erga pergi dengan perencanaan matang bagaimana nikmatnya mie kuah panas dengan minuman menyegarkan es teh menemani dinginnya pagi tanpa cahaya mentari. Hujan telah berubah menjadi rintikan yang juga menghilangkan awan pembawa petir dari langit.


Selama perjalanan Erga banyak bercerita tentang seorang gadis yang baru saja ia temui semalam tepat setelah pesta berakhir. Ia mengatakan gadis itu sangat cantik, tapi cukup misterius. Tampilan serba hitam dengan tatapan tajam yang terus menatap ke arahku. Tunggu, arahku?


"Iya, cewek itu terus natap kamu tajem gitu, aku tanya dia cuma geleng-geleng terus pergi setelah liat kamu pergi sama cewekmu itu," jelasnya membuatku bingung.


"Fansku kali," jawabku menyeringai bangga. Sedikit bedehem "Gadis itu cantik kan," ucapku memastikan.


"Yaa... lumayan, karena dia pake masker gitu, nggak keliatan jelas, tapi kayaknya sih cantik." Langkah kaki kami semakin cepat seiring semakin cepatnya rintikan hujan itu terjun.


"Kenapa hujannya awet banget coba," keluhku mengelus-elus baju berusaha menghilangkan gumpalan air yang beluk bisa menyelinap serat-serat kain bajuku.


Erga yang seharusnya mendengarkanku justru telah lebih dulu sampai di meja ibu kantin dengan beberapa pesanan yang mulai dibuatnya. Mulutnya sangat lincah hingga saat aku tiba di sana ia akan beranjak pergi. Tanganku menggaetnya kuat dan membuatnya membulat mata dan kembali ke hadapan ibu kantin. Ternyata ia lupa memesankan pesananku.


"Ampun bro, cewek itu cantik banget sih," jawabnya santai sembari tersenyum-senyum kecil membuatku mengernyitkan dahi kegelian.


......**......


Setelah akhirnya langit kembali ceria tepat saat kuliah telah selesai hari ini, aku kembali dengan barang belanjaan yang tiba-tiba harus kubeli. Beberapa pesan chat mama kirimkan padaku yang saat itu sudah berada di halaman rumah. Meskipun mama melihatku--karena jelas ia sedang duduk bersantai dengan segelas teh melati kesukaannya di teras rumah, ia tetap mengirimkan pesan untuk membelikannya barang-barang itu. Tentu kujawab dengan Ren udah di depan ini ma, yang dijawabnya dengan lah terus?


Setibanya aku di rumah, posisi mama tak berpindah sedikit pun. Bahkan persilangan kaki yang ditumpukan pada kaki kiri masih tetap sama. Tangannya masih sibuk mengetik dan pandangannya tertunduk membiarkan teh panas yang sengaja didiamkannya agar hangat telah sampai pada fase dingin.


"Ini ma belanjaannya," kusodorkan tas belanjaan yang mungkin saja ingin diperiksanya karena rasa ketidakpercayaannya lebih besar walau hanya selisih sepersekian mili--seperti biasanya.


"Taruh dalem," jawabnya singkat yang kudengar sedikit ketus atau hanya perasaanku saja.


Persiapan ini kutebak pasti untuk acara nanti malam. Pesta keluarga memperingati berkurangnya umurku di dunia ini. Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya bahwa kakak kandung satu-satunya di rumah ini lebih melihatnya dari sisi negatif. Itulah kenapa sejak umurnya menginjak angka 18 tak ada lagi pesta ulang tahun yang mengatas namakan Rita, entah Rita siapa nama lengkapnya karena mama dan papa sepertinya terobsesi dengan film teka teki saat ia lahir sehingga namanya dibuat sesulit memecahkan teka-teki dalam film bahkan hanya untuk mengucapkannya. Maafkan adikmu ini kak Rita.


"Udah pulang?" ucap seorang gadis dengan wajah seram yang mengagetkanku karena muncul tiba-tiba. Berusaha menenangkan jantung, kak Rita mengorek-ngorek barang belanjaan yang kupegang "Mana pesenan kakak?". Pertanyaannya membuatku berpikir apa pernah gadis di hadapanku ini mengirimkan pesan teks? sedangkan panggilan masuk darinya sudah hampir sebulan yang lalu.


"Emang situ ada mesen-mesen?"


"Ada, es krim, kan udah kakak chat," jawabnya sedikit meninggikan nada seakan aku sudah melupakannya.


"Mana ada kakak pesen es krim?" jawabku kemudian ia memeriksa smartphone-nya.


"Astaga, nggak kekirim, pantesan nggak ada balesan dari tadi, tumben," jawabnya lalu pergi begitu saja.


Aku segera meletakkan belanjaan itu di atas meja dapur dan pergi ke kamar. Mengingat ada sebuah tugas yang harus dikumpulkan besok membuat hidupku seperti tak tenang seketika. Sama sekali tak berniat menambah jam belajar, aku memilih tidur mumpung matahari masih berada di tempat tertingginya. Sebelum beberapa ketukan mungkin saja datang. Atau selanjutnya tak akan ada tidur siang.


Rasa-rasanya aneh tidur di siang hari yang biasanya aku memilih melakukan banyak hal tak berguna, dari lihat video yang bahkan tak kumemgerti jalan ceritanya hingga memeriksa iklan terbaru yang mungkin menarik. Mungkin terdengar aneh, tapi aku sering kali melihat iklan dengan sengaja. Berbeda dengan orang yang biasanya memilih tombol skip saat video kesukaan mereka tiba-tiba terselipkan iklan tak berakhlak penghancur suasana.


"Eh, tapi siapa cewek yang katanya Erga ya kira-kira?"